Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 16


__ADS_3

"Memang sudah saatnya aku melupakanmu"


Gelap, itulah yang kurasakan saat ini. Samar-samar aku melihat wanita yang berseragam serba putih sedang berdiri disisiku. Aku kembali memejamkan mata untuk memfokuskan pandanganku.


Aku langsung menatap ke arah wanita berseragam putih itu. Nampaknya dia mulai mendekat, semakin mendekat.


"Mbak sudah sadar? "


Aku menatap wanita muda di sebelahku yang bisa kupastikan itu adalah suster. Aroma obat-obatan menganggu indra penciumanku, aku sadar bahwa aku sedang berada di rumah sakit.


Aku hendak melangkah dari brankar, tapi rasa sakit yang ada dikepalaku kian menjadi. Suster itu menyuruhku untuk berbaring kembali.


"Mbak istirahat dulu ya ... biar kondisinya pulih. Nanti kalau sudah sembuh, mbak bisa pulang" ujarnya lembut.


"Kenapa saya disini? " lirihku.


"Mbak tadi habis kecelakaan " ujarnya, aku terkejut mendengar pernyataan itu. Hingga aku terpikir pada wanita yang tadi bersamaku. Kak Bela!


"Kak Bela dimana? "tanyaku.


"Dia diruang sebelah mbak"


"Antarkan saya ke ruanganya"


"Tapi mbak ... "


"Tolong antarkan saya"


Aku dibantu suster itu menuju ruangan kak bela. Aku terpaku menatap keadaan kak bela yang terbaring lemah di atas brangkar. Dengan selang infus yang menancap di tangan dan oksigen yang membantu ia bernafas. Aku perlahan mendekatinya menggenggam erat tangannya menyesali akan kejadian yang baru saja terjadi. Hingga menbuat kak Bela seperti ini.


"Kak bela maafin aku udah buat kak Bela begini "


Aku terisak disamping brankar.


Entah kenapa sampai sekarang kak Bela belum membuka matanya. Aku bingung harus menghubungi siapa, sedangkan keluarganya sedang sibuk diluar kota. Jika aku mengabarinya aku takut keluarganya khawatir akan keadaanya. Tapi jika tidak aku takut berdosa. Ya tuhan tolonglah hamba.


Sampai detik ini masih belum ada kemajuan. Aku terus memegangi tanganya erat. Dan tanpa sadar aku terlelap beralaskan tangan itu.


Entah berapa lama aku tidur, hingga aku mulai menggeliat kala mendapat sentuhan di kepalaku. Aku mendongak menatap tangan itu.


"Kak bela! Kakak udah sadar? "tanyaku panik. Dia hanya tersenyum.


"Mata kamu kenapa bengkak? Kamu habis nangis? "tanyanya dengan sedikit lirih.


"Enggak kok ... maaf ya kak gara-gara aku kakak seperti ini "ujarku seraya menunduk.


"Enggak papa ... lagian ini bukan salah kamu"


"Kakak mau aku panggilin orang tuanya atau siapa? "


"Panggilkan Syarif saja ."


Mataku membulat sempurna di saat seperti ini dia malah menyuruhku untuk memanggil adiknya? Perasaan tidak enak menyelimuti pikiranku.


"Tapi kak, bukanya dia di Jogja? "tanyaku sedikit mengelak.


"Tolong kamu panggilkan dan suruh dia kesini" ujarnya.


"Baiklah" Aku segera mengambil handphone dan melangkah keluar.


Aku ragu untuk menelponya kali ini. Bagaimana aku memulainya? Sedangkan aku saja tidak pernah berbicara denganya. Tapi aku harus terpaksa melakukannya demi kak Bela.


Aku menekan tombol panggil pada kontak kak Syarif. Terdengar suara nada tunggu. Sungguh aku benar-benar gugup kali ini. Bagaiman tidak? Sedangkan orang yang aku telpon adalah orang yang sempat aku kagumi. Nada tunggu itupun berhenti, tepatnya dia sudah mengangkat telponku. Ya tuhan bagaimana ini?


"Assalamualaikum"

__ADS_1


Dia bersuara namun aku masih tidak percaya.


"halo Zah ... Zah ada apa? "tanyanya.


Ucapan yang kedua kali menyadarkan lamunanku.


"Eh.. Walaikumsalam kak " ucapanku sedikit terbata-bata.


"Kakak sekarang masih kuliah? "tanyaku.


"Lagi libur ada apa? " Aku menelan ludah kasar sulit untuk menjelaskan semuanya.


"Kak Bela ada dirumah sakit dia


nyuruh kakak kesini "ucapku lesu.


"Astagfirullah kenapa? Yasudah saya kesitu! Assalamualaikum "ucapnya seraya menutup telfon.


Akupun menutupnya dan kembali masuk ke ruangan kak Bela. Aku menatapnya sedang terbaring lemah, bodohnya aku membuat orang-orang yang aku sayang menderita. Tak bisakah aku membuat mereka bahagia? Aku terus merutuki diriku sendiri.


Aku terus menggengam erat tangannya, berusaha memberikan kekuatan meski tidak akan pernah mengubah segalanya. Entah kenapa kak Syarif belum datang juga, tolong datanglah mungkin kehadiranmu akan sedikit mengurangi kesedihanku.


Aku terus berdoa dalam hati untuk kesembuhannya, meski kepalaku terasa berat tapi tak sebanding dengan apa yang dirasakan kak Bela.


Aku menatap pintu ruangan belum ada tanda-tanda kehadirannya. Mungkin karna jarak antara kota Bandung dan Jogja lumayan jauh jadi akan lama untuk sampai disini. Aku mengirimkan lokasi rumah sakit dimana tempat kak Bela di rawat kepada dia. Berharap semoga di cepat sampai kesini.


Krekkk....


Suara pintu dibuka menampakkan seorang laki-laki yang berperawakan jangkung itu. Dia mulai mendekat, segera kutepis air mataku. Dia lekat menatapku segera aku berdiri menatapnya penuh arti.


"Assalamualaikum "ucapnya.


"Waalaikumsalam. Kamu sudah datang?"


Entah pertanyaan bodoh apa yang kulontarkan. Dia hanya diam beralih menatap wanita yang sedang terbaring lemah diranjang.


"Kak maafin aku "ucapku seraya menunduk.


"Kamu apakan kakak saya!"


Aku terus menunduk, tak kuasa menahan tangisanku. Aku menumpahkan segalanya, malu? Mungkin tidak ada lagi dalam kamusku.


Tanpa kusadari diapun turut menangis. Baru kali, seorang yang terkenal dengan sifat dinginya itu menitikkan air mata. Ya tuhan ... aku membuat mereka menderita lagi. Entah setelah ini kak Syarif akan memarahiku atau mungkin membeciku. Kali ini aku sudah pasrah.


"Emh"


Terdengar suara lemah dari kak bela.


Aku menghapus air mata, menatap ke arahnya.


"Kak, kenapa bisa seperti ini? "tanya kak Syarif.


"Aku nggak papa kok, Rif "ucap kak Bela lemah.


"Zah apa yang telah kamu perbuat sama kakak saya! "


Dia menatapku tajam sedangkan aku menunduk tanpa berani menatap matanya. Tanganku bergemetar mulutku seakan bisu sulit menjelaskan apa yang baru terjadi.


"Aku ... Aku--"ucapanku terpotong oleh kak Syarif yang tiba-tiba langsung menyentakku.


"Apakah kamu sadar apa yang sudah kamu perbuat! "


Dia terus saja membentaku, melontarkan bertubi tubi pertanyaan yang belum sempat aku jawab. Aku hanya diam sambil terisak.


"Apa kamu sadar, hampir menghilangkan nyawa orang! " Masih membentakku, aku hanya diam.

__ADS_1


"Kamu tahu! Kak Bela sangat berharga !jika terjadi sesuatu padanya entah apa yang bisa kuperbuat padamu!"


Serasa menyayat hati perkataanya barusan. Penuh penekanan di kata terakhir. Aku tak kuat menahnya lagi, air mataku terus saja mengalir.


Aku tak kuasa menahan air mata. Hingga akhirnya kak Bela angkat bicara.


"Rif jangan seperti itu. Ini salah kakak karna tidak berhati-hati. "


"Tidak! Pasti ini ulah dia! "


Kak Syarif menunjukku sedangkan aku masih terisak di tempat. Wajahnya memerah menahan amarah, tangannya di kepalkan di samping badan membuatku kalut untuk berani menatap wajahnya.


"Rif kakak mau bilang sesuatu. "


Aku menatap kak Bela sejenak, perasaanku mulai tidak enak.


"Apa kak? "


Kak Syarif memegang erat tangan kak Bela sembari mengusapnya. Nada bicaranya menjadi pelan ketika ia berhadapan dengan kakaknya.


"Kamu mungkin tidak pernah merasa ada seseorang yang selalu memperhatikanmu, Selalu menyebut namamu dalam doanya "


Aku tersentak mendengar ucapan kak Bela. Perasaanku tak karuan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kak Bela mengatakan yang sebenarnya.


"M-maksudnya? "


Pria di hadapanku mengernyitkan dahi belum mencerna betul perkataan dari kakaknya itu.


"Zahra "


Mataku membulat sempurna, Rasanya aku ingin lari dari tempat ini dan mengurung diri ketika kak Bela menyebut namaku. Gugup ketika kak Syarif menatapku, Aku pasrah kali ini jika harus menerima kenyataan pahit setelah ini.


"Zahra kenapa? "


Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku. Jantungku berdebar-debar menunggu jawaban apa yang akan diucapkan kak Bela.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


"Menyukaimu"


Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar ucapan terakhir dari kak Bela. Benar, dia tidak menepati janjinya untuk menjaga rahasia. Rahasia yang selama ini aku pendam kini terbongkar dengan cara yang tidak wajar. Aku terus menunduk tak sanggup jika harus melihat ekspresi wajah dari pria dihadapanku ini.


Bersiap-siap hati untuk merasakan sakit lagi.


"Bagaimana bisa aku menyukai seseorang yang telah mencelakai kakak saya sendiri!"


Seketika air matalu lolos dipelupuk mata aku mendongak menatap kak Syarif. Rahangnya mengeras serta mata yang sedikit berembun. Sebenci itukah dia?


"Rif! Berapa kali kakak bilang jangan menyalahkan Zahra! Semuanya salah kakak bisakah kamu tidak terus menyalahkanya! Dan ... bisakah kamu sedikit membalas perasaanya? "


Kak Syarif mengalihkan pandangannya kepada wanita yang terbaring di atas brankar sembari tersenyum tipis.


"Perasaan macam apa itu kak? Itu bukan perasaan tapi obsesi! Entah akupun punya perasaan itu atau tidak. "


Kata-kata itu masuk ke sela kecil di lorong telingaku, gemanya begitu mengganggu. Dia beranjak pergi meninggalkan brankar dan menutup pintu dengan keras.


Aku beralih menatap kak bela, entah rasa penyesalan itu datang. Andai saja dia tidak mengatakanya pasti hubunganku tidak seburuk itu.


"kenapa kakak ingkar janji?"


Aku terisak ingin marah tapi sudah terlanjur.

__ADS_1


"Tidak papa Zah .... biarkan dia tahu semuanya " Kak Bela mengusap kepalaku. Aku semakin terisak.


Semuanya sudah terjadi, tidak ada lagi yang bisa mengubah. Menyesal pun percuma semua sudah terbongkar dengan sendirinya. Rahasia yang aku tutupi kini telah di ketahui olehnya. Bukannya mendekat, tapi setelah ini dia membenciku dan terus menjauhiku.


__ADS_2