
"Aku tidak menangis karna kepergianmu atau karna kamu meninggalkanku tanpa alasan. Tapi aku menangis karna tidak bisa keluar dari situasi ini "
.
Kejadian tempo hari masih terbayang-bayang di anganku. Masih tergambar jelas bagaimana wajah kejam dan seringai jahatnya saat menatapku. Hujaman pisau dan darah yang membasahi lantai membuatku bergidik ngeri. Aku sempat takut akan menemui ajalku hari itu. Untung saja, dia tepat waktu menyelamatkanku kalau tidak mungkin aku tiada sekarang.
Imron dibawa ke pihak yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Meski raut penyesalan itu terlihat, namun apalah daya bila kita bertindak tetapi tidak berfikir terlebih dahulu. Alhasil, Imron pasrah menanti hukuman apa yang akan diberikan, karna tuntutan yang begitu berat. Dia melakukan penganiyayaan dan percobaan pembunuhan, mungkin hukumanya akan berat kali ini.
Sekolah makin disibukkan dengan acara wisuda kelas 12. Setelah melewati serangkaian ujian, kini mereka bebas menentukan jalan hidupnya. Menjalani hidup sesuai dengan apa yang di inginkan. Namun, ini akan menjadi perpisahan untukku.
Aku masih tidak percaya pada kejadian malam itu. Dia membalas pelukanku dan mengusap bahuku. Begitu nyaman dalam dekapannya, rasa aman itu ada di dekatnya. Aku hanya terkekeh kecil ketika mengingat pelukan itu. Bagaimana bisa move on kalau seperti ini.
"Zahra!"
Suara keras nan menggelegar memekik telingaku. Aku menatap ke depan, tatapan tajam dari bu Dewi membuatku mendelik. Tatapan takut dari teman sekelasku mengarah kepadaku. Seolah menginstruksikan untuk pergi sebelum singa itu murka. Dengan gugup aku langsung memegang buku, seolah sedang memperhatikan pelajaran.
"Zahra! Tatap mata saya!"
Suara itu terdengar lagi. Aku menatapnya ragu, matanya berubah menjadi merah seakan siap menelanku mentah-mentah. Aku meneguk salivaku, hukuman siap menanti.
"Ke-kenapa buk?"
Meski sedikit terbata-bata, aku mengucapkan suara. Bu dewi menatapku sambil berkacak pinggang.
"Kamu salah masih nanya?! Keluar sekarang!"
Mataku melotot, bagaimana bisa aku belum mengetahui salahku langssung dihukum?
"Tapi ap--" omonganku sudah di sela olehnya.
"Tidak ada penolakan! Keluar berdiri menghormat bendera sampai pelajaran selesai!"
Alhasil aku hanya pasrah, ketika bu Dewi sudah mengeluarkan amarahnya. Langkahku berat untuk meninggalkan kursi, namun sentakkan dari bu Dewi mempercepat langkahku. Semua siswa hanya menundukkan wajahnya, tidak berani untuk menatap ke depan. Bisa-bisa nanti bisa dihukum.
Berjalan lunglai ke arah halaman sekolah. Tatapan aneh dari kakak kelas maupun adik kelas aku dapatkan. Tak peduli akan tatapan mereka aku segera berdiri di halaman menghormat ke bendera.
Matahari semakin naik menambah kadar panasnya meningkat. Aku mengusap peluh yang membanjiri tubuh, rasanya tak kuat jika terus berlama-lama berdiri disini.
Aku melirik arloji yang melekat di tanganku. Jarum jam bergerak sangat lambat. Aku menghela nafas kasar, mengumpat dalam hati. Begini nih, akibat kalau tidak memperhatikan guru saat pelajaran.
Masih di posisi sama berdiri tegap menghadap bendera. Tatapan tajam serta ejekan sudah aku dapatkan. Keram rasanya tanganku, namun ketika aku menurunkan tanganku sentakan dari bu Dewi memekik telingaku. Mengumpat dalam hati, kenapa kalau di hukum waktu berjalan lambat sih?
"Nih, minum dulu "
Suara bariton itu menyadarkan sedikit lamunanku. Tanpa menatap aku hanya diam seribu bahasa takut nanti jika bu Dewi menyentakku lagi.
"Terimakasih, saya tidak haus "
Masih dengan posisi yang sama tanpa bergerak. Tanpa berniat untuk mengetahui siapa orang yang peduli kepadaku.
"Aku tahu kamu haus, nih minum dulu "
Botol air mineral yang mengebul karna terlalu lama di kulkas, membuatku ingin meneguknya. Ternyata orang itu memaksaku untuk segera beristirahat. Aku beralih menatap siapa yang bersikeras memberikan minuman itu.
__ADS_1
Sedikit terkejut pada orang yang berada di sisihku. Ingin menolak tapi rasa haus sudah tidak bisa di tahan.
"Terimakasih," ujarku. Meneguk air mineral itu sampai tandas.
"Dihukum, lagi?"
Aku menoleh ke arahnya, dia menatapku dengan tatapan mengejek. Aku meneruskan hukumanku tanpa menjawab pertanyaanya lagi.
"Kan sebentar lagi wisuda, kami sudah menunjuk kamu sebagai pembawa acara. Kamu mau 'kan?"
Dengan santainya dia berkata, sedangkan luka itu belum sembuh seutuhnya. Tidak ada kata maaf sedikit pun terlontar dari mulutnya, aku salah mengharapkan kata maaf dari dia.
"Aku tidak bisa," ujarku singkat.
"Aku mohon kamu mau ya ra? Plis," ujarnya seraya memegang tangan kananku. Luka yang belum menutup sempurna membuatku meringis karna di pegang oleh kak Angga.
"Aw," ringisku
"Kamu kenapa?" tanya kak Angga dan pangsung membalikkan telapak tangan.
"Tangan kamu luka, ayo aku obati. "
Dia menarik tanganku namun segera aku lepaskan.
"Tidak perlu," ujarku. Aku hanya bergeming kenapa dia terus-terusan memberikan perhatian. Jelas-jelas dia hanya menganggapku adik.
"Bagaimana tadi tawaranku?" aku menatapnya. Daripada terus merengek seperti bayi aku lakukan saja.
"Baiklah, aku mau,"ujarku.
Aku tidak selamanya harus membenci seseorang. Karna setiap manusia punya kesalahan dan tugas kita adalah memaafkan.
Cuaca semakin panas, seakan matahari tepat berada di atasku. Peluh membasahi tubuh, keringat di bawah hidungku juga mulai bertambah. 10 menit lagi hukuman akan berakhir, tetapi kenapa rasanya sebulan menjalaninya.
Aku mendengar suara hembusan nafas, aku menoleh. Tidak salah lagi, Kak Angga masih di samping kananku sembari melakukan apa yang aku lakukan. Dahiku berkerut, menatap aneh ke arahnya. Mau-mau nya panas-panasan bersama denganku.
"Kak Angga kenapa masih disini?"
Dia menoleh tersenyum manis ke arahku. Senyumannya membuatku enggan untuk bersikap acuh kepadanya, namun takdir berkata lain.
"Menemanimu," ujarnya singkat.
"Aku bukan anak kecil yang harus di temani," jawabku datar.
"Kamu masih anak kecil, yang sulit memaafkan kesalahan orang lain," kata kak Angga.
Biarlah aku dikira anak kecil yang sulit memaafkan orang lain. Tapi memang benar adanya. Dia kira tidak sakit bila di posisiku.
Kakiku bergemetar rasanya tidak kuat lagi menopang berat badanku. Tanganku basah akan keringat. Bisa kupastikan akan pingsan dalam hitungan detik jika tidak segera beristirahat. Tapi bisa di tambah hukumannya lagi kalau aku menyudahinya sekarang.
"Kamu istirahat dulu ya, muka kamu pucat lo ra "
Kak Angga memegang dahiku dan menatapku serius.
__ADS_1
"Aku masih bisa kak, tinggal 5 menit lagi " aku mengelap keringat yang terus membanjiri dahi.
"Baiklah, kalau kamu tidak kuat istirahat," ujar kak Angga.
Tenggorokanku mulai mengering, lidahku terasa pahit. Pusing di kepala kian menjadi, mata berkunang-kunang mengisyaratkan untuk segera di istirahatkan. Menelan ludah kasar, sesak di dada kian menjadi aku sulit mengatur nafasku.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tubuhku limbung ke tanah, energi ku sudah terkuras habis. Kak Angga berjongkok menghampiriku dan membantuku untuk duduk.
"Kamu istirahat ya?" kak Angga menatapku intens.
"Aku bisa kak tinggal sedikit lagi huk--" omonganku terpotong oleh kak Angga yang tiba-tiba menyambar ucapanku.
"Bisa bagimana?! Wajahmu pucat begitu. Hilangkan sikap keras kepalamu itu Zahra! Kamu kira aku tidak iba melihat kondisimu! Ini demi kebaikan kamu Zahra!"
Rasanya aku ingin meneteskan air mata ketika dia membentakku seperti itu. Perhatian, tapi cara nya yang salah. Aku segera berpaling tidak menghadap wajahnya lagi. Rasa sakit itu muncul kembali.
"Zahra, kamu istirahat saja. Hukuman sudah selesai " bu Dewi berteriak di depan pintu.
Aku masih diam membisu, rasanya untuk memulai pembicaraan begitu ragu. Dia pun sama tidak berniat membujuk atau meminta maaf sedikit pun.
"Maaf tadi aku membentakmu " aku menatapnya sinis, rasa kesal di dada mulai menggebu-gebu.
Tangannya terulur untuk menyentuh bahuku membantuku untuk berdiri. Awalnya sempat menolak namun melihat kondisiku rasanya tidak mungkin aku bisa mengatasinya sendiri.
Dia membawaku menepi dari lapangan, memberikan air mineral dan minyak kayu putih. Aku meneguknya sampai tandas, tenggorokanku mulai basah rasanya tidak meneguk air selama 1 tahun lamanya. Perlahan sesak di dada mulai menghilang, namun sakit di hati belum tertutup sepenuhnya.
"Maaf tadi aku membentakmu, itu kulakukan juga demi kebaikanmu," kak Angga menatapku.
"Tidak papa, aku terbiasa," ujarku singkat.
Keheningan mulai menerpa. Menatap kosong dalam lamunan mencoba menerka apa yang aku rasakan saat ini. Lagi-lagi aku harus mengalah dengan keadaan, dan harus melepaskan seseorang yang sempat mengisi hariku.
"Nanti latihan jam berapa?" aku memecah keheningan.
"Tidak usah, kamu kan lagi sakit jad--"
"Katakan jam berapa," aku langsung menyela ucapannya.
"Jam 2 setelah istirahat di aula. Tapi kalau kamu sa--"
"Aku akan datang," ujarku.
Tanpa aba-aba aku langsung berdiri dari kursi, tidak menghiraukan tatapan aneh darinya. Meski kondisiku masih belum baik, aku harus pergi. Karna kalau tidak pasti mataku akan berembun dan akhirnya air mata lolos dari pelupuk mata.
"Terimakasih bantuannya tadi," ujarku melangkah pergi menuju kelas.
Memang sakit di terus di pertemukan oleh orang yang sempat membuat hati kita terluka. Namun kenyataannya terus di pertemukan sehingga kita akan sulit untuk melepaskan.
__ADS_1
Aku tersenyum kecut ke arahnya melihat perlakuan dia yang manis. Tidak seharusnya aku bersikap begini, mungkin mulai hari ini aku harus memaafkan kesalahan orang lain sesuai dengan yang kak Angga bicarakan.