
"Aku mengiklaskanya bukan melupakanya"
Aku menyadari ada sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Hidup bukan hanya soal cinta tapi ada yang lebih berharga keluarga dan sahabat. Beruntung sekali aku masih memiliki orang yang sangat menyayangiku. Menerima kekuranganku dan semua sikapku.
Posisiku masih sama. Rebahan di kasur paling empuk. Sembari mengeser-geser beranda memeriksa apa yang baru saja di update.
Ting!
Pesan dari kak Bela masuk ke poselku ku segera aku membukanya.
(Nanti malam ada rapat mendadak kamu datang ya bantuin kakak)
(iya kak, nurut)
Aku menutup ponsel huh, nanti malam ada rapat? Melelahkan! Tapi janji adalah janji. Bagaimanapun aku harus menepatinya. Aku membersihkan diri berhubung ini masih sore aku membersihkan tempat tidurku.
Aku tidak pernah bertemu kak Angga lagi segelah kejadian itu. Mungkin dia sedang disibukkan dengan kegiatan persiapan UNBK jadi tidak sempat untuk meluangkan waktu.
Aku bersiap menuju masjid menggunakan gamis berwarna merah maron dengan hijab berwarna putih susu melekat indah pada tubuhku.
Sejenak aku menatap wajahku di cermin. Cantik, tapi kok masih digantungin aja ya? Ah sudahlah, mungkin belum berjodoh.
Jarak rumah dan masjid tidak begitu jauh. Paling 10 menit sampai tujuan. Katanya semakin jauh jarak dari rumah ke masjid semakin banyak pahalanya. Sedangkan jarak rumahku hanya 500 meter saja, apa aku harus mengelilingi kota dulu supaya pahalanya banyak?
Aku meletakkan tasku di sembarang tempat menyambar sapu membersihkan masjid mulai dari sudut hingga ujung pintu. Menggelar tikar dan menata sajadah. belum ada tanda-tanda kehadiran seseorang untuk mengumandangkan azan.
Mengambil salah satu buku dirak. 'Kisah Nabi' judul pilihanku. Aku duduk bersila menghadap ke depan. Membaca baris demi baris yang tersusun rapi di buku usang itu.
Allahku Akbar! Allahu Akbar!
Aku menatap kedepan. Laki laki berbaju maroon itu mengandangkan azan. Aku hanya bergeming, kenapa belum ada seorang pun di masjid. Aku membalas setiap azan, lantunan azanya seperti sudah menyatu pada jiwaku. Serasa damai mendengar setiap kata. Dia mengakhiri adzanya lalu melanjutkan solawat.
Ya ALLAH, aku kagum.
Dia berbalik sekilas menatapku. Kak Syarif! Sudah kuduga. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Aku sibuk dengan bukuku dan dia sibuk dengan ponsel nya secara kan udah punya pacar, kayaknya.
"Assalamualaikum"
Suara itu memecah keheningan di antara kami.
Aku menoleh ke belakang. Kak Bela menatapku seraya tersenyum. Aneh!
Dia mendekat dan menyenggol bahuku. Mengedipkan matanya memberi kode yang tidak aku pahami.
"Gimana tadi lancar? "tanya kak Bela
__ADS_1
"Lancar apaan? "sewotku
"Tadi Syarif kesini kan? Kakak yang suruh solanya, "kata kak Bela.
Pantesan. Tapi sayang usahanya gagal.
"Lancar gimana? Ya seperti biasa sih, kan dia kurang ramah nyapa aja enggak, " ucapku
"Yah, kirain udah ngomong bareng ketawa bareng gitu. Malah masih diem-diem aja"
Kak Bela sedikit tertawa, namun sejenak terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Kak! Mikir apa sih? "tanyaku
"Enggak kok, "ujarnya tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu.
Setelah kedatangan kak Bela satu demi satu orang memasuki masjid. Melaksanakan solat mahrib seperti biasanya.
Kak Bela menyodorkan map berisi dokumen tentang pendataan dana karang taruna. Aku mempelajari bab per bab. Terjadi penurunan anggaran yang lumayan besar terbuang sia sia. Entah dibuat apa dana sebesar itu, padahal kegiatan karang taruna hanya sedikit tidak mungkin lah mengeluarkan dana sebesar itu.
"Sudah paham kan? "
Kak Bela memecahkan lamunanku. Aku menatapnya serius. Otakku berputar berusaha mencerna apa yang baru aku lihat.
"Bukanya kita hanya mengadakan acara kecil kemarin, tapi jumlah uang kenapa tidak sesuai dengan data? " tanyaku
Kak Bela memainkan polpen dijarinya. Sedangkan aku hanya mengangguk meng iyakan omongan kak Bela.
"Syarif! Sini bentar! "
Mataku membulat, menatap bingung ke arah kak Bela kenapa harus memanggil kak Syarif? Padahal di tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pendanaan.
Dia mendekat dan duduk tepat di depanku. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat, dia memandangku sekilas kemudian beralih menatap kak Bela.
"Ada apa kak? "tanya kak Syarif
"Ini dana anggota kita berkurang banyak, padahal kan hanya di gunakan untuk acara penyuluhan kemarin. Itupun dananya sudah di rinci, tapi uang yang disini tidak sesuai dengan datanya. Coba kamu periksa "Kak Bela menyodorkan map ke kak Syarif.
"Apa mungkin ada yang menggelapkan dana? "
Kak Syarif menatap bergantian ke arahku dan kak Bela. Aku menjadi ragu apa benar yang dikemukakan kak Syarif itu.
"Tidak menutup kemungkinan sih. Maka dari itu kita harus segera mengembalikan dana itu kalau tidak kita akan kekurangan dana untuk acara sosialisasi minggu depan, "ujar kak Bela
"Siapa saja yang bertugas dalam bidang administrasi? "tanya kak Syarif
__ADS_1
"Aku dan Zahra, "kata kak Bela
"Kemungkinan perkiraanku benar, ada yang menggelapkan dana kalau kak Bela nggak mungkin. Kalau kamu.... "
jarinya menunjukku. Ayolah kak, mana mungkin aku yang menggelapkan dana itu.
"Nggak mungkin Zahra lah, kalau dia emang nglakuin pasti udah aku jitak kepalanya,"kata kak Bela.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan kak Bela. Kak Syarif menaikkan satu alisnya dan menatap ke arahku. Ya ALLAH, ada apa dengan hambamu satu ini.
"Bukanya ada 3 orang yang ngurusin administrasi?" tanya kak Syarif
"Ada kak, Imron namanya, " aku menimpali.
"Tapi mana mungkin dia yang melakukanya. Mukanya aja orang baik baik kok, "ucap kak Bela.
"Penampilan nggak menjamin kebaikan kak, "
ujarnya. Kenapa aku tersinggung?memang Beberapa hari ini Imron terlihat murung, seperti ada masalah yang sedang dihadapi.
"Tapi kita tidak boleh gegabah, kita tidak boleh menuduh orang sembarangan, "kata kak Bela
"Kalaupun benar aku akan mencari bukti untuk membuktikanya. Aku tidak ingin menuduh sembarangan apalagi sampai melukai hatinya" kata kata kak Syarif seakan menyudutkanku.
"Baiklah aku tunggu, "ujar kak Bela.
Kak Syarif melangkah pergi aku masih saja menatap dari kejauhan. Kata kata kak Syarif seakan mengingatkanku pada masa lalu. Dimana aku menyakiti hati adik yang amat dicintainya.
Mungkin ini adalah balasan atas sikapku pada Hamid silam, mungkin ini caranya agar aku bisa merasakan rasa sakit itu.
Tapi bagaimana lagi aku tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadanya. Sesuatu yang di paksakan pasti tidak akan baik.
Berdiri dari tumpuan melangkah keluar mencari udara segar. Sejenak berfikir untuk menuntaskan masalah itu. Namun ketika di ambang pintu, dari arah yang berlawanan kak Syarif ingin masuk ke dalam masjid.
Spontan aku memegang dadaku, terkejut akan apa yang terjadi. Kalau saja tadi langkahku di percepat pasti akan bertabrakan dengan dia. Aku menatapnya sekilas, namun dia menatapku datar tanpa senyuman.
"Kak, aku bantuin cari solusinya ya?
Aku membuka suara, dia menaikkan satu alisnya menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tidak perlu, Aku bisa mengurusnya sendiri. Urusi saja dirimu, agar tidak menyakiti hati orang lain "
Deg!
Ucapannya menusuk ke relung hati. Mungkin maksudnya dia menyindir perbuatanku. Dia segera berlalu meninggalkan aku yang mematung di tempat dengan tatapan kosong. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.
__ADS_1
"Zahra! Cepetan, udah ngantri nih "
Aku menoleh ke belakang semua berbaris di belakangku seperti akan mengantre sembako. Ternyata kelakuanku ini menghambat jalan masuk, aku segera berlalu. Malu akan keadaan.