Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 10


__ADS_3

"Setidaknya kita pernah bersama meski tidak ada ikatan apa-apa"


.


Dengan beberapa kali latihan membaca susunan acara bersama kak Angga, aku mulai bisa membaca dengan intonasi yang baik. Meski selalu salah dan tidak mendengarkan teguran, kak Angga masih setia mengajariku. Mulai dari gaya bahasa, penyampaian, cara berjalan di panggung semua di ajarkan. Dan tepat hari ini acara pelepasan siswa kelas dua belas dilangsungkan.


Mengenakan baju brokat berwarna merah maron dengan setelah rok bermotif tumbuhan dan hijab yang senada aku kenakan saat ini. Sedikit hiasan kepala berbentuk bunga menambah penampilanku. Sedikit make up melekat di wajahku.


Aku duduk di salah satu kursi dekat jendela mempersiapkan susunan acara yang akan aku bawakan. Acara dilangsungkan dua puluh menit lagi, sebagian calon wisuda sudah menetap di tempat. Ada juga yang masih merias diri di salon agar menambah kecantikannya.


Semua kakak kelas terlihat cantik dan rupawan. Raut raut kebahagiaan terpancar di wajahnya. Akhirnya setelah berjuang tiga tahun mereka bisa lulus dari sekolah dan meneruskan perjalanan hidupnya. Aku membaca setiap baris rangkaian acara, takut jika saat pembacaan nanti ada yang salah bisa malu sekolah karna ulahku.


"Zahra! Serius amat"


Aku mendongak, pria dengan setelan kemeja putih dan setelan jas hitam itu berdiri di depanku. Sepatunya yang mengkilap dan kacamatanya yang indah menambah ketampanannya. Tak kusangka kak Angga berubah total, aku melihat dari atas ke bawah, perfect!


"Malah nglamun, "ujarnya seraya duduk di sebelahku.


"Iya kak, latihan lagi biar nggak salah nanti," ucapku.


"Kamu jangan tegang nanti malah buyar lo acaranya," ujar kak Angga.


"Gimana nggak tegang diliatin cowok-cowok ganteng," ucapku mengerling nakal.


"Aku nggak ganteng nih?" Kak Angga menatapku sembari menahan tawa.


"Ganteng nggak ya?" Aku sembari mengedarkan pandangan tanpa menoleh kearahnya.


"Masa enggak sih, orang kamu sampai nglamun gitu liatnya " Aku segera menatap kak Angga.


"Kepedean," ujarku.


"Ceritanya udah move on nih dari kakak? " Aku menatapnya aneh. Mungkin maksudnya bukan move on tapi melupakan.


"Emang kita jadian?" Menaikkan satu alis sembari melipat kedua tangan di dada.


"Nggak jadian sih, bukanya kamu menyukaiku?"


Seketika pipiku merona, ingin mengelak tapi nyatanya benar.


"Kata siapa? Kepedean," ujarku mengelak.


"Kan aku bisa baca pikiran kamu," jawabnya.


"Emang kakak peramal bisa baca pikiran orang?" ujarku tertawa.


"Bukan peramal tapi aku di beri keistimewaan untuk mengetahui apa yang tidak diketahui orang," ucapannya sedikit membuatku tersentak.


"Maksudnya indigo?"

__ADS_1


"Bisa dibilang gitu sih"


Aku diam tidak bisa menimpali perkataannya. Berarti selama ini dia mengetahui apa yang aku pikirkan?.


"Gawat ya kalau jadi pacarnya kak Angga. Mau selingkuh udah ketahuan " Aku tertawa ke arahnya.


"Ya kalau dia mau selingkuh aku selingkuh duluan lah, biar nggak makan hati," ujarnya seraya tertawa.


Alhasil kami berdua tertawa bersama. Aku baru mengetahui bahwa kak Angga sebenarnya indigo. Pantas saja selama ini apa yang dia ucapkan selama ini benar.


"Boleh foto? "tanyanya, mana mungkin aku melewatkan momen ini.


Kita berpose dengan berbagai gaya, aku merebut kameranya dan mengambil alih. Foto saat dia tidak sadar juga aku abadikan. Ada satu yang paling lucu saat dia menguap jelas sekali rentetan gigi putihnya dan lubang hidung sedikit mengembang. Aku tertawa terbahak-bahak.


"Siniin, aku mau lihat, " Dia mulai kesal akan tingkahku dan berusaha merebut kamera dari tanganku.


"Jangan kak, jangan diambil ih, "ujarku kesal sesaat dia mengambil kamera dari tanganku.


"Iseng kamu ya, ambil foto sembarangan"


Dia mulai kesal terlihat di wajahnya.


"Hahah, nggak papa kak imut kok, hah, "


Aku masih tertawa.


Satu foto diambil dan pasti itu fotoku. Dia berganti tertawa terbahak-bahak melihat fotoku.


"Apaan sih kak, liat ih, "kataku.


"Jangan nanti kamu nggak kuat. "


Dia meneruskan ketawanya. Aku merebut kamera, benar saja terlihat aku sedang tertawa dengan mata yang menyipit, dan melebarkan senyuman yang menampakkan gigi gingsulku.


"Kakak ih, iseng " Aku membuang muka.


"Hahha, nggak papa kali gantian isengnya" katanya.


Aku pun ikut tertawa, entah kenapa aku nyaman dengan kondisi ini. Aku sudah berusaha untuk mengiklaskanya, memang sudah seharusnya aku melakukan ini sejak dulu.


Melihatnya tersenyum senang dan tertawa lepas aku sudah merasa cukup lega . Aku melebarkan senyuman hingga lesung pipiku mulai muncul. Kak Angga menatapku sejenak.


"Kalau begini kamu terlihat manis."


Ucapnya sukses membuat pipiku merona. Bagaimana tidak, dipuji oleh ketua Osis tertampan. "Tapi bohong, "lanjutnya. Semula raut wajah bahagia kini hilag seketika. Aku mencebikkan bibir padahal hari ini banyak yang memuji penampilanku, kenapa ia tidak?


"Angga, mending kalian jadian aja deh. Kalian itu udah kayak pasangan. Udah nikah aja," ujar sahabat kak Angga.


"Apaan sih bro, kita cuma temen kok," ucap kak Angga.

__ADS_1


"Ya nggak papa kali, kan rasa nyaman datang dari persahabatan. Kalau nikah jangan lupa undang aku, "ucapnya.


Aku membulakan mata, nikah? Aku kan masih bocah, mana sanggup menanggung beban rumah tangga nantinya.


"Nikah, nikah apa sih? Baru aja mau lulus SMA masa udah mau nikah," kata kak Angga.


Kami tertawa bersama, membicarakan hal konyol yang mungkin tidak akan terjadi. Aku sekilas menatap kak Angga, mungkin ini pertemuan terakhir.


"Zahra ayo siap-siap, sebentar lagi acara dimulai, "kata bu Mita.


Peraaan gugup menerpaku, melihat banyak sekali orang yang memenuhi gedung. Semua mata memandang ke arahku aku merasa disudutkan. Aku mulai melangkah ke depan panggung, menarik nafas dalam untuk memulai semuanya. Kak Angga dari jauh tersenyum seakan memberiku kekuatan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, "ucapku dan di balas dengan salam juga.


Aku meneruskan pembicaraanku. Membaca setiap rangkaian acara mulai dari sambutan, penampilan pentas seni, penyerahan piala, dan pembacaan ayat suci Al qur'an sebagai penutup acara. Kegiatan berlangsung kurang lebih dua jam.


Akhirnya kegiatan usai, beban dipikiranku mulai hilang. Segera berlari ke arah pintu ke luar untuk menemui kak Angga. Karna moment ini akan terjadi sekali tidak pernah bisa diulang lagi.


Kak Angga duduk di depan gedung sembari memainkan ponsel nya. Raut wajah kebahagiaan terpancar di wajahnya, pasalnya dia mendapat hadiah sebagai siswa berprestasi. Aku semakin kagum padanya tidak hanya tampan tapi memiliki segudang prestasi.


Langkah kupercepat tak sabar ingin mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Langkahku terhenti ketika wanita dengan jilbab biru langit itu menghampiri kak Angga. Senyum yang tadinya ku ciptakan kini berganti dengan kesedihan. Wanita itu tampak cantik dengan gaunya seperti baru selesai wisuda, tapi sepertinya bukan berasal dari sekolah sini.


Aku hanya ingin memastikan siapa wanita itu dan menanyakan kepada kak Angga, namun belum sempat melangkah tiba-tiba mereka berpelukan di depanku.


Langkahku terhenti, hatiku rasanya disayat-sayat perih pedih itu yang kurasakan. Mungkin wanita itu adalah tambatan hati kak Angga, tak salah kak Angga memilihnya wanita itu memang sempurna dibanding denganku. Kak Angga memperlihatkan pialanya pada wanita itu. Terlihat wanita itu senang mendapat kabar gembira itu.


Aku hanya diam mematung ditempat ingin pergi namun rasanya sakit. Tapi kalau masih bertahan nantinya akan ketahuan.


"Zahra sini! "


Suara itu menyadarkan lamunanku, kak Angga memanggilku. Dengan langkah berat aku berjalan ke arah mereka berdua.


"Selamat ya kak, udah jadi siswa berprestasi," kataku memberikan selamat pada kak Angga.


"Makasih, ini kenalin Divia pacar aku"


Serasa disayat hati ini ketika mendengar kata yang keluar dari mulut kak Angga. Dugaanku benar, wanita itu adalah pacarnya kak Angga. Namun aku masih berusaha tersenyum walau sebenarnya hatiku sakit melihatnya.


"Zahra"


Aku menjulurkan tangan ke arahnya dan di sambut manis olehnya.


"Zahra pamit dulu ya kak, masih ada urusan soalnya, "kataku.


Dengan segera aku pergi dari hadapan mereka berdua. Karna kalau tidak akan ada banjir air mata. Aku tidak mau orang melihat kesedihanku biar aku yang merasakanya.


Setelah semua pemotretan selesai, aku memutuskan untuk pulang. Tak sabar rasanya menumpahkan kesedihan pada kasur tercinta. Sungguh melelahkan, lelah hati dan pikiran.


Tak kusangaka acara pelepasan siswa menjadi saksi aku melepaskan kak Angga yang tak pernah aku miliki sebelumnya

__ADS_1


__ADS_2