
"Tetaplah tersenyum Menyapa dan juga tertawa. Ini akan jadi sebuah cerita dimana aku pernah mengagumimu tanpa kamu tau"
.
Kehadiranya mengalihkan fokusku dari masa lalu. Semua yang dia lakukan menghiasi hariku yang sempat kelam karna terlalu memikirkan hal yang tak perlu. Senyumannya membuatku candu, sempat berkhayal untuk bisa memilikinya, namun aku fikir tidak akan bisa.
Terdengar suara teriakan dari bangku penonton. Hari ini ada pertandingan basket dan aku salah satu pemainya. Berhubung semua pemain basket yang bertanding adalah perempuan, para kaum Adam berteriak histeris dari samping. Semuanya menyemangati doi nya masing masing. Sedangkan aku....
"Makanya ra cari pacar dong biar ada yang nyemangatin, "ujar Laila sembari melangkah menggiring bola.
"Yaelah kamu aja masih digantungin kok udah mau nasihatin orang "
Aku merebut bola dari Laila. Namun Laila merebutnya kembali.
"Seenggaknya dia dateng kan kesini " dia merebut kembali bola yang ada di tanganku.
Aku mencoba merebut bola dari tangan Laila. Yes! Berhasil. Aku segera mengiring bola ke arah ring. Dengan semangat aku ingin melambungkan bola.
"Zahra semangat! "
Teriakan itu mampu menghipnotisku. Bola yang tadinya aku kuasai kini telah hilang entah kemana. Aku fokus mencari sumber suara. Sepertinya itu suara kak Angga tapi
dimana orangnya?
Sampai aku bertemu pada laki laki yang berdiri samping lapangan basket, berpostur tubuh tinggi, tangan yang dimasukkan ke saku celana, serta kacamata yang menghiasi wajah tampanya. Ah kak Angga!
"Zahra awas! "
Teriakan itu tidak mengalihkan pandanganku dan masih melayangkan senyuman ke arahnya.
Duk!
Aku hampir terhuyung ke lantai sebab bola tepat mengenai kepalaku. Pandanganku mulai kabur ada yang berputar putar disana. Memegang bagian dahi benjolan kecil terpampang jelas di sana.
Aku melambaikan tangan tanda baik-baik saja kepada teman yang mengerubungiku. Meski sedikit pusing aku masih bisa untuk bertahan.
"Ya ALLAH Zahra! "
Aku mendongak kak Angga menghampiriku, memegang lembut pundakku. Seketika rasa sakitku hilang dan malas fokus pada wajahnya. Namun tiba tiba tubuhku sedikit terguncang namun ditahan oleh tangan kekar milik kak Angga.
Kak Angga membawaku menepi dari lapangan basket. Pertandingan di hentikan sementara. Ia mendudukanku dan memberi air mineral. Aku meneguknya sedikit menghilangkan haus yang sempat tertunda.
"Cepat bawakan kotak P3K! "ucap kak Angga.
Aku merasakan sakit di kepalaku kian menjadi. Rasa perih menonjol di area dahiku, bisa kupastikan ada bekas memerah disana. Aku meringis kesakitan.
Namun gerakanku terhenti kala tangan kekar itu menarikku untuk bersandar dibahunya. Aku terkejut atas apa yang kak Angga lakukan, karna terpaksa aku menaruh kepalaku di bahunya.
Ada desiran halus yang terjadi disana, juga jantungku yang berdetak cepat seolah ingin pindah dari tempatnya. Aku memejamkan mata memikirkan tentang sikap manis darinya. Ah, kak Angga! Baper!
"Zahra ... bangun keenakan ya tidur di bahuku,"
Aku membuka mata baru saja menikmatinya namun waktu tidak mendukung hal itu.
"Lagian kak Angga sih mulai duluan,"
kataku.
"Sini aku obatin"
Kak Angga mengambil kotak obat membungkuk mensejajarkan tubuhnya denganku. Bisa kurasakan hembusan nafasnya, aroma mint membuatku nyaman akan situasi.
Aku membuka mata, netraku langsung berhadapan langsung dengan mata hitam pekat milik kak Angga. Jantungku serasa mau loncat dari tempatnya mengingat wajahku yang berjarak beberapa senti saja dengan kak Angga. Rasa sakitku hilang, hanya dengan melihat ketampanan Ketua Osis ini.
"Aw, sakit! "ringisku, sembari memegang kepalaku. Namun plester sudah menempel di dahiku.
"Telat sakitnya, udah dari tadi juga, "ujarnya
Dia mengemasi obat-obat ke dalam wadah. Malu, itu yang kurasakan ingin bersandiwara tapi waktu yang tidak tepat.
"Makasih ya kak " aku memandang sekilas wajahnya sembari tersenyum.
"Makasih buat?"tanyanya
"Buat perhatiannya " aku tersenyum
"No problem" dia tersenyum manis. Mengelap tangan kanannya menggunakan tisu.
"Lain kali kalau main basket fokus dong, kalau fokus nggak akan kayak gini kan? "
Aku hanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ya ampun kak, nggak sadar apa aku gagal fokus gara-gara kamu.
"Iya - iya aku tahu kamu nggak fokus karna aku "
Seketika pipiku memerah, apa yang aku pikirkan selalu tepat dengan ucapanya. Sudah dua kali dia menebak pikiranku.
"Kak Angga apaan sih halu tau, siapa juga yang mikirin kakak waktu main basket, "
ujarku mengelak dari pertanyaan itu
"Bercanda doang kok, kenapa pipinya merah gitu bener ya? "tanyanya lagi. Aku menyembunyikan wajahku menggunakan tangan, malu itu tentu.
"Apaan sih, meski merah tetep manis kan? "
Aku mengedipkan sebelah mataku
"Tetep kok, kayak minuman ada manis manisnya,"
ujarnya seraya terkekeh. Aku pun tertawa.
__ADS_1
"Sekarang mau aku anterin ke UKS atau ke kelas? "tanya kak Angga.
"Kelas aja kak, "ujarku singkat.
Aku berdiri dengan susah payah uluran tangan menyambutku, dengan senang hati aku menerimanya. Dia memegang tanganku dan membantuku berjalan. Lah bukanya kepalaku yang sakit?
"Kak bentar deh, bukanya kepalaku yang sakit kok malah dibopong gini sih? "
Aku menghentikan langkahku menatapnya penuh tanya.
"Kirain nggak bisa jalan,"katanya
"Bisa kok cuma --"omonganku terhenti kala dia melepaskan pegangan tanganku. Spontan aku terjatuh ke lantai.
"Kak kok dilepasin sih?! "sewotku
"Katanya kakinya nggak sakit? "kata kak Angga
"Bukan gitu juga kak maksudnya, "aku mencebikkan bibir.
"Yaudah sini, "katanya, dia mengulurkan tangan dengan senang hati aku menyambutnya.
Disepanjang koridor sekolah banyak yang membicarakanku dengan kak Angga. Mulai dari mengejek hingga memuji. Namun, tetap tidak menggoyahkan pendirianku untuk melihat senyum itu.
"Angga makin deket aja tuh sama Zahra, "
kata salah satu teman kak Angga
"Apaan sih bro, cuma nolongin adik kelas aja kok, "kata kak Angga. Seketika senyumku hilang mendengar ucapan kak Angga.
Kak Angga meneruskan langkahnya membawaku ke kelas. Semuanya hening ketika aku dan kak Angga memasuki kelas. Bukan karna aku sakit, tapi karna ketampanan kak Angga yang tidak ada duanya. Ah, mereka sama saja!
"Loh kak Zahra kenapa? "tanya dara sedikit khawatir
"Tadi cidera pas main basket, "ujar kak Angga
"Tolong jagain ya nanti kalau ada apa-apa bilang aja, saya permisi" kak Angga melangkah pergi.
Sedangkan aku melenggang mencari posisi ternyaman untuk meletakkan kepalaku. Dara hanya melontarkan banyak pertanyaan tapi aku hanya membalas dengan deheman.
Perlahan rasa sakitku hilang, aku kembali teringat sikap manis kak Angga hari ini. Begitu perhatian dan penyayang. Aku ingin terus menikmatinya meski pada akhirnya aku harus melepaskanya.
.
.
"Cie yang ditolongin sama kak Angga " aku menoleh .
"Apaan sih, ganggu aja," ujarku.
"Semua orang pengen nyandar di bahunya kak Angga, eh malah kamu yang dapet," ujar Laila.
"Rejeki," kataku cengengesan.
"Dari dulu lagi, kalau nggak tampan mana mungkin di kejar-kejar adik kelas," ujarku.
"Iya juga sih," ujarnya .
Aku menggelengkan kepala ternyata Laila masih bisa membedakan mana yang tampan dan mana yang tidak.
"Eh, kita harus cepat ke gedung musik," ucap dara ngos-ngosan.
"Kenapa sih dar, kayak dikejar anjing aja," ujar Laila.
"I-itu kak Angga mau nyanyi,"ujar Dara.
Tanpa kata aku langsung bergegas menuju ruang musik, tidak ingin melewatkan konsernya kak Angga.
Setibanya disana ternyata sudah ramai dengan adik kelas yang ingin melihat penampilan kak Angga. Tidak salah sih kalau mereka mengagumi kak Angga.
Sayangnya aku duduk di kursi belakang, mengumpat dalam hati karna tidak kelihatan wajah tampannya kak Angga. Begini nih, kalau ketinggalan berita.
"Kak sini!"
Aku menoleh ke arah adik kelas yang duduk di barisan paling depan. Melambaikan tangan seolah menyuruhku untuk ke depan.
"Kenapa dek?" tanyaku.
"Kakak duduk sini aja biar kelihatan," ucapnya. Aku tersenyum sumringah masih ada ternyata adik kelas yang peduli.
Adik kelas, i love you!
Dengan langkah cepat aku melangkah menuju bangku paling depan. Menatap ke depan tanpa berkedip, pandanganku nyaris tak luput dari wajah kak Angga. Duduk di atas kursi sembari memegangi gitar berwarna hitam tersenyum manis ke arahku. Apa aku kepedean?
'Lama sudah ku menanti '
Baru satu lirik saja sudah membuat siswa di belakangku berteriak histeris, apalagi aku. Senyum itu tidak berhenti ku pandang, dia terlihat manis kalau sedang seperti ini.
Pilihan lagunya juga cocok "Nyaman" karya Andmesh Kamaleng.
'Banyak cinta datang dan pergi '
Teriakan mereka semakin menjadi, aku menutup telinga terganggu dengan teriakan mereka. Karna itu aku tidak bisa menikmati musik yang di nyanyikan kak Angga.
'Tapi tak pernah aku senyaman ini '
Ya ampun! Aku tidak bermimpi kan? Kak Angga menatapku seraya tersenyum, aku tidak halu kan? Haduh, bisa-bisa aku meleleh di tempat kalau gini.
'Karna dirimulah cinta sejati'
__ADS_1
Bisa kupastikan pipiku ini seperti kepiting rebus.
Cintamu senyaman mentari pagi
Seperti pelangi, slalu kunanti
Cintamu tak akan pernah terganti
Selamanya di hati, aku bahagia
Milikimu seutuhnya
Suara riuh teriakan dan tepuk tangan terdengar sangat keras ketika kak Angga menyudahi nyanyianya. Tak lupa mereka meneriaki kak Angga untuk menyanyi lagi. Sedangkan aku malu menatapnya.
" Zahra kesini!" panggilan itu sukses membuatku menatap ke depan. Aku tidak salah dengar kan?
Aku menunjuk diriku sendiri sembari menatapnya. Dia mengangguk melambaikan tangan menyuruhku untuk maju ke depan. Aku menggigit bibir bawah ragu untuk melangkah ke depan. Aku menggeleng pelan, tapi malah dia beranjak dari kursinya dan melangkah menuju ke arahku.
Jantungku tolong di kondisikan!
Uluran tangan membuat aku sedikit mematung. Menatap ke arahnya penuh ragu namun di balas dengan senyuman. Dengan ragu aku menyambut uluran tangan itu dan beranjak dari kursiku.
Haaa!!
Teriakan dari adik kelas membuatku sedikit malu. Bisa-bisanya kak Angga melakukan hal itu. Dia menggiringku ke kursi menatapku penuh arti.
"Kita nyanyi bareng yah?"
Aku terkejut, bagaimana nanti kalau gedung rusak gara-gara suaraku?
"Lagu apa?" aku mengerutkan dahi, pikiranku sudah buntu berhadapan denganya.
"Gimana kalau lagu ' Waktu yang salah' ?" aku berfikir sejenak.
"Oke deh,"
Mau tidak mau aku harus menyanyi sekarang, tak peduli dengan suaraku yang bisa merobohkan gedung musik ini.
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar ku bunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Haa!!
Teriakan dari adik kelas mampu membuat pipi merona. Apalagi kak Angga yang terus menatapku membuat salah tingkah. Rupanya suaraku tidak begitu jelek, buktinya mereka menyukainya.
"Suaramu bagus, kenapa nggak bilang dari dulu. Kan kita bisa duet bareng?"
Aku tersenyum malu.
"Makasih. Masa suara cempreng di bilang bagus sih?" kataku.
"Bagus, beneran " kak Angga mengacungkan dua jarinya.
"Apaan sih kak," ujarku menunduk.
Semburat merah tidak bisa lagi aku sembunyikan. Tidak pernah terfikirkan olehku untuk bernyanyi bersama kak Angga. Tapi nyatanya, terimakasih tuhan.
"Nyanyi lagi dong kak!"
"Kak Angga sama kak Zahra cocok deh!"
"Ayo kak nyanyi lagi!"
"Nyanyi! nyanyi! nyanyi!"
Mereka terus saja meminta untuk mengulang lagu lagi. Ada yang bilang cocok lah, bagus lah, serasi lah dan lain-lain mampu membuatku terbang. Kalau begini cita-citaku jadi artis bakal terwujud.
"Maaf ya adek-adek kakak ada urusan sebentar lagi. Lain kali aja ya "
Mereka mengerucutkan bibir raut kekesalan terlihat jelas di wajahnya. Harapan mendengar suara bagus kak Angga pupus sudah. Tanpa sepatah kata mereka meninggalkan ruangan, menyisakan aku dan kak Angga.
"Fans nya kak Angga banyak juga yah," ujarku menatapnya.
"Iya dong," jawabnya.
"Dari semua fans kakak, mana yang kakak sukai?"
Aku menatapnya. Dia meletakkan gitar dan berbalik menatapku.
"Kenapa harus pilih fans kalau yang aku sukai ada disini"
Mataku membulat sempurna, mulutku menganga sempurna sampai membentuk huruf O. Apa maksudnya aku yang di sukai?
"Yaudah, aku duluan ya ada urusan"
Belum menjawab pertanyaan aku masih saja bergeming. Seolah tak percaya akan yang kudengar barusan. Apa ini nyata?
"Maksud ka--"
__ADS_1
Aku menoleh ke samping, tidak ada kehadirannya. Aku menatap ke arah pintu, kak Angga melangkah keluar dengan gitarnya dan meninggalkanku sendirian.
"Kak Angga tunggu!"