
"Kita pernah melukis rasa walau semua hanya candaan belaka"
.
Aku memandangi rumah minimalis itu. Dinding yang bercat biru muda itu nampak indah bila dipandang. Pekarangan yang luas yang banyak ditumbuhi tanaman itu membuat sejuk bila mata memandang. Mengekori langkah Hamzah dari belakang menuju rumah mewah nan megah itu.
"Assalamualaikum "
Berjalan pelan melewati pintu depan rumah Hamzah. Wanita paruh baya dan seorang anak kecil dengan manis duduk disofa yang mewah. Aku masih terkesima dengan isi rumah yang begitu membuat mata takjub. Hiasan-hiasan klasik telah menggantung di sisi ruangan dan barang-barang antik telah telah tersusun rapi di rak depan televisi. Aku hanya menatap kagum isi rumah ini, baru pertama kali aku memasuki rumah sahabatku ini.
"Kakak cantik!"
Suara panggilan mengalihkan pandanganku. Segera aku berjongkok mensejajarkan tubuhku dengannya.
"Kakak cantik, Ara kangen" Ara langsung memelukku erat.
"Kakak juga kangen sama Ara " Aku membalas pelukan Ara sesekali mencubit pipinya gemas.
"Kakak belum tepatin janji kakak buat beliin Ara ice cream, Ara ngambek!" Ara melepaskan pelukan melipat tangannya di dada dan mengerucutkan bibir.
"Yaudah nanti kakak beliin ice cream, tapi Ara jangan ngambek lagi ya, janji." Aku mengangkat jari kelingkingku sembari menatapnya lekat.
"Janji?"
"Huum"
Ara kembali memelukku erat hingga nyaris membuatku sesak nafas. Seperti adik kakak yang sudah lama berpisah.
"Ini siapa calon kamu, Zah?"
Aku beralih menatap wanita paruh baya yang berdiri di depanku.
"Calon apaan sih ma " Hamzah menggerutu. Aku bangkit dari dudukku dan berdiri menghadap wanita itu.
"Zahra kenalin ini mama aku "
Aku segera meraih tangannya dan mencium dengan takzim seraya tersenyum ke arahnya.
"Zahra tante,"ujarku.
"Kamu bukannya yang ikut diner itu ya?" Aku memandangi setiap inci wajahnya seperti tidak asing dengan wajah itu.
"Iya, tante Desi kan?" tanyaku.
"Iya, ya Allah nggak nyangka kita bisa ketemu ya " Tante Desi memelukku erat. "Sini duduk," titahnya. Aku hanya mengikuti instruksi dan merebahkan diri di sofa.
"Makasih tante,"ujarku.
"Kok kalian bisa ketemu sih?" Tante Desi menatapku bergantian.
"Kebetulan kita satu kampus tante malahan satu kelas,"ujarku.
"Dulu aja Hamzah diajakin diner nggak mau malah sekarang ketemu sama Zahra. Jodoh mungkin ya " Tante Desi hanya cengengesan.
"Kakak Ara boleh di situ enggak " Aku beralih menatap Ara yang turun dari sofa dan menunjuk ke arahku.
"Boleh sini "
Aku mengulurkan tangan membalas rentangan tangan dari Ara. Segera aku meraihnya dan menaruh di pangkuanku. Dia memelukku erat sesekali aku menyubit pipi tembemnya itu.
"Kakak sakit tau " Ara melepaskan pelukan dan memajukan bibir.
"Maafin kakak ya, abisnya Ara gemesin," ujarku.
Ara kembali memelukku, rasanya sudah nyaman bila berada di dekatnya. Tanpa menghiraukan tatapan aneh dari mamanya Hamzah.
"Mantu idaman tuh Hamzah "
Aku mendongak menatap ke arah tante Desi seraya tersenyum. Aku maksudnya?
"Mantu apaan sih ma?" Hamzah hanya memutar bola mata malas.
"Liat Ara aja udah nyaman sama Zahra, udah resmiin aja deh "
Aku menatapnya serius, orang nggak ada apa-apa apa yang harus diresmiin?
"Orang nggak ada hubungan apa-apa ma. Apa yang harus diresmiin?" Hamzah menimpali.
"Ya dibuat lah biar ada hubungannya?" Tante Desi menatap Hamzah jengah.
"Kita cuma temen tante," ujarku.
"Dulu om sama tante juga dulunya temen Zahra " Aku hanya tersenyum.
"Kamu mau kan jadi mantunya tante?"
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan tante Desi. Senyum dalam artian bingung bukan mengiyakan ucapan tante Desi.
"Tuh, Zahra aja senyum berarti mau. Kamu tuh yang kurang peka, Zah " Tante Desi menatap Hamzah.
"Kurang peka gimana sih ma?"
"Kurang peka sama keadaan sama kaya papa"
"Loh kok sampai papa sih?"
"Sifat kamu tuh nurut sama papa, egois soal perasaan"
Mereka terus saja berdebat, sedangkan aku hanya menanggapi celotehan Ara. Sesekali dia mencubit pipiku keras membuatnya meringis. Aku menggelitiki tubuh mungil itu tanpa henti karna berani mencubit pipiku.
"A-ampun kak, Ara nggak tahan" Ara melambaikan tangan tanda menyerah namun aku terus melanjutkan aksiku.
"Lagian kenapa kamu cubit pipi kakak," ujarku.
"Abisnya pipi kakak kenyal kayak jeli. Pengen makan pipi kakak deh rasanya" Ara tersenyum cekikan.
"Kalau Ara makan pipi kakak, kakak nggak punya pipi lagi dong" ujarku.
"Nanti tinggal diisi lagi"
"Pake apa?" tanyaku.
"Pake balon, hahah "
Ara semakin tertawa keras dalam pangkuanku. Aku yang geram terus menggelitiki tubuhnya tanpa henti. Ia sempat melambaikan tangan tanda menyerah, namun aku malah semakin menjadi menggelitikinya
Serasa dunia milik berdua tak henti-hentinya aku dan Ara saling menggelitiki satu sama lain. Tak memperdulikan tante Desi dan Hamzah yang masih berada di tempat.
"Mama, bisa nggak kak Zahra jadi kakaknya Ara, kak Hamzah di buang aja ma," ujar Ara.
__ADS_1
"Setuju," tante Desi menjawab.
"Loh ini gimana? Nanti kalau kakak di buang bisa jadi kisah nyata dong ' Seorang anak di buang karena adikanya meminta kakak baru' gitu kan nggak lucu " Hamzah mencebikkan bibir, sontak aku tertawa melihat ekspresinya.
"Lagian kakak jahat! Orang Ara pengen ketemu kakak cantik kok, nggak pernah diturutin " Ara memanyunkan bibirnya.
"Gitu ya sekarang kakak dilupain " Hamzah menatap Ara kesal.
"Oh, jadi yang dimaksud kakak cantik itu kamu, Ra. Pantesan tiap hari tuh cerita aja soal kakak cantik, kirain siapa" Tante Desi menatapku.
"Kan kakak udah disini, Ara mau apa?"
"Ice cream"
"Yaudah kita beli ice cream tapi izin dulu sama mama " Ara bagkit dari pangkuanku dan menuju ke arah mamanya.
"Mama, Ara izin beli ice cream ya?"
"Iya sayang" Tante Desi mengusap rambut panjangnya.
"Sama kak Hamzah juga ya?"
"Loh kok bawa-bawa kakak?" Hamzah mengerutkan dahi.
"Nanti malau ada apa-apa kan kak Hamzah bisa ngelindungin"
Akhirnya Hamzah hanya bisa pasrah menuruti kemauan adik satu-satunya itu. Kami bertiga pamit kepada tante Desi dan melangkah pergi meninggalkan rumah.
Mobil meninggalkan pekarangan rumah membelah jalanan menuju taman yang Ara inginkan. Sejak tadi Ara terus berceloteh banyak hal mengenai kebiasaan kakaknya itu. Aku mendengarkan dengan seksama beriringan dengan Hamzah yang menyangkal omongan adiknya.
"Boleh nggak kalau kak Zahra aku panggil mama dan kak Hamzah aku panggil papa " Aku sedikit terkejut akan permintaan Ara.
"Jangan aneh-aneh Ara kan dirumah udah punya mama sama papa " Hamzah menimpali.
"Tapi Ara pengen punya dua mama sama dua papa kakak," rengek Ara.
"Nggak boleh!" Sergah Hamzah cepat.
"Kakak jahat! Hua ... Ara sebel sama kakak!"
Tangisan Ara mengencang mengundang tatapan aneh dari pengemudi yang berlalu lalang. Aku mengusap punggungnya mengode Hamzah supaya mengiyakan ucapa Ara.
"Oke-oke boleh "
"Yey! Terimakasih mama Zahra" Ara memelukku erat.
"Papa nggak di anggep nih " Hamzah mulai mengerling nakal menyebut dirinya dengan sebutan papa.
"Terimakasih papa " Ara memeluk dari samping.
Sepanjang jalan Ara terus saja bersorak ria bisa memanggil aku dengan sebutan mama begitu juga sebaliknya. Aku hanya tersenyum simpul melihat Ara yang sangat aktif, meski kadang iseng.
"Kayanya kita harus pura-pura jadi orang tua keduanya Ara deh," bisik Hamzah.
Sontak aku mencubit lengannya keras membuatnya meringis. Aku tertawa lepas melihat ekspresi Hamzah setelah kucubit.
"Cie ... papa sama mama cubit-cubitan, Ara juga mau lah "
Dengan segera Ara juga mencubit lengan Hamzah tak kalah kerasnya mengikuti apa yang barusan aku lakukan.
"Ara kok nakal sih?!" Hamzah mengumpat.
"Mama aja boleh masa Ara nggak boleh?"
"Ara jangan nakal nanti papa cium loh " Hamzah menailkan satu alisnya menatap Ara.
"Ara nggak mau, papa cium aja mama "
Seketika aku menoleh tidak habis pikir dengan pemikiran anak kecil dalam pangkuanku ini. Hamzah menatapku sambil menggeleng begitu juga denganku.
"Ayo papa cium mama "
Ara terus saja merengek Hamzah hanya fokus dengan jalan tanpa mendengarkan ucapan adiknya.
"Papa nggak tahu caranya cium? Yaudah Ara praktekin ya, papa liat "
Ara segera mendekatkan wajahnya kepadaku mencium sekilas pipi kananku.
"Tuh gitu. Sekarang giliran papa, ayo papa "
Ara menarik-narik kemejanya Hamzah. Hamzah menggeleng pelan akupun sama tidak ingin melakukan apa yang Ara suruh.
"Kita udah sampai " Hamzah menepikan mobilnya, untung aja nggak disuruh gitu.
Aku menggendong Ara dari pangkuan dan membuka pintu mobil begitu juga dengan Hamzah. Berjalan bergandengan tangan di sepanjang jalan setapak. Ara menggandeng tanganku sangat erat kemudian meraih tangan kiri Hamzah. Alhasil kita bertiga seperti keluarga yang berbahagia.
Senyuman tak lepas dilayangkan Ara beralihan menatapku dan menatap Hamzah. Namun Ara tiba-tiba melepaskan pegangan dan melangkah kedepan.
"Sekarang tangan kiri papa meluk pinggang mama terus tangan kanan papa gandeng aku deh "
Aku hanya menatap satu sama lain dengan Hamzah. Tidak mau melakukan apa yang Ara suruh.
"Ara tahu gitu dari mana," ucapku.
"Dari mama sama papa dirumah"
Gini nih akibat kalau bermesraan di depan anak.
"Ayo lakuin papa " Ara merengek.
Hamzah langsung menggendong Ara dan berlari me arah bangku taman. Dia juga memutar mutarkan tubuh bersamaan dengan Ara. Aku yang melihat kemesraan mereka berdua hanya kagum dan segera menyusul mereka berdua.
"Papa udah Ara pusing, kasian mama tuh di tinggal sendirian," ucap Ara.
"Nggak papa kok Ara," ucapku setengah ngos-ngosan.
Kini aku duduk bersebelahan dengan posisi Ara ditengah dan aku berada di sisi sebelah kiri. Menikmati indahnya air mancur yang terus mengalir di depan kolam. Tak lupa terus tersenyum sehingga menampakkan deretan gigi susunya itu. Tingkahnya sungguh aneh seolah telah dirancang sedemikian rupa. Aku hanya bergidik ngeri bagaimana nanti kalau benar-benar dilakukan. Kan belum sah masa pegang-pegangan.
"Sekarang mama sama papa peluk Ara "
Aku menoleh Hamzah sekilas ia menganggukan kepala. Segera aku mendekat dan memeluknya erat, namun rasanya Ara sudah menghilang dari tengah-tengah kami.
"Cie ... mama sama papa pelukan"
Aku segera membuka mata terkejut karena aku sudah berpelukan dengan Hamzah. Spontan aku langsung melepaskan pelukan dan duduk seperti semula, walau dalam hati rasanya malu.
Ara berdiri di depan seraya tersenyum nakal. Sedangkan aku hanya menatap bingung Hamzah, malu akan kejadian yang baru saja terjadi.
"Maaf ya, Ra. Tadi nggak sengaja meluk kamu"
__ADS_1
Nada bicara Hamzah agak melemah mungkin gugup akan kejadian barusan.
"I-iya" ucapku gugup. Sedangkan Ara tengah tertawa.
"Nakal ya kamu"
Hamzah segera meraih Ara dan menggelitiki tubuhnya. Mereka berdua saling tertawa lepas menggelitik satu sama lain. Aku hanya tersenyum simpul melihat kedekatan mereka berdua. Kapan aku bisa seperti ini?
Aku menepis pikiran itu, lulus aja belum masa udah mau mikirin nikah?
"Wah, masih muda tapi sudah berkeluarga ya mas"
Ibu-ibu yang ada ditaman hanya tersenyum melihat kemesraan mereka. Sedangkan aku hanya gugup.
"Bukan buk, ini adik saya" Hamzah angkat bicara.
"Ow kirain anaknya mas sama mbak" Ibu satu anak itu tersenyum.
"Bukan kok buk" Aku pun ikut bicara.
"Aku anaknya tante"
Tiba-tiba Ara mengucapkan kata seperti itu sontak membuat ibu tadi tertawa. Cobaan apalagi ini.
"Tuh adiknya aja bilang kalau dia anak kalian, masa kalian nggak ngakuin?"
"Bukan buk, dia hanya bercanda"
Aku hanya tersenyum canggung melihat ibu-ibu yang beranggapan bahwa kami adalah satu keluarga. Padahal kan masih muda.
Ara mendekatiku setelah puas bermain dengan Hamzah.
"Mama Ara pengen ice cream" Dia menarik-narik tanganku.
"Yaudah, ayo kita cari"
Ara segera menarik tanganku menuju tukang ice cream yang berada di depan taman. Dengan sangat antusias dia berlari kecil menghampiri tukang es.
"Paman beli ice creamnya tiga "
"Tunggu ya dek"
Tukang ice cream iti segera mengabil ice cream seauai permintaan Ara. Hamzah yang tadi di belakang langsung menghampiri kami. Ara beralih menatap Hamzah yang ngos-ngosan. "Papa mau yang mana?" Ara menatap Hmzah.
"Samaain aja sama Ara" Nafas Hamzah sedikit tersenggal mengejar Ara.
"Wah, masih muda sudah punya anak ya" Aku membulatkan mata, kenapa sih hari ini semua ngiranya kami berkeluarga?
"Bukan pak, ini adik saya. Orang kita masih mahasiswa kok"
"Kirain udah nikah" Tukang es mengangguk pelan.
"Belum pak. Kenapa sih pada ngira kalau kita udah nikah?"
"Karna kelihatannya itu harmonis banget, kayak udah berkelurga aja"
Hamzah mengangguk paham. Setelah memilih ice cream dan membayarnya kita kembali duduk di bangku taman. Aku hanya menatap ke arah kiri sambil memakan ice cream, begitu juga Hamzah yang menatap ke arah kanan. Rasanya canggung jika mengingat adegan pelukan tadi.
"Mama papa liat sini"
Mendengar ucapan Ara tanpa ragu aku menoleh begitupun Hamzah. Namun ada yang dingin menempel di pipi segera aku sentuh ternyata ice cream Ara yang menempel dipipiku. Sejenak menatap Hamzah yang juga mengalami hal yang sama, tertawa keras melihat wajahnya yang belepotan.
"Ara nakal ya"
Hamzah kembali menggelitiki Ara sedangkan aku hanya mengusap pipi yang terkena ice cream itu.
"Udah pa, Ara capek ayo pulang"
Alhasil kita pergi dari taman dan melaju menuju ke rumah. Dalam pangkuanku Ara tetap diam tanpa berceloteh seperti tadi. Aku melihatnya sekilas, untung tidur kalau enggak diauruh apa lagi ini.
Aku menatap kedepan begitu juga dengan Hamzah yang fokus menyetir. Tidak ada pembicaraan sama sekali hanya ada keheningan yang menyelimuti.
"Maaf ya tadi soal pelukannya, aku nggak sengaja"
"Nggk papa lagian Ara masih kecil"
"Dan soal pura-pura jadi orang tua keduanya Ara jangan diambil hati tahu sendiri kan Ara gimana" Hamzah menatapku
"Iya kok nggak papa, wajar lah"
"Tapi kalau beneran nggk papa kok"
Aku mencubit lengan Hamzah membuatnya meringis. Padahal jantungku mau loncat mendengar ucapan Hamzah.
Mobilpun menepi di halaman rumah. Aku segera menggendong Ara keluar dari mobil mengikuti Hamzah dari belakang.
"Loh kalian udah pulang?"
"iya tante, kayaknya Ara kecapean"
Aku menyerahkan Ara kepada mamanya.
Namun belum detik Ara bangun dan malah tersenyum menatapku. Berarti dia pura-pura tidur?
"Loh Ara kok udah bangun?"
"Ara nggak tidur ma"
"Berarti tadi Ara bohongin kakak?"
Ara mengangguk pelan. Aku menghembuskan nafas kasar berarti tadi dia mendengar pembicaraan?
"Tadi Ara udah ngapain aja?"
"Tadi Ara main sama mama papa yang kedua. Terus tadi mama sama papa pelukan loh ma"
"Ara manggil kakak cantik mama?" Tante desi beriringan menatapku.
"Iya ma. Bagus kan ide Ara" Ara tersenyum tipis ke mamanya.
"Pinternya anak mama"
Tante Desi mengusap kepala anaknya sama. Lah bukannya dimarahin malah di bilang pinter, gimana sih?
"Yaudah kalau gitu kakak pulang dulu ya Ara"
"Jangan pulang dulu kak,disini aja main sama Ara"
Ara mengeluarkan jurus andalannya puple eyes serta tangan yang ditangkupkan ke dada.
__ADS_1
"Iya, Ra. Lagian kan masih siang" Aku menimang-nimang ucapan tante Desi.
Demi menuruti anak kecil satu ini aku akhirnya harus lebih lama lagi disini. Ara mengajak aku bermain boneka nya di dalam kamar. Meningalkan mamanya dan Hzah yang berada di ruang tamu. Sebenarnya kesal sih disuruh pelukan lah, cium lah apalah, untung masih kecil kalau enggak udah aku abisin.