Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 23


__ADS_3

"Orang yang selama ini kusebut dalam doa ternyata memberi kejutan yang tak terduga"


.


Aku menaiki anak tangga satu persatu, seperti tidak ada tenaga untuk melakukan kegiatan. Rasanya tubuhku tanpa tulang terombang-ambing tanpa tujuan. Hanya menyisakan beberapa kekuatan untuk melangkah, mata bengkak dan berat untuk sekedar membuka mata.


Sudah beberpaa hari semenjak kisah pesan itu aku masih belum bisa melupakannya. Rasanya masih sakit saja dihati. Jarang makan, jarang tidur sudah aku lakukan beberapa hari in. Alhasil badanku lemah tak berdaya, bahkan untuk melihat saja berat rasanya.


Aku menghempaskan asal tasku mulai menangkupkan tanganku di atas meja. Menenggelamkan kepalaku di dalamnya, berat rasanya kepalaku belum lagi sembab di mataku belum hilang. Tanpa memoles make up apapun di wajahku membuatnya semakin pucat.


Ada getaran di belakang kursiku ada yang menaruh tas ku di kursi. Malas aku menatapnya kali ini dan memilih memperdalam semediku.


Materi yang diajarkan sama sekali tidak masuk ke dalam pikiran. Yang biasanya semangat kalau pelajaran dimulai tapi kali ini malas sekali rasanya. Sedari tadi Siska menatapku, namun sama sekali aku tidak menoleh agar terhindar dari pertanyaan konyolnya itu.


"Zahra kekantin yuk, " ajaknya aku hanya berdehem dan mulai mengikutinya.


Siska memesan beberapa makanan dan aku hanya memesan satu es teh. Mungkin es batu ini mampu mendinginkan pikiranku. Kuletakkan tangan diatas dagu menyangganya dengan satu tangan. Kuedarkan pandangan melihat sekeliling kantin mencari sesuatu yang masih aku fikirkan.


"Dek "


Aku menatap ke depan, pria bertubuh tinggi itu duduk disebelahku.


"Kak Fahmi? " tanyaku.


"Kenapa nggak pesen makanan? Liat, temen kamu aja udah makan dari tadi. Terus kamu cuma pesen es teh? Percuma di kasih uang bulanan kalau cuma buat beli es teh dek."


Aku hanya menatap Siska sekilas yang sedari tadi makan tanpa jeda. Aku menghembuskan nafas pelan, bagaimana mau makan orang rasanya tidak enak.


"Dia bukanya pacar kamu kan? "


Aku memalingkan wajah, masih aja keinget masa lalu. Kak Fahmi hanya cekikikan melihat wajah bingung Siska.

__ADS_1


"Bukan. "


"Waktu wisuda bilangnya kalian tunangan 'kan? "ucap Siska.


"Waktu itu cuma bercanda. Kenalin nama aku Fahmi Fadilah, panggil aja Fahmi. Kakaknya Zahra, "ujar kak Fahmi.


"Kakak? Kok aku nggak pernah liat? "tanya Siska.


"Makanya sekali-kali main dong kerumah, jangan rebahan aja di kamar, "ujarku sewot.


"Lagian aku juga jarang di rumah jadi jarang ketemu deh," ujarnya.


"Kakak ngapain sih kesini?!" sewotku.


"Makanlah, emang ke kantin mau ngapain," jawabnya.


"Alah bilang aja modus, "ungakapku.


Kak Fahmi menatap Siska. Siska menyebut nomor telponya, benar-benar kak Fahmi melakukan tantangan dariku


"Nyalinya besar juga ya kak? "kataku.


"Iya dong, "katanya.


"Nanti aku chat ya,"kata kak Fahmi.


Siska hanya mengangguk sembari tersenyum kecil.Sedangkan kak Fahmi tersenyum malu-malu, Kak Fahmi modus!


"Dek, kamu tuh harus makan biar nggak sakit, kalau kamu sakit gimana? "


Kak Fahmi menyentuh puncuk kepalaku, menimbulkan suara teriakan dari belakang mejaku. Aku menoleh ke belakang banyak pasang mata yang berteriak histeris ketika melihat kak Fahmi menyentuh kepalaku.

__ADS_1


"Orang ini udah sakit kok, "gumamku, kak Fahmi hanya menggeleng.


"Zahra kenapa kak? Dari tadi murung aja, diajakin makan nggak mau, "


Siska menatapku sembari menyangga dagunya menggunakan ekspresi yang susah di tebak. Aku hanya mencebikkan bibir.


"Ada masalah, "kata kak Fahmi.


"Kenapa nggak cerita, Ra? "tanya Siska aku hanya menggeleng.


"Yaudah aku kekelas dulu ya, soalnya ada kelas, " ujar kak Fahmi.


"Kakakmu ganteng juga yah, "kata Siska aku hanya menatapnya malas.


Aku membawa tas kecilku, berjalan ke arah parkiran barangkali ada tumpangan untuk pulang. Hari ini jadwalku sudah selesai, sedangkan kak Fahmi masih ada satu lagi materi tambahan. Terpaksa deh aku harus pulang duluan. Untuk itu aku memesan ojek online untuk menjemputku.


Sesampainya aku dirumah langsung menuju ke kamar mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai. Menghampiri bundaku yang dari tadi sibuk di dapur.


"Bun, lagi buat apa? "tanyaku.


"Jus buah naga kamu mau? "tanya bunda.


"Engga deh bun, "kataku.


"Tumben udah pulang? Makan gih, udah bunda siapin disana, "kata bunda.


"Hari ini kuliahnya pagi bunda, jadi jadwalnya udah habis. Tadi udah makan di kantin bunda," ujarku berbohong padahal dari tadi aku belum memakan apapun.


Aku meninggalkan bunda di dapur dan menuju halaman depan menghirup udara segar. Kendaraan berlalu lalang melintas di depan rumahku menambah kesan ramai dalam lingkungan rumahku.


***

__ADS_1


Waktu begitu cepat, aku melangkah dari lantai menuju ke atas ranjang. Seusai solat Isyak aku langsung merebahkan tubuhku. Aku belum makan sama sekali, tapi perutku terasa penuh. Rasanya semua yang masuk hambar, tidak berasa. Hanya sesekali aku minum air putih tanpa memakan apapun. Pening dikepala dan rasa mual membuatku semakin tidak bersemangat. Sesekali perutku sakit karna telat makan. Aku menghembuskan nafas pelan, bagaimana jadinya kalau aku terus seperti ini?


__ADS_2