Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 34


__ADS_3

"Jika melepaskan adalah cara terbaik, maka aku akan melakukanya"


.


Semenjak kejadian itu kak Fahmi mendadak diam memilih duduk sendirian dan melamun sesuatu yang tidak jelas. Dia lebih suka mengurung diri di kamar menghabiskan waktu mendengarkan lagu-lagu galau di laptopnya. Kuliah pun sering terbengkalai, tugas-tugas di abaikan. Matanya sembab seperti tidak tidur berhari-hari. Seperti pertama kali saja sakit hati kakakku ini.


Disisi lain Siska juga melakukan hal yang sama, diam seribu bahasa. Yang biasanya mengoceh tanpa jeda sekarang lebih memilih untuk menghentikan aktifitasnya. Waktunya dihabiskan untuk melamun, tapi pernah aku melihat dia tersenyum karna balasan chat dari seseorang. Aku tidak tahu pasti, setiap kali ingin melihat selalu dihalangi olehnya. Kalau mereka sama-sama galau mengapa mereka tidak jadian saja?


"Ngelamun aja terus, nggak mau nyemangatin aku main basket? "


Aku beralih menatap orang di sisihku tengah memegang bola basket di tangannya. Tertawa dalam hati melihat Hamzah yang ingin bermain basket di kantin kampus.


"Sejak kapan kamu disitu? "


"Sejak tadi, lagian nglamun aja semangatin aku dong, " ujarnya.


"Semangatin apa? "


"Main basket lah, " ujarnya.


" Kamu mau main basket di kantin zah? "


"Kamu halu nya kebengetan ra, masa lapangan basket dibilang kantin, "


Aku mengedarkan pandanganku ke penjuru arah. Benar saja aku dilapangan, tapi bagaimana bisa sampai disini?


"Yaudah sana main, " ucapku


"Temen-temen yang lain semua istirahat ra, masa aku mainya sendirian, " jawabnya.


"Yuk aku temenin, " ajakku.


"Emang bisa? "


"Kamu ngremehin aku ya? "


Dengan segera aku merebut bola dari tangan Hamzah, berlari dari tempat duduk dan menggiring bola ke lapangan. Tanganku sangat lihay memainkan bola menghindari serangan dari Hamzah. Menggiring bola ke sana ke mari mengecoh pergerakan Hamzah. Satu tembakan mengenai ring berhasil mencetak satu angka. Berhasil! Aku bersorak ria menjulurkan lidah ke arah Hamzah tertawa mengejeknya.


Dia tidak mau kalah merebut bola yang sedang aku kuasai. Sepertinya dia membalas perbuatanku barusan. Lelah aku diombang-ambingkan oleh Hamzah. Tiba-tiba ide jahilku muncul pura-pura terjatuh di hadapanya agar bisa merebut bolanya.


"Aduh, " ringisku.


Aku memegangi lutut yang sama sekali tidak sakit. Mengeluarkan jurus utamaku puple eyes dan sejenak menatapnya. Lalu apa responnya? Dia tertawa terbahak-bahak, gagal sudah rencanaku!


"Kamu kalau mau acting jangan sama aku deh, nggak mempan! Matanya di kondisikan ya dek, " ujarnya.


Aku geram melihat respon Hamzah yang biasa-biasa saja. Sepertinya actingku ini tidak mempan baginya. Dengan segera aku bangkit ingin mengambil alih bola, namun tiap kali usahaku gagal. Aku tidak kehilangan ide aku mencekal kaki kirinya menyebabkan dia limbung ke tanah. Bola bergerak bebas aku segera mengambilnya dan memasukkanya ke ring, berhasil!


"Gimana zah, aku hebat bukan, "ujarku.


"Kamu curang ra, " katanya.


Sontak tawaku pecah melihat Hamzah yang terjatuh, ia bangkit dan berjalan ke arahku. Namun pandanganku bukan ke orangnya tetapi pada hidungnya yang mengeluarkan cairan merah. Aku khawatir segera aku menghampirinya.


"Ya Allah zah darah! " ucapku. Dia memegang hidungnya dan mengusap kasar darahnya


"Aku nggak papa, " ujarnya.


Aku segera membantunya ke pinggir lapangan mendudukanya dan memberikan dia minum. Au mengusap darahnya yang terus mengalir, rasa panik mulai menyelimuti pikiranku. Bagaimana nanti kalau Hamzah sakit karna ulahku?


"Maaf ya zah, aku kira nggak bakalan kaya gini. Aku maaf ya gara-gara aku kamu jadi terluka," ucapku.


"Kamu nggak salah, aku nggak papa kok"

__ADS_1


Senyum itu masih ia terbitkan. Tapi perlahan senyum itu hilang bersamaan dengan Hamzah yang mendarat di bahuku dengan mata terpejam. Aku terkejut menepuk pipinya berulang kali namun tidak ada pergerakan . Aku semakin takut jika Hamzah kenapa napa.


"Hamzah bangun! Hamzah! " ucapku berkali-kali tapi tidak pernah ia jawab. Pikiranku kacau ingin mencari bantuan pada siapa sedangkan disini sepi tidak ada orang.


Aku hanya memandangi wajah yang kian memucat, darah masih sesekali mengalir. Aku tak peduli darah itu mengenai bajuku. Yang aku fikirkan bagaimana caranya memindahkan Hamzah ke uks, sedangkan badanku saja tak sebanding dengan Hamzah.


"Reno! Tolong aku! " Aku berteriak ketika Reno melintas, ia segera berlari ke arahku.


"Tolong Hamzah dia pingsan," ucapku lesu.


"Ya Allah Hamzah! "


Dia mengambil alih Hamzah dari pundakku, mengaitkan satu tangan ke leher Reno dan membantunya berjalan. Aku ingin membantu Reno namun mendapat tepisan olehnya.


"Jangan membantuku urusi saja dirimu! " ucapnya, aku semakin tak bisa menahan air mata.


"Maaf aku telah melukainya tapi apa aku tidak boleh membantunya? "ucapku sedikit terisak.


"Tidak usah, aku bisa mengurusnya,"kata Reno.


"Kamu tidak lihat Hamzah terluka?! Aku ingin membantunya itu saja! " Nada bicaraku meninggi.


"Apa kamu juga tidak lihat! Hamzah terluka karenamu! Karna kecerobohanmu! "


"Maka dari itu izinkan aku merawatnya, " ucapku lagi.


"Tidak perlu, Hamzah tidak membutuhkan perhatian palsumu itu."


Reno melangkah pergi dari lapangan menyisakan aku yang menangis tersedu-sedu. Tubuhku luruh ke lantai, merutuki hal bodoh yang telah aku lakukan. Hamzah terluka karenaku dan sekarang Reno membenciku. Pandanganku kabur aku mulai merasakan berat di kepalaku, dan akhirnya tergeletak di lantai.


Aroma khas obat-obatan menganggu indra penciumanku. Perlahan aku membuka mata aku sudah berada di dalam kelas. Melirik ke arah samping Siska sudah siaga disishku. Tanpa basa-basi aku langsung berhambur memeluknya, menangis dalam dekapanya meluapkan seluruh emosi yang sedari tadi aku pendam.


"Kamu kenapa ra? "


"Hamzah kenapa? "


"Tadi di-dia jatuh terus hidungnya berdarah, Reno memarahiku dan membentakku sis. Katanya Hamzah tidak perlu simpatiku sis, Reno membenciku. Aku memang bodoh! " Aku memukul kepalaku sendiri.


"Sudah ra, Reno pasti tidak membencimu, mungkin karna emosi dia mengatakan seperti itu. Sudahlah jangan bersedih oke. "


"Nanti bagaimana kalau Hamzah membenciku sis? "


"Tidak akan percayalah. "


Aku kembali memeluk Siska fikiran negatif terus membayangi pikiranku. Kalau benar Hamzah membenciku aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.


Semuanya sudah berhambur pulang menyisakan aku yang masih termangu menatap sendu mengingat kejadian itu. Tas Hamzah belum bergeser sedikit pun, aku tahu pasti dia belum pulang saat ini. Aku terus saja menatap pintu berharap dia datang maka aku akan menebus kesalahanku.


Suara langkah kaki mengagetkanku, pria dengan balutan kain kasa di jidatnya dan lututnya itu hendak mengambil tas. Berjalan gontai ke arah kursinya.


"Biar ku ambilkan, " ucapku namun segera di tepis olehnya.


"Tidak perlu" Dia segera beranjak, dan aku mengikutinya.


"Tolong maafkan aku zah, aku tau aku salah tapi kamu jangan bersikap seperti ini, " ucapku.


"Lalu aku harus bersikap bagaimana setelah kamu melukaiku? " Serasa mulutku di bungkam tidak mampu membalas ucapan Hamzah.


"Gimana keadaan kamu? Baik-baik saja kan? Apa perlu kita ke dokter? " Aku mengalihkan pembicaraan, meredam amarahnya.


"Simpan saja pedulimu itu, aku tidak perlu! "


Hatiku rasanya nyeri, perkataan Hamzah begitu menyayat hati. Aku berhenti dan dia terus melangkah menuju motornya. Dari perkataanya aku tahu bahwa dia membenciku, tapi bukan seperti ini.

__ADS_1


Air mataku kembali lolos di pelupuk mata mengalir begitu saja. Aku sudah kehilangan sahabat terbaikku dan sekarang ia malah membenciku.


Dia menaiki motornya, menyalakan mesin dan menggunakan helm. Membelah jalanan kota dan meninggalkanku yang memaku ditempat. Sesakit inikah bila dibenci seseorang?


"Dek kenapa kamu nangis? " Tanpa aba-aba aku langsung memeluk pria yang berdiri di sebelahku.


"Kamu kenapa? " Aku hanya menggeleng.


Dia membimbingku ke mobil membuka pintu mobil, aku segera masuk kedalam. Dia menjalankan mobilnya. Aku masih saja terisak. Tidak ada pertanyaan dari kak Fahmi mungkin dia memahami kondisiku saat ini.


Aku membuka pintu rumah mengedarkan pandangan ke penjuru rumah, sepi seperti tidak ada penghuni. Aku menoleh air kolam itu nampak tenang seakan memaksaku untuk menghampirinya. Melempar tas ke sembarang arah dan berjalan gontai ke arah kolam.


Air yang nampak tenang bukan berarti selalu aman mungkin di dalamnya ada bahaya yang sudah menanti. Aku duduk di pinggirin kolam mencelupkan kaki ke kolam. Memandangi rembulan yang seakan ikut membenciku. Aku menatap ke arah kolam sepertinya air itu mampu membuatku tenang.


Byur....


Aku menghempaskan tubuhku di kolam yang penuh ketenangan itu. Tubuhku sedikit mengigil merasakan dinginya air. Meski begitu tidak mampu mengobati rasa sakitku. Aku memejamkan mata melupakan semua yang terjadi. Dulu kak Syarif juga sama membenciku tanpa sebab dan kini Kabar yang menyebar bahwa dia telah memiliki tambatan hati. Dan sekarang apa Hamzah akan seperti dia?


Lama kelamaan tubuhku merasakan dinginya udara malam. Mungkin saat ini bibirku memucat sesekali aku terbatuk mungkin efek meminum air terlalu banyak. Tubuhku menjadi sangat ringan seakan tidak memiliki berat lagi aku menutup mata membiarkan apa yang terjadi selanjutnya.


Byur....


Aku merasakan tubuhku diangkat mataku belum membuka namun aku bisa merasakan sentuhan. Benda hangat membaluti tubuhku, dadaku sedikit di tekan aku memuntahkan air dari perutku. Sedikit terbatuk namun mengurangi sesakkku aku membuka mata menangkap sosok di depanku.


"Apa yang kamu lakukan ra?! Kamu bisa celaka jika seperti itu! "


Kak Fahmi membentakku, aku kembali terisak mengambil posisi duduk dan menghadap ke arahnya.


"Apa kamu kira mereka memaafkanmu jika kamu melakukan hal bodoh itu! " Aku kembali menangis.


"Kalau itu yang kamu mau, maka lakukan!." ujarnya, dia melangkah pergi meninggalkanku sendirian.


Aku kembali tertegun benar juga mereka tidak memaafkanku jika aku melakukan ini. Bukan hanya mereka tapi kakakku sendiri juga membenciku. Aku mengusap air mata kasar, aku harus meminta maaf!


Aku berlari ke kamar mengganti pakaian yang sudah basah kuyup. Aku melewati kamar kak Fahmi dia hanya memandang ke arah jendela. Aku membuka sedikit pintu mendekat kearahnya memeluk dan menangis di pelukanya. Namun langsung mendapat tepisan olehnya namun aku mengeratkan pelukan.


"Maafin Zahra kak, " ucapku terisak, tapi dia masih bergeming.


"Zahra salah, Zahra minta maaf, " ujarku lagi, tapi dia masih saja diam.


"Tolong jangan benci Zarhra kak, cukup mereka saja kakak jangan. Hanya kakak yang Zahra punya. Aku mohon, hiks ... hiks, " ujarku bersimpuh di kakinya. Aku meluapkan semua emosi apakah kakak akan membenciku sama seperti yang lain?


Perlahan kurasakan usapan di punggungku tangan itu mengangkat tubuhku. Mataku langsung bersibobok dengan mata hitam pekat itu. Aku langsung memeluknya.


"Kakak nggak marah sama kamu, kakak cuma kesal dengan cara kamu. Kamu tahu tadi kalau kakak tidak menolongmu? Pasti kamu sudah mengapung disana atau bahkan tidak bernafas, kakak khawatir sama keadaanmu tadi. Harusnya kamu tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak, " ucap kak Fahmi, aku melepas pelukan dan menatapnya.


"Maafin Zahra kak bikin kakak khawatir, tadi cuma kepikiran kalau berendam bisa mengurangi masalah. Hiks ... Maaf kak, " ucapku.


"Tapi bukan gitu ra caranya, kamu ada masalah apa? Cerita sama kakak. "


"Hamzah membenciku kak. "


"Kok bisa? "


Aku menceritakan kejadian sebenarnya pada kak Fahmi. Dia mendengarkan dengan seksama.


"Kalau dia memang sahabat kamu, pasti dia tidak akan membencimu. Percaya sama kakak."


"Yaudah gih tidur udah malem, nanti sakit loh."


"Makasih ya kak udah selalu suport Zahra"


Aku memeluk kedua kalinya kak Fahmi dengan erat. Benar kata kak Fahmi bukan soal waktu yang bisa merubah semuanya namun kita sendirilah yang harus berfikir dewasa untuk berani mengubah diri kita sendiri.

__ADS_1


__ADS_2