
"Kamu membuatku tertawa, tapi apa nanti kamu akan meninggalkanku sama seperti dia? "
.
Kondisi tubuhku kian membaik, suhu tubuhku pun mulai turun. Baru hari itu aku mau memakan makanan karna biasanya aku langsung mual bila menghirup aromanya. Semuanya berkat usaha Hamzah yang menyuruhku untuk berkhayal, padahal aku tidak tahu menghalkan siapa. Jurusnya itu sangat ampuh, jurus cinta katanya.
Semakin erat persahabatanku dengan Hamzah dan juga Siska. Kita selalu menjalani hari-hari bersama. Setiap ada event-even tertentu kita selalu berkecimpung di dalamnya. Tak heran kalau kita selalu bertukar cerita, bercanda bahkan mengerjai satu sama lain. Itulah kehangatan yang diciptakan dalam ikatan persahabatan.
Aku mulai bangkit dari keterpurukan hari itu. Meski kadang-kadang masih teringat tapi aku berusaha untuk benar-benar melupakannya dan berharap untuk bertemu dia suatu saat nanti.
Aku menggeleng, tersenyum akan hayalanku itu. Sejauh ini Hamzah belum menampakkan tambatan hatinya padaku. Dia hanya bersikap acuh ketika semua wanita mengejarnya. Sepertinya dia tidak ada niatan untuk menjadikan salah satu diantara mereka menjadi kekasih hatinya. Sebelumnya, aku belum pernah mempunyai sahabat laki-laki seperti Hamzah. Sikapnya yang ramah membuatku semakin takut kehilangan sahabatku itu.
"Zahra "
Panggilan itu menggerakkan syarafku, menyuruhku untuk segera menoleh. Tanpa berfikir panjang aku menoleh, tanpa sedikit ragu.
Gerakanku terhenti ketika sebuah noda mengenai wajahku, aku menyentuhnya noda merah itu menempel sempurna di pipiku. Aku menatap tajam ke arah Hamzah yang sedari tadi duduk disebelahku. Memegangi bolpoint di tangan kananya sembari tersenyum jahil.
"Kamu apa apaan sih zah! " bentakku.
"Hahah, lucu ra liat tuh muka kamu udah mirip badut, " ujarnya tertawa.
"Iseng ya kamu. "
Aku geram segera mengambil bolpoint yang tergeletak di atas meja dan mencoret muka Hamzah, sontak aku tertawa melihatnya.
"Zahra! Udah berani ya sekarang, rasain nih. " Dia bergerak mendekat mencoretkan bolpoint ke tanganku.
"Hamzah! "
Aku kembali mencoret tangannya, dan akhirnya terjadi coret-coretan. Entah di tangan , wajah, buku, baju semuanya penuh dengan coretan. Aku memberi kode kepada Hamzah untuk menjahili Siska yang sedari tadi mengerjakan tugas di laptop kesayanganya. Aku memulai hitungan satu... dua ... Ti ...
"Stop Hamzah! Zahra! "
Siska berteriak menampakkan muka garangnya, padahal aku belum mencoret wajahnya.
"Bisa nggak sih kalian bersikap dewasa?! Corat coret nggak jelas kaya anak tk tau nggak, " Siska mengomel.
"Rupanya sahabatku ini lagi merajuk? Maafin bunda ya sayang, " ucapku, mencubit pipinya.
"Nggak lucu! " ujarnya singkat.
"Kalian tuh bukanya ngerjain tugas malah main, ini tugasnya belum selesai loh, dikumpulin setengah jam lagi, " ujarnya.
"Kan tadi udah aku bilang pakai rumus nomor satu saja, tapi kamu malah membantahnya,"Hamzah berpaling menatap Siska sembari melipat tangannya di dada.
"Rumus itu nggak efisien Hamzah, lagian kita harus mutar otak lagi buat nyelesainnya," Siska ngotot.
"Kalau pakai rumus kamu makin susah, Siska. Rumusmu itu makin panjang, menambah pusing kepala saja, " kata Hamzah.
"Kalau gitu coba kerjain! Bisanya memerintah saja! " Siska menggeser laptop ke arah Hamzah sembari memasang muka kesal.
"Oke, aku kerjain. "
Hamzah mengambil alih laptopnya dan mengerjakan soal. Aku tahu dia kebingungan terlihat dari raut wajahnya, aku hanya cengengesan melihat mereka berdebat.
"Cepetan! Katanya pintar, " ucap Siska.
"Sabar, orang ini juga di kerjain, " ucap Hamzah snewen.
"Lama! Nungguin kamu ngerjain tugas keburu dosenya pensiun, " ucap Siska mengambil alih laptop dan mengotak atik laptopnya.
"Orang lagi dikerjain juga! Dasar cicak dinding, " ujar Hamzah.
"Apa katamu?! Cicak dinding? Lebih baik cicak dinding dari pada kamu muka triplek! " kata Siska.
"Muka triplek katamu?! Orang setampan ini dibilang muka triplek, " kata Hamzah.
__ADS_1
"Tampan dari mana? Mungkin tampanya dilihat dari atas monas pake sedotan kali ya, hahah, "
Siska tertawa terbahak bahak. Aku hanya menggeleng mendengar mereka berdebat argumen. Yang satu bilanya cicak dinding dan satunya muka triplek, haduh, kalau nungguin mereka sampai nanti malam pasti tidak akan selesai. Aku mengambil laptop yang tadi disisihkan oleh Siska, memutar otak sedikit untuk menyelesaikan masalah, pantas saja mereka berdebat!
Aku mengambil satu rumus dan menggunakanya untuk menjawab soal. Lima menit waktuku habis untuk mengerjakan tugas. Dan mereka masih berdebat masalah hal sepele seperti itu. Aku melenggang pergi, namun saat di depan pintu aku berbalik.
"Apa kalian akan tetap akan berdebat seperti itu? Apa tidak mau istirahat? " tanyaku, mereka menatapku.
"Tugas kita kan belum selesai ra, kenapa kamu malah ingin istirahat? "tanya Siska.
"Sudah aku kerjakan, ayo, " ajakku, aku melangkah pergi.
Siska menatap ke arah laptop tepat soal itu lengkap dengan jawabanya. Dia bersorak ria akhirnya tugas itu selesai.
"Zahra! I love you! " ucap Siska berteriak, sudah kuduga pasti dia akan bertingkah seperti itu.
Tempat yang ingin aku kunjungi adalah perpustakaan. Katanya ada novel terbaru yang belum ku baca, aku segera mengambilnya di rak paling atas. Karna tubuhku yang tidak terlalu tinggi membuatku susah menggapainya. Belum aku mengambilnya sebuah tangan kekar sydah menguasai novel itu.
"Kamu mau ambil ini kan? Nih, " ujarnya. Aku menerima buku dari tanganya.
"Makasih, "ucapku.
"Kenalin nama aku Hafids jurusan ekonomi, " ujarnya.dia mengulurkan tanganya.
"Namaku Zahra " Aku menerima uluran tanganya.
"Zahra kenapa nggak ditung .... " Aku menoleh ke belakang Siska membuntutiku dari belakang. Kemudian ia mendekat ke arahku, menatap heran pada pria di dekatku.
"Kenalin ini Hafids, dan Hafids kenalin ini Siska temen aku, " ujarku.
"Hafids"
"Siska"
Namun mendadak ekspresi mereka berubah menjadi kaku. Memandangi wajah mereka satu sama lain tanpa melepas tangan mereka, seolah mereka sudah kenal jauh hari padahalkan baru bertemu hari ini.
"Kalau aku udah hobi sih baca novel, "ujarku.
"Kalau gitu aku tinggal dulu ya, mau ngerjain tugas. Assalamualaikum, "ujarnya.
"Waalaikumsalam " Serentak aku menjawabnya.
Aku memilih salah satu meja untuk menjadi tempat baca. Membuka halaman demi halaman pada buku memahami makna tersirat di dalamnya.
"Kok bisa sih ra ketemu dia? " Aku menoleh, sepertinya Siska sedang memikirkan pria tadi.
"Kebetulan, " ujarku.
"Dia baik, " ujarnya.
"Jangan cepat menilai orang, kamu tidak tahu sifat asli yang dimilikinya" aku kembali menatap ke arah buku.
"Aku udah tau, tapi nggak tahu kenapa aku ..." Dia berhenti sejenak. "Ah, entahlah" sambungnya lagi.
"Hamzah kemana? " tanyaku.
"Palingan mabar sama temen temenya," ujarnya.
"Oh iya kan mereka gamers kan, "ujarku tertawa.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau tugasnya udah selesai ra? "
"Lagian kamu debat aja, aku kan pusing dengernya, "kataku.
"Hehehe, maklumlah kalau udah ketemu muka triplek pasti gitu, " ujarnya. "Kalau sama aku berantem mulu bawaanya, tapi kalau sama kamu kok Hamzah bisa baik gitu ya? Apa dia memandang kamu lain? " tanyanya.
"Lain maksudnya? " tanyaku.
__ADS_1
"Masa kamu nggak ngerti sih? " Aku menggeleng dia menekuk wajahnya, aku nyaris tertawa melihat ekspresi wajahnya sungguh menggemaskan.
***
Suara teriakan dari arah lapangan basket membuat Siska menoleh. Nyatanya Hafids tengah bermain basket bersama teman-temannya. Siska antusias melihat Hafids yang bergerak lincah menggiring bola, aku hanya cengengesan melihat ekspresi Siska yang tak kalah menariknya.
"Kita kesana yuk." Belum sempat aku menjawabnya tanganku sudah ditarik paksa oleh Siska alhasil aku mengekori langkahnya.
Memang pesona dari Hafids mampu menarik hati setiap wanita. Tubuh yang tinggi dan atletis menjadi dambaan setiap orang. Tak heran jika di samping lapangan banyak wanita yang datang untuk melihat Hafids bermain.
"Hafids semangat!"
Aku menoleh cepat heran akan sikap Siska yang berubah dari biasanya. Beralih menatap Hafids yang ada di lapangan tersenyum membalas sapaan dari Siska. Siska memegangi dadanya pasti ada yang lari maraton di dalam sana.
"Mudahnya dikau mencari cinta yang baru Siska. " Aku menatap Siska disertai kekehan kecil namun di balas dengan tatapan tajam.
Suara teriakan semakin mengencang ketika Hafids mencetak angka. Selebrasinya juga tak kalah biasa, menatap ke atas sembari mengangkat kaosnya. Senyum Siska mengembang ketika melihat Hafids bahagia, aku jadi heran kenapa Siska se-antusias itu.
Pertandingan selesai semua orang berhambur meninggalkan lapangan basket, tak terkecuali aku dengan Siska. Siska sangat sulit untuk di ajak pergi, katanya ingin menemui Hafids terlebih dahulu.
Hafids tengah berdiri di depan kursi sembari meneguk botol minuman juga mengelap keringat menggunakan handuk kecil yang tergeletak di atas kursi. Siska menarik tanganku paksa ingin menghampiri Hafids yang tengah beristirahat.
Langkah Siska tiba-tiba berhenti membuatku hampir menabraknya jika tidak menghindar. Wajahnya memerah tangannya mengepal di samping badan, aku beralih menatap ke depan. Hafids tengah berpelukan mesra bersama seorang gadis yang umurnya tidak jauh lebih tua dari umurku.
Tidak itu saja, Hafids mengacak sedikit rambut gadis itu dan dibalas dengan cubitan di perut membuatnya meringis. Siska berbalik melawan arah tanpa melanjutkan niatnya untuk menghampiri Hafids. Aku hanya mengusap bahunya pelan, namun masih saja dia tidak bergeming. Aku heran baru berkenalan kok sudah cemburu?
"Siska!"
Teriakan itu membuatku menoleh. Hafids tengah berlari kecil menuju ke arahku. Heran saja padahal aku berdua kenapa yang dipanggil hanya Siska?
Siska tetap memaku di tempat tanpa berniat untuk membalikkan badannya. Hafids menggunakan gerak tubuh seolah mengatakan kenapa. Aku hanya mengedikkan bahu acuh memang karna aku tidak tahu apa penyebabnya.
"Makasih semangatannya tadi " Hafids kembali bersuara namun tidak di balas sedikitpun.
Hafids membalikkan tubuh Siska untuk menghadapnya. Mata Siska berembun wajahnya juga memerah. Sebenarnya apa sih yang terjadi.
"Hey, kenapa kamu nangis?" Hafids memegang bahu Siska namun segera mendapat tepisan.
Daripada aku sibuk memikirkan siapa gadis itu lebih baik aku menanyakannya langsung.
"Kamu tadi berpelukan dengan siapa?"
Hafids menoleh mengerutkan dahi.
"Berpelukan? Oh, tadi gimana cocok gak?" Hafids menaikkan satu alisnya sembari tersenyum kecil. Wajah Siska semakin memerah apa mungkin Hafids ingin memanas-manasi Siska?
"Siapa?" Aku mengulang kembali pertanyaan.
"Adik aku " Aku bernafas sedikit lega mendengar wanita itu adalah adiknya.
"Adik?" Siska bersuara menatap Hafids penuh arti.
Hafids menganggukan kepalanya, Siska berjalan mendekat dan pangsung berhambur memeluknya. Menangis dalam dekapan Hafids. Tangan Hafids terulur untuk mengusap bahu Siska yang bergemetar dan bertanya pelan kepadaku. Aku hanya membisikkan pelan bahwa Siska cemburu.
Melihat kemesraan mereka seolah pasangan yang telah menjalin hubungan. Padahal baru beberapa jam berkenalan kenapa bisa akrab seperti ini?
Hafids melepaskan pelukan menggiring Siska untuk duduk di bangku penonton. Mengusap air mata yang masih berbekas dengan lembut di balas senyuman oleh Siska. Aku jadi penonton di antara mereka.
"Nggak seharusnya kamu cemburu, kita kan udah nggak ada hubungan apa-apa lagi" Aku menghentikan gerakanku yang ingin meneguk air beralih menatap mereka berdua. Hubungan?
"Bentar-bentar, maksudnya hubungan apa? Kalian pernah--"
"Kami memang pernah bersama dulu, tapi setelah wisuda kami putus karna satu masalah " Sela Hafids.
"Pantesan, tadi waktu kenalan kayak biasa-biasa aja ternyata mantan. " Aku mengangguk.
Sekarang aku sudah tahu apa yang terjadi antara Hafids dan Siska. Pantas saja mereka akrab dan berpelukan tadi, ternyata pernah ada rasa di antara mereka. Sepertinya aku memang harus pergi membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya.
__ADS_1