Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 7


__ADS_3

"Aku percaya bahwa tuhan selalu memberi pertolongan, meski di lewatkan oleh orang yang tidak kita duga "


.


Rapat karang taruna di adakan malam ini. Agendanya membahas tentang penurunan dana kemarin. Aku tidak tahu siapa yang tega mengambil dana anggota. Gugup itu yang kurasakan, ketika semua orang menyudutkanku padahal aku tidak tahu apa-apa mengenai itu.


Semua dokumen yang akan dibahas telah aku tata rapi sedemikian rupa. Semuanya sudah tersusun rapi tanpa ada cela sedikitpun.


"Ra, tolong ambilkan berkas yang ada di rak. Aku mau membacanya "


Aku menatap sekilas ke arah Imron yang sedari tadi membantuku untuk menyiapkan semuanya. Tanpa basa-basi aku menuju rak meja.


Mengambil satu dokumen dari banyak dokumen membuatku pusing. Kenapa dari tadi aku tidak menanyakan dokumen mana yang ia inginkan? Aku berbalik berniat untuk menanyakanya kepada Imron.


Namun pemandangan mengerikan itu melintas di depan mataku. Wajah yang memerah, tangan mengepal di samping badan serta seringai jahat telah menghiasi wajahnya. Perasaan takut mulai menjalar di tubuhku, perlahan ia mendekat dan semakin mendekat.


"A-apa yang kamu lakukan?"


Omonganku sedikit terbata-bata ketika dia semakin mengikis jarak.


"Menurutmu?"


Dengan tatapan tajam dan seringai jahat membuatku melemah di tempat. Dia semakin mendekat, aku memundurkan langkahku. Namun sialnya tubuhku terbentur tembok.


"J-jangan mendekat!"


Nafasku sedikit tersenggal, takut terhadap apa yang akan dia lakukan.


"Jangan gugup begitu, manis "


Dia memegang daguku, dengan cepat aku menepisnya. Tanganku bergemetar, peluh membasahi tubuh. Dia mencekal tanganku dan memegangnya erat, sempat ku lepaskan namun kekuatanku tidak sebanding dengannya.


Imron memasukkan tanganya ke saku celana mengambil benda pipih runcing. Melihat bentuknya saja sudah membuatku bergidik ngeri. Nafasku memburu tatkala dia mengarahkan pisau itu ke arahku. Cekalanya begitu kuat, hingga sulit untuk melepaskanya.


"A-apa yang kamu lakukan?"


Nafasku seolah berada di pangkal tenggorokan. Dengan sekuat tenaga aku masih bisa bertahan.


"Membunuhmu!"


Penekanan pada ucapanya membuat nyaliku menciut. Seringai jahat kembali terlihat seolah siap melayangkan pisau itu ke tubuhku.


"Kenapa kamu membunuhku?"


Tatapanya berubah menjadi sendu, sulit untuk mengartikan tatapan itu.


"Karna kamu telah menuduhku!"


Rahangnya mengeras, cekalan di tanganku juga semakin kuat.


"Menuduh apa? Aku tidak tahu," ujarku.


"Menuduhku menggelapkan dana itu!" jawabnya.


"Kapan? Aku tidak mengatakan apapun" aku menggeleng.


" Terlepas kamu mengatakan atau tidak, tidak masalah. Karna pemikiranmu itu benar, manis "


Dia mengangkat daguku, namun segera aku tepis. Masih terkejut dengan pengakuannya kali ini.


"J-jadi k-kamu --" omonganku terpotong olehnya.


"Iya aku yang menggelapkan dana itu! Kamu puas?!"


Aku terkejut, ternyata selama ini dugaanku benar mengenainya.


"Kenapa kamu melakukan itu?"


Aku menatapnya sendu berharap dia mau memperhatikan dan melepasku.


"Kenapa katamu?! Ibuku sudah meninggal karna kalian! Kalian egois, tidak memikirkan perasaan orang lain. Kalian bersenang-senang di atas penderitaanku!"


Ucapannya penuh penekanan di kata-kata terakhir. Hatiku sedikit tergores, betapa tersiksanya Imron kehilangan sosok ibu di hidupnya.


Ekspresinya berubah jadi sendu. Melepaskan cekalan tangan bersimpuh menyembunyikan wajahnya di kedua tangan. Bulir-bulir bening membasahi pipinya, semula rasa takut kini berganti dengan rasa iba.


Aku mencoba menenangkanya namun segera mendapat tepisan. Ia bangkit menatapku seperti tadi dan mencekal kembali tanganku. Jangan lupakan pisau tajam itu yang berada di tangan kanannya.


"Kamu tidak cerita padaku bagaimana aku bisa membantumu? Imron, tolong lepaskan aku "


Aku meronta-ronta memohon kepada Imron, namun usahaku sia-sia ia malah mempererat cekalan tangannya.


"Tidak semudah itu Zahra, bagaimana kalau kita bermain-main. Sepertinya tanganmu ini kurang cantik "


Ia menatapku penuh arti. Pisau akan digoreskan ke tanganku, dia menatapku sejenak aku menggeleng berusaha untuk mencegahnya. Tanganku bergemetar hebat ketika pisau itu semakin mendekat. Air mataku lolos dari pelupuk mata mengalir deras di pipi.


"Hey, jangan menangis. Kita kan cuma bermain-main. Lagipula tanganmu perlu warna agar semakin indah 'kan?"


Dia menyeringai.


"Imron aku mohon lepaskan aku. Aku minta maaf kalau aku punya salah, tolong lepaskan aku "


Dia menghela nafas panjang menatapku penuh arti.

__ADS_1


"Kata maafmu tidak bisa mengembalikan ibuku, Zahra "


Kekehan kecil itu semakin membuatku takut.


"Tolong! Tolong!"


Aku berteriak sekuat tenaga namun tidak ada orang yang menyelamatkanku. Apa ini akhir hidupku?


"Berteriaklah, tidak akan ada yang menyelamatkanmu. "


Srehh!


Darah mengucur dari tangan kananku. Aku meringis kesakitan, guratan yang cukup dalam membuat darahku semakin mengalir. Air mata tidak bisa di bendung lagi. Rasa perih menjalar ke seluruh tubuh. Aku menangis sejadi-jadinya tanganku kini telah berubah warna.


"Sakit, eum? Mau di tambah?"


Aku menggelengkan kepala cepat. Mulutku sudah tidak bisa berkata lagi. Tawa jahatnya menggelegar menggema di ruangan.


"Karna kamu perempuan, aku masih kasihan. Buat apa harus digores tangannya jika langsung di bunuh adalah cara terbaik 'kan?"


Ucapanya membuatku semakin takut. Nafasku terengah-engah, jantungku berpacu lebih tepat, kakiku bergematar tidak sanggup menahan beban tubuhku.


"Sebentar lagi kamu akan ke tempat barumu, manis "


Aku menutup mata ketika ia melayangkan pisau itu tepat di tubuhku. Takut akan hal yang akan terjadi. Ya Allah tolong hamba.


Duk!


Suara pukulan terdengar di telingaku. Aku membuka mata pelan melihat ke seluruh tubuhku, masih utuh. Melihat ke depan pria berperawakan jangkung itu berdiri di depanku. Aku bersyukur kali ini dia datang tepat pada waktunya. Kini Imron beralih menatap kak Syarif yang berada di depanku.


"Rupanya kalian mau aku bunuh bersamaan Baiklah "


Seringai jahat kembali muncul dan jangan lupakan senyum simrk nya.


"Apa kamu sudah gila?! "


Kak Syarif meninggikan ucapanya menatap tajam ke arah Imron. Sedangkan aku bersembunyi di belakangnya.


"Iya aku gila, karna kalian!"


Imron tertawa renyah, sedangkan kak Syarif mengepalkan tanganya.


"Sebenarnya apa masalahmu? Tidak bisakah kita bicarakan baik-baik?"


Nada bicara kak Syarif melemah, mungkin ingin mengambil jalan damai.


"Baik katamu?! Ibuku saja sudah pergi meninggalkanku, kamu masih bisa mengatakan baik?!"


Langkah Imron semakin mendekat, wajah kak Syarif mendadak memerah.


Rahang Imron mengeras kepalan di tangannya kian menguat. Sesaat kemudian dia menatap sendu.


"Tidak apa kalau ibuku di sana kecewa kepadaku. Yang terpenting dendamku bisa terbalaskan "


Dia mendekat, semakin mendekat. Satu kali pisau di layangkan, namun dengan cekatan kak Syarif memegangnya.


"Istigfar Imron, Sadar!"


Kak Syarif berteriak berusaha mengubah jalan pikiran Imron. Namun sepertinya Imron telah di kalahkan oleh nafsu.


Berkali-kali pisau itu di layangkan, dan berkali-kali juga kak Syarif bisa menahannya. Aku mematung di tempat pikiranku buntu untuk melakukan sesuatu.


Darah berkucuran di lantai, aku mendongak. Tangan kanan kak Syarif telah di gores oleh Imron. Dia meringis sembari memegangi tangannya. Baju yang ia kenakan tengah berlumuran dengan darah.


"Sakit? Tapi tidak se-sakit di tinggalkan orang yang paling dicintai, kamu paham!"


Mataku membulat ketika Imron melayangkan pisaunya tepat di kepala kak Syarif. Aku semakin gemetar, pikiranku kalut tidak bisa memproses apa-apa.


Balok berukuran besar telah tergeletak di dekat meja. Aku segera mengambilnya tak peduli dengan rasa perih di tangan. Yang aku pedulikan hanya keselamatan kak Syarif, titik!.


Duk!


Dengan sekuat tenaga aku mengayunkan balok kayu itu, satu pukulan tepat mengenai kepala Imron, namun tidak sedikitpun membuat ia goyah. Tanganku bergemetar sesaat setelah ia berbalik dan menatapku tajam.


"Rupanya kamu mau aku bunuh duluan? Baiklah akan ku turuti maumu itu "


Imron mendekat dengan sekuat tenaga aku mengayunkan balok kayu ke arahnya. Namun sial, balok kayuku tertahan olehnya.


"Kamu mau melawanku? Tidak akan pernah bisa!"


Kakiku bergemetar melangkah mundur ketika ia semakin mendekat. Tubuhku terbentur meja ketika aku memundurkan langkahku.


Menyebut nama ALLAH meminta pertolongan sudah berulang kali aku lakukan. Perasaan takut kembali menerpaku, bagaimana kalau aku menemui ajalku hari ini?


"Kak Syarif! "


Teriakku, sebelum Imron melayangkan pisau ke arahku. Aku menutup mata, tak sanggup untuk melihat semuanya.


POV SYARIF


Teriakan keras itu membuatku menoleh. Pemandangan mengerikan terjadi di depan mataku. Imron akan membunuh Zahra dalam hitungan detik jika aku tidak segera bertindak, sementara tanganku bermandikan dengan darah, sial!


Aku mengambil balok yang tergeletak di lantai. Berjalan pelan mendekati Imron dari belakang dan memukulnya dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya ia tergeletak di lantai.

__ADS_1


Aku memeriksa tanganya memastikan denyut nadi masih terasa. Aku menghela nafas sepertinya Imron hanya pingsan.


Beranjak dari tempatku, berdiri melihat Zahra yang tengah ketakutan. Kedua matanya ditutup serta badan yang bergemetar membuatku sedikit iba.


"Zahra kamu nggak papa?" ujarku.


Dia membuka mata pelan, menatap ke bawah dimana Imron sedang tergeletak. Ia menghela nafas, menormalkan detak jantungnya. Sekilas menatap ke arahku.


"Tanganmu berdarah kak!"


Aku menatap sekilas tanganku, goresan yang cukup dalam membuat darahku kian mengalir. Tersenyum miring menatap tanganku, begini rasanya pengorbanan jika harus menyelamatkan wanita.


Tanganku seakan mati rasa ketika di pegang oleh Zahra. Aku menatap wajahnya, raut ke khawatiran terlihat jelas disana. Di merobek sedikit kain jilbabnya dan melilitkanya di tanganku.


"Sakit?"


Dia menatapku penuh arti, aku hanya menatapnya datar tanpa menjawab pertanyaanya.


Dia melanjutkan melilitkan kain ke tangan yang luka. Mengaitkannya sedikit agar tidak terlepas. Tersenyum manis ke arahku.


"Kakak tidak papa kan?"


Aku menggeleng, mulutku masih kaku untuk menjawab pertanyaanya.


Pandanganku teralihkan oleh tangan penuh darah dari Zahra. Baju gamisnya juga telah ternodai oleh darah. Aku menatapnya tajam namun dia tersenyum ke arahku. Keadaan seperti ini masih sempat dia tersenyum, sedangkan aku gugup setengah mati.


Pandanganku teralihkan oleh tangan penuh darah dari Zahra. Baju gamisnya juga telah ternodai oleh darah. Aku menatapnya tajam namun dia tersenyum kearahku.


" Tangan kamu berdarah ra, coba sini aku lihat "


Aku beralih memegang tanganya, goresan kecil namun dalam mampu membuat darah cepat keluar. Aku meniupnya pelan berharap rasa perihnya sedikit hilang, namun segera dia menarik tangannya.


"Maaf aku tadi tidak ber-- "


Omonganku terhenti ketika mendapat gerakan tiba-tiba darinya. Tanpa aba-aba dia langsung berhambur memelukku. Ada desiran halus yang mengalir di tubuhku, jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Bisa kurasakan dia sedikit terisak, bahunya bergetar hebat mungkin dia terlalu takut pada kejadian hari ini.


Tanganku sedikit terulur untuk membalas pelukanya. Menenangkan bahu yang bergemetar dengan usapan lembut di punggung. Membiarkan dia menumpahkan semua keresahan dalam pelukanku. Karna peristiwa ini terjadi karna kecerobohanku.


"M-maaf "


Dia melepaskan pelukan dan menundukkan pandangan. Aku menggigit bibir bawah, sedikit terkejut dengan situasi ini. Kecanggungan mulai menerpa, dia diam membisu dan aku ragu untuk memulai pembicaraan.


Darah masih mengalir di tangannya. Ketika aku melihatnya dia langsung menutup luka nya dengan ujung gamisnya. Menyembunyikan sebuah luka yang sudah aku ketahui sebelumnya.


POV END


Aku merutuki diriku sendiri, kenapa tadi harus ada adegan berpelukan segala sih? Aku lancang memeluknya tanpa izin, alhasil kita diam tidak ada pembicaraan.


"Zahra! Syarif!"


Teriakan itu membuat aku menoleh ke depan. Kak Bela menjatuhkan tasnya melihat keadaan yang porak-poranda ini.


Dia mendekat berangsur melihat Imron yang tergeletak dilantai dengan darah-darah yang mengotori lantai. Beralih menatap intens ke arahku.


"Kenapa Imron seperti ini? Dan kenapa kalian penuh darah?"


Aku menghela nafas panjang tidak kuat untuk menceritakan kejadian menyeramkan ini.


"Tadi Zahra mau dibunuh sama Imron kak "


Aku mendongak, kak Syarif berangsur menatapku datar.


"Membunuh? Kenapa dia ingin membunuh Zahra?" kak Bela menimpali.


"Karna dia kira Zahra lah yang menuduhnya menggelapakan dana, padahal dia tidak tahu apa-apa"


Aku mengerutkan dahi, bagaimana dia bisa tahu kronologi kejadianya.


"Tapi kalian nggak papa kan?" tanya kak Bela.


"Alhamdulillah tidak papa kak, tuhan masih menyelamatkan kita, " ujarku tersenyum. "Makasih ya kak, udah nyelamatin Zahra. Kalau kakak nggak datang tadi mungkin aku sudah tiada," ucapku menatap kak Syarif.


"Sudah semestinya sesama muslim kita saling membantu, berterimakasihlah pada ALLAH yang telah menyelamatkan kamu, bukan aku," ujarnya.


"Iya kak, soal pelukan tadi maaf aku tidak sengaja," ujarku menunduk.


"Tidak papa," jawabnya singkat.


"Lalu kita apakan Imron sekarang?" kak Bela menengahi.


"Kita panggil warga saja, biar di selesaikan di pihak yang berwajib," kata kak Syarif.


Semua warga berbondong-bondong menuju ke lokasi. Membantu Imron berdiri dari pingsannya dan membawanya ke pihak yang berwajib.


Kejadian hari ini memberiku pelajaran bahwa aku harus selalu memperhatikan kondisi di sekitarku, lebih memahami situasi dan tidak memikirkan perasaan pribadi.


"Terimakasih ya nak, sudah menyelamatkan Zahra," ujar bunda seraya memegang pundakku.


"Sama-sama buk, kalau begitu saya permisi ya buk. Assalamualaikum," ujar kak Syarif melangkah pergi.


"Waalaikumsalam " ucapku berbarengan.


Perlahan punggung kak Syarif menghilang dari hadapanku. Pelukan pertama dan terakhir kulakukan, jangan lagi itu akan membuat dia semakin pergi. Aku masih tersenyum kecil ketika dia membalas pelukanku. Tidak menyangka akan membalas perlakuanku kali ini.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2