Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 38


__ADS_3

Aku mengambil koper disudut kamarku membawanya ke sofa ruang tamu. Setelah mendapat izin dari ayah akhirnya aku di perbolehkan untuk pergi ke Jogja. Begitupun Kak Fahmi, dengan sedikit paksaan dia bersedia menemaniku.


Dengan baju lengan panjang motif bunga berwarna moca celana jeans dan sneakers berwarna putih melekat di tubuhku. Menunggu kabar terbaru dari Hamzah yang masih berkutat di rumah Hafids. Sedangkan Kak Fahmi masih belum keluar dari kamar padahal lima belas menit lagi jemputannya sampai. Mungkin dia sedang luluran didalam.


"Ayo, Dek."


Aku menatap kedepan balutan kaos putih pendek di padukan dengan hem kotak-kotak berwarna hitam juga celana jeans berwarna hitam melekat indah di tubuhnya. "Masih nunggu Hamzah, Kak."


Aku terus saja menscrol beranda menemukan hal menarik disana. Suara klakson mobil membuatku langsung menuju kedepan rumah. Mobil Hamzah telah magang di depan rumahku. Dia sedikit membuka kendela menampakkan wajahnya yang berseri kaus lengan pendek berwarna biru dongker itu sukses menonjolkan muka tampannya.


Aku meletakkan koperku di bagasi disusul dengan Kak Fahmi. Duduk di kursi depan bersebelahan dengan Hamzah diikuti kursi belakang Siska dan Nara yang terlihat mempesona dan di kursi terakhir ada Kak Fahmi dan Hafids yang nampak tak akur saling membuang muka dan mencari perhatian Siska.


Mobil melaju membelah jalanan kota Bandung menuju ke Jogja tempat wisata kita. Meski terlalu jauh tapi tidak menyurutkan semangat untuk menikmati kota Jogja. Jogja terkenal dengan kulinernya dan juga tempat bersejarah. Misalnya bentng Vredeburgh dan lain-lain. Ada juga tempat menarik misalnya Gembira loka yang berisi semua binatang dengan spesiesnya masing masing.


Museum Taman Pintar adalah museum yang di kemas sedemikian rupa untuk memberitahu sejarah sejarah ataupun peninggalan masa sejarah dan penemuan atau penciptaan suatu barang berdasarkan ahli terkemuka di lengkapi dengan perpustakan yang dipenuhi oleh bermacam macam buku. Namun buku disini dapat diperjual belikan berdasarkan harganya masing-masing.


Semua badanku terasa kaku sudah lama duduk dibangku kemudi, mataku mulai memberat tenggorokanku kering dan kakiku juga terasa keram. Tidak dengan Hamzah dia masih setia memandangi jalan mengemudikan mobil tanpa ada rasa lelah sedikitpun. Siska dan juga Nara sudah tertidur pulas, begitu juga Kak Fahmi dan Hafids kini saling tertidur dengan posisi saling menyandar di bahu padahal semula tidak akur tetapi malah tidur dengan romatis.


"Nih makan biar fokus nyetirnya." Aku menyerahkan permen kopi ke arahnya dia tersenyum dan memakan permen itu. "Makasih, kalau kamu capek tidur aja."


"Aku mau nemenin kamu aja. " Dia menatapku lekat membuat hatiku seakan melayang di dalam sana."Nanti ngantuk loh." Aku menggeleng.

__ADS_1


"Nggak papa nanti di penginapan kan bisa tidur." Dia mengusap puncuk kepala yang membuat tubuhku sedikit menegang.


Aku tidak mengetahui perasaan ini. Ia mengalir seperti air mencari kemana akan berlabuh. Dengan pelan menghanyutkan perasaan. Perasaan yang masih belum ada kejelasan. Sebenarnya mataku ini lelah menuntut untuk segera dipejamkan. Namun aku tidak bisa membiarkan Hamzah sendirian bagaimanapun dia yang mengajak liburan tidak enaklah kalau ditinggal sendirian.


Di sepanjang jalan dia melontarkan pertanyaan yang konyol aku hanya tersenyum saat dia bertingkah konyol seperti itu. Setelah percakapan itu reda aku menyandarkan kepala di kursi mataku mengerjap beberapa kali dan akhirnya terlelap dengan situasi.


"Zahra bangun kita sudah sampai." Tepukan di pundakku menyadarkanku, aku bangkit dari tidur mengumpulkan seluruh ke sadaran. "Maaf, Zah. Aku ketiduran."


"Santai aja. Sekarang kamu bangunin mereka, biar aku yang keluarin kopernya."


"Siap." Aku mengacungkan tangan dengan semangat 45 membuat empunya menggeleng.


Aku membuka pintu mobil terkejut dengan pemandangan di depanku, sebuah rumah minimalis bertemakan natural memanjakan mataku. Belum lagi suasana dari lantai atas sangat tepat bila sedang menatap matahari terbenam. Aku salut pada Hamzah sudah menyiapkan hal sebesar ini.


"Siska bangun, kita sudah sampai." Siska meregangkat otot-otot tubuh sesekali menggeliat. Menguap sedikit sambil membenarkan hijab.


Aku beralih menuju pintu mobil belakang rasanya tidak ingin membangunkan dua sejoli yang sedang akur ini. Geli melihatnya wajah imut mereka sangat jelas terilhat. Apalagi dua tangan yang disatukan meberikan kesan romantis. Momen ini tidak boleh aku lewatkan. Satu foto berhasil aku dapatkan suatu saat akan berguna untuk menyudutkan mereka berdua.


"Kak bangun, Hafids bangun," ujarku menggoyang-goyangkan bahunya. Dia sedikit menggeliat mengucek mata dan membuka mata. Pasti belum tahu saja kalau mereka tidur berdua.


"Kamu ngapain tidur di bahuku? Kesempatan!" Kak Fahmi mengusap kasar bahunya yang menjadi tempat singgahan Hafids.

__ADS_1


"Siapa juga yang tidur dibahumu, kamu tuh main nyosor aja!" Hafids merapikan bajunya yang sedikit berantakan. "Aku masih punya harga diri loh, nggak mungkin lah tidur di bahumu itu!"


"Kalian kenapa sih debat! Orang tadi akur ayem tentrem kok sekarang marah-marah." Mereka menatapku bergantian saling memandang dengan tatapan tajam.


Hafids segera berlalu keluar paksa dari mobil. Sementara Kak Fahmi menatap tajam seolah ingin menerkam. "Dasar!"


"Biarin, kakak cuma mau dimobil? Nggak masuk gitu?" Kak Fahmi menatapku sambil mengucek-ucek matanya. Menguap kecil menggaruk tengkuk. "Masuklah."


"Makanya cepetan!" Hardikku membuat dia terlonjak kaget. "Iya bawel!"


Aku menyeret koperku meninggalkan Kak Fahmi di belakangku. Siska Nara dan Hafids sudah masuk duluan. Aku membuka pintu terkesimak dengan isi rumah yang membuat nyaman. Udara yang mendukung memungkinkan akan betah tinggal disini. Aku meletakkan koper di sisih sofa mengedarkan pandangan ke penjuru arah. Tak kusangka tempat seperti ini benar adanya.


"Gimana tempatnya suka nggak? Maaf ya cuma bisa nyewa penginapan ini." Hamzah mendengus, aku bukan fokus pada ucapannya malah fokus dengan lenampilan Hamzah yang berbeda. Wajahnya lebih berseri dari biasanya.


"Kamar kamu diatas sama Siska dan Nara kalau dapur disebelah sana, nanti kalau ada apa apa hubungin aku ya." Seketika lamunanku tersadar mengangguk pasti mengiyakan.


"Oke."


Aku menaiki tangga tak sabar melihat kamar baruku. Aku membuka pintu Siska dan Nara rupanya telah membersihkan diri dan menyusun barang-barangnya. Aku meletakkan koperku duduk dikursi paling empuk sembari menyenderkan kepala di ranjang memang perjalanan lumayan melelahkan.


Suasana baru ini membuatku nyaman, belum lagi sikap Hamzah yang begitu romantis membuatku semakin takut lehilangannya. Mungkin perasaan ini tidak pernah ia ketahui, tapi apalah daya jika hati sudah menemukan tuannya. Sebanyak apapun menghindar, kita akan terus di hadapkan dengan kenyataan bahwa kita membutuhkan dia di samping kita.

__ADS_1


Aku mengagumimu Hamzah.


Terimakasih para readers yang sudah mau baca cerita gaje ini. ❤❤❤


__ADS_2