
"Hari ini aku bahagia entah karna apa yang jelas bukan karna kehadiranmu yang datang dan pergi secara tiba-tiba"
.
Senyumku mengembang ketika melihat pantulan wajahku di cermin. Baju brokat putih dan pasmina berwarna moca telah terpasang indah di tubuhku. Hiasan di kepala serta make up yang menonjol telah aku gunakan. Hari ini adalah hari bahagiaku, setelah tiga tahun mengenyam bangku SMA akhirnya hari kelulusan itu tiba.
Memasuki mobil yang telah terparkir di halaman rumah. Berangkat bersama kedua orangtuaku untuk menghadiri acara pelepasan siswa. Ayah dengan baiknya membatalkan janji dengan klien nya demi menghadiri wisudaku semoga hasilnya tidak mengecewakan.
Namun yang aku herankan kak Fahmi ikut ke acara wisudaku. Menggunakan setelan jas hitam serta sepatu yang mengkilap seolah dialah yang akan lulus hari ini. Penampilannya hari ini begitu berbeda dari biasanya, terlihat tampan.
Kak Fahmi mengulurkan tangan ke arahku ketika sampai di gedung tempat wisuda. Memanjakanku bagaikan seorang ratu, padahal halaman gedung sangat ramai dengan orang.
Aku menyambut uluran tangannya dan keluar dari mobil. Namun dengan tiba-tiba ia menggenggam tanganku seolah dialah kekasihku. Mendapat tatapan aneh dari temanku yang berada di halaman tidak aku hiraukan. Begini nih, kalau kak Fahmi lupa minum obatnya.
"Zahra kamu cantik banget " Siska menghampiriku. Aku ingin melepas tautan tangan itu, namun malah semakin dieratkan.
"Aduh Zahra udah bawa cowok aja nih " Laila menimpali, padahal kan kak Fahmi kakakku.
"Apaan sih, ini tuh ka--"
"Kenalin Fahmi pacarnya Zahra " Kak Fahmi mengulurkan tanganya meminta ucapan perkenalan. Laila menegang mana mungkin dia percaya kalau aku punya pacar.
Aku menginjak kaki kak Fahmi dia meringis kesakitan, pasalnya high heels yang kugunakan cukup runcing ujungnya.
"Kenapa bilang kakak pacar aku?" bisikku.
"Biar nggak ada yang gangguin kamu. Nanti kalau aku tahu kakak kamu, mereka pasti sudah mengerubungiku secara kan kakakmu ini tampan," jawabnya. Aku hanya mencebikkan bibir kakakku memang punya percaya diri tingkat dewa.
"Iya deh, yang punya pacar sekarang ngomong aja bisik-bisik " Aku menatap kedepan, Siska tengah tertawa bersama Laila.
"Kok nggak pernah bilang ke kita kalau udah punya pacar? Eh malah sekarang langsung dibawa ke acara wisuda" Siska tertawa membuatku semakin memanyunkan bibir.
"Kakak ganteng, kok mau sih sama Zahra?" Laila menimpali disertai kekehan kecilnya.
"Kita udah tunangan kok, jadi nggak pernah ngumbar hubungan. Iya nggak sayang?" Kak Fahmi mengerling nakal. Pengen aku jitak itu kepalanya masa aku dipanggil sayang.
"Zah aku mau mi--"
__ADS_1
Aku menatap ke depan. Pria dengan balutan jas hitam itu berdiri tepat di depanku, menatapku heran. Mungkin Fahri kaget melihat aku yang bergandengan tangan dengan laki-laki. Aku mencoba melepaskan ikatan tangan, namun kak Fahmi semakin mempereratnya.
"Sayang kenapa di lepasin sih?" Aku menatap sinis ke arahnya, dari tadi memanggilku sayang tanpa henti. Untung sayang, kalau enggak udah aku buang ke sungai.
"Sayang?"
Fahri menatapku aneh, sedangkan aku hanya cengengesan. Dia beralih menatap ke arah kak Fahmi tanpa berkedip.
"Yaudah, kita masuk dulu ya. Takut ganggu soalnya," Laila tertawa.
"Awas kamu la!" Aku berteriak namun mereka sudah masuk gedung duluan begitu juga dengan Fahri. Sedangkan aku masih bergandengan dengan kak Fahmi.
Aku bernafas lega karna kak Fahmi tidak lagi menggandeng tanganku. Kenapa baru mereka pergi, kak Fahmi melepasnya.
"Apaan sih kakak, pakek manggil sayang juga jijik tau!" Aku menatap tajam sedangkan dia hanya cengengesan.
"Nggak papa lah, sekalian ngisengin kamu. Cowok yang tadi kayaknya suka deh sama kamu"
"Fahri maksudnya?" Aku menautkan alis.
"Iya, soalnya dari tatapan matanya itu terlihat sekali bahwa dia mencintai dikau adikku." Kak Fahmi mulai mendramatisir.
Suara pembawa acara mulai menggiringkan calon wisuda untuk menempatkan diri masing-masing. Untuk saat ini aku melepaskan cekalan tanganku dari kak Fahmi.
Serangkaian acara telah di langsungkan. Mulai dari sambutan, pentas seni, sampai hiburan-hiburan sudah di tampilkan. Sekarang giliran pengumuman siapa yang mendapatkan prestasi.
Gugup, tegang, takut terus bergelayut dalam pikiranku. Menanti hasil yang tidak kunjung di ucapkan. Takut kalau hasilnya mengecewakan.
"Siswa dengan nilai tertinggi dan siswa yang berprestasi jatuh kepada ... "
Aku berdoa dalam hati semoga namaku yang dipanggil ke depan, ya ALLAH.
"Zahra Anastasya. Mohon kepada saudara Zahra untuk menaiki panggung. "
Air mataku tidak bisa ku cegah lagi. Perasaan haru menyelimuti diriku, tidak menyangka mendapat nilai tertinggi sekaligus mendapat gelar siswa berprestasi. Dengan bangga aku melangkah menuju panggung senyuman selalu aku layangkan. Kali ini bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan.
Senyumanku semakin mengembang ketika mendapat hadiah dari sekolah. Piala, uang senilai 5 juta serta rangkaian bunga sudah berada di tanganku. Ucapan selamat dan tepuk tangan membuatku semakin merasa senang. Akhirnya impianku tercapai.
__ADS_1
"Sebelumnya terimakasih kepada bapak ibu guru yang telah membimbing saya hingga bisa sampai di titik ini dan juga temen-temen saya yang selalu mensuport saya. Dan khususnya orang tua saya yang selalu mendoakan dan memberikan arahan, aku sayang kalian. "
Bulir bening membasahi pipi, suara tepukan dari orang-orang yang berada dalam gedung semakin membuatku bahagia. Aku berdiri disini juga karna irang tua dan usahaku yang sangat keras. Aku bersyukur, bisa melihat senyuman tulus dari mereka.
Aku menuruni panggung menuju ke kursi orang tuaku dan memeluknya erat. Semua siswa dan wali muridnya meninggalkan gedung karna semua acara sudah selesai dilaksanakan.
Kak Fahmi berada di sampingku selalu melayangkan senyuman begitu juga denganku. Namun langkahku terhenti ketika barisan para wanita menghalangi jalanku.
"Kak, boleh foto ya?"
"Kakak tampan deh,"
"Boleh nggak aku bawa pulang"
"Kakak ganteng liat sini dong!"
Suara teriakan itu membuatku jengah, ternyata mereka terpesona dengan ketampanan kakakku ini. Dengan iklas dia melayani satu persatu fans nya. Karna geram aku meninggalkannya dan masuk duluan ke dalam mobil, disana sudah ada bunda dan ayah yang menunggu.
"Selamat ya sayang, udah dapet nilai tertinggi dapat piala pula," ujar bunda.
"Makasih, Bund. Ini juga kan berkat bunda " Aku memeluknya dari belakang.
"Ayah nggak di peluk nih?" Aku menoleh dan langsung berhambur memeluk ayah.
Kehangatan inilah yang aku rasakan. Rasanya enggan untuk melepaskan, aku berharap semuanya akan tetap sama hingga selamanya.
"Yah, Fahmi telat dong " Aku segera melepaskan pelukan dan menatap kak Fahmi.
"Dari mana aja kak, kok lama banget " Ayah menimpali.
"Biasa yah, fans-fans nya Fahmi minta foto" kak Fahmi berbicara dengan sombongnya.
"Sekarang udah jadi artis ya kak, dimintain foto " Bunda terkekeh.
"Iya, Bund. Secara kan anak bunda ini tampan" Kak Fahmi mengelus ujung rambutnya seraya tersenyum manis. Aku hanya tersenyum melihatnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang keluar dari gedung menuju rumah. Aku memeluk hadiahku, tersenyum menatap ke luar jendela.
__ADS_1
Beginikah rasanya bahagia?