
"Dalam kamusku hanya ada satu kata mencintai tanpa didasari hati"
Aku sulit menjabarkan perasaan yang sedang aku rasakan. Hanya bisa memendam sebuah rasa tanpa tahu tujuan kemana hati harus dibawa. Perlahan, menyisakan luka. Luka yang perlahan mengikis rasa, rasa yang tak pernah terbalaskan.
Jika kamu percaya seleksi alam itu ada, seharusnya kamu tidak takut disakiti. Tidak takut di lupakan atau bahkan di tinggalkan karna setelah ada perpisahan pasti ada pertemuan. Tapi aku belum menemukan itu dalam kamusku. Yang ada hanya perasaan aneh yang menggeluti fikiranku. Bagaimana tidak, aku telah melukai seseorang dan sekarang aku mengagumi kakak dari orang yang aku sakiti. Apa ini namanya balas dendam?
Aku sempat mengira bahwa dia adalah orang yang aku cari. Baik, ramah, dan murah senyum. Tapi nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang aku pikirkan. Tidak seperti kak Angga, yang ramah dan murah senyum. Ia adalah salah satu idaman setiap siswa disini. Bagaimana tidak postur tubuhnya yang tinggi, alis tebal dan wajahnya yang rupawan mampu menghipnotis setiap insan. Ah kenapa memikirkanya?!
"Zahra! Bengong aja," ucap Laila menyadarkan lamunan panjangku. Aku menoleh
"Apaan sih ganggu aja,"ujarku sewot
"Heheh, lagian nglamun aja pesen apa kek gitu, "ujar laila santai. Memang sedari tadi aku hanya memesan satu gelas es teh menemani keasikan hayalanku.
"Nggak mood lagian ini juga udah pesen" sembari menunjuk ke arah gelas.
"Emang minum es teh doang bisa kenyang? Badan udah kecil masih aja diet,"Ujar laila dengan nada mengejek
"Bawel banget sih, nggak usah munafik deh kita sama-sama kecil kali, "ujarku seraya mengaduk aduk sendok dalam gelas.
"Ya besaran aku dikit lah, "ujarnya. Kata katanya hampir masuk ke ulu hati, tapi sudahlah ini semua hanya candaan.
Aku kembali menyeruput es teh ku, sedangkan Laila khusyuk memakan nasi goreng kesukaanya. Bersendawa sudah menjadi kebiasaan lamanya . Mukanya ditekuk ketika aku menertawakan sendawanya itu, terlihat dari wajahnya yang kusut bagai baju yang tidak disetrika. Ia melanjutkan ritual makanya diimbangi dengan meneguk segelas es jeruk. Gerakanya terhenti dia langsung menatap ke depan setengah menganga. Apa yang terjadi dengan anak ini?
Rasa penasaranku terbalaskan aku menoleh kebelakang. Kak Angga meletakkan bukunya di depan meja menarik kursi untuk di duduki meletakkan kacamatanya di atas meja dan merapikan ujung rambutnya. Pantas saja Laila menganga tadi mungkin terpesona oleh kak Angga.
"Ra, kak Angga lagi sendiri samperin kuy, "
ujar Laila.
Sedangkan aku menganga tak percaya, bagaimanapun status kak Angga berbeda. Dia adalah kakak kelas sekaligus ketua Osis di sekolah, apalagi otaknya diatas rata rata membuat dia sering mengikuti olimpiade dan menjuarainya. Sedangkan aku hanya adik kelas biasa yang tidak sebanding cantiknya dengan fans-fans kak Angga. Hal itu membuatku sedikit minder, tapi apa daya kalau kak Angga jodoku pacarnya yang cantiknya se-kabupaten bisa apa. wkkw,
Tanpa basa basi Laila menghampiri meja kak Angga sedangkan aku masih memaku ditempat.
"Kak Angga, "sapa Laila. Kak Angga menoleh dan tersenyum ke Laila.
"Ada apa dek? "tanya kak Angga, Laila langsung mengembangkan bibirnya senang sapaanya telah direspon.
"Boleh gabung nggak? Soalnya meja yang lain penuh, "ujar Laila.
Bodohnya dia! Jelas jelas suasana kantin masih sepi, ya meski ada satu dua orang sih. Kak Angga mengernyitkan dahi, bagaimana tidak alasan yang Laila kemukakan begitu tidak logis.
"Boleh, "ujar kak Angga singkat. Langsung Laila menempatkan posisi di depan kak Angga.
"Kakak cuma pesen minum aja? " Laila menatap wajah kak Angga intens.
"Iya, kamu juga kenapa cuma pesen minum?"
Kata kak Angga.
"Iya nih, nggak punya uang buat beli makanan. Tahu sendiri kan sekarang biaya sekolah naik, jadinya uangnya habis buat bayar. Berhubung uang menipis, pesen minum aja,"
ujar Laila cengengesan.
"Pantesan badan nya kecil, cuma minum doang " kak Angga tertawa sedangkan Laila mengerucutkan bibirnya.
"Kak Angga memuji atau menghina?" tatapan Laila berubah tajam.
"Bercanda dek," kak Angga tersenyum sembari mengelus kepala Laila.
Bisa kupastikan kalau Laila akan mematung di tempat mendapat perlakuan manis dari kak Angga. Gigi gingsulnya terlihat ketika ia tersenyum menambah ketampanannya. Kapan aku digituin.
"Dek, kamu kenapa?" kak Angga menggoyangkan bahu Laila.
"E-enggak papa kak," kata Laila gelagapan.
"Kalau nggak punya uang ambil di bank lah banyak disitu, "ucap kak Angga setengah tertawa mengubah arah pembicaraan pasti heran melihat ekpresi lawan bicaranya.
"Itu namanya mencuri kak, nanti bisa bisa aku kena pidana lagi 'Seorang siswa SMA Garuda ditangkap karena melakukan pencurian uang dikarnakan kelaparan' gitu kan nggak lucu kak, "ujar Laila cengengesan.
"Ya bagus lah ," kak Angga mengaduk minumanya.
"Loh kok bagus? "tanya Laila
"Bisa menambah kasus kenakalan remaja di SMA sini, "ujar kak Angga mengotak atik hp nya
"Nggak lucu dong kak, "ujar Laila cemberut.
Mereka terus saja berbincang dan tertawa bersama. Sedangkan aku dipojokan sendiri tanpa ada yang menemani. Gini ya rasanya kalau jomblo.
Pengen banget gabung tapi malu.
"Zahra kenapa nggak gabung? "suara itu mengagetkanku, nyaris aku hampir tersedak minuman. Aku memutar tubuh menghadap ke arah mereka.
"Katanya pengen sendiri aja kak, "ujar Laila menatapku. Anak itu mengada ada! Dia tadi yang meninggalkanku sendiri.
"Sini lo ra, dari pada menyendiri disitu, "
ujar aku kak Angga. Aku hanya tersenyum dan beranjak dari kursiku menuju meja tempat mereka berdua singgah.
__ADS_1
"Tadi diajakin nggak mau, "ujar Laila menyenggol bahuku. Aku menatap sinis, mulutnya tidak bisa dikondisikan. Nggak tahu apa orang lagi malu.
Suara Laila didengar oleh kak Angga. Kak Angga hanya tersenyum, dan aku mendapat malu.
"Tadi katanya kalau aku ikut ganggu kamu sama kak Angga. Katanya cuma bakalan jadi nyamuk, "ujarku seraya melirik ke arah Laila. Matanya melotot, sedangkan aku tersenyum puas.
Uhuk!
Kak Angga tersedak minumanya. Menyodorkan minum langsung di terima olehnya.
"Nggak papa kan? " dia menggeleng tanpa menjawab pertanyaanku.
"Kakak menang lomba Mipa kan? Selamat ya. Kakak memang best" aku mengacungkan dua jempol.
"Makasih ya, biasa aja kok, "kak Angga tersenyum. Haduh senyumnya itu loh.
"Gimana sih belajarnya kok bisa pintar gitu? Kapan kapan ajari aku dong biar kaya kakak,"
ujarku cengengesan.
"Ajarin apa nih, "
ucapnya seraya menaikkan satu alisnya. 'Ajari aku mencintaimu kak' andai kata kata itu mampu lolos dari mulutku.
"Belajar lah, lagian mau ajarin apa lagi, "
tanyaku.
"Kirain mau diajarin cara mencintai kakak."
Aku menghentikan aktifitasku menatap ke arahnya penuh arti. Bagimana bisa dia membaca pikiranku?
"Jangan gitu kak, nanti Zahra baper loh "
Laila mengerling nakal ekspersi wajahnya seolah mengejekku.
Ting!
Bunyi notifikasi dari whatsapp mengalihkan pandanganku. 'Dara' nama itu tertera jelas di beranda. Pasti mau curhat soal gebetanya nih, males ah. Aku menghiraukanya, tak mau kalah dia malah menelponku, menyebalkan!
"Kenapa nggak diangkat telfon nya?"kata kak Angga
"Nggak papa kak, "ucapku
"Nanti kalau pacarnya marah gimana? "
pertanyaan kak Angga sukses membuatku terkejut. Pacar gimana kak? Orang suka sama orang digantungin terus?
"Beneran ra? Padahal kamu manis manis gimana gitu, "ucapnya, sukses membuat pipiku memerah. Emang aku minuman ada manis manisnya.
"Bisa aja kak Angga, nggak kok belum ada yang pas aja" aku mengalihkan pandanganku.
"Kalau sama kakak aja gimana? "aku menganga setengah tak percaya. Bagaimana dia memberiku tawaran yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Dia mengajak aku ... ah malu!
"Bercanda"imbuhnya disertai kekehan kecil membuat hatiku yang sempat melayang kini jatuh tanpa tumpuan.
"Jangan gombalin gitu kak, "ujarku
"Tadi nggak gombalin aku, sekarang sama Zahra malah gombal-gombalan kak Angga nih," ujar Laila mengerucutkan bibir.
"Heheh, maafin"kak Angga tersenyum
"Yaudah deh kalau gitu aku pergi, "ujar Laila sembari melangkah pergi.
"Kalau gitu aku juga pergi permisi" aku beranjak dari kursi mengambil ponsel yang tergeletak di meja dan melangkah pergi.
"Zahra! "aku berbalik menaikan satu alis seolah bertanya kenapa.
"iya kak ada apa? "tanyaku
"Nanti pulang bareng mau? "
Jantungku rasanya mau copot mendengar ajakan darinya. Aku tidak bermimpi kan?. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Boleh deh, "ujarku.
.
.
.
Aku menunggu di parkiran sepeda motor. Suara riuh kendaraan berangsur menghilang hanya ada beberapa motor saja yang masih terparkir rapi.
Aku melihat ke arah jarum jam setengah empat lebih. Mengedarkan pandangan ke penjuru arah mencari sosok kak Angga yang tak kunjung datang. Mungkin ajakanya tadi hanya candaan belaka. Aku sadar mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin itu sakit.
Melangkah lunglai di tepi jalan berharap kak Fahmi menjemputku hari ini. Menghela nafas kasar, kenapa sih di gantungin terus.
Deru motor mendekat ke arahku, menoleh sekilas ke samping. Ia membuka helm full face nya merapikan sedikit rambut yang berantakan.
__ADS_1
"Ayo! "ujarnya. Tanpa aba aba aku menaiki motor itu.
Kecanggungan itu mulai menerpa. Kenapa jika berduaan dengan kak Angga rasanya canggung? Tidak ada pembicaraan aku pun tidak berani untuk memulainya. Andai kan yang berada di posisi kak Angga ini adalah kak Syarif pasti aku lebih bahagia.
" Tadi udah lama nunggunya? Maaf ya tadi ada urusan organisasi soalnya " aku mengangguk, pantas saja lama.
" Baru aja kok, nggak papa, "ujarku singkat
Keheningan kembali muncul, setelah satu pertanyaan itu dilontarkan tidak ada pembicaraan lagi. Semakin kesana kok ini bukan jalan kerumahku. Aku mengernyitkan dahi apa kak Angga salah jalan?
Aku menepuk dahiku sendiri, bagaimana mau sampai dirumah aku saja belum memberi tahu alamat rumahku. Dan kak Angga juga tidak bertanya dimana rumahku.
"Emang kak Angga tau rumahku dimana? "
tanyaku
"Enggak, "ujarnya singkat. Aku menggelengkan kepala.
"Kenapa nggak nanya?"tanyaku
"Nggak papa lah, sekalian jalan jalan, "
ujarnya seraya menoleh kebelakang dan tersenyum.
Aku menikmati perjalanan bersama kak Angga. Situasi ini yang kerap kali mudah membuatku terjebak dengan keadaan. Kehadiranya belakangan ini mengalihkan fokusku dari masa lalu, karna lembaran baru ini baru saja aku tulis di atas kertas yang nantinya mampu membuatku sepenuhnya melupakanya. Kak, tolong jangan membuatku jatuh kepelukanmu kemudian kamu melepaskanku karna rasa ibaku.
.
.
.
"Makasih ya kak, nggak mau mampir dulu?" ajakku.
"Sama-sama, lain kali aja ya soalnya juga udah sore takut dicariin. Aku permisi, assalamualaikum," ujarnya.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Dia memakai kembali helm full face nya dan melaju menghilang dari pandanganku.
Aku beranjak dari halaman menuju rumah, rasa penat dan letih menguasai diriku meminta untuk segera di istirahatkan.
Melewati ruang tamu menatap sekilas ke arah sofa. Pria manis itu tengah duduk bersantai menghadap ke arah televisi. Menopang satu kakinya di kaki kirinya sembari cemilan nangkring di kakinya.
Tanpa basa basi aku melenggang pergi dari ruang tamu tak berniat untuk membangunkan singa yang lagi tidur itu.
"Ceritanya udah move on nih " aku menoleh sekilas menatap tajam ke arahnya.
" Move on gimana?" kataku.
"Kalau nggak move on apa tadi, pulang aja di anterin," ujarnya.
"Dia tuh cuma kakak kelas doang,"ujarku singkat.
"Bilang aja suka, kelihatan kali ra "
Pletak!
Tepat sasaran sepatu melayang diatas kepalanya. Aku berteriak gembira sedangkan dia meringis memegangi jidatnya.
"Punya adik satu gini amat ya," katanya sembari menatapku.
"Apa kakak bilang?! Bilang lagi sini! Biar aku lempar sepatu lagi!" ujarku.
Dia hanya mencebikkan bibir.
"Fahmi!"
Aku menoleh kebelakang, wanita berpakaian kurang bahan itu berdiri di ambang pintu seraya tersenyum centil. Bisa-bisanya kak Fahmi mencari wanita seperti itu.
"Tuh, urusin peliharaan kakak " kataku.
Pletak!
Sepatuku di lempar kembali namun sayangnya tidak depat di kepalaku. Aku menjulurkan lidah tertawa mengejek ke arahnya.
"Zahra ini aku bawain makanan dimakan yah," ujar wanita itu, kak Nilam.
"Makasih ya kak, kakak baik deh makin sayang," ujarku sembari memeluk tubuhnya.
"Kalau gitu bisa dong deketin kakak sama Fahmi?" ujarnya.
"Bisa dong, apa sih yang nggak bisa. Iya nggak kak?" ujarku menatap kak Fahmi. Dia mengerucutkan bibir.
"Yaudah, aku ke kamar dulu ya kak. " aku melangkah menaiki tangga.
Sesekali melirik ke bawah dimana kak Nilam dan kak Fahmi duduk di sofa berdua. Kak Nilam berusaha mendekat namun segera dihindari oleh kak Fahmi. Untung saja bunda tidak ada di rumah, bisa rame nanti.
Meletakkan tas ke sembarang tempat berangsur melemparkan diri ke ranjang yang penuh kenyamanan itu. Tersenyum kecil ketika mengingat kejadian hari ini. Haduh rasanya melayang berboncengan berdua dengan kak Angga.
__ADS_1
Kak Angga aku baper!!