
"Aku terlalu sibuk memikirkanya hingga aku lupa pada orang yang selalu ada disaat aku membutuhkanya"
.
Alarm ku berdering, sinar matahari masuk ke celah jendelaku. Namun aku masih setia berada dalam dekapan selimutku, entah kenapa aku malas untuk bangun.
Alarmku berdering kembali, aku masih setia berbaring. Tak pernah sedikit pun menoleh ke arah jam. Kepalaku terasa berat membuatku enggan untuk beranjak.
"Dek! Kenapa belum bangun? Nanti bisa telat nih"
Suara itu langsung menggema namun aku masih berada di posisi tanpa bergerak sedikit pun. Lama kelamaan aku merasa kedinginan. Ada getaran di kasur berarti kak Fahmi sedang berada di dekatku.
"Dek "
Panggilnya lagi, dia menyibakkan selimutku, namun aku masih setia meringkuk dan memegangi tanganku. Perlahan tangan itu menyentuh keningku.
"Ya Allah dek, badan kamu panas loh, kita ke dokter yah? "tanyanya.
"Aku nggak papa kak, cuma pusing aja kok,"
kataku, mengambil posisi duduk dan melangkah ke kamar mandi.
Aku berjalan tanpa tujuan, rasa sakit di kepala menguasai diriku. Sialnya aku tersandung kakiku sendiri membuatku tersungkur ke lantai. Dengan segera kak Fahmi membantuku kembali ke ranjang.
"Dek kalau kamu sakit, mending nggak usah ke kampus dulu biar kakak yang ngijinin," ucap kak Fahmi menyelimutiku.
"Aku nggak papa kak, aku nggak sakit kok " Aku menggeleng.
"Buktinya tadi hampir jatuh kalau nanti ada apa-apa gimana? "kata kak Fahmi.
"Istirahat ya dirumah, cepet sembuh. Kakak berangkat dulu, "katanya dan beranjak pergi meninggalkanku.
Aku pun meneruskan tidur panjangku.
***
Matahari mulai meninggi menambah kadar panas yang sampai di bumi. Aku masih berbaring diatas ranjang sembari meringkuk di bawah selimut. Tadi pagi bunda telah memberikan obat penurun panas meskipun sampai saat ini belum turun juga.
Peluh berkucuran membasahi bajuku, lengket semua badan. Tapi aku tidak boleh mandi terlebih dahulu, takutnya nanti bertambah panas. Jadi aku hanya cuci muka dan berdiam di bawah naungan selimut tebalku.
Tok tok tok
Suara seseorang mengetuk pintu sedikit menggangguku. Ingin membuka pintu tapi kaki tidak bisa di ajak kompromi.
__ADS_1
"Sayang ada temen kamu nih, " ucap bundaku
"Suruh masuk aja, Bund, " aku menjawab dengan suara serak.
Perlahan pintu di buka namun aku enggan untuk membuka mata. Ada getaran pasti ada seseorang yang duduk disebelahku.
"Zahra gimana keadaan kamu? " suara khas itu seperti aku pernah mengenalnya, aku membuka mata.
"Siska? Kamu tahu dari mana aku sakit? " tanyaku
"Dari kak Fahmi tadi, " aku hanya mengangguk mengiyakan, sementara tanganya terulur menyentuh keningku.
"Panas ra, udah minum obat? Udah makan? " tanyanya
"Udah kok tadi, "ujarku tersenyum
"Aku nggak nyangka kak Fahmi itu kakak kamu, udah baik, cool, pinter aduh, idaman deh, " ucap Siska.
"Tumben ngomongin kak Fahmi ada apa?" tanyaku.
"Tadi dia traktir aku makan, "ujar Siska.
"Kamu suka? "tanyaku.
"Tapi hati hati loh, kak Fahmi playboy,"ucapku setengah berbisik. Siska membulatkan matanya.
"Apaan sih dek, Jangan dengerin kata Zahra ya Sis, ngaco dia"
Suara itu membuat aku dan Siska menoleh. Mukanya terlihat masam. Dengan nampan berisi minuman dan bubur perlahan mendekat, melihatnya saja aku sudah mual apalagi memakanya.
"Makan dulu gih, keburu dingin buburnya,"kata kak Fahmi memangku bubur.
"Aku nggak mau kak, pengen mual kalau lihat itu" ujarku menunjuk bubur.
"Kamu harus makan kalau nggak gimana bisa sehat, " ucap kak Fahmi.
"Aku nggak mau kak, "bantahku.
"Kamu tuh bukan anak kecil lagi ra, harusnya nggak usah disuruh makan juga udah makan! Kelakuan kaya anak tk, "ujarnya membentakku, aku tak mau kalah menggunakan Siska untuk bahan umpan.
"Siska liat tuh kakak, kata kamu kakak baik tapj tadi dia membentakku, aku takut," kataku merengek seperti anak kecil. Kak Fahmi hanya diam, mungkin takut kalau aku adukan ke Siska.
"Kan dia bentaknya juga buat kebaikan kamu ra, dia bentak bukan berarti nggak sayang, tapi dia peduli sama kamu. Sekarang makan ya, mama suapin, "kata Siska. Kenapa malah membela kak Fahmi sih? Ah, gagal usahaku dan disana kak Fahmi tersenyum bahagia karna di bela Siska. Aku salah sasaran.
__ADS_1
Siska mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan kak Fahmi. Terlihat tangan kak Fahmi bergetar, pasti sedang tegang berdekatan dengan Siska. Ah, kakak masih aja malu!
"Pesawatnya mau meluncur aa ... " Dia melayangkan sendok seperti pesawat terbang dan mengarahkanya padaku.
"Aku bukan anak kecil lagi sis, nggak usah digituin kali, "ujarku.
Dia malah semakin nekat. kulihat kak Fahmi dari tadi melihat paras ayu Siska, ini kesempatan aku akan mengerjainya.
Saat sendok itu mulai mendekat aku segera memegang tangan Siska dengan gerakan cepat aku mengarahkan ke mulut kak Fahmi, spontan dia membuka mulutnya. Aku tertawa rencanaku berhasil bubur itu telah masuk ke dalam mulut kak Fahmi mereka hanya berpandangan tanpa berkedip mungkin gugup akan kejadian barusan.
"Enak kak buburnya? "ujarku menggoda.
Mereka sama sama mengalihkan pandangan, pipi Siska merah pasti malu lah dia. Dan kak Fahmi menatapku tajam, padahal dia sangat senang.
"Yang harusnya makan kan kamu kenapa malah kakak? "katanya.
"Maaf ya kak, tadi salah nyuapain harusnya kan Zahra yang makan, e malah kakak yang makan, "ujar Siska malu.
"Nggak papa kok, kebetulan aku juga lapar,"kata kak Fahmi.
"Alah bilang aja seneng kan disuapin sama pujaa-- " ucapku terpotong karna tiba tiba dia membekap mulutku.
"Nggak usah diterusin ngomongnya, sekarang makan! "titahnya.
"Nggak mau kakaku sayang, "ucapku lembut.
"Kamu makan ya ra, biar cepet sembuh,"kata Siska yang terkesan memaksa anak kecil yang susah makan.
"Nggak mau Siska cantik, "kataku.
"Apa perlu aku panggilin kak Syarif biar mau makan? " kata kata Siska mengejutkanku, entah dari mana Siska tahu nama itu padahal aku hanya menceritakannya pada satu orang, Laila.
Aku mengubah posisi duduk menjadi berbaring dan menutupi tubuh dengan selimut, bukanya apa-apa tapi aku hanya masih teringat akan perkataanya tempo hari.
"Zahra kamu kenapa? Apa aku salah? "tanya Siska. Aku hanya bergeming.
Kurasakan getaran itu hilang suara langkah kaki dan decitan pintu membuktikan bahwa kedua insan itu telah meninggalkan kamar. Aku hanya bergeming.
Bukanya apa-apa aku jadi teringat kejadian itu ketika Siska menyebutkan nama itu. Kecelakaan, penghinaan, pesan yang di kirimkan masih susah hilang dari ingatanku. Apalagi aku jarang ke kajian sekarang, dan kadang-kadang bertemu dengan kak Bela.
Meski aku menutupi tubuhku dengan selimut namun mata ini masih belum terpejam. Aku paksakan untuk melupakan semuanya.
Sampai detik ini Hamzah belum menjengukku tidak tahu atau memang tidak mau tahu? Kenapa sih malah mengharap belas kasihan orang.
__ADS_1