
Angin malam terasa dingin menusuk tulang. Titik-titik air kian mereda menyisakan sedikit bekas pada daun-daun yang hijau. Aroma kopi menemani kesendiranku. Baru dua hari aku menempati kota ini rasa nyaman yang aku rasakan.
Terkadang cinta itu tidak harus memiliki. Kita harus rela jika orang yang kita cintai itu tidak mencintai kita balik. Cukup bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain. Mungkin takdir menyakinkan kita bahwa masih ada seseorang yang telah menunggu kita.
Di sinilah aku, hidup dengan bayang-bayang masa lalu. Kemanapun aku pergi, rasanya dia selalu hadir mengikuti langkahku. Meski masih ada secuil rasa tetap saja, yang namanya luka sulit untuk di hilangkan.
Hafids datang dengan membawa satu plastik putih kecil. Menghampiriku yang berada di ruang makan. Tepatnya mencuri perhatian Siska yang selama ini terus ia perjuangkan. Hafids tersenyum lebar melihat Siska yang sangat antusias memakan martabak manis itu. Air liurku semakin mengalir melihat martabak yang sangat menggoda itu. Aku mengambil satu potong martabak. Dengan melihatnya saja sudah membuat perutku keroncongan.
"Jangan, Ra!" Martabak yang semula akan masuk ke mulut terhenti mendengar cegahan dari Hafids. Aku melongo Hafids begitu posesif sekarang. Aku menautkan alis seolah bertanya kenapa. Namun, dia malah menopang dagu mengerling nakal memandangku
"Kamu udah manis, nanti tambah manis lagi." Aku menggeleng melihat usaha Hafids yang romantis itu. Sedangkan Siska melotot garang memandang Hafids, tatapannya penuh selidik.
"Kalian kenapa nggak balikan, sih?" Mereka berdua langsung menatapku secara bersamaan. Memandang satu sama lain tanpa berkedip. Memang seharusnya mereka sudah bersama, daripada terus ribut kalau berdekatan dengan orang lain.
"Te ... sate!" Aku menoleh ke sumber suara, Kak Fahmi menganggu obrolanku saja. Sengaja membuat suasana menjadi kacau. Tanpapersetujuan dia duduk di sebelahku dan langsung mengambil martabak yang tergeletak di atas meja.
"Gimana kalau kita jalan-jalan, malam mingguan." Bagus juga ajakan Kak Fahmi. Beginilah nasib jomblo, merasa kesepian saat malam mingguan.
"Boleh juga tuh, gimana kalau kita cari makan kebetulan aku laper nih." Aku menampakkan deretan gigi putih sambil mengelus perutku yang sudah meronta-ronta ini.
"Ajak Hamzah sana." Seketika aku menutup kembali mulut memandang raut wajah Kak Fahmi yang tersenyum tipis. "Kenapa aku?" Dia meminum air putih hingga tandas, menaikan sebelah alisnya menatapku.
"Bukannya tiap hari lengket kayak perangko?" Kak Fahmi mengerling nakal, meskipun benar adanya.
Dengan langkah gontai aku mendekati kamar Hamzah. Mereka bertiga tertawa jahil di meja makan menatapku. Aku menjulurkan lidah membalas gibahan mereka. Pintu terbuka, niat untuk memanggil aku urungkan melihat dia yang sedang khusyuk berdoa.
"Ya Allah jika memang dia yang terbaik untuk hamba maka dekatkanlah, tapi jika dia bukan jodoh hamba maka gantikanlah dia dengan orang yang lebih baik darinya. Hamba akan berusaha untuk melupakanya dan meneruskan hidup dengan orang lain, hanya satu permintaan hamba tolong kembalikan dia."
Aku mematung di tempat tubuhku menjadi kaku, mulutku seakan dibungkam sulit untuk mengucapkan kata. Doa darinya menyadarkanku bahwa dia masih berada di bayang-bayang masa lalu. Dia mendoakan masa lalu dan bukan diriku. Aku terlalu berharap kepadanya yang jelas-jelas hanya menganggapku sahabat. Sikap dan ucapanya sempat membuatku percaya tapi nyatanya.
"Zahra ada apa?" Lamunanku buyar aku menatap ke arahnya, wajah yang masih sedikit basah dan memancarkan cahaya itu menghanyutkan hatiku."Tadi disuruh Kak Fahmi buat manggil kamu diajakin malam mingguan tuh."
"Oke, tunggu dibawah ya."
Aku mengangguk mengambil tas yang tergatung di kamar, menyambarnya dan menuju ke ruang tamu.
"Lets go!"
Kami berangkat malam mingguan, posisinya Kak Fahmi lah yang menyetir dan aku berada di sisihnya. Malam ini suasananya begitu mencekam, udara dingin menembus ke pori-pori tubuhku. Aku melihat sekeliling lampu hiasan yang berada di pinggir jalan memanjakan mataku. Aku menoleh kaca mobil melihat dia yang sedang berkutik dengan handphonenya, mengingat doanya saja sudah mampu membuatku mundur sebelum berjuang.
Meja dekat jendela menjadi tempat favorit untuk bisa lebih leluasa melihat kondisi luar. Kami ber-enam duduk berhadap-hadapan karena model tempat duduknya adalah lesehan. Baru aku ingin mengambil ponsel, ternyata tasku tertinggal di mobil. Bergegas aku mengambilnya sebelum hilang entah kemana.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Ra?" Aku memandang Hamzah yang menatapku. Meskipun teringat tentang doanya tadi aku tidak boleh lemah di hadapannya. "Ambil tas, kenapa?"
"Sekalian tolong ambilin handphone di dalam tas."
Aku berbalik menuju parkiran, sekarang tasku sudah di genggamanku. Sekarang tinggal mengambil handphone Hamzah. Membuka tas nya mencari keberadaan benda itu. Namun ada sesuatu yang terjatuh dari dalam tas. Sebuah foto berukuran sedang tergeletak di tanah.
Hatiku terasa sakit, ingin menangis tapi kehabisan air mata. Foto yang penuh kebahagiaan itu terlihat jelas di mata Hamzah. Wanita yang sedang disisihnya itu juga sama, terlihat bahagia memiliki paras yang cantik dan solehah pantas saja Hamzah menyukainya ternyata dia begitu sempurna.
Wajahku menunduk, jari-jemariku meremas satu sama lain. Berusaha menahan sesak yang ada di hati. Pikiranku kalut, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. "Zahra." Dengan cepat aku memasukkan foto ke dalam tasku. Tersenyum manis kepada pria di sebelahku ini.
Aku menatapnya ragu, khawatir akan melihatku yang tengah memegang foto tadi. Dia mengelilingi sekitaran mobil seperti sedang mencari sesuatu. Tas kugenggam erat, mencoba menyembunyikan apa yang aku temukan.
"Ketemu?" Aku mengangguk, menyerahkan handphone yang ada di genggamanku. Dia tersenyum manis kemudian menggiringku untuk masuk.
Pikiranku terus berkecamuk, ragu untuk menanyakan kebenaran soal foto itu. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan perihal pribadi itu. "Kamu nangis, Dek?"
Manik mataku bertemu menyiratkan sesuatu yang aku rasakan. Dengan cepat aku menggelengeng menghindari tatapan penuh selidik itu.
"Mendingan kita duduknya misah aja, biar leluasa ngomongnya." Nara menggenggam tangan Siska mengajak untuk duduk berdua di meja lain. Kak Fahmi mencegah mendapat tatapan aneh dari Nara.
"Kenapa, Kak? Maaf, Siska udah aku order jadi jangan ganggu quality time kita." Kak Fahmi memajukan bibir usahanya gagal untuk berdua dengan Siska. Hafids bergeming sibuk dengan urusannya sendiri.
"Berarti wanita itu nggak usah ditanya kenapa, harusnya kalian bisa mengerti keadaan mana yang perlu ditanyakan atau tidak. Kalau masalah nangis artinya dia udah nggak sanggup menahan sakit hatinya. Dia lebih baik diam karna dia ingin menyembunyikan kesedihannya bukan karena sombong."
Mereka terdiam setelah aku ikut berkecimpung dengan obrolan hangatnya. Aku memandangi Kak Fahmi yang sedang menatap Hafids penuh arti. Mengedipkan sebelah matanya dan menautkan alisnya seakan memberikan kode kepada Hafids. Aku beralih menatap Hafids dia bergidik tidak mengerti akan kode Kak Fahmi. Kak Fahmi menepuk jidat memutar mata malas menatap Hafids. Kenapa harus kode-kode padahal jaraknya berdekatan.
Kini tinggal aku dan Hamzah di tempat. Dia mengaduk-aduk minuman sambil tersenyum melihat ponselnya. Cukup menjelaskan bahwa dia menganggapku orang biasa. Buktinya selama ini dia tidak pernah mengungkapkan yang namanya cinta.
"Kamu anggap aku apa sih, Zah?" Manik mata kami bertemu memandang satu sama lain."Kenapa nanya gitu?" Aku membuang muka mendengar dia yang malah balik bertanya.
"Tinggal di jawab apa susahnya, sih."
Aku membuang muka menghadap ke arah lain. Jika memang dia mencintaiku harusnya dia menjawab apa pertnyaanku tadi. Tapi malah bertanya balik.
"Aku ngerasa kalau kamu hidup dengan bayang-bayang masa lalu, Zah." Suara ketukan gelas membuatku menoleh, ia mendengus. "Seperti yang kamu tahu."
Beberapa kata itu cukup menjelaskan makna dari keberadaanku. Foto bahagia itu menjelaskan bagaimana wanita itu sangat berharga baginya, sedangkan diriku hanya sebagai butiran debu.
"Wanita bergaun navy itu cantik ya, Zah." Dia menoleh, menaikkan sebelah alis. "Siapa?"
Aku tersenyum tipis sedikit mengangkat sudut bibir sebelah kanan. Ia menatapku lekat, aku memutuskan kontak mata dengannya. "Wanita cantik dengan gaun navy dan pria tinggi berbaju koko putih sambil membawa bucket bunga di tangan. Bukankah serasi?"
__ADS_1
Dia nampak berfikir terlihat dari dahinya yang berkerut. Aku mengira pasti dia mengerti maksudku. Harusnya dia tahu, karena dia juga ikut andil dalam foto itu.
"Wanita?" Aku mengangguk. "Bucket bunga?" Aku mengangguk kesekian kalinya. Dahinya berkerut lebih lama memikirkan apa yang aku katakan.
Aku mendengus, memutar bola mata malas menghadap raut bingung Hamzah. Apa aku harus menyerahkan foto agar dia tidak berfikir lebih lama?
Aku mengaduk-aduk minuman, masih memandangi wajah bingung Hamzah. Dia masih saja berkutat masalah wanita bergaun navy yang aku bicarakan. Sejenak kemudian dia berdehem, mungkin ia sudah mengerti maksudku.
"Soal masalah masa lalu tempo hari ... aku yakin kamu akan kembali suatu saat nanti." Dia menatapku lekat penuh selidik dengan mata sipitnya. "Kenapa bisa menyimpulkan begitu?"
Aku tersenyum beralih menggeser minuman yang sedang ia pegang. Mengganti gelas minuman bekas dengan gelas yang sedari tadi ia minum. "Kalau dalam gelas kamu ada madu kamu minum tidak?"
"Minumlah," jawabnya singkat. Aku tersenyum. "Kalau sudah habis madunya, kamu buang gelasnya atau simpan?"
"Buanglah, masa gelas kosong disimpan?" Pembuktianku berhasil, dia lebih memilih membuang gelas itu. "Berarti kalau kamu jenuh sama aku, kamu bakal ngelakuin sama seperti gelas itu. Dibuang dan di tinggalkan 'kan?" Dia menggeleng menyangkal ucapanku.
"Aku tidak pernah akan seperti itu, Ra." Aku menggeleng, mengembalikan gelas yang sempat aku jauhkan. "Nikmati saja apa yang ada, sebelum semua berubah karena situasi."
"Jangan bercanda seperti itu, Ra."
"Aku tidak bercanda, Zah." Dia mendekat memperkikis jarak. "Bukannya kita kesini untuk liburan? Lalu kenapa malah membicarakan masa lalu?" Dia hendak memegang pundak, namun segera ku tepis.
Air mata menggenang di pelupuk mata memikirkan Hamzah yang akan pergi seperti pria itu. Baru saja aku akan merasa bahagia, tapi sekarang semua sirna menyisakan sebuah luka.
"Aku kira kamu tulus, Zah. Tapi ...." Aku menunjuk dadanya dengan keras. "Kamu sama seperti mereka."
"Kamu ngomong apa sih, Ra? Aku nggak ngerti. Maaf kalau aku punya salah, tapi apa salahku?" Aku mendongak menatap binar pada matanya. "Kamu nggak salah, aku yang terlalu berharap."
Aku mengalihkan pandangan, sementara dia terus mengusap bahuku. Apa tangisanku belum membuatnya sadar kalau aku membicarakannya?
Mataku membulat. Pria yang aku temui di pinggir jalan itu tengah melintas di depanku bersama seorang wanita. Entah dia sadar atau tidak aku melihatnya. Pikiranku hanya mengarah pada wanita bergaun biru itu. Memiliki postur tubuh ideal dan juga cantik.
Wanita itu tidak sebanding dengan diriku yang jelek ini. Dia jauh lebih menarik, cantik, pintar dan berpendidikan. Pantas saja Kak Syarif memilihnya dia begitu sempurna. Tapi bukankah aku memutuskan untuk membenci? Untuk apa aku terus memikirkannya?
Mereka melanjutkan aksinya, saling bercanda ria menatap satu sama lain. Saling menyuapi makanan sehingga menambah kesan romantis. Aku sempat iri melihatnya, berharap kapan akan di posisi itu.
"Ayo kita pulang, " ajak Hamzah. Aku menggeleng masih melihat dua pasangan berbahagia itu. "Aku mau melihatnya dulu."
Hamzah mengusap bahuku dengan lembut, membuatku menoleh. Bukan berniat menanyakan masalahku apa, tapi malah mengira aku menangis karena pria itu. "Kalau kamu kayak gini terus, kapan bisa move on." Benar juga, jika aku terus mengharapkan dia sampai kapanpun aku tidak akan bisa.
Meninggalkan dua sejoli yang sedang bermesraan itu. Memilih pulang dan membenamkan diri diantara tumpukan bantal. Mengurangi beban pikiran dengan cara yang benar, yaitu mencurahkan isi hati kepada sang pencipta. Alam menjadi saksi bahwa orang yang aku cintai telah memilih jalannya sendiri.
__ADS_1