
"Perasaan? Sesuatu yang membuatmu menjauh dariku"
Syarif Maulana
POV SYARIF
Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Entah apa yang terjadi pada diriku, aku bisa mengatakan sesuatu yang akan membuat orang lain terluka. Terlebih lagi mendengar pernyataan dari mulut kak bela. 'Zahra menyukaimu' . Kata-kata itu selalu mengisi ruang dikepalaku.
Aku tidak menyangka itu akan terjadi. Zahra menyukaiku? Apakah mungkin itu benar? Entahlah aku harus bersikap bagaimana harus bahagia atau terluka. Aku pun tak mengetahui aku memiliki perasaan itu atau tidak.
Aku melangkah menuju masjid, mencoba menenangkan hati dan pikiran. Sekarang waktunya zuhur, aku hampir lupa akan kewajibanku. Aku mengambil wudhu dan sholat. Mencoba meredam amarahku.
Setelah pikiranku tenang aku memutuskan untuk kembali keruangan kak Bela. Aku berpikir untuk minta maaf pada Zahra tapi rasanya egoku mengalahkan semuanya. Kebencian itu timbul lagi menutup hati nuraniku.
Aku menyusuri koridor rumah sakit. Tepat didepan pintu, aku mendengar suara tangisan dari dalam. Niat untuk masuk aku urungkan dan memilih mendekatkan telinga kearah pintu untuk mendengarkan semuanya.
"Udah Zah, kamu jangan nangis terus kamu nggak salah. Soal syarif nanti kakak akan bicara sama dia"
Suara isakan terus terdengar di telingaku. Aku menempelkan telinga kedepan pintu mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Nggak usah kak ... semuanya sudah terjadi aku terlalu berharap pada kak Syarif hingga aku lupa aku siapa"
Apa ucapanku begitu melukai hatinya hingga dia berkata seperti itu? Berarti benar argumenku tentang dia. Aku tidak tahu aku memiliki perasaan kepada dia atau tidak. Tetapi kalau aku membalas perasaanya sama saja aku menghianati adikku sendiri.
"Jangan bilang gitu. Pasti Syarif juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Jangan berkecil hati"
Kak Bela dengan mudahnya berkata seperti itu, sedangkan dia terbaring lemah karna wanita di depannya.
"Tidak kak ... hanya aku yang memiliki perasaan itu. Dia sedang memperjuangkan orang lain saat ini. Aku tidak pantas jika dibandingkan dengan wanita yang dia idamkan saat ini "
Aku geram, ingin rasanya aku masuk dan menjelaskan semuanya, tapi niat itu selalu kuurungkan.
__ADS_1
"Dan mulai hari ini pasti dia akan membenciku, tapi tidak papa aku menerimanya karna ini semua salahku. Aku bisa lega melihat dia bahagia. "
Aku mulai memaku di pintu depan. Mulai mencerna kata-kata Zahra barusan. Apa maksudnya dia mengiklaskan aku untuk bahagia bersama orang lain?
"Zahra pamit dulu kak, Assalamualaikum "
Kudengar langkah kaki mendekat kearah pintu, segera aku menghindar. Saat langkah itu kian menjauh aku masuk untuk menemui kak Bela.
"kak ... Zahra kenapa? "tanyaku setibanya dibrankar mendudukkan dikursi sisi brankar.
"Kakak lelah, kamu pikir saja sendiri "ucap kak Bela sembari menutup mata.
Kubiarkan dia istirahat sejenak, aku mengerti kondisinya sekarang. Tekanan batin dan pikiran, dan aku malah memperkeruh suasana.
Maafkan aku kak!
***
"Nak, maafin ibu karna tidak bisa menjaga kamu "
Ibu terisak sembari terus memeluk kak Bela. Merutuki sendiri karna dia memilih ke luar kota dan meninggalkan anaknya sendiri. Kak Bela tersenyum tipis meyakinkan bahwa dia baik-baik saja pada ibuku.
"Ibu keluar sebentar ya mau cari minum"
Aku mengangguk dan ibu langsung menghilang dari hadapanku. Aku mendekati brankar mengambil kursi dan duduk dihadapannya. Mengambil bubur yang tergeletak di atas nakas yang belum tersentuh sedikitpun.
"Kak makan dulu "
Aku mengaduk bubur dan siap untuk menyuapkan ke kak Bela, namun segera di tepis.
"Kakak jangan kayak anak kecil yang harus dibujuk untuk makan!"
__ADS_1
Rahangku mengeras emosiku semakin naik melihat dia yang belum makan apa-apa dari tadi. Dia hanya mendiamiku tanpa melihat wajahku sama sekali. Sampai sekarang aku masih sabar menghadapinya, namun saat ini kesabaranku sudah tidak tertahankan.
"Seharusnya kamu yang jangan bersikap seperti anak kecil. Mudah sekali bicara tanpa memikirkan akan menyakiti hati orang atau tidak!"
Aku menatap tajam ke arahnya. Emosiku naik turun menghadapinya.
"Kenapa malah membahas hal itu sih?!"
Dia menatapku tak kalah tajam sembari tersenyum kecut kearahku.
"Menurutmu?"
Satu kata namun sukses membuat emosiku membuncah. Aku menggebrak brankar geram akan ucapannya.
"Sudah sepantasnya dia mendapatkan hal itu!"
Aku kembali bersuara namun tidak menghentikan tatapan tajamnya itu.
"Suatu saat kamu akan menyesal!"
"Tidak akan!" Sergahku cepat.
"Kita lihat nanti, jangan harap kakak mau membantumu suatu saat nanti. Pegang ucapan kakak!"
Aku mengangkat bahu acuh tak memperdulikan ucapannya. Meletakkan bubur di atas nakas dan keluar dari ruangan. Tidak sangguo jika terus berlama-lama di ruangan bisa-bisa aku melampiaskan kemarahanku.
Aku merebahkan tubuh di sofa depan rumah sakit. Mengambil ponsel di saku celana melihat pesan di aplikasi whatsapp. Sejenak merenung soal ucapan kak Bela, bagaimana kalau nanti aku benar-benar menyesal? Ah, tidak mungkin. Aku tidak akan pernah menyesal atas apa yang aku lakukan hari ini. Semuanya tidak akan ada yang terjadi.
Aku melihat kontak yang aku asingkan sendiri. Membuka pesan darinya, terakhir dilihatnya satu jam yang lalu. Apakah aku harus meminta maaf kepadanya?
POV END.
__ADS_1