
"Aku tidak menjamin kehadiranmu tapi aku berharap agar kamu selalu disisihku"
.
"Hum, baunya enak nih "
Aku mendongak, kak Fahmi telah berada di depanku sembari menatap brownis yang aku buat. Menatapnya tanpa henti, segera aku tepis tangannya yang menyentuh brownis yang masih utuh.
"Kakak kok udah pulang sih?" tanyaku.
"Udah selesai kuliahnya " jawab kak Fahmi. " Boleh nggak dek kakak minta?" Aku memutar bola mata malas dan mengiyakan ucapan kak Fahmi.
Dia segera melahap satu potong brownis di piring. Aku hanya tersenyum kecil melihat ekspresi ketika memakannya. Aku memang hobi memasak apalagi kalau membuat kue.
"Kok kamu pulang duluan?"
"Iya tadi kuliah pagi, jadinya cepet deh pulang kerumah," ujarku.
"Siska menurut kamu gimana sih" Aku mengerutkan dahi menatap kak Fahmi yang masih memakan brownis.
"Kalau menurut aku dia baik, pengertian, ramah pokoknya baik lah," ujarku.
"Gitu ya," jawabnya. Aku mengambil satu brownis dipiring sambil menatapnya intens. "Kalau Hafids itu siapa sih?" tanyanya.
"Hafids itu mantan Siska dulu. Tapi kayaknya mereka mau balikan deh," ujarku. Kak Fahmi mengentikan acara makannya.
"Nggak bisa dibiarin nih," jawabnya.
Aku hanya menggeleng pelan melihat tingkah kak Fahmi yang absurd. Pasti dia tengah mencari cara untuk mendapatkan hati Siska sebelum ke duluan.
"Wah baunya enak nih masak apa, Ra?" Bunda tengah berjalan ke arahku aku hanya tersenyum.
"Ini nih bun bikin brownis, cobain deh," ujarku menyerahkan brownis ke arahnya. Ekspresinya berubah menjadi senang. "Enak, udah waktunya nih buat dijadiin mantu," kekeh bunda.
"Mantu apaan sih, Bun," elakku.
"Itu kakak kamu kenapa?" Aku menatap ke arah sofa dimana kak Fahmi tengah merenung serius.
"Lagi mikirin soal wanita " Aku menekankan pada kalimat terakhir bunda terkeksh.
Aku menikmati brownis yang aku buat di temani secangkir teh dan obrolan hangat bersama bunda. Sembari menceritakan ulah kak Fahmi waktu masih balita. Tak lupa aku tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita bahwa kak Fahmi pernah kecebur selokan karna jatuh dari sepeda. Tawaku mengundang tatapan sinis dari kak Fahmi, tapi diam saja mungkin dia tengah berfikir cara agar mendapatkan hati Siska.
"Assalamualaikum"
Pandanganku teralih ke suara salam dari luar pintu. Membenarkan jilbab dan melangkah membukakan pintu untuk tamu kali ini.
"Mama!"
Pintu terbuka menampakkan gadis kecil yang tengah tersenyum simpul sembari merentangkan tangannya minta untuk digendong. Aku menyambut uluran tangannya dan membawanya dalam dekapan.
"Mama Ara kangen," rengeknya.
"Silahkan masuk tante, Hamzah "
Aku mempersilahkan mereka duduk di sofa ruang tamu dengan Ara yang masih berada dalam gendongan.
"Tumben tante kesini ada apa?" ujarku seraya memangku Ara.
"Ara tuh, katanya mau ketemu sama mama kedua " Tante Desi terkekeh.
Aku mencubit pipi gembulnya itu. Ara tidak henti-hentinya menyebutku dengan sebutan mama. Bunda beralih duduk di sampingku sama mencubit pipi gemas Ara.
"Adik manis namanya siapa?" Ara menatap ke arah Bunda.
"Ara tante," ujarnya singkat.
"Ara nempel banget tuh sama Zahra, Mir. Sampai-sampai manggil Zahra aja pake sebutan mama " Tante Desi tertawa kecil sedangkan pipiku kini tengah merona.
"Beneran? Wah, kayaknya kita harus cepet-cepet nikahin mereka tuh, Des."
Aku hanya menaikkan sebelah alis, nikah?
"Kayaknya harus deh," ujar tante Desi disertai tawaan.
"Ma-- eh maksudnya Zahra, tiap malam terus ditanyain sama Ara tuh " Pipiku merona mendengar sebutan Hamzah untukku.
"Ehem! Kayaknya udah persiapan nih buat manggil calon istrinya, ups."
Bunda mengatupkan kedua tangannya ke mulut. Kenapa sih mereka selalu menggodaku? Aku hanya menunduk malu, gara-gara Hamzah sih.
"Apaan sih ma " Hamzah menggaruk tengkuk sembari tersenyum kikuk.
Kenapa sih pipi terus saja memerah? Nggak tahu apa orang lagi malu juga.
"Kakak mau ambil minum dulu, Ara sama mama Desi dulu ya " Aku melepaskan pelukan namun pelukannya semakin dipererat.
"Nggak mau Ara pengen ikut mama " Ara mengerucutkan bibirnya.
"Gitu tuh kalau udah sayang susah pisahnya," ujar tante Desi.
Alhasil aku harus terpaksa membawa Ara kedapur. Meski sedikit susah harus mengendong dan membawa nampan namun akhirnya bisa sampai tujuan. Aku meletakkan jus jeruk dan brownis coklat yang tadi kubuat di atas meja.
Duduk kembali disofa sembari memangku Ara layaknya seperti anak sendiri. Kadang ribet sih.
"Silahkan di minum tante," ujarku. Mereka segera meminum minuman yang ku buat.
"Mama, Ara pengen makan itu " Jarinya menunjuk ke piring penuh kue Brownis itu.
__ADS_1
"Nih," ujarku menyerahkan kue brownis pada Ara. "Tapi sebelum itu baca doa dulu," sambungku lagi Ara melafalkan doa dan mulai memakan brownis dengan sangat lahap sampai sisa brownisnya nyelip di gigi.
"Enak brownisnya, siapa yang buat, Ra?" Tante Desi menatapku. "Aku yang buat tante," ujarku.
"Wah bener-bener calon mantu idaman banget. Udah pinter ngurus anak, pinter masak kurang apa coba? Iya nggak, Mir?"
Tante Desi menatap bunda, aku hanya tersipu malu jika teru di puji seperti itu.
"Kayaknya yang kurang dari pihak laki-lakinya deh, kurang peka kayaknya " Bunda menimpali. Benar juga sih emang Hamzah tuh nggak peka.
Hamzah hanya tersenyum malu, dalam hati aku juga menertawakan sikapnya sih.
Waktu berjalan begitu cepat, mentari pun mulai menyembunyikan wujudnya. Guratan-guratan berwarna orange terlihat jelas di samping awan. Namun pembicaran kami berlima masih saja berlanjut hingga lupa bahwa senja akan segera berganti menjadi malam.
"Kami pulang dulu ya, makasih lo tadi hidangannya. Ayo Ara" Tante Desi mengambil alih Ara dari pangkuanku, namun Ara malah menyembunyikan wajahnya.
"Ara nggak mau ma, Ara pengen disini sama mama Zahra "Ara terus saja merengek tidak mau diajak pulang.
"Besok lagi aja ya, sekarang kita pulang kasihan loh mama Zahra kecapean," ujar tante Desi.
"Nggak mau! Pojoknya Ara mau disini! Kalau mama mau pulang, pulang aja!" ketus Ara.
"Gimana nih?" Tante Desi menatap Hamzah yang mengedikkan bahu.
"Nggak papa lo kalau Ara mau tidur disini, Des. Sekalian kan Zahra latihan ngurus anak," ujar bunda.
Aku hanya berfikir bagiman nanti jadinya kamarku jika kedatangan Ara, tapi kasihan juga.
"Nggak papa tante kalau Ara mau tidur disini. Itupun kalau tante ngijinin," ujarku.
"Kalau gitu bolehlah, kamu temanin dia ya Hamzah?"
"Loh kok aku ma? Kenapa nggak mama aja?"
"Mama kan juga pengen waktu berdua sama papa, Zah. Lagian kak besok kuliah siang sebentar aja kok, besok pagi bawa Ara pulang"
"Tap--"
"Nggak ada penolakan!"
"Yey! Akhirnya bisa tidur bareng sama mama Zahra "
"Mama pamit dulu ya sayang, jangan nakal " Tante Desi mencium pipi Ara.
"Oke, mama"
Tante Desi segeda meninggalkan rumah menyisakan kami bertiga. Aku mulai canggung jika satu rumah dengan Hamzah.
"Maaf ya tante Ara ngrepotin" Hamzah bersuara.
"Maaf ya Ra gara-gara Ara kamu jadi harus repot "
"Nggak papa, nanti kalau mau tidur kamarnya ada di lantai atas ya"
Hamzah mengangguk dan aku mulai garing untuk memulai pembicaraan.
"Ada Hamzah nih, jadi tidur disini? Kak Fahmi menghampiri kami di sofa.
iya, gara-gara Ara tuh"
"Kalau gitu bisa dong bantuin aku ngerjain tugas?"
"Kalau bisa sih"
"Ini coba kamu lihat"
"Mama kekamar yuk Ara pengen main" Ara bergelayut manja di lenganku.
"Yaudah ayo, Zah kak aku ke kamar dulu ya"
Aku menggendong Ara menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarku. Sedangkan Hamzah tengah berkutik dengan laptop dan juga kak Fahmi. Aku menurunkan Ara diranjang dia berjingkrak-jingkrak kesenangan.
"Kamar kakak bagus ya?"
"Iya dong"
Ara mengajakku untuk bermain boneka yang berada di ranjangku. Sambil berhalusianasi seolah boneka itu bisa berbicara. Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyolnya iti sesekali menggelitiki tubuhnya.
Malam sudah larut waktu menunjukkan pukul 8 malam. Aku segera mengangkat Ara dari ranjang dan menuju meja makan untuk mengisi ke kosongan.
Di meja makan sdah banyak yang berkumpul hanya aku dan Ara yang belum duduk di ursi meja makan. Menarik kursi disebelah untuk Ara duduki, katanya tidak mau bila berjauhan.
"Udah kaya anak sendiri ya, Nak?"
"Apaan sih, Yah"
"Orang calonnya aja udah disini kok pah"
Aku hanya tersenyum kecil begitu juga dengan Hamzah. Mereka tertawa lepas sedangkan aku harus menanggung malu.
Ara dengan lahap memakan ayam goreng yang tersaji di piring. Melahap habis tanpa tersisa sedikitpun.
"Mama, aku ngantuk ayo tidur"
Aku terus menggendong Ara dalam pelukan sesekali mengusap suari panjangnya. Merebahkan tubuh mungil itu diranjang sembari menyanyikan lagu pengantar tidur, tak lama diapun terlelap. Aku beranjak dari rajang menuju fapur karna tenggorokanku terasa kering.
Aku meminun air putih sampai tandas, puas melepaskan dahaga yang sempat tertunda. Aku melihat seseorang disofa tengah menonton televisi.
__ADS_1
"Kamu belum tidur?" Dia mendongak menatapku.
"Belum ngantuk"
"Kak Fahmi kemana?"
"Katanya mau ngerjain tugas tadi. Kamu juga kenapa belum tidur?" Hamzah menatapku.
"Belum ngatuk, Ara juga udah tidur dari tadi"
Aku duduk disampingnya ikut menyaksikan acara televisi. Seketika memoriku kembali pada kejadian pelukan itu, rasanya tidak mau mengulanginya lagi.
"Kamu pernah nggak sih berharap?" Aku menatap wajahnya serius mencoba memahami bahasa tubuhnya.
"Pernah"
"Apa mengharapkan selalu saja menyakitkan?"
"Nggak semuanya, kalau menyakitkan berarti kamu berharap pada orang yang salah"
Aku mengangguk sampai larut dalam tatapan itu.
"Kalau berharap sama kamu salah nggak?"
Aku menatap wajahnya intens saling berpandangan satu sama lain. Menatap lekat wajahnya berharap jawaban yang akan ia lontarkan. Semakin dalam hingga aku larut dalam tatapan.
"Kalau mau berduan besok aja! Sekarang udah malem tidur!"
Suara teriakan itu mengubah pandanganku. Kak Fahmi tengah cengengesan melihatku. Aku jadi malu telah menanyakan hal tadi.
"Yaudah aku tidur dulu"
Aku segera beranjak dari sofa meninggalkan Hamzah sendirian. Terus saja merutuki diri sendiri kenapa bisa mengatakan hal bodoh itu.
"Selamat malam, Ra"
Kata-katanya menghentikan langkahku alu berbalik Hamzah tengah menataku seraya tersenyjm. Jantungku berdetak kencang pipiku mulai merona dengan sendirinya.
"Malam juga"
Aku segeda berlari menaiki tangga tidak tahan jika harus berlama-lama menatap Hamzah. Kenapa sih rasanya gini?
Aku segera menyusul Ara berbaring diranjang. Menarik selimut sampai ke dada. Hanya tersenyum bila mengingat Hamzah mengucapkan selamat malam. Seperti ada yang berbunga-bunga di dalam sana menuntutku untuk berteriak kerias
'Aku malu!'
***
Sinar matahari membuat mataku mengerjap. Tersenyum simpul ketika melijat Ara yang masih terlelap. Meninggalkan dia yang masih meringkuk ke kamar mandi untuk melaksanakan solat subuh.
Melipat mukena disamping meja, beralih menaiki ranjang untuk membangunkan Ara. Tubuhnya menggeliat ketika mendapat usikan dari tanganku. Meregangkan otot-otot seraya tersenyum kecil ke arahku.
"Selamat pagi mama "
Cup
Satu kecupan lembut di pipi kananku dari Ara. Aku membalas dengan cubitan lirih di pipinya.
"Selamat pagi Ara. Sekarang Ara bangun, mandi terus sarapan ya "
Aku menggendong Ara ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama Ara sudah siap dengan penampilanhnya. Aroma bunga lily menyeruak indra penciumanku. Menggendongnya ke meja makan untuk sarapan sebelun dia pulang.
"Selamat pagi tante, om " Ara terus saja menghujami kecupan pada ayah dan bundaku seraya tersenyum kecil.
"Wanginya," Bunda memuji.
"Iya tante, tadi abis dimandiin sama mama Zahra"
Suasana menjadi ramai setelah ke datangan Ara. Berbagai candaan telah menghiasi meja makan, sesekali aku mencuri pandangan ke arah Hmzah. Rasanya canggung bila bertatap muka sepertj ini setelah kejadian kemarin malam.
Setelah usai, Hamzah segeda berpamitan kepada bunda dan ayah. Mengambil alih Ara dalam dekapan dan meminta izin untuk pulang. Bunda mengode supaya mengantarkan mereka sampai depan rumah, dengan terpaksa aku menurutinya.
"Mama Zahra, Ara pamit ya " Ara mencium sekilas pipiku
"Iya Ara hati-hati ya" Aku mengusap rambut panjangnya seraya tersenyum.
"Aku juga pamit, Ra " Hamzah menatapku.
"I-iya " ucapku gugup.
"Kita bisa kesini lagi kan pa?" Ara menatap Hamzah aerius.
"Bisa. Tapi tunggu papa halalin mama Zahra dulu ya "
Seketika pipiku merona mendengar ucapan Hzah. Aku tidak bermimpi kan? Tolong jantung jangan loncat kemana-mana.
"Yey! Papa mau halalin mama!"
Ara berteriak beriringan dengan Hamzah yang membuka pintu mobil.
Hamzah segera menghilang dari pandanganku. Aku menepuk pipiku sendiri memastikan bahwa ini bukan mimpi. Ternyata benar, ini bukan mimpi berarti tadi Hamzah serius?
"Cie ... Yang mau di halalin tuh," goda bunda.
Aku hanya tersenyum malu menutup wajah menggunakan ke dua tanganku. Menutup pintu depan dan segera berlari ke kamar.
Malu!
__ADS_1