
"Semuanya tergantung kita, mau berjalan dengan segenggam harapan atau berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak pasti"
.
Duduk di sofa yang empuk sembari mengambil cemilan dari toples. Menyaksikan acara televisi kesukaanku ditemani oleh cemilan yang menggugah selera. Tak lupa menyiapkan tisu untuk mengelap air mataku saat adegan sedih nanti. Karna biasanya aku akan terbawa suasana jika melihat kisah sedih seperti itu.
"Dek bantuin kakak dong"
Aku menoleh ke sumber suara entah dari kapan kak Fahmi sudah duduk manis di sebelahku. Tidak biasanya dia bersikap manis, pasti ada maunya.
"Bantuin apa kak? " tanyaku.
"Bantuin kakak buat deketin Siska"
Mataku membulat sempurna. Ternyata kak Fahmi tidak main-main dengan Siska.
"Buat apa? Nanti Siska kakak sakitin lagi,"ujarku.
"Kakak serius ra, bantuin kakak ya? "
"Nggak mau"
"Mau ya ra? "
"Enggak kakakku sayang, "
"Plis ra, kalau enggak mau aku panggilin ayah nih biar kamu dimarahin "
"Jangan ngancem gitu dong, "
"Lagian kamu nggak mau bantuin, "
"Iya iya aku batuin, "
Kak Fahmi tersenyum senang. Aku mengambil ponsel yang tergeletak dimeja. Mencari satu kontak untuk kuhubungi. Terlihat jelas tulisanya berdering aku menunggu sesat.
( Halo ra kenapa? Tumben nelpon)
"Aku cuma mau ngajak kamu diner kamu mau nggak? "
(Diner? Maulah dimana?)
"Dirumah aku gimana? Jam delapan, "
( Oke deh, nanti aku dateng)
"Aku tunggu ya, bye "
Aku menutup telpon dan meletakkanya kembali.
"Loh kok malah ngajakin Siska diner sih? Kan kakak nyuruhnya buat deketin aku sama Siska. Kok malah kalian mau diner, " ujar kak Fahmi.
"Kakakku sayang, nantikan Siska kesini aku siapin dulu tempatnya. Nanti aku alasan tuh keluar sebentar, nah kakak bisa tuh deketin dia sekalian makan malam. "
"Ternyata adikku ini pintar juga yah, cemerlang idenya. "
"Iya dong, yaudah kakak mandi gih siap siap. Biar aku siapin tempatnya."
"Makasih adik kakak yang cantik. "
Kak Fahmi berlari kecil ke kamar. Aku beranjak dari sofa menuju kolam belakang rumah. Aku memilih tempat ini karna menurutku sangat cocok untuk acara makan malam. Apalagi pencahayaanya di waktu malam menambah kesan indah pada taman. Kolam penuh air memancarkan sinarnya ketika mendapat cahaya dari lampu.
Aku menata sedemikian rupa menyiapkan alat alat makan, bunga gladiol di tengah tengahnya. Tak lupa hiasan lilin di pinggir pinggir kolam. Aku memang pandai mendekor.
Kulirik arloji di tanganku jam menunjukkan pukul setengah delapan. Acara sebentar lagi, aku mengambil makanan di dapur dan menyusunya rapi. Beberapa makanan pembuka dan pencuci mulut telah aku siapkan. Hanya menunggu waktunya saja.
"Bagus sekali hasil dekoranmu dek"
Aku menoleh. Balutan jaket warna merah maron itu membalut sempurna, celana jeans berwarna hitam juga mendukung penampilanya. Rambut yang disisir rapi dengan aroma mint menyeruak indra penciumanku. Kuakui kakakku memang tampan!
__ADS_1
"Iya dong, ngomong ngomong kakak juga tampan dengan penampilan seperti itu. Lebih cool, " ujarku.
"Sungguh? Apa nanti Siska menyukainya? "
"Pasti"
Pandanganku teralih ketika ada suara ketukan pintu dari depan. Aku segera menghampirinya, sebelumnya aku menyuruh kak Fahmi untuk duduk di meja makan dulu
Aku membuka pintu, Siska dengan bajunya yang panjang hingga bawah lutut dan celana longgar berwarna krem sangat indah membalut di tubuhnya. Dengan hijab yang senada menambah kadar kecantikannya. Tapi yang aku heran kenapa bajunya juga berwarna maron? Apa mereka berjodoh? Aku segera menepis pikiranku itu.
Aku menggandeng tangan Siska seakan menyerahkan mempelai wanita kepada calonya. Tak lupa dengan senyuman yang kuberikan. Saat akan memasuki area kolam, langkah Siska sedikit terhenti pasti dia heran kenapa kak Fahmi juga ikut dalam acara makan malam kami. Tapi aku terus menuntun dia untuk menuju ke arah kak Fahmi.
Aku mendudukkanya mengambil kursi disebelahnya agar Siska dan kak Fahmi berhadap-hadapan. Siska sedikit gugup begitupun kak Fahmi yang tak lepas memandangi paras cantiknya Siska.
"Makasih ya sis udah dateng, " ucapku memecah keheningan.
"Sama sama, kak Fahmi juga ikutan makan malam? "tanyanya.
"Iya, aku yang ajak tadi, " ujarku
"Ngomong-ngomong kok kalian bajunya sama-sama maron ya? Jangan-jangan jodoh lagi, " ucapku.
"Apaan sih ra, mungkin kebetulan ya kan sis? "
"Iya ra, mana mungkin kak Fahmi jodoh aku, kak Fahmi udah aku anggap kakak sendiri tau" ucapan siska begitu menyayat hati, sedangkan kak Fahmi nampak lesu mendengar jawaban itu.
"Aduh, aku ketoilet dulu ya? Perutku tiba-tiba mules, " ujarku seraya melangkah pergi.
Tak kujawab teriakan dari Siska yang memanggil namaku. Ini demi kelancaran acara meski harus sedikit bersandiwara.
Aku mengintip disebalik tembok, sembari tersenyum cekikian melihat tingakah kak Fahmi yang sangat tegang. Dan Siska hanya menunduk mungkin malu.
"Silahkan dimakan sis, nanti keburu dingin loh," kata kak Fahmi memulai pembicaraan.
"Iya makasih."
"Kamu udah temenan lama sama Zahra? "
"Dari SMA sih kak, " ujar Siska singkat.
"Kalau gitu tau dong tipe cowoknya Zahra gimana? "
"Setahu aku dia sukanya sama cowok yang ramah, baik, sopan, pintar mengaji dan rajin beribadah sih, "
"Ow gitu, padahal kalau dirumah males malesan lo dia. "
Aku mengumpat dalam hati kenapa malah membicarakanku?
"Masa sih? Setahu aku dia anaknya rajin loh, "
"Alah kamu tuh cuma di bohongin, orang tidur aja masih ngiler."
Kak Fahmi memang minta dihajar nanti awas aja.
"Masa sih kak? Segede gitu masih ngiler? "
"Iya, bahkan bantalnya itu sampai basah,"
"Lucu dong kalau gitu, hahah. "
Mereka terus saja tertawa sedangkan disini aku yang jadi bahan pembicaraan. Kalau bukan rencana sudah aku labrak mereka.
"Kalau tipe cowok kamu gimana? "
"Kenapa nanya gitu kak? "
Siska menghentikan tawanya ketika kak Fahmi menanyakan hal itu. Aku hanya bersembunyi di balik tembok sembari melihat mereka berdua.
"Cuma pengen tahu aja. "
__ADS_1
"Gimana ya? Pastinya baik, pengertian, sopan dan bisa ngingetin aku kalau salah, " ucap Siska.
"Ow gitu, jadi kakak nggak masuk kriteria kamu nih? "
Kak Fahmi mengerling nakal membuat Siska tersenyum dengan manisnya.
"Apaan sih kak, masuk kriteria kok. "
"Berarti boleh dong kalau kakak suka kamu? "
"Maksudnya? "
"Sebenarnya kakak udah lama suka sama kamu dari awal kita bertemu. Kalau boleh jujur aku kagum sama sikap kamu, perilaku kamu, apalagi kebaikan kamu. Apa kamu memiliki perasaan yang sama? "
"Sebelumnya maaf ya kak, bukanya menolak tapi aku nggak bisa balas perasaan kakak. Aku nyaman tapi hanya sebatas adik kakak saja, maaf ya, "
"Tidak papa, "
Aku tahu pasti kakak kecewa akan jawaban itu, cintanya bertepuk sebelah tangan dengan Siska. Aku tidak pernah menyangka kalau Siska menolak ajakan kakak, padahal dia setiap hati selalu membicarakan kakak. Tapi setelah ditembak kenapa tidak diterima? Apa ada sangkut pautnya dengan Hafids?
Aku menghampiri mereka yang sedari tadi diam. Suasananya berubah menjadi canggung.
"Uh leganya, loh kok makananya nggak dimakan? "
Aku berjalan dengan santai menuju meja sembari mengusap-usap perutku.
"Kakak masuk dulu ya ra, "
Kak Fahmi langsung meninggalkan area kolam menutup pintu keras. Aku tahu sekarang hatinya sedang patah kali ini.
"Loh kak Fahmi kenapa sis? " Aku berpura-pura bertanya.
"Kamu jahat ra! Kenapa ninggalin aku sendirian? "
Siska memukul pelan lenganku membuatku meringis.
"Kan aku udah bilang mau ke kamar mandi."
"Ke kamar mandi lama benget. "
"Ketiduran tadi, " ujarku cengengesan.
"Aku nggak nyangka kak Fahmi ngungkapin perasaanya tadi, "
"Apa?! Dia nembak kamu? "
Aku kaget seolah-seolah tidak percaya apa yang Siska katakan.
"Iya."
"Terus gimana? Kamu terima? " Siska hanya menggeleng.
"Kenapa nggak diterima sis? Padahal kamu setiap hari ngomongin dia loh," ujarku.
"Aku nggak punya perasaan apa-apa ra, "
"Padahal acara ini spesial loh dari kak Fahmi. "
Siska mengangkat wajahnya melayangkan tatapan seperti akan menerkam. Aku yamg mengerti itu hanya cengengesan.
"Maksudnya? "
"Kak Fahmi minta tolong ke aku buat deketin kamu sama dia, ya diner ini aku buat untuk kalian biar bisa ngobrol berdua. "
"Jangan bilang kamu alasan tadi ke kamar mandi? Jahat kamu."
Siska memalingkan mukanya sembari menekuk bibir. Aku berusaha mendekapnya namun segera di tepis.
"Demi kelancaran rencana, "
__ADS_1
Siska memukul lenganku kedua kalinya. Aku hanya tertawa ketika Siska mengerucutkan bibirnya menahan amarah. Dengan cepat aku memeluknya dan memberikan kekuatan untuk tidak mengeluarkan air mata. Sedangkan pikiranku terus berputar, bagaimana keadaan kakak?