
Mataku mengerjap beberapa kali merasakan usapan lembut di bahuku. Menatap ke arah jendela pesawat, suasananya sudah berbeda semula awan sekarang berubah menjadi bangunan-bangunan besar. Menatap ke arah samping kak Fahmi menatapku lekat dengan sesungging senyuman.
"Kamu nggak mau turun? Kita sudah sampai."
Aku mengangguk, meninggalkan mobil yag terparkir di depan kafe. Mengambil koper yang sudah terpasang rapi, mengucek mata berkali-kali seolah tubuhku belum memikiki tenaga untuk beraktifitas.
"Aku ke toilet dulu ya, Kak."
Aku menitipkan koperku ke Kak Fahmi berjalan menuju ke toilet yang berada di sisi sebelah kanan. Membasuh muka dengan air seakan mengembalikan hidupku. Menggosoknya perlahan menggunakan facial foam yang aku bawa. Merias sedikit wajah dengan bedak yang tipis, sedikit blas on dan liptint berwarna pink melekat di wajahku. Aku menatap pantulan wajahku di cermin, cantik!
Aku menghampiri kak Fahmi yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Sedangkan bunda dan ayah berbincang bincang sembari meminum minumanya.
"Udah sayang?" Bunda menatapku, aku mengangguk.
"Kita kedepan yuk, nunggu temenya ayah, " kata ayah aku mengangguk pasti.
Aku mengekori langkah orang tuaku menuju ke depan bandara. Rupanya dua orang asing telah berdiri di depan bandara. Mereka berbalik, mereka pasangan yang ideal.
"Ratna apa kabar?" Bundaku menghampiri wanita paruh baya yang kira kira seumuran dengan bunda. "Baik kok, kamu sendiri gimana kabarnya? Pasti capek ya perjalanan kesini?"
Bunda menggeleng sambil tersenyum manis. "Alhamdulillah baik, lumayan lah nggak capek banget."
"Ini kenalin anak laki-laki aku namanya Fahmi dan anak perempuanku namanya Zahra." Aku mengulurkan tangan mencium tangan wanita paruh baya tersebut.
"Kamu cantik banget, ya ampun tante terpesona loh." Wanita itu mengangkat sedikit daguku menatap jelas setiap inci wajahku.
"Anak kamu mana, Na? Kok nggak kelihatan?" Bunda menyusuri setiap sudut jalanan. Bisa kupastikan wanita itu bernama tante Ratna.
"Tadi bilangnya mau nyusul gitu sih, tapi nggak tahu kenapa sampai sekarang belum datang." Bunda mengangguk mengiyakan.
"Kalian istirahat dulu dirumah kami ya, sekalian silahturahmi, " ujar lelaki paruh baya yang setara usianya dengan ayah.
"Apa nggak ngerepotin nih? "tanya ayah.
"Nggak kok, lagian juga sekalian ngomongin projek kita, "ucapnya
"Kalau begitu, oke Bram aku terima ajakanmu. Lagian kita juga bisa mendekatkan anak kita, " ucap ayah sedikit berbisik kepada lelaki dihadapanya yang bisa kupastikan namanya adalah Bram.
__ADS_1
Suara deru mobil memecah keheningan diantara kami. Sebuah mobil putih mengkilap bermerek yang bisa kupastikan harganya sangat mahal parkir di depanku.
Pintu mobil dibuka, satu kaki dikeluarkan menampakkan sepatu sneakers berwarna putih melekat di kakinya. Aku menatap tanpa berkedip penasaran akan pemilik mobil mewah itu.
Seorang pria berperawakan tinggi, berkulit putih dan hidung yang mancung membuatku gugup pada pandangan pertama. Perlahan ia membuka kacamatanya, menampakkan wajah aslinya. Terlihat lebih cool dan menawan siapaun yang melihatnya pasti akan terlena dengan penampilanya .
"Akhirnya kamu datang juga, kenalin ini tante Mirna dan itu om Deni," ujar tante Ratna memecah keheningan.
"Farid, Tante." pria itu bergantian menyalami kedua orang tuaku. "Ini Zahra anaknya tante Mirna. " Dia sedikit menoleh kearahku. Tatapannya tajam seolah ingin menerkam, niat hati untuk berkenalan malah nyaliku menciut melihat sikapnya.
"Farids." Uluran tanganya membuat jantungku berdegup kencang, dengan ragu aku membalas uluran tangan itu.
"Zahra."
"Mau langsung pulang apa gimana, Ma?"
Farids memasukkan tangan ke saku celana memandang ibunya heran. "Pulang aja sih, biar nanti bisa dinner bareng," ucap tante Ratna.
Aku mengekori langkah kak Fahmi dari belakang menyeret koper.
"Tante sama om langsung masuk aja, biar aku bawain kopernya, "ujar Farids.
Aku menatapnya kesal, udah capek-capek senyum nggak dibales. Tau gitu aku nggak senyum tadi. Aku hanya mencebikkan bibir, menatapnya malas baru pertama kali bertemu saja sudah membuat kesal apalagi kalau tinggal serumah?
"Udah jangan cemberut, masa di cuekin gitu aja kesel sih," ujar kak Fahmi, aku menatapnya tajam.
"Gimana nggak kesel coba. Udah diramahin eh malah dicuekin. " Kak Fahmi tersenyum cekikan menaik turunkan alisnya. "Tenang kamu perlu adaptasi doang sama situasi nanti terbiasa kok. "
"Adaptasi? Emang aku bunglon? "ujarku
"Ye, di bilangin malah ngeyel. Buktinya bunglon hebat lo bisa berubah ubah sesuai tempat. Jadi kamu harus kayak bunglon, harus bisa nyesuain kondisi jangan kepikiran Hamzah mulu. "
"Siapa yang bilang mikirin Hamzah? Orang aku udah move on kok." Aku memalingkan muka menatap arah jendela. "Move on apaan, buktinya masih simpen foto Berdua sama Hamzah."
Aku mencebikkan bibir kesal akan perkataan kak Fahmi. Walau benar adanga tapi tetap saja menyakitkan.
Perjalanan cukuplah panjang, sampai tiba di salah satu pekarangan rumah mewah. Pelataran yang luas lengkap dengan bunga bunga yang menghiasi sisi kirinya dan air mancur berada di sisi kananya. Aku sempat takjub akan indahnya dekorasi rumah ini. Begitu mewah dan elegan sedap untuk dipandang.
__ADS_1
"Silahkan masuk."
Aku terkesimak melihat isi didalamnya, ornamen-ornamen kecil menggantung rapi disudut rumah. Guci-guci dan lukisan zaman dulu menghiasi dinding putihnya.
Aku merebahkan diri disofa bersebelahan dengan kak Fahmi.
"Bik, tolong buatkan minum empat!"
Minuman pun sampai, jus jeruk telah tersedia di atas meja. Ingin sekali aku meneguknya, melihat air berwarna orange itu membuat imanku tergoda.
"Silahkan diminum," ujar om Bram.
Aku meneguknya menghabiskan dalam satu tegukan. Rasa lega telah terasa, setelab perjalanan yang cukup melelahkan.
"Kenapa kalian nggak nginep disini aja? Kan lebih mudah kalau mau apa-apa." Bunda menatapku, dengan cepat aku menggelengkan kepala. "Apa tidak merepotkan?"
"Tidak merepotkan. Lagian bisnis kita juga cepat selesai kalau kita berdekatan 'kan?" Om Bram menatap kami bergantian.
"Lagian kita juga bisa deketin anak kita. " Tante Ratna sedikit berbisik mengenai apa yang ia katakan meski samar-samar bisa aku dengarkan. "Oke kalau gitu."
Aku membulatkan mata tak percaya bahwa akan serumah dengan pria kutub itu. Membayangkan saja sudah ngeri, apalagi kalau nyata. "Kamu nggak keberatan kan, Ra?" Aku menggeleng keberatan tapi apalah daya jika bunda menyetujuinya.
"Alhamdulillah, nanti aku suruh Bik Nah buat ngangkat kopernya yah," ucap tante Ratna.
Sebenarnya aku tidak nyaman kalau harus satu rumah dengan pria kutub itu. Tapi apalah dayaku, ketika ibundaku sudah berkata maka tidak bisa disangkal lagi.
Kak Fahmi malah manggut-manggut nggak jelas, ayah tersenyum bahagia, bunda malah main kode-kodean dengan tante Ratna yang nggak jelas maksudnya. Aku tidak bisa membayangkan kejadian apa yang akan menimpaku beberapa hari kedepan.
Aku melihat seseorang dengan penampilan rapi dari arah tangga. Tangan yang dimasukkan ke saku celana menambah kesan cool nya. Ia tersenyum seraya melangkah ke arah sofa. Kak Fahmi menyenggol bahuku, mengedipkan sebelah matanya tersenyum jahil sepertinya aku tahu maksudnya.
"Ada urusan yah diluar aku pamit ya," ucap Farids menyalami ke dua orangtuanya. Kemudian bergatian dengan kedua orang tuaku."Iya hati hati ya," ucap bunda.
"Kamu nggak ngajak Zahra?" Farids menaikkan satu alisnya menatapku dalam. "Kapan-kapan aja, soalnya nanti pulangnya agak malam kasihan kalau kelamaan, " ucapnya santai sedangkan aku masih menormalkan detak jantung.
Sesaat aku bergeming heran pada sikapnya kali ini. Tadi cueknya minta ampun sekarang malah perhatian. Setelah ditunjukkan letak kamar tamu, aku segera merebahkan tubuh di kasur. Menghempaskan diri diantara tumpukan bantal yang memberi kenyamanan ini. Pandanganku teralihkan, aku mendekat ke arah jendela melihat pemandangan dari kaca jendela.
Suasananya begitu menenangkan, cahaya lampu yang menghiasi setiap bangunan menambah kesan keindahan. Semuanya terlihat jelas dari atas, bulan dan bintang saling bersinambungan membentuk sebuah lengkungan dan memancarkan sinarnya.
__ADS_1
Jangan lupa ninggalin jejak setelah baca, aku tunggu😴❤.. Terimakasih sudah membaca😊