
"Biarkan semua berlalu dengan semestinya dan berakhir dengan seharusnya "
.
Aku tidak boleh terus larut dalam kesedihan. Aku terlalu pengecut untuk mendengarkan kata-kata menyakitkan itu. Semuanya sudah jelas dan tidak perlu di perjelas lagi. Mulai sekarang aku berhenti dan berharap jangan dipertemukan lagi.
Samar-samar aku mendengar kepulangan kak Bela dari rumah sakit kemarin. Meski tidak membantu mengemasi barang-barangnya aku tersenyum lega ketika melihat dia pulang dengan selamat. Aku hanya tidak ingin berjumpa dengan orang itu, bukannya pengecut hanya saja tidak mau melihat wajah teduh tapi menyakitkan itu.
Mengedarkan pandangan ke segala arah, hari ini suasana kafe sangat ramai. Banyak pengunjung dari luar kota singgah untuk menghilangkan penat, ada juga yang menjadikan kafe ini sebagai tempat menyelesaikan pekerjaan. Memang kafe ini dikelola oleh keluargaku, jadi aku bisa makan semauku tanpa harus membayar.
"Saran aku mendingan kamu lupain deh kak Syarif, dari pada makan hati. "
Aku menimang-nimang ucapannya Laila. Tanpa disuruh pun aku sudah melakukannya.
"Siapa sih Syarif itu?"
Aku menoleh, memutar bola mata malas mendengar pertanyan itu.
"Pria berpendidikan tinggi dengan ego yang juga tinggi "
Laila menimpali sembari menopang dagu dengan tangannya. Sembari tersenyum kecil melihat ke arah depan. Padahal tidak ada yang istimewa di depan.
"Mulai deh halunya."
Aku mengaduk-aduk minuman sesekali menyesapnya.
"Biarin lah " Dia mencebikkan bibir.
"Gimana kuliah kamu keterima nggak?" Dara menatapku serius.
"Belum ada pengumuman sih, tapi aku yakin bisa lolos seleksi. Emang kamu mau kuliah di mana?" Aku menatapnya intens, sedangkan dia seperti memperkirakan sesuatu.
"Kayaknya ikut nyokap di Jakarta," ujarnya singkat.
"Siska mana ya? Nggak dateng?" Aku celingukan mencari keberadaan Siska.
"Katanya mau dirumah aja gitu " Dara menyesap minumannya.
Aku mengangguk mengerti akan apa yang diucapkan Dara. Pandanganku teralih melihat Laila yang sedari tadi menyangga dagu sembari tersenyum, pasti asik sama hayalannya nih.
"Kalau kamu sama Radit gimana?" Aku menolehnya sekilas. Ekspresinya berubah datar, pasti mau konser nih.
"Cintaku bertepuk sebelah tangan." Dia menyanyikan lagu seperti artis yang sedang bernyanyi, namun ekspresinya berubah lagi. "Jadi keinget Fahri, apa kabar ya dia?" imbuhnya.
Aku menyenggol bahunya ternyata temanku ini sudah cinta lokasi sama Fahri.
__ADS_1
"Jangan rindu kawan, rindu itu berat " Aku menirukan logat berbicara seperti di film-film.
"Yang udah cinlok nih." Dara menimpali.
"Apaan sih kalian, gaje tau nggak ." Laila menatap serius.
Sesekali menggoda Laila memang mengasyikkan apalagi kalau membahas soal Fahri. Memang ketika kita sedang bersedih selalu ada teman yang selalu menghibur kita tanpa kita suruh.
***
"Kak udah ada pengumuman belum dari kampus?" Aku menatap kak Fahmi yang tengah berkutat dengan laptop.
"Belum dek," ujarnya singkat. Dia masih sama melototi laptop tanpa berkedip, aku sempat melihat wajahnya dari dekat namun sama sekali dia tidak bergerak.
"Di kampus ada fasilitas apa aja kak ?" Dia terus saja menggerakkan jemarinya di atas keyboard tanpa menatapku sedikitpun.
"Nanti juga tahu,"jawabnya.
Aku memanyunkan bibir melihat sikap kak Fahmi yang begitu dingin. Dia terus saja melihat laptop seperti sedang menulis hal yang penting. Ide jahilku muncul setelah dia tidak sadar aku segera merebut laptop dari pangkuannya dan melangkah pergi.
"Dek siniin laptop kakak!"
Kak Fahmi bangkit dari sofa mengejarku yang kini tengah memegangi laptopnya. Aku terkejut sekaligus geli melihat surat cinta yang di tulis kak Fahmi. Dengan iseng aku membacakan isi surat itu dengan keras.
"Melisa pujaanku, Aku tahu ini terkesan konyol bagimu. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta kepadamu. Wajahmu bagaikan rembulan, matamu bagaikan pelangi yang indah, serta senyummu yang terlampau manis hingga membuatku diabetes. Melisa pujaanku."
"Siniin gak laptopnya!"
Aku menjulurkan lidah sembari terus berlari ke penjuru arah.
"Oh, Melisa pujaanku apakah kamu tahu besarnya cintaku untukmu. Dalam bagaikan samudra cintaku kepadamu--"
"Balikin dek!"
"Oh, Melisa--"
"Kalau kamu nggak balikin sendal ini melayang!"
"Melisa teganya dirimu memilih pria lain dari pada diriku yang tampan ini. Aku tidak menyangka seleramu om-om, Melisa!"
Tangan aku lambai-lambaikan seolah memperagakan kak Fahmi yang tengah patah hati akibat Melisa ini.
Sandal melayang hampir mengenai kepala, untung saja aku bisa menghindar. Aku menjulurkan lidah dan terus berlari menghindari kak Fahmi.
"Aduh, puisinya siapa sih bagus banget?"
__ADS_1
Aku menoleh ke arah pintu. Ayah sudah berdiri di ambang pintu sambil menenteng jasnya. Segera aku berlari ke arahnya mencari perlindungan.
"Dek balikon laptop kakak!"
Kak Fahmi membentak aku hanya menjulurkan lidah di belakang ayah. Sedangkan ayah hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya ini.
"Kenapa sih kak? Kok adiknya dikejar mulu dari tadi?" Ayah menatapku seraya tersenyum.
"Itu loh, Yah. Laptop Fahmi di ambil sama dia!"
Kak Fahmi menunjukku dan aku hanya tersenyum jahil.
"Beneran dek?" Ayah menatapku aku menggeleng.
"Padahal kan mau ngerjain tugas, Yah." Kak Fahmi memajukan bibirnya.
"Bohong, Yah. Tadi aja nulis surat cinta." Kak Fahmi membulatkan matanya sedangkan aku tertawa bahagia.
"Coba sini liat." Ayah mengambil alih laptopnya kemudian membacanya.
"Kenapa kamu buat surat seperti ini!" Ayah menatap kak Fahmi tajam, hingga dia menunduk. Sedangkan aku heran merubah perubahan sikap ayah.
"Mau jadi apa kamu kalau yang di pikirkan hanya cinta!" Ayah kembali membentak.
"T-tadi an--"
"Masih bisa melawan! Mau jadi anak durhaka!" Aku semakin takut kalau nada bicaranya ayah menjadi seperti ini.
Aku kembali dari belakang ayah dan berdiri di sebelah kak Fahmi. Sama halnya menunduk tanpa berani menatap wajahnya. Aku semakin takut kalau ayah akan menghukum kami berdua.
"Bukannya belajar malah kelayapan! Gimana masa depan kalian!"
Aku hanya menunduk pasrah begitu juga kak Fahmi. Karna kalau bicaranya di sangkal pasti akan marah besar.
"Apa kalian pikir cari uang mudah? Ayah berangkat dari pagi sampai malam buat apa, buat biayain kalian! Apa logika kalian tidak sampai situ?!"
Rasanya air mataku ingin menetes mendengar ucapan ayah. Benar perkataanya bahwa aku menyia-nyiakan usaha dan kerja keras ayah selama ini. Aku menunduk pasrah omongan ayah itu benar adanya.
"Hahahha " Tawa seketika menggema, aku segera menatap ke depan. Ayah tengah tertawa sembari memegangi perutnya. Apa ini namanya prank?
"Kalian lucu. Baru aja dimarahin langsung diem semua, hahah " Aku dan kak Fahmi saling menatap.
"Ayah!" Teriak bersamaan dengan kak Fahmi. Kesal dengan candaan ayah yang tidak ada lucunya sama sekali.
Namun ayah sudah kabur duluan dari hadapanku, sembari tersenyum jahil. Kak Fahmi segera mengambil laptopnya dari tanganku dan melangkah pergi.
__ADS_1
Aku menatap kesal ayah yang mengerjaiku dengan cara memarahi. Pengen rasanya di bales, tapi gimana lagi statusnya lebih tinggi dariku.