
"Entah kenapa aku masih memikirkanya, begitulah cinta, begitulah sayang dan begitulah definisi bodoh"
.
Aku memasuki kamarku meneruskan air mata yang sedari tadi aku bendung. Sampai aku menyandarkan kepalaku ke bahu Hamzah, aku tidak menyesal melakukan itu hanya saja aku terlalu kecewa pada keadaan.
Baru saja aku merasakan kebahagiaan tapi kenapa aku selalu merasakan sakit lagi? Rasa sakit yang dulu belum sepenuhnya terobati lalu kenapa sekarang di tambah lagi? Sepertinya aku memang di takdirkan untuk terus di sakiti, tidak pantas untuk di sayangi.
Aku merutuki diriku sendiri, kenapa tuhan tidak adil? Semua orang bisa merasakan kebahagiaan kenapa aku tidak! Semua benda di dekatku aku lemparkan ke sembarang arah meluapkan emosi yang sudah meluap-luap. Gelas yang berada di nakas aku lemparkan menjadi beberapa kepingan. Menekuk lutut menjadi tumpuan dan menenggelamkan kepalaku di sana.
Menangis? Memang ini adalah cara terbaik ketika mulut sudah tidak mampu berbicara. Aku lemah, aku pengecut hanya karna masalah itu aku menitikkan air mata. Walau aku berusaha untuk kuat, tetap saja air mata ini lolos tanpa Izin. Dia hanya memikirkan kebahagiaanya saja tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Rembulan seakan menghinaku di atas sana. Tersenyum kecut sambil mengerutkan alisnya. Seolah berkata 'Kamu pengecut! Baru segitu sudah lemah!'. Aku menatap ke depan pecahan gelas telah berserakan dimana-mana. Apa aku harus mengambil langkah terakhir? Tidak, aku harus bisa melaluinya dan membalas perbuatannya.
Aku membuka aplikasi whatsapp terutama pada chat khusus dari kak Syarif, membukanya pelan dan tersenyum kecut.
'Jangan mendekatiku lagi, bahagialah dengan orang lain aku tidak menantikan ke hadiranmu'
Aku tersenyum kecut membaca pesan itu, hanya dua belas kata namun beribu makna. Dengan mudahnya dia mengucapkan kata seperti itu tanpa berfikir dulu. Memoriku berputar pada kejadian yang mengerikan itu. Percuma aku menolongnya saat kejadian itu, kenapa aku tidak membiarkan dia mati saja? Astagfirullah, maafkan aku ya Allah.
Melemparkan ponsel ke sembarang tempat menangis sesegukan membenamkan wajahku diantara lututku. Aku tidak peduli basah atau tidak kasurku, yang terpenting aku menangis saat ini.
__ADS_1
"Dek "
Suara itu menggema di telingaku, tapi aku masih malas mengangkat kepala. Tidak mau orang melihat kesedihanku.
"Kamu kenapa? Dari tadi kelihatanya sedih banget, ada masalah? "
Aku mendongak dan berhambur memeluknya. Menangis dalam dekapanya perlahan kurasakan belaian pada rambutku. Bahuku bergemetar namun seiringnya waktu isakanku mulai berhenti.
"Kenapa? Cerita sama kakak, "ujarnya melepaskan pelukan dan memegang bahuku. Aku menggeleng belum sanggup untuk mengatakan hal itu.
"Yasudah kalau belum mau cerita nggak papa."
Aku mengangguk dan kembali menangis tapi dia merengkuh tubuhku, isakanku kian menjadi, saat aku ingin melupakanya tapi malah selalu mengingatnya.
"Jadi ini yang membuatmu menangis dek? " katanya melepas pelukan dan menatapku.
Aku terkejut ketika kak Fahmi telah memegang ponselku. Aku mengangguk ragu.
"Benar benar keterlaluan! Berani beraninya mengirim pesan seperti ini, "katanya, aku hanya diam.
"Mukanya saja baik tapi kelakuan busuk!" umpatnya lagi, aku menjadi terisak kembali.
__ADS_1
"Tidak bisa dibiarkan kakak harus beri pelajaran!"
Aku menggeleng cepat seraya menggenggam erat tangan kak Fahmi takut dia akan berbuat hal yang nekat.
"Biarkan kak, percuma dia sedang ada di Jogja sekarang. Tidak usah di beri pelajaran, suatu saat pasti dia akan merasakan akibatnya "
Aku menatap kak Fahmi pasti. Dia tersenyum dan kembali memelukku.
"Hati kamu terbuat dari apa sih dek? Kakak bangga sama kamu. Tapi kalau dia nyakitin kamu lagi, kakak nggak akan segan-segan buat habisin dia "
Kak Fahmi setengah berbisik namun masih bisa aku dengar. Dia mengusap bahuku lembut menangkupkan kedua tangannya ke pipiku dan mengapus air mata yang terus membanjiri pipi.
"Simpan air mata kamu, dia tidak pantas kamu tangisi " Aku mengangguk.
"Apa yang kakak akan lakukan?" Aku menatapnya penuh arti.
"Hanya sedikit pelajaran." Kak Fahmi menyeringai membuatku takut.
"Jangan berbuat apa-apa ya," ujarku.
"Yaudah tidur gih, udah malam. Liat tuh matakamu udah bengkak, kayak panda. Kakak tinggal dulu ya, "
__ADS_1
Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Dia menyelimutiku kemudian menghilang dari hadapanku. Kak Fahmi benar dia tidak pantas aku tangisi yang jelas menolakku mentah-mentah waktu itu. Dan langsung menuduhku tanpa terlebih dulu mendengar penjelasan. Sudahlah harusnya aku kubur dalam rasa ini, dan bahagia dengan hidupku sendiri. Aku terlalu yakin dia membalas perasaanku suatu saat hingga aku tidak sadar ada di posisi mana.
Menarik selimut dan mulai menjelajahi alam mimpi.