Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 11


__ADS_3

"Banyak cinta datang dan pergi namun aku masih disini dengan orang yang sama namun perasaan yang berbeda"


.


Setelah acara wisuda tempo hari telah resmi sekolah SMA Garuda melepaskan muridnya. Menyisakan beberapa kenangan selama tiga tahun membimbing murid menuju masa depan yang cerah. Dan semenjak hari itu, aku mengiklaskan kepergiannya. Perasaan apa ini aku tidak mengetahuinya, hanya aku merasa nyaman pada keadaan yang memaksaku untuk segera mengiklaskan.


Tiga bulan setelah acara wisuda sekolah kembali menerima peserta didik baru. Namun sekolahku hanya bisa menerima dua ratus peserta didik saja. Proses seleksi berdasarkan nilai akademik dan keahlian calon siswa baru. Tak banyak yang berhasil tes ini karna yang memenuhi kriteria hanya sebagian orang.


Hari ini acara Mos hari pertama, kulihat calon adik kelas mengenakan berbagai pakaian yang menggelitik hati. Mulai baju dari karung goni, kalung bawang merah, papan nama dari kardus, dan pita yang berwarna menempel pada rambutnya. Memang iseng anggota Osis sekarang memberi begitu banyak properti yang digunakan.


Meskipun belum ada serah terima jabatan aku tidak lagi mengurus kegiatan Osis. Karna sebagian kinerja telah di handle oleh adik juniorku. Ya meski kadang-kadang aku masih berkecimpung dalam dunia itu.


Semua peserta Mos berlarian kesana kemari menurut perintah Osis. Sampai ada yang tersandung kaki temannya karna terlalu panik. Bermain game yang pastinya menyenangkan. Aku tidak ikut di dalamnya hanya melihat dari depan kelas. Moment itu mengingatkanku pada acara Mos tahun lalu, saat aku pertama kalinya bertemu kak Angga. Ah, masa lalu!


Semua siswa berteriak histeris berlarian kesana kemari mencari anggota Osis. Entah apa yang dilakukan pasti itu adalah tantangan. Aku fokus pada buku di depanku sesaat sebelum ada yang menyapa.


"Permisi kak."


Aku mendongak pria bertubuh tinggi berkulit putih dan mancung itu menyapaku. Sekilas aku melihat papan nama yang melekat padanya. Ahmad.


"Iya ada apa? "tanyaku, kulihat dia menegang berhadapan denganku. Ah, bocah ini.


"Tadi ada tugas dari kakak Osis disuruh minta tanda tangan tapi sebelumnya harus ke halaman dulu, apa kakak mau membantuku?" tanyanya.


Mata indah itu seakan melelapkanku. Aku melihat ke arah halaman, semua sudah berkumpul hanya dia yang belum datang. Kulihat wajahnya penuh dengan harapan.


"Baiklah, "ujarku seraya berdiri melangkah menuju halaman sementara dia mengekori langkahku.


"Mohon perhatianya, sekarang kalian sudah menemukan kakak-kakak Osis tugas kalian merayu mereka agar memberikan tanda tangan oke, "ucap Laras salah satu anggota Osis.


"Siap kak! "ucap mereka serentak


"Sekarang kamu maju ke depan, rayu kak Nadin, " titah Laras.


Dia pun melangkah maju menghadap ke arah Nadin.


"Kak, perkenalkan nama saya Risky Aditya mengambil jurusan IPA meminta izin untuk meminta tanda tangan kakak, "ujarnya dengan gaya cool nya.


Nadin melipat tangannya di dada sembari Menatap murid baru itu dengan intens.


"Kalau aku nggak mau,kamu mau apa?!" katanya sembari menaikkan alisnya.


"Aku bakalan pacarin kakak kalau nggak mau, " ujarnya singkat.


Sontak Nadin membulatkan matanya, tak percaya akan perbuatan adik kelasnya itu. Seketika semuanya terdiam, tapi dia masih santai dengan gaya cool nya.


"Berani banget dek, "ujar laras menahan tawa."Padahal kak Nadin ini orangnya galak loh, kamu mau pacaran sama dia?" ejek laras, menatap Nadin.


"Sekeras kerasnya batu pasti bakalan lunak sama lembutnya air, segalak galaknya dia pasti ada celah untuk melunakkan hatinya," ujarnya santai.


Semua mematung mendengar ucapan siswa baru itu. Nadin hanya membisu, mungkin dia kehilangan kata-kata lagi.


"Yasudah, sekarang gantian. Kamu yang berdiri paling depan" Laras menunjuk ke arah siswa yang menemuiku tadi.


Dia melangkah ke depan berdiri dihadapanku, dengan posisi siap menatap ke arahku. Aduh, tegang sekali sih dek.


Terlihat raut tegang dari wajahnya, pasalnya tangan terus saja ia gerak gerakan. Aku hanya menatap datar, memunculkan sikap dinginku ini.


"Perkenalkan nama saya Ahmad Alhanafi jurusan IPS, boleh saya tau nama kakak? "


Ingin rasanya aku langsung menjawab pertanyannya tapi ide iseng melintas difikiranku.


"Jika saya memberi tahu apa akan ada gunanya? " tanyaku sembari menaikkan alis, memang aktingku ini menjamin.


"Sangat berguna kak, membantu saya menyelesaikan tugas hari ini, "ujarnya dengan nada polos.


"Terus apa manfaatnya buat saya? " Aku menatapnya kembali.


"Nambah pahala kak, "ujarnya singkat. Memang anak ini benar benar polos.


"Dek, kak Zahra ini terkenal dengan sikap dinginnya, kalau kamu tanya pasti tidak akan di jawab. Kamu salah pilih dek, "kata Laras


"Tadi hanya instingnya ke kak ini, pasti dibalik sikap dinginya terdapat hati yang lembut disana, " katanya.


Dia menggombaliku? Aku tidak boleh luluh sekarang.

__ADS_1


"Benarkah? Apa kamu tahu seberapa lembut hati saya? " Aku membalas ucapanya.


"Yang jelas tidak selembut sutra dan tidak sekeras batu, "ucapanya. Aku menyeringai mengabaikan jawabanya.


"Dek kalau mau merayu kak Zahra pikir pikir dulu deh, nggak akan mempan soalnya" ucap Laras.


Siswa baru itu hanya mengangguk, memang benar kalau hanya rayuan palsu aku tidak akan luluh.


"Yaudah kalau gitu aku nyanyi deh buat kak Zahra, judulnya pura pura lupa mau denger? " tanyanya aku hanya mengangguk.


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaanya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Kutak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa


Suaranya mampu membuat mulutku membisu, aku kira suaranya seperti kaleng krupuk ternyata suaranya sangat merdu. Setiap lirik seakan menusukku, seakan memberiku peringatan untuk segera melupakan. Dan tepatnya ini adalah lagu kesukaanku,tahu saja apa yang membuatku luluh. Karna suaranya yang bagus, aku memberikan tanda tangan.


"Oke, karna kamu menyanyikan lagu kesukaan saya, mana buku kamu! Biar saya tanda tangani, " ujarku.


"Makasih kak, ini " Dia menyerahkan kertas putih itu kepadaku, dengan cepat aku menoreh garis disitu.


"Kalau gitu saya balik dulu ya, ada tambahan materi. Permisi semuanya," ujarku seraya tersenyum.


"Jangan dulu kak, " kata salah aatu siswa.


"Iya kak, dampingin kita dulu, " katanya lagi.


"Yah nggak seru kak, "imbuhnya lagi.


Dan banyak lagi teriakan dari peserta mos yang menyuruhku untuk tinggal. Aku hanya tersenyum mendengar ocehan mereka.


"Maaf ya adek-adek, kakak ada kelas. See you next time, "ujarku.


Aku melangkah pergi dari kerumunan itu, masuk kekelas dan membuka buku mempersiapkan materi yang akan dibahas. Bosen juga sih di kelas, nggak bisa bercanda sama adik kelas.


"Ra! Semuanya pada heboh tu kamu pergi," ujar Laila disisihku.


"Biarin lah, "ujarku singkat.


"Kamu lihat nggak cowok yang ngrayu Nadin? Cool banget, udah manis, baik, tampan aduh meleleh deh, " kata Laila sembari membayangkan muka cowok tadi.


"Cowok aja yang dipikirin, masa depan nggak pernah dirancang gimana mau sukses?" kataku.


"Yaelah, kamu tuh hilangin sikap dingin kamu itu. Kamu harus move on Ra dari kak Syarif sama Kak Angga mereka tuh udah bahagia denga dunianya. Dan saatnya kamu bahagia tanpa mereka, " ucap Laila. Aku sedikit tertegun dengan perkataanya.


"Lah, kok malah kesitu bahasnya? " tanyaku, dia hanya menggeleng.


Tak lama kemudian guru pun datang membawa buku yang lumayan tebal. Haduh, ini bisa habis sehari ini. Semuanya memperhatikan apa yang ibu Meta sampaikan.


Mulai teorema phytagoras, ciri ciri sampai langkah langkah mengerjakan dijelaskan dengan teliti. Aku memperhatikan dengan seksama karna pasti tidak akan lama lagi akan diadakan ujian, dan aku harus mempersiapkanya dari sekarang.


"Guru kalau ngasih tugas nggak nanggung-nanggung yah " Dara mengeluh akan tugas yang diberikan bu Meta. Aku hanya menggeleng, terhadap sikap kekanankanya itu.


"Aku mau solat dulu kamu mau ikut?" tanyaku.


"Aku belum bisa solat, "ucapnya.


"Kalau gitu aku duluan ya " Aku beranjak dari kursi menaruh sembarang buku diatas meja dan menuju mushola


Suara azan dilantunkan makna yang begitu mendalam membuat orang berfikir seribu sekali untuk meninggalkan kewajiban. Kenapa kita harus mengeluh, sedangkan Allah selalu menyemangati dengan'hayya alla sholah'?


Aku melipat mukena menata sedikit jilbab putih yang melekat menutup rambut indahku.


"Kak Zahra ya? Aku Ahmad yang tadi, " ujarnya singkat. Kenapa harus bertemu bocah ini lagi sih.

__ADS_1


"Iya, ada apa? " tanyaku.


"Boleh minta nomor telponya? " tanyanya.


"Buat apa? "tanyaku.


"Buat nambah teman aja kak, itu pun kalau boleh, " ujarnya.


"Maaf ya dek, kakak nggak sembarangan ngasih nomor telpon ke orang, " ujarku mengambil mukena dan melangka pergi. Aku menghempaskan tubuhku di kursi, merebut minuman yang di pegang Dara. Haus, itu yang kurasakan.


"Ih Ra kenapa diminum? Itukan punyaku," ujarnya.


"Haus" aku meneguk tegukan terakhir." Tadi ada adik kelas yang minta nomer telpon," ujarku singkat.


"Terus kamu kasih? "tanyanya.


"Enggaklah, "ujarku singkat.


"Kenapa ngga dikasih, apalagi kalau adik kelasnya ganteng, "katanya.


"Aku sih cenderung suka sama yang lebih dewasa dari aku , bisa bedain mana yang benar mana yang salah. Kalau adik kelas aku belum tertarik, "ujarku singkat.


"Bener juga sih, tapi kalau ada rezeki kan nggak nolak, " ujarnya cengengesan.


Waktu semakin berlalu materi tambahan telah usai diberikan. Mengambil tas dan menyambar kunci motorku bergegas untuk melaju kerumah. Melepas penat dalam kasur empukku bersama beruang kesukaanku.


Aku membuka pintu utama menuju ke ruang makan. Bunda, ayah, dan kakakku telah duduk manis di meja makan, semua makanan tela disediakan. Air liur ku hampir jatuh melihat makanan yang begitu mengoda itu.


"Selamat sore, Bund " Aku memeluk bunda dari samping disambut dengan senyuman.


"Sore sayang, makan gih udah bunda siapin," kata bunda. Aku langsung duduk namun di cegah oleh kak Fahmi.


"Dek, mendingan kamu mandi dulu gih. Muka udah lecek gitu kayak cucian kotor," ujar kak Fahmi.


"Iya kak, lagian aku cuma mau minum air putih kok, " ujarku, meneguk segelas air putih.


Menempatkan tas pada meja belajar, langsung menyambar handuk yang tersusun rapi di lemari. Mengguyur tubuh dengan air menghilangkan sedikit penatku. Setelah selesai aku mengganti pakaian dan langsung menuju meja makan. Mengambil sedikit nasi dan beberapa lauk memenuhi piring cantikku. Mulai menyantap satu persatu sampai tidak ada yang tersisa satu pun .


"Sayang belajarnya yang rajin ya bentar lagi kan ujian, jangan cuma mikirin cowok, "kata bunda.


"Zahra mana punya pacar Bun, orang dia-nya susah move on" Kak Fahmi menatapku sambil cengengesan, sungguh tidak bisa menjaga rahasia.


"Siapa sih yang membuat anak ayah susah move on" Ayah mengacak rambutku.


"Itu yah si ..." ucapan kak Fahmi dengan terhenti ketika aku menatapnya tajam.


"Kak nanti aku aduin sama bunda soal kak Feby loh, " ancamku.


"Kenapa Fahmi? "tanya bunda.


"Itu bun kak Fahmi mau pacaran sama kak Feby, " ujarku seraya mengerling nakal, tapi raut wajah kak Fahmi datar, ah, gagal!


"Kan nggak boleh pacaran"imbuhku.


"Beneran kak? "tanya bunda.


"Nggak Bun, rencananya mau langsung ta'aruf" kak Fahmi bicara singkat.


"Beneran kak? Kalau itu papa dukung, tapi kalau pacaran mending jangan dulu, fikirin masa depan nanti kalau masalah jodoh udah ada yang ngatur" Papa menepuk pundak kak Fahmi.


Memang selalu ada kehangatan dalam keluargaku. Orang tuaku mengajarkan untuk menghindari yang namaya pacaran,karna itu adalah salah satu pintu menuju kemaksiatan.


Setelah acara makan malam aku kembali menuju kamar. Membaca beberapa novel yang tersuaun rapi diatas rak, 'Kagum' salah satu novel yang aku sukai. Menceritakan tentang seseorang yang mengagumi sikap pria yang diidamkan, namun dia hanya dijadikan pelampiasan. Ah, sama seperti kisahku.


Melintas difikiranku tentang siswa baru yang bernama Ahmad itu. Memang dia tampan, tapi menurutku aku belum suka padanya.


Ting!


Sebuah nomor asing masuk ke dalam ponselku. Aku membukanya pelan.


[ Asaalamualaikum kak, ini aku Ahmad. Salam kenal ya ] Aku mengernyitkan dahi.


[Dari mana kamu dapat nomor teleponku?] balasku.


[Dari kak Dara, save ya] Dara memang tidak bisa di andalkan.

__ADS_1


[Oke] jawabku singkat.


Meletakkan ponselku di atas nakas. Memejamkan mata menghilangkan fikiranku tentangnya dan mulai menjelajahi alam mimpi.


__ADS_2