Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 26


__ADS_3

"Pernah aku berfikir untuk menghentikan langkahku. Aku lelah terus berjalan diantara bukit duri yang tidak ada ujungnya. Namun, ketika aku ingin berhenti kamu menjadi alasan untuk aku terus berlari "


.


Semakin hari tubuhku semakin melemah. Mungkin ini karna faktor makanan karna dari kemarin aku hanya minum air putih saja, karna semua yang masuk rasanya hambar. Bergelimpung kesana-kemari mencari posisi tenyaman namun sama saja, rasanya ranjangku ini dibakar dari bawah.


Sudah tiga hari aku tidak masuk kuliah pasti banyak sekali materi yang tertinggal. Aku mengusap wajah kasar,mengumpat dalam hati kapan semuanya akan berakhir.


Badanku dipenuhi peluh, keringat mengucur membasahi tubuh. Dan tiga hari ini aku belum juga mandi. Tapi tubuhku masih wangi, iyalah aku kan perawatan.


"Sayang ada yang mau ketemu kamu tuh, "kata bunda membangunkan aku yang sedari tadi memegang handphone.


"Siapa, Bun? "tanyaku.


"Nanti juga tahu ganteng loh, "kata bunda.


"Ganteng, maksudnya?" Namun bunda telah enyah dari hadapanku.


Aku menatap ke arah pintu memastikan siapa yang akan datang menjengukku. Pandanganku teralih, seorang pria lengkap dengan parcel yang dibawa ditanganya melangkah ke arahku.


"Gimana kondisi kamu udah baikan?"tanyanya, aku terkejut sebentar.


"H-Hamzah kamu tahu dari mana aku sakit? tanyaku terbata-bata.


"Aku tahu dari Siska. Karna udah tiga hari ini aku nggak ngeliat kamu makanya aku khawatir. Kamu sakit apa? "tanyanya.


"Cuman panas biasa ko, "ujarku.


"Katanya kamu susah makan ya? "tanyanya.


"Iya, hambar semua rasanya. Aku nggak suka" aku mencebikkan bibir.


"Kalau kamu nggak makan nanti sakitnya makin parah loh, nanti masuk rumah sakit terus disuntik jarumnya besar dokternya galak, dimarahin terus gimana? "kata Hamzah.


"Hahah, kamu kaya ngrayu anak kecil tau," ujarku tertawa.


" kamu masih kecil kan? Nggak salah dong,"katanya, Aku hanya mengerucutkan bibir.


"Makan ya, ini aku bawa buah mau aku kupasin? "


"Nggak mau zah, nggak enak."


"Yaudah gini deh, kamu sukanya makan apa? "


"Martabak, " ujarku singkat


"Tutup mata! " Aku mengernyit instruksi yang diberikan Hamzah.


"Buat apa? Pake tutup mata segala, " sangkalku.

__ADS_1


"Lakuin aja Zahra, " Dia kembali memerintah, aku pun menutup mata.


"Kamu bayangin lagi makan martabak sama orang yang paling kamu cintai. Martabaknya lembut manis enak apalagi disuapin sama pacar. Kamu membuka mulut menerima suapan dari pacar kamu"


Aku membayangkan tapi tidak jelas dengan siapa. Aku membuka mulut martabak itu sangat manis.


"Karna martabaknya sangat enak, kamu terus memakanya sampai habis. "


Aku mengikuti instruksinya, entah kenapa martabak hayalanku itu begitu manis apalagi makanya berdua. Satu suap dua suap aku rasakan sembari menikmati hayalanku itu.


"Kamu laper apa doyan? "


Suara itu membuat mataku membuka, mangkok berisi bubur itu habis tak tersisa. Apa aku yang memakanya?


"Apa aku yang makan bubur itu? "


"Kalau bukan kamu siapa lagi? Kamu kira aku yang ngabisin, aku yang menyuapimu tadi dan kamu malah asik dengan hayalanmu itu," katanya. Aku menunjuk diriku sendiri.


Dia meletakkan mangkuk kosong ke atas nampan mengambil air minum dan memberikannya padaku. Dengan segera aku meneguknya. Kenapa kalau di tangan Hamzah rasa bubur menjadi enak?


"Makasih, "ucapku.


"Sama-sama, lain kali jangan susah makan kalau nggak kita putus! " ucapnya, aku membulatkan mata.


"Putus? "


"Putus pertemanan maksudnya"


"Kamu pakai jurus apa nak, sampai Zahra nurut gitu? " tanya bunda berdiri di ambang pintu. Oh tidak! Berarti dia tadi melihat Semuanya?


"Jurus cinta tante" Mulutnya itu asal jeplak.


"Cinta palamu, "kataku. Seketika ruangan menjadi ramai penuh dengan gelak tawa.


Pov Hamzah


Awalnya aku gugup untuk menyuapi Zahra, tapi ini salah satu cara agar dia mau makan. Dengan hayalan semunya aku terus menyuapi bubur ke mulutnya. Perlahan-lahan buburnya pun habis.


Aku tidak pernah melihat tawa lepas dari Zahra. Baru kali ini aku merasa bahagia ada di sampingnya. Bisa membantu dia kala susah.


"Kamu tidur ya udah malem, besok kalau udah sembuh bisa ke kampus. Aku pulang" Dia mengangguk dan mulai berbaring.


Aku beranjak dari ranjang mengambil nampan dari nakas dan berniat menaruhnya di dapur. Tepukan dibahu membuatku menoleh.


"Terimakasih ya mau menjenguk Zahra"


"Sama sama, lagian Zahra juga temen saya, "


"Boleh kita ngobrol? "

__ADS_1


Aku mengangguk, kak Fahmi menyuruhku duduk di sofa aku pun menurutinya.


"Kamu sudah berapa lama temenan sama Zahra?"


"Semenjak pertama masuk kuliah. "


"Udah lama ya, gimana tadi caranya kok bisa bujuk Zahra makan? "


"Cuman ditakut-takutin sedikit aja kok, lagian Zahra anaknya penurut, "ujarku.


"Gitu ya? Padahal aku paksa dia makan itu nggak mau, ternyata caranya simple gitu. Wah kamu hebat ya bisa nakkukin Zahra, " ujarnya. Aku hanya tersenyum simpul.


"Aku boleh nanya? Apa kamu udah punya pacar?"


Aku menaikkan alis, bingung kemana arah pembicaraanya.


"Aku nggak punya pacar, " ucapku singkat.


"Kamu suka sama Zahra? "


Seketika tubuhku menegang mendengar pertanyaan itu. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Baru saja mengenalnya aku belum bisa menyimpulkan apa-apa.


"Enggak sih, cuma temen aja, "


Entah kenapa jawaban itu yang lolos dari mulutku. Kak Fahmi menatapku seakan kecewa pada jawaban yang aku lontarkan.


"Aku boleh minta tolong? "ujarnya.


"Minta tolong apa? " tanyaku


"Tolong jagain Zahra kalau aku lagi nggak ada, pastikan dia aman dan tidak telat makan. Di punya penyakit maag jadi nggak boleh telat makan, "ujarnya.


"Insyaallah saya jagain, mas jangan khawatir," Aku tersenyum simpul.


"Satu lagi, jangan pernah menayakan masa lalunya atau kamu akan menerima akibatnya. Jangan terlalu diusik untuk bercerita ia tidak suka dipaksa. Sekarang saya serahkan semuanya pada kamu, sebisa mungkin buat dia bahagia agar melupakan masa lalunya"


Aku mencerna setiap kata yang diucapkan. Tanggung jawab yang di berikan cukup berat untukku, bagaimana nanti kalau aku akan menghianati janji yang aku buat sendiri?


"Kalau kamu menyakitinya jangan harap bisa bertemu dengan adik saya lagi! Saya akan menjauhkan adik saya dari kamu, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Sepertinya kami orang baik baik"


Dia menepuk bahuku seolah memberikan tanggung jawabnya kepadaku. Sesaat perkataanya membuat bulu kudukku merinding, bagaimana nanti kalau aku menyakitinya?


"Terimakasih atas kepercayaanya, saya akan berusaha semampu saya untuk menjaga Zahra, " Aku tersenyum meyakinkan ucapanya.


"Kamu tidak mau menginap disini? Di luar udah gelap loh, "


"Terimakasih tapi saya harus pulang, permisi,"


Aku beranjak dari sofa, mengambil alih jaketku dan memakainya. Menyalakan motor dan melesat meninggalkan rumah itu. Sejenak memandang rumah bercat putih itu, semoga aku tidak berbuat apa-apa yang bisa membuat mereka menjauhiku.

__ADS_1


POV END


__ADS_2