Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 15


__ADS_3

"Maafkan aku jika terus membuatmu terluka. Sebenarnya aku juga tidak mau menyeretmu dalam kehidupanku"


.


Aku berjalan ditepian jalan sembari menikmati keindahan alam. Udara yang sejuk serta pepohonan yang rindang membuat mataku takjub. Suara bising kendaraan memekik telingaku, memang hari ini kondisi jalanan lumayan ramai.


Aku masih teringat dengan anak kecil yang aku temui di toko buku. Pipinya yang gembul serta gigi kelincinya sangat manis untuk di lewatkan. Meski belum kenal tetapi sudah berani berpelukan dan mencium pipiku padahal statusnya aku orang asing. Namun dia berani untuk melakukan itu.


Setelah lulus aku memutuskan untuk mendaftar di universitas tempat kak Fahmi belajar. Sempat melakukan beberapa kali tes masuk dan tinggal menunggu pengumuman saja. Harapanku semoga bisa di terima di universitas dengan rating tinggi itu. Niatku mengambil jurusan administrasi perkantoran, meski tidak ada sangkut pautnya dengan jurusan Ips tapi entah kenapa aku menginginkan jurusan itu.


Aku menghela nafas panjang tersenyum senang ke seluruh pandangan. Namun netraku menangkap sosok pria bertubuh tinggi yang aku kenali. Perlahan motornya semakin mendekat namun terlihat dia sedang membonceng seseorang. Aku mengernyitkan dahi, Fahri!.


Aku terkejut ketika melihat wanita yang di bonceng Fahri adalah musuh bebuyutannya, Laila. Dulu kaya Tom and Jery lah sekarang malah akur. Gimana sih?


"Fahri!" panggilku.


Dia menepikan motornya, aku segera menghampiri mereka berdua.


"Loh kalian kok bisa barengan?" tanyaku.


"Tadi tuh si bawel jatuh dari sepeda, makannya aku bawa pulang," Fahri menoleh kebelakang.


"Owh, kirain udah baikan?" ujarku dengan tatapan menggoda.


"Baikan? Ih, amit-amit baikan sama buaya darat ini," Laila menimpali.

__ADS_1


"Udah bagus di tolongin, malah ngatain aku buaya lagi. Mau aku turunin?" Fahri menatap tajam Laila.


"Enggak bercanda kok sayang. Yaudah jalan yuk "


Fahri membisu mungkin terkejut karna Laila manggilnya dengan sebutan sayang. Sedangkan aku terkekeh melihat ekspresi Fahri. Namun sesaat Laila mengatupkan kedua tangannya di mulut, mungkin baru sadar dengan apa yang diucapkan.


"Ekhem! Udah di panggil sayang tuh, kode-kode itu mah," ujarku seraya tertawa.


"Tadi m-maksudnya salah bukan sayang. I-iya maksudnya gitu," ucap Laila terbata-bata.


"Nggap papa kali kalau bener," ucapku tertawa.


"Apaan sih." Laila mencebikkan bibir sedangkan aku tertawa melihat pipinya yang memerah.


"Kita jalan dulu, Ra," ucap Fahri tiba-tiba.


"Hati-hati sayang! " ucapku berteriak. Laila malah menatapku tajam.


Aku melanjutkan jalanku, meninggalkan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. Kembali menikmati alam dan seluruh isinya. Begitu ya kalau memang sudah takdir tuhan apapun yang tidak mungkin terjadi akan terjadi. Aku percaya bahwa semua akan terjadi sesuai kehendaknya entah baik atau buruk pasti itu adalah hal yang terbaik untukku.


Terkadang ketiadaan dirinya kucari, tetapi kehadirannya kuhindari. Saat hati ingin melupa, saat itu juga dia datang untuk menyapa. Mungkin bucinku ini efek membaca novel,wkwk.


Tatapan iba aku rasakan, seekor kucing tengah duduk di tenga jalan sembari menatap kesana-kemari seperti bingung untuk keluar dari jalan itu. Setelah di rasa senggang, aku menghampiri dan langsung mengelus bulu halusnya. Bulu yang lebat dan halus tak henti-hentinya membuatku untuk mengelusnya. Dia mendengkur pelan sembari tertawa ketika aku gelitiki.


Tinn!!

__ADS_1


Aku menoleh cepat, truk dengan kecepatan tinggi telah melaju kearahku. Segera aku menutup mata tanpa beranjak dari tempatku sedangkan kucing tadi sudah beranjak dari tempatnya.


"Zahra awas!"


Tubuhku di dorong hingga membentur pinggir jalanan begitu juga dengan wanita yang menyelamatkanku. Luka dari kepalaku mengalir, tanganku agak nyeri akibat terbentur aspal jalan.


Rasa nyeri di kepalaku semakin menjadi. Dunia seolah berputar-putar di depanku. Bau anyir tercium olehku, aku mengusapnya tipis. Aku beruntung masih diselamatkan dari kecelakaan tadi. Tapi aku berfikir siapa yang menyelamatkan aku tadi.


Aku terkejut, kak Bela telah berlumuran darah akibat menyelamatkanku. Aku segera beranjak, namun pening di kepalaku menggoyahkan pertahanan tubuhku. Dengan paksa aku menghampiri kak Bela, meletakkan kepalanya di pangkuanku menangis menyesal karna perbuatanku.


"Kak, maafin Zahra kak. Hiks ... karna Zahra kakak seperti ini. Kak buka matanya! Maafin Zahra kak!"


Aku memeluk erat tubuhnya tak peduli dengan darah yang mengotori baju. Wajahnya yang pucat dan tidak sadarakan diri semakin membuatku kalang kabut. Merutuki diri sendiri, andai saja tadi aku tidak ceroboh pasti tidak akan membuat orang lain celaka seperti ini.


Aku kembali memeluknya, menangis sejadi-jadinya tanpa jeda. Bagaimana nanti kalau terjadi sesuatu terhadap kak Bela? Apa yang akan aku katakan pada keluarganya? Pada kak Syarif dan semuanya?


"Tolong! Tolong! "


Aku berteriak sekuat tenaga, namun perlahan pandanganku mulai kabur. Aku masih melihat orang-orang yang berlarian menuju ke arahku.


"Pak tolong kakak saya," ujarku lemah.


Mereka segera membawa kak Bela ke dalam mobil begitu juga aku. Aku menggenggam erat tangannya memberikan kekuatan kepadanya. Sesekali mengecup pelan tangannya, iba melihat kondisi kak Bela yang seperti ini. Kenapa sih aku harus selalu melibatkan orang lain?


"Bertahan ya kak, maafin Zahra udah buat kakak kayak gini," ucapku sambil terisak.

__ADS_1


Mobil melaju cukup cepat melewati ratusan mobil disampingnya. Hanya satu hanya keselamatan penumpangnya. Namun belum sempat sampai di rumah sakit, aku sudah memejamkan mataku dan tidak melihat semuanya.


__ADS_2