Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 29


__ADS_3

"Tawaku seakan mengembalikan keceriaan padaku, namun kepergianmu juga memberi luka pada hatiku"


.


Aku hanya menatap jengah pada dua sejoli yang terus berdebat itu. Tidak membuat tugas selesai, namun malah menambah kerjaan. Duduk dilantai menopang dagu dengan satu tangan melihat kisah nyata di depanku ini.


"Biru Hamzah!"


Siska melototkan matanya sedangkan Hamzah mengangkat bahu acuh.


"Merah Siska, merah kan melambangkan keberanian cocok dengan slogan kita " Hamzah menunjuk pada layar laptop.


Sedangkan aku hanya terpaku melihat tingkah mereka berdua, tanpa niat menengahi. Untung bunda tidak ada dirumah jadinya aman untuk berteriak.


"Dasar muka triplek!"


"Dasar cicak dinding!"


"Muka triplek!"


"Cicak dinding!"


"Triplek yang dihinggapi cicak dinding. Itu udah pas buat sebutan kalian"


Perkataanku membuat mereka menoleh dengan tatapan tajam. Aku hanya cengengesan melihat ekspresi mereka berdua. Ada-ada saja kelakuan mereka, untung sayang kalau enggak udah aku buang mereka.


"Aku boleh gabung nggak nih?"


Suara bariton itu membuatku menoleh, kak Fahmi berdiri di depan pintu sembari menenteng tas di tangannya. Dia mendekat kemudian duduk disebelahku.


"Kenapa sih kok ribut mulu?" Kak Fahmi memandang kami bertiga.


"Ini nih kak, debat masalah warna buat background slogan. Eh malah mereka ribut," ucapku.


"Lagian Hamzah ngotot sih," Siska menimpali.


Aku hanya menatap kak Fahmi yang sibuk menatap Siska yang tengah mengedit di laptopnya. Aku jadi berfikir apa nanti kalau kakak tau Siska satu sekolah dengan mantannya dia tidak akan kecewa?


"Siska menurut kamu gimana?" Aku mendekat ke arah Siska dan menfamati slogan yang kita buat.


"Menurutku ya kalau dikasih backround warna biru itu kesannya kalem, santai, enjoy pokoknya sesuai sama slogan kita. Kalau waran merah kayaknya lebih menantang, galak, pemberani gitu kurang cocok sama isi slogan kita "


Aku mengangguk-anggukan kepala mencermati omongan Siska. Pandanganku teralih pada kak Fahmi yang menatap Siska tanpa berkedip.


"Liatinnya nggak usah sampai kayak gitu kali"


Aku tertawa menyenggol bahu Hamzah menyuruhnya untuk menatap kak Fahmi.


"Kak Fahmi!"


Panggilku lagi, seketika dia menoleh dengan raut wajah kebingungan.


"Eh a-apa dek?" Kak Fahmi gelagapan.


"Liatin Siska nggak usah sampai kayak gitu," ujarku lagi.


"Siapa juga yang liatin," elak kak Fahmi.


Ting!


Bunyi notifikasi dari ponselnya Siska berdering, aku melihatnya sekilas terpampang jelas nama Hafids disana. Tanpa sepengetahuannya aku membuka chat itu.


[Nanti siang kamu ada acara nggak?Kalau enggak aku ajak jalan mau?] Aku cekikikan melihat isi chat Hafids, sepertinya akan ada cinta yang bersemi nih.


[Boleh, kamu jemput ya] Aku membalas pesan tanpa sepengetahuan Siska.


[Oke]

__ADS_1


Aku menutupnya kembali tapi malah bunyi dering semakin keras. Siska mengangkat ponselnya, menerima panggilan dari Hafids.


"Halo ada apa?"


[Nanti jam 2 siap-siap aku jemput]


"Jemput? Mau kemana?"


[Lah bukannya kita mau jalan?]


"Jalan kapan aku ngomong?"


[Barusan tadi coba kamu lihat]


Siska mematikan sambungan dan melihat chatnya Hafids. Aku memalingkan muka sebentar lagi akan ada perang nih.


"Zahra! Kamu yang bales chatnya Hafids?" Aku mengangguk pelan dan langsung mendapat tatapan tajam.


"Hafids itu siapa sih?" Kak Fahmi ikut berbicara.


"Dia itu cowok yang deket sama Siska"


Aku menatap kak Fahmi menunggu ekspresi yang alan diberikan. Ekpresinya berubah menjadi lesu, mungkin kaget karena pernyataan tadi.


Apa salahnya kalau aku mendekatkan kak Fahmi dengan Siska, toh mereka masih menyendiri. Aku menyenggol bahu Hamzah mengedipkan sebelah maya menginstruksikan untuk mengikuti langkahku dibalas dengan anggukan.


"Siska aku mau keluar sebentar cari minum, ayo, Zah" Aku berdiri diiringi dengan Hamzah.


Ideku memang cemerlang meninggalkan mereka berdua agar terjadi perbincangan. Mengajak Hamzah kebelakang rumah sembari menunggu mereka menjadi akrab. Berkeliling melihat sekitar lingkungan rumah yang menyejukkan hati ini


"Rumah kamu besar juga ya?" Aku menoleh dan tersenyum ke arah Hamzah.


"Ya beginilah," ujarku singkat.


"Kak Fahmi kenapa tadi pas kamu nyebut nama Hafids mukanya berubah jadi pucat?"


"Aku nggak tahu pasti, tapi kayaknya kak Fahmi suka deh sama Siska" Aku menatap Hamzah lekat.


"Kamu"


Wajahnya menegang ketika aku mengatakan bahwa dia orang yang aku sukai." Tapi boong," imbuhku lagi. Ekspresinya kembali seperti semula.


"Kirain beneran "


Aku tertawa terbahak-bahak ketika melihat ekspresinya yang mendadak berubah, walau sebenarnya ucapanku tidak main-main. "Kirain apa?" Aku menaikkan sebelah alis menagap kearahnya.


"Adik kamu sekarang gimana keadaanya?" Mengalihkan topik pembicaraan agar Hamzah tidak terus-terusan memikirkan apa yang aku ucapkan.


"Adik aku baik-baik aja, kapan -kapan main dong kerumah. Sering banget tuh ditanyain" Aku hanya tersenyum." Adiknya ditanyain kakaknya enggak nih?" Aku menatap sekilas Hamzah yang mengerling nakal.


"Nggak butuh kakaknya, butuhnya adiknya yang gemesin"


"Jadi kakaknya nggak gemesin nih?" Aku tersenyum dan menggeleng.


"Nggak, sama sekali"


"Yah, gimana domg?"


"Ya nggak gimana-gimana muka triplek, ups " Aku menutup mulutku sendiri terbawa suasana jika melihat Hamzah.


"Jadi kamu manggil aku muka triplek kayak Siska? Kalau aku triplek berarti kamu tembok" Raut wajah Hamzah berubah.


"Tembok maksudnya?" Aku mengerutkan dahi.


"Keras dan susah di mengerti" Aku mengangguk-anggukan kepala.


"Kirain mau ngengombal"

__ADS_1


"Kamu mau di gombalin? Yaudah, kamu itu kayak bidadari yang bersayap" Tiba-tiba dia langsung menatapku dan tersenyum.


"Bidadari?"


"Iya bidadari. Tapi karna sayapnya patah jadinya nyebur got deh, hahah."


Yang semula ingin terbang kini dihancurkan dengan sekali ucapan. Masa dikatain bidadari nyebur got?


"Nggak lucu!" Aku mencebikkan bibir dan memalingkan muka.


"Jangan ngambek dong, nanti manisnya ilang loh," kata Hamzah mengingatkanku pada seseorang.


"Kak Angga apa kabar yah," ucapku berandai-andai memikirkan kak Angga.


"Siapa lagi itu Angga? Jangan-jangan selingkuhan"


"Masa lalu. Salah satu dari orang yang pernah aku kagumi. " Hamzah mengangguk pelan.


"Aku mau tanya boleh?"


"Tanya apa?"


"Syarif itu siapa?"


Seketika senyumku berubah menjadi kebencian. Memori tentang masa lalu kembali berputar di kepalaku.


"Kenapa kamu nanya gitu? Kamu tahu dari mana nama itu?"


Dengan tatapan tajam aku menatap Hamzah. Benci jika ada orang yang menyebutkan nama itu lagi.


"Aku nggak sengaja liat ponsel kamu pas makan bakso beberapa bulan lalu, dan aku membaca chat darinya?" Mukaku memerah menahan amarah, emosi sudah meluap-luap meminta untuk dilampiaskan.


"Kenapa sih kamu lancang baca chat orang!"


"Maaf aku nggak sengaja" Hamzah menatapku lekat, aku tersenyum miring.


"Kamu tahu kan setiap orang punya privasi kenapa kamu malah memegang ponselku semaumu?!"


Aku kembali membentak Hamzah yang membuka ponselku secara lancang. Bukan apa-apa tapi itu adalah privasiku yang tidak boleh sembarangan orang tahu.


"Maaf ra aku nggak sengaja"


Hamzah terus terusan mengucapkan kata maaf. Aku kembali tersadar salah akan perbuatanku yang melampiaskan emosi kepada orang yang tidak tahu apa-apa.


"Maaf, Zah. Aku kebawa emosi tadi. Jangan bahas itu lagi ya" Aku menatap wajah Hamzah lekat, berharap dia tidak memasukkan omonganku ke hati.


"Maaf juga aku udah lancang megang ponsel kamu"


Aku mengangguk pelan seraya memandang kolam yang ada di depanku. Tidak ada pembicaraan setelah ucapanku tadi. Rasanya canggung bila harus menatap Hamzah lebih lama lagi, apalagi setelah aku membentaknya tadi.


"Gimana kalau besok kamu kerumah aku katanya kangen sama Ara?" Aku bernafas lega melihat Hamzah yang tidak marah kepadaku.


"Boleh," ujarku singkat.


Hamzah kembali mencairkan suasana dengan candaanya. Suasana kembali ramai meski ada rasa bersalah di hati namun semua tergantikan oleh sebuah kebersamaan. Aku menatap wajahnya lekat semoga dia tidak meninggalkanku sama seperti dia.


Lama aku meninggalkan kak Fahmi dan Siska diruang tamu. Aku jadi tidak sabar melihat reaksi mereka.


"Kita balik yuk, kayaknya mereka udah akrab deh," ujarku.


"Oke," jawabnya.


Aku dan Hamzah kembali menuju ruang tamu. Melihat dua sejoli yang kami tinggal sebelumnya. Namun pemandangan indah tepat jelas dimataku. Ketika berdiri di ambang pintu aku melihat kak Fahmi dan Siska tengah bercanda dan saling bertukar cerita, tak lupa dengan senyum manisnya.


"Kapan ya kita kayak mereka " Aku menatap Hamzah seraya tersenyum.


"Kita? Kamu aja kali "

__ADS_1


Tanpa aba-aba aku langsung berlari menuju ke arah sofa meninggalkan Hamzah yang berada di ambang pintu.


Kapan kata aku dan kamu akan menjadi kita? Kapan-kapan wkwk,


__ADS_2