Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 20


__ADS_3

"Aku percaya pada seleksi alam bahwa setiap ada perpisahan pasti ada pertemuan, lalu kenapa aku harus takut kehilangan? "


.


Netraku mengerjap, sinar matahari menerobos masuk ke celah jendelaku. Alarm ku berbunyi menganggu pendengaranku. Aku membuka mata melihat suasana kamar yang masih sama. Tembok berwarna peach dengan nuansa kalem menyejukkan pandanganku, beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Semua tes telah aku jalani dengan hasil yang memuaskan dan aku diterima di universitas idamanku. Begitu juga dengan masa orientasi siswa yang begitu aneh menurutku. Menggunakan papan nama dari kardus, pita berwarna-warni serta kalung dari bawang semakin menambah kesan aneh menurutku. Tapi akhirnya masa itu berlalu dan sekarang adalah hari pertama aku masuk kampus.


"Dek berangkat bareng kakak atau sendiri?" tanya kak Fahmi sambil mengunyah makananya.


"Bareng aja kak, biar cepet, "ujarku.


"oke, "katanya.


Setelah menyelesaikan acara makan makan aku bergegas menuju mobil kak Fahmi. Menyalami tangan kedua orang tuaku dengan segenap cinta. Meminta izin untuk memulai hari baru serta lembaran baru.


"Cepetan dek, kakak ada kuliah pagi," teriak kak Fahmi. Memang kakak ku ini.


Aku dengan segera memasuki mobil hitam itu. Meski sudah sebesar ini, aku belum berani untuk mengendarai mobil karna trauma akan suatu kejadian. Dimana saat itu aku harus melihat secara nyata kejadian yang sangat memilukan.


"Dek, nanti kakak kenalin deh sama temen kakak. Ya itung-itung comblangin kamu biar move on " kak Fahmi sekilas menatapku dengan senyum jahilnya. Dasar!


"Aku nggak minat, "ujarku singkat.


"Lah kenapa? Temen kakak cogan semua kok, lagian kamu itu harus move on. Dia aja udah bahagia dengan orang lain masa kamu nggak?" katanya.


"Aku nggak mau sakit hati lagi, udah terbiasa sama cinta satu arah, "ujarku lesu.


"Di kampus nggak akan digantungin lagi deh percaya, masa adek kakak yang imut ini ngejomblo mulu, "ujarnya cengengesan. Aku hanya mendengus kesal.


Tak butuh waktu lama aku dan kak Fahmi tiba di kampus. Suasana baru dan teman baru membuatku harus adaptasi dengan situasi ini. Tenggorokanku mengering sepertinya aku butuh cairan. Aku melirik arloji yang melekat di pergelangan tangan. Masih ada waktu!


"Kak berhenti, "ucapku seraya menepuk pundaknya.


"Kenapa? " tanyanya.


"Aku mau beli minuman dulu, kakak duluan aja," ujarku.


"Nanti kalau pulang hubungin kakak ya," katanya.


Aku mengangguk tanda setuju. Aku membuka pintu mobil melangkah keluar dan menutupnya lagi. Tak lupa memberikan senyum termanisku. Sudah seperti pasangan saja!


Netraku menangkap pemandangan yang mengharukan, seorang anak kecil tengah duduk di pinggir jalan sambil memegangi perutnya. Menyebrangi jalan dan mulai melangkah ke arahnya. Aku menatap iba pakaianya lusuh, rambut acak-acakan serta tubuh yang nampak kurus mengetuk hatiku untuk membantunya.


"Adek ngapain disini? "


Aku memegang bahunya yang bergemetar tersenyum kecil ke arahku, walaupun aku tahu dia sedang menahan sakit.


"Aku lapar kak, mau makan tapi tidak punya uang "


Aku terharu melihat kondisinya. Aku masih menghambur-hamburkan uang padahal ada yang masih membutuhkan uang. Aku kurang bersyukur, masih menginginkan banyak hal. Padahal ada sebagian orang yang kehidupannya masih buruk.


"Yaudah, tungguin kakak yah disini, "ucapku.


Aku berbalik menatap ke arah warung makanan. Membeli dua bungkus nasi dan beberapa minuman kepada pemilik warung. Aku kembali ke posisi anak itu singgah.


"Kakak punya nasi adek makan yah, "ucapku seraya menyerahkan bungkusan nasi itu kepadanya.


Dengan segera ia mengambilnya dari tanganku, mulai membuka ikatan tali yang ada pada pembungkus dan langsung melahapnya. Aku hanya menatap ke kearahnya sembari mengelus puncuk kepalanya. Aku tersenyum kecil ketika melihat dia tersenyum ke arahku dengan mulut yang penuh dengan nasi.


"Dek, kakak bawain roti nih "


Suara itu membuatku menoleh. Pria dengan kemeja kotak kotak berwarna hitam itu duduk disebelahku mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu seperti yang aku lakukan. Aku mengernyitkan dahi seperti sudah tidak asing dengan wajah itu. Dia pun sama hanya menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Rotinya buat aku kak? "tanya anak itu mengalihkan pandanganku.


"Ia makan yang banyak ya biar cepet gede,"ujarnya seraya mengacak rambut lusuhnya.


"Tadi kakak ini juga kasih aku makan, sekarang kakak juga ngasih roti. Makasih ya,"ujar anak itu tersenyum.


"Sama-sama" aku terkejut karna aku mengucapkan kata bersamaan dengan pria itu.


Aku hanya menatapnya aneh sekaligus bingung harus berbuat apa.


"Maaf ya, apa sebelumnya kita pernah bertemu? " tanyanya tiba tiba, mendadak lidahku kelu.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya kita pernah bertemu " aku membalas ucapan pria itu.


"Apa kamu yang ada di toko buku itu?"


Aku menatap sejenak wajahnya, memutar kembali memori beberapa waktu lalu.


"Iya kok kamu tahu? "kataku.


"Aku yang meminta novelmu, masa kamu lupa? "tanyanya.


"Owh, yang adiknya nangis itu ya? "tanyaku memastikan.


"Iya, kenalin nama aku Muhamad Hamzah, panggil aja Hamzah, "ucapnya sembari menjulurkan tangan.


"Zahra Anastasya, panggil aja Zahra, "ucapku.


"Senang kita bisa bertemu lagi, ngomong ngomong ngapain kamu disini? "tanyanya.


"Aku kuliah disini, "ujarku singkat.


"Aku juga, semoga kita satu kelas ya, "ujarnya aku hanya tersenyum.


Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan dia lagi. Setelah merelakan novel kesukaanku untuk adiknya, kini aku kembali di pertemukan, aku hanya memandangnya entah kenapa ada ikatan batin antara aku dan dia.


"Kakak sekolah disini ya? Hebat banget, kapan ya aku bisa kaya kakak? "anak kecil itu memecah keheningan.


"Nanti kalau udah besar, sekarang makan dulu biar bisa kayak kakak oke, "ujar Hamzah kembali mengacak acak rambut anak itu.


Ucapan Hamzah di balas anggukan oleh dia. Betapa baik hatinya, memperdulikan nasib anak jalanan yang terkapar. Di zaman seperti ini masih ada yang sebaik Hamzah. Subhanaallah!


"Zahra, ayo kita masuk bentar lagi kayaknya ada kelas, "ucapnya. Aku haya mengangguk.


"Kakak tinggal dulu ya, dada, "ujar Hamzah melambaikan tangan dibalas dengan senyuman kecil dari anak manis itu.


Aku memasuki gerbang kampus, halaman yang luas serta gedung bertingkat semakin membuatku gugup. Berjalan beriringan dengan Hamzah, seperti dua sejoli yang tak terpisahkan meski baru saja berkenalan.


Melangkah ke papan informasi melihat dimana letak kelasku. Menunjuk dari atas ke bawah mencari namaku. Sudah ketemu!


"Kita satu kelas ra, kamu ambil jurusan administrasi perkantoran 'kan? " Hamzah menoleh dan aku melihat yag ditunjuk oleh Hamzah.


"Beneran? Asik dong kalau gitu, "ujarku antusias.


"Yaudah kita kekelas, bentar lagi masuk," ucapnya aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.


Sesampainya aku di kelas pemandangan indah menyapaku, hiasan kelas yang unik dan menarik memberikan kesan yang mendalam serta cat tembok yang berwarna kalem semakin memperindah ruanganya. Dan....


"Siska?! Kita satu kelas ?"tanyaku antusias.


"Zahra?! Ya allah nggak nyangka bisa ketemu kamu? "ucapnya, kita berpelukan layaknya seorang adik yang merindukan kakaknya. Siska melepaskan pelukan dan beralih menatap ke arah Hamzah.


"Ini siapa? Wah parah, masuk pertama aja udah dapet cowok, "ujar Siska cengengesan.


"Bukan kok, Hamzah kenalin ini sahabat aku Siska" ucapku. Hamzah mengulurkan tangan dan disambut oleh Siska


"Hamzah"


"Siska"


Malah mereka tidak melepaskan pegangan tanganya, saling melempar senyum yang pernah arti itu.


"Ehm, udah dong pegangannya, ada yang jomblo inih, "ujarku cengengesan.


"Eh, maaf, "cicit Siska. Hamzah hanya tersenyum ah, dasar modus!

__ADS_1


Dosen pun datang, aku segera memilih tempat duduk disebelah Siska dan Hamzah memilih tempat di pojok pintu. Agenda hari ini adalah pengenalan dan membahas sedikit materi. Setelah selesai perkenalan dilanjutkan dengan pembahasan materi. Semua dijelaskan dengan runtut untuk tahap ini aku masih memahami.


"Ra kita ke kantin yuk, "ajak Siska


"Boleh, "ujarku.


"Hamzah mau ikut nggak kekantin? "tanya Siska.


"Boleh deh, " Hamzah beranjak dari kursinya dan membuntuti aku dan Siska.


Sampailah aku dikantin, memilih bangku paling depan agar terlihat pemandangan luar. Memesan beberapa makanan untuk disantap, meski suasana canggung karna kehadiran Hamzah tapi aku berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan.


"Kalian ketemunya gimana sih? Bikin penasaran aja, "kata Siska.


"Ketemunya di toko buku waktu kita selesai ujian, waktu itu ada buku yang aku sukai. Eh, malah adiknya nangis jadinya aku kasihin ke dia, "ucapku.


"Ow, gitu "


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Sampai aku melihat kehadiran kak Fahmi di bangku paling ujung. Dia tersenyum ke arahku sambil melambaikan tangan. Pantesan anteng, sama cewek ternyata. Dasar kakak!


Aku membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan, dia tertawa tapi langsung terhenti ketika ceweknya curiga. Langsung menoleh kebelakang pasti mencari siapa yang kak Fahmi senyumin.


"Ngapain ra? "tanya Siska disela tawaku.


"Enggak kok, cuma lucu aja, "ucapku.


"kamu nggak sakit kan? "tanya Siska menyentuh keningku.


"Ya ampun panas! Es batu mana es batu, "ujar Siska ditambah dengan tawanya.


"Emang aku apaan dikasih es batu, "ujarku dan dia malah menertawakan tingkahku.


"Tadi Zahra abis liat cowok itu tuh, yang duduk dipojok, :ucap Hamzah disertai cekikanya, Siska menatap ke arah yang ditunjukkan Hamzah.


"Ow, sekarang udah berani ya? Buktinya udah dapet cowok, "kata Siska cengengesan.


Aku hanya mencebikkan bibir, masa abangku sendiri kupacari nggak mungkin. "Ngomong ngomong itu siapa ra? Pacar? Kenalin dong," kata Siska.


Aku berfikir sejenak bagaimana kalau aku menjahili Siska pasti seru nih.


"Iya, emangnya kenapa? "tanyaku polos, padahal hatiku menjerit.


"Pacar? Nggak mungkin! Jadi sekarang udah lepas? "tanya Siska.


"Lepas? Maksudnya? " tanya Hamzah menimbrung ke dalam pembicaraan.


"Dulu Zahra tu susah move on nya, pernah suka tapi digantungin terus. Udah dua tahun lamanya nggak move on move on dia, "ujar Siska melirikku.


"Kenapa ya? Padahal Zahra tuh ada manis manisnya, "ujar Hamzah, aku tersedak mendengar apa yag baru saja ia ucapkan. Kata kata itu seakan melekat pada telingaku. Kak Angga!


"Apaan sih sis, aib itu, "ujarku cemberut.


"Nggak papa ra, kita kan temen, "ucap Hamzah.


"Yaudah, kayaknya mau ada materi lagi, ke kelas yuk, "ajak Hamzah.


Aku beranjak dari kursi, menyesap minuman yang masih tersisa. Menatap kak Fahmi sejenak, ia mengerling nakal. Pasti dia sudah tahu maksudnya.


Aku menjatuhkan bobotku dikursi, mengecek sejenak ponsel melihat di salah satu aplikasi berwarna hijau itu. Tidak ada chat yang masuk. Percuma dong aku punya akun nggak ada yang chat? Semenjak hari itu aku tidak pernah berkomunikasi pada kak Angga, apalagi kak Syarif. Chat nya cuma pas butuh doang, kalau nggak ya cuma jadi penikmat story.


Aku memasukkan handphone ke saku baju, mengambil beberapa novel yang tersimpan di dalam tasku. Mengambil satu buku yang menurutku menarik, perlahan aku membuka halaman demi halaman dan menghayati setiap kata yang terkandung di dalamnya.


"Baca apa ra? "


Aku mendongak, Hamzah duduk di depanku seraya tersenyum


"Novel, "ucapku singkat.


"Judulnya apa? Ceritain dong, "ujarnya.


"Judulnya 'Rahasia' ,"ujarku.


"Aku serius zah, beneran, "ucapku menyakinkan.


"Tadi katanya rahasia? "katanya


"Maksudnya judulnya rahasia gitu loh," kataku.


"Ow, kirain bercanda tadi, "ujarnya cengengesan. Ah, Hamzah ini. "Lanjutin" imbuhnya lagi.


"Jadi ini tuh ceritnya suka sama seseorang tapi sahabat kita juga suka sama orang itu, terus harus merelakan orang yang kita sayang demi melihat sahabat kita bahagia" panjang kali lebar penjelasanku.


"Ra! Kamu cerita apa curhat? " kata Siska menyahut pembicaraanku. Aku menatapnya sinis, dia malah semakin menertawakanku.


"Kasihan banget, Sama kayak aku, "ujar Hamzah, seketika aku menoleh bingung tentang perkataan Hamzah.


"Boleh ikutan baca? " katanya.


Dengan senang hati aku menggeser kursi dan membentangkan novelku diatas meja, membaca berdua dengan orang yang baru kukenal.


Hari berlalu begitu cepat, menyisakan waktu untuk memulai hidup yag baru. Sudah berulang kali aku menghubungi kak Fahmi, tapi nihil! Chatku sama sekali tidak dibuka. Aku menunggu kehadiranya di depan gerbang. Mencari tempat ternyaman untuk merelaksasikan pikiran. Menatap ponsel barangkali ada yang chat kali ini, tapi tetap saja. Aku gabut!


"Zahra"


Aku menatap ke depan, sepeda matic itu berhenti di depanku. Dia membuka helm menunjukkan wajah aslinya.


"Hamzah? "kataku.


"Pulang bareng siapa? "tanyanya.


"Dijemput, tapi belum dateng, "kataku.


"Mau bareng nggak? "tanyanya, ya Allah aku diajakin?


Aku berfikir sejenak, tapi pandanganku beralih ketika kak Fahmi melintas di depanku, dengan segera aku melambaikan tangan. Hamzah yang melihat tingkahku langsung menoleh ke belakang. Kak Fahmi membuka kaca mobil tersenyum ke arahku mengisyaratkan untuk segera masuk. Tapi tidak enak meninggalkan Hamzah.


"Maaf ya zah, aku udah dijemput. Lain kali aja ya, " ujarku.


"oke, " ucapnya.


Aku beranjak pergi dari tempatku melangkah ke arah mobil. Sesekali aku melihat Hamzah yang masih berada ditempat, tak lupa dengan sedikit senyum ia melajukan motornya dan aku masuk ke mobil kak Fahmi.


Didalam perjalanan hanya ada keheningan. Ka Fahmi fokus menyetir, sedangkan aku masih melototi aplikasi hijau pada ponselku. Masih tidak ada yang chat! Sebenarnya kemana sih penduduk dunia?!


Aku mengingat kejadian hari ini, bagaimana pertemuan yang mengagetkan dan sebuah pertemanan baru terus berputar di kepalaku. Apalagi saat melihat ekspresi Siska ketika aku memberitahu kalau kak Fahmi itu pacarku. Ada ada saja, aku tidak semudah itu siska.


"Kenapa senyum senyum, jangan jangan ...." kata kak Fahmi memecah keheningan.


"Jangan jangan apa? "tanyaku.


"Udah dapat cowok ya? "tanyanya antusis.


"Cowok apaan? "kataku.


"Yaelah, yang tadi nymperin kamu. Masa itu bukan cowok namanya, "kata kak Fahmi.


"Oh, cuma temen, "kataku singkat.


"Aku rasa dia suka deh sama kamu, "ujar kak Fahmi, aku hanya melotot.


"Hah, suka?! Ngaco deh, emang kakak peramal bisa baca isi hati orang? "tanyaku cengengesan.


"Kakak tu cowok, jadi kakak ngerti gerak gerik seseorang kalau lagi jatuh cinta," ujarnya.


"Hah, halu kak, "kataku tertawa.


"Ngomong ngomong, temen kamu yang cewek itu cantik juga, "kata kak Fahmi mengalihkan pembicara.


"Ya Allah kak, inget umur. Tadi aja dikantin udah bawa cewek, sekarang naksir sama Siska, "kataku.

__ADS_1


"Istigfar dek, nuduh sembarangan, "kata kak Fahmi.


"Yang harusnya istigfar itu kakak, jangan mainin perasaan cewek, cewek itu rapuh nggak boleh disakitin, "kataku.


"Ya ampun, adek kakak ini kumat bucinnya, "


ucapnya seraya mengacak acak rambut yang terbalut hijab.


"Beneran kak, kalau kakak nyaitin perasaan perempuan sama aja nykitin perasaan aku," kataku, membenahi hijabku.


"Iya kakak janji, tapi minta nomor telponnya ya? "


Aku menaikkan alis, pasti kakak tampanku ini akan beraksi untuk membujukku.


"Enggak! "ucapku singkat.


"Lah kenapa nggak boleh? Kakak punya niat baik loh ini, "katanya.


"Pokoknya nggak boleh! "kataku.


"Boleh ya? Plis, kali ini aja. Adek kakak yang imut dan cantik, boleh ya? "katanya lagi. Kali ini dia menggunakan jurus andalannya, puple eyes.


"Pokoknya nggak boleh titik!" kataku. Aku menatap ke luar jendela, sebenarnya geli melihat kak Fahmi yang merengek seperti ini.


Dia hanya mencebikkan bibir, aku menahan tawa karna melihat ekspresinya. Benar benar lucu!


Ada ada saja ulah kakak ini, padahal banyak yang mengantri kenapa harus Siska?


Sampailah aku dirumah, menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar. Menghempaskan asal tas, dan menyambar handuk yang tergantung rapi di tembok. Melangkah ke kamar mandi menyegarkan diri.


***


Hanya ada suara dentingan sendok yang menghiasi meja makan. Aku melahap habis sayuran yang ada dipiring. Uh, enaknya


Kebetulan sekali hari ini ayah tidak ada jadwal lembur jadi bisa makan bersama malam ini.


Belum puas aku menikmati, seperti ada benda yang menghantam pergelangan kakiku. Aku menengok ke bawah, hanya ada kaki kak Fahmi di samping kakiku. Aku menatap kak Fahmi tajam, dia menggerak gerakan matanya seolah mengisyaratkan sesuatu.


Aku menaikkan alis, seolah bertanya apa pada kak Fahmi. Dia menggerakkan mulutnya seolah mengatakan untuk membuka ponsel disisihku. Ada apa di ponsel?


Aku membuka ponsel, memasukkan pola yang mengunci teleponku. Sebuah notifikasi dari aplikasi whatsapp terpampang di depan layar, dengan segera aku membuka. Ternyata pesan dari kak Fahmi.


( minta nomor telponya ya dek) katanya disertai emot wajah memelas. Dengan segera aku mengetik.


(Pokoknya nggak mau!) kataku disertai emot menjulurkan lidah.


(Yah, plis dek batuin kakak) katanya dengan emot menangis.


(Nggak kak, pokoknya enggak) kataku.


( Durhaka loh bantah perintah) katanya disertai emot melotot, aku cekikian.


(Bodo!) kataku dengan emot menjulurkan lidah.


"Zahra! Fahmi! Kalian kenapa sih?! Ngomong aja harus lewat handphone? Padahal duduknya berhadapan? " bentak ayah, segera aku meletakkannya di meja dan menghadap ayah.


"Maaf ayah, kak Fahmi tuh gangguin Zahra terus. Ayah jangan marah ya? " kataku dengan wajah memelas mengeluarkan jurus ampuhku


Ayah mencubit hidungku.


"Ayah nggak marah, cuma heran aja kenapa kalian nggak bicara langsung saja kan lebih enak? "kata ayah.


"Kak Fahmi tuh yah iseng, masa kakiku diinjek sama dia, "cibirku.


"Ngarang banget nih bocah, enggak kok yah bohong Zahra! " kata kak Fahmi.


"Kak, ada apa sih? "tanya ayah.


"Enggak papa yah, "ujar kak Fahmi


"Bohong tu yah, tadi dikantin kak Fahmi makan sama cewek, "kataku, kak Fahmi melotot ke arahku.


"Beneran kak? "kata ayah.


"Enggak kok yah,"kata kak Fahmi.


"Bohong yah, "kataku.


"Jujur aja kak, ayah nggak suka kamu bohong,"


kata Ayah.


"Iya yah, "akhirnya kak Fahmi mengatakanya.


"Perempuanya berhijab ngak kak? "tanya ayah, kak Fahmi mendongak menatap binar ke arah ayah.


"Enggak yah, emangnya kenapa? "tanya kak Fahmi.


"Baiknya kalau kakak cari wanita yang berhijab, ketika dia bisa menutup auratnya berarti di sangat menjaga kehormatannya. Mengerti mana yang salah mana yang benar, mana yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Percayalah, wanita berhijab itu istimewa. Iya nggak, Bun? "tanya ayah.


"Bener banget yah, "kata bunda menyahut, kak Fahmi hanya diam mungkin sedang memikirkan perkataan ayah.


"Dengerin tuh kak, coba liat Siska baik, cantik, berhijab lagi. Nggak kayak selingan kakak ituh, baju yang nggak muat di pake'," imbuhku.


"Makanya kakak minta nomornya nggak kamu kasih, gimana mau deketin kalau gitu, "kata kak Fahmi.


"Kalau kak Fahmi lelaki sejati, tunjukin dong keberanian kakak, samperin, minta langsung ke orangnya. Itu baru gantle, "ucapku.


"Kamua nantang kakak? "tanyanya, aku mengedikkan bahu.


"Oke kakak terima, "kata kak Fahmi.


"Kalau liat kalian jadi inget waktu muda dulu, biasanya ayah sama bunda berantem mulu nggak bisa tuh kalau sehari diem, "kata ayah.


"Ayah yang ngajakin berantem mulu, gimana nggak kesel, "kata bunda.


"Abisnya bunda jutek banget, nggak pernah perhatiin ayah, "kata ayah memanyunkan bibirnya.


"Abisnya ayah ngeselin sih!" kata bunda memukul pelan pundak ayah, alhasil ayah meringis.


"Yang penting sekarang kita bersama kan?" Ayah menaikkan satu alisnya seraya menggoda.


"Alhamdulillah, memang tuhan telah menjodohkan kita, "ucap bunda.


"Ceritanya nostalgia nih? "kataku sembari mengerling nakal.


Kami pun tertawa bersama, saling menceritakan masa lalu. Aku ingin terus merasakan kebersamaa seperti ini tidak ada luka yang menyelimuti. Malam sudah larut, aku melangkah ke kamar, meninggalkan mereka yang sibuk menonton tv.


Menghempaskan tubuh ke kasur empukku, menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhku. Mengambil ponsel, menyalakan data dan meluncur menelusuri whatsapp.


Sebuah nomor tak dikenal terpampang jelas di layar utama. Sebuah chat ia kirimkan.


(Assalamualaikum Zahra) chat pertamanya, aku bingung siapa yang chat aku tiba-tiba.


(Waalaikumsalam maaf ini siapa ya?) tanyaku.


(Aku Hamzah, masa lupa) aku segera mengecek profilnya.


(O Hamzah, dapet nomorku dari mana? ) tanyaku.


(Dari Siska tadi) katanya. Benar benar Siska!


(Kamu lagi apa? Udah solat?) dia men chatku kembali.


(Rebahan biasa, udah solat kok) kataku.


(Yaudah iatirahat aku mau ngerjain tugas dulu, Assalamualaikum)


(Waalaikumsalam) ucapku, dan hanya di read olehnya.

__ADS_1


Aku mematikan handphone dan menaruhnya di atas nakas, memejamkan mata menyambut hari esok yang penuh tanda tanya.


__ADS_2