
Suara azan menggema membuatku tersadar dari tidur panjangku. Memanggilku untuk melaksanakan suatu kewajiban solat subuh. Kulirik jam yang menempel di dinding waktu menunjukkan pukul setengah lima. Aku bergegas membasuh muka dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajiban.
Menengadahkan tangan memohon kepada tuhan pencipta alam. Memohon ampunan dari segala dosa yang aku perbuat, meminta agar penyakit hatiku dihilangkan iri dengki dan benci selalu menyelimuti hati. Aku berharap bisa bangkit dari masalah ini dan mampu melewati dengan lapang dada.
Matahari terbit memberikan semangat untuk tetap melakukan hal yang baik. Suara burung juga menghiasi pagi ini. Embun-embun yang masih menempel di daun memberikan kesan sejuk. Sungguh, hari ini berbeda dengan hari kemarin.
Memakan roti berselai coklat sedikit demi sedikit di temani dengan segelas susu kesukaanku. Suasana masih sepi, mungkin karna masih pagi semua masih enggan untuk keluar. Duduk dikursi panjang yang menghadap ke arah pintu dengan kaki yang menjadi tumpuan dudukku.
Mengenai foto dan wanita itu menjelaskan bahwa aku tidak berarti apa-apa di hati Hamzah. Dia telah menemukan separuh hatinya yang sudah hilang. Melupakan semua komitmen yang ia berikan. Aku yang terlalu bodoh untuk mempercayai semua ucapannya. Tapi setiap kali bertemu hati memaksa untuk terus menjauhinya, menghindar sebisa mungkin agar tidak terlalu dalam rasa yang kurasakan.
"Enak nih roti." Tangannya terulur mengambil roti didepanku, namun aku tak menoleh sedikitpun. "Tolong buatin aku kopi dong, Ra."
Suara itu kembali menyapa, tak mau berlama lama aku pergi dari kursi melangkah keluar mencari udara segar.
Bagaikan kapal tanpa nahkoda berjalan tanpa arah terombang-ambing oleh keadaan itulah aku saat ini. Fikiranku kacau, memikirkan semua hal persahabatan, penghianatan, cinta aku lelah.
"Kamu jahat Hamzah! Kamu nggak ngertiin perasaan aku! Kamu jahat! Aku benci!"
Aku menyeka air mata yang terus mengalir di pipi. Rasanya begitu sakit jika melihat kejadian itu. Pandanganku kosong menatap nanar ke arah jalan berjalan tanpa tujuan, telingaku seakan tuli pada suara bising kendaraan. Hingga aku sadari tengah berjalan di tengah jalan.
Aku menoleh kebelakang, sebuah truk kecepatan tinggi sedang melaju ke arahku. Aku berteriak histeris tapi tidak beralih dari tempatku. Menutup mata dengan telapak tangan berharap saja tidak terjadi apa, tapi kalau memang sudah ditakdirkan aku iklas.
Aku tidak merasakan sakit di tubuhku, semuanya masih utuh. Suara truk itu semakin menjauh apa aku sudah mati? Tapi tidak ada rasa sakit sama sekali yang aku rasakan hanya sebuah cekalan erat dibahuku.
"Apa kamu sudah gila!"
Aku membuka mata melihat siapa yang tengah membentakku. Aku membelalakan mata tak percaya pada orang dihadapanku. Setelah luka itu ia beri sekarang malah di hadapkan kembali.
"Kamu bosan hidup, hah?!"
"Biarkan wanita murahan ini mati." Aku menunduk meremas jari satu sama lain. Aku putus asa, semua berlalu dengan sendirinya.
"Jangan mengatakan kalau kamu wanita murahan." Netraku memandang mata sendunya itu. Sakit di dada belum berkurang sekarang malah di tambah dengan pertemuan ini.
"Bukanya kamu yang mengatakan kalau aku murahan?" Dia menunduk. "Wanita murahan, wanita licik." Aku berdecih.
Aku hanya menatap nanar kepadanya, dengan mata yang masih yang berembun.
Tanpa ucapan terimakasih atau apapun aku menjauh dari hadapanya. Masih dengan pandangan yang sama, harus bahagia karena aku di selamatkan olehnya atau kecewa pada masa lalu?
"Kalau ada masalah diselesaikan bukan malah ditinggalkan. Apalagi melakukan hal bodoh seperti itu." Langkahku sempat terhenti, namun segera aku teruskan.
Ah, sial! Kakiku terkena ranting pohon yang agak runcing membuat kaki kananku sedikit luka. Aku meringis menahan sakit meski lukanya kecil kenapa terasa sangat sakit. Aku memegangi kaki kananku mengusapnya kasar, entah kebetulan atau apa hari ini aku mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
"Sepertinya kondisimu sedang tidak baik, ayo aku antarkan pulang." Dia memegang tanganku namun segera aku tepis. "Tidak perlu," ujarku.
"Hilangkan sifat keras kepalamu itu, lihat kakimu berdarah." Netraku bersibobok dengan mata elangnya itu.
"Bukankah kamu dulu menyakitiku, lalu sekarang untuk apa kamu peduli."
Dia menatapku datar seakan ingin menerkam. Dia mencekal tanganku mengisyaratkan untuk mengikuti langkahnya. Sempat aku memberontak namun cekalan tangan makin di pererat membuat tanganku sedikit sakit.
Kami terus berjalan aku menoleh ke arah kaki darah mulai bercucuran. Memang dia tidak perhatian melihat kakiku terluka malah dibiarkan begitu saja. Dia masih saja bergeming menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan rintihanku. Rupanya aku sudah sampai di depan penginapan, bagaimana dia tahu tempat penginapanku?
Pintu utama di buka orang yang sedang duduk santai di ruang tamu menatap aneh ke arahku. Bukanya apa-apa tapi mungkin mereka terkejut karna keadaanku. Darah dari kakiku membasahi lantai. Kak Fahmi beranjak dari sofa berjalan ke arahku menatap sekilas kemudian menatap ke arah Kak Syarif dengan tatapan tajam.
Satu pukulan melayang mengenai wajah Kak Syarif membuatnya terjengkang kebelakang. Dia meringis menyentuh bekas pukulan Kak Fahmi tanpa menyerang balik. Lebam di pipi dan sedikit memar di sudut bibir menjadi tanda kemarahan Kak Fahmi. Raut kemarahan dan kebencian terlihat jelas di wajahnya. Melihat kejadian itu mereka mendekat ke arahku.
"Kamu apakan adik saya! Kamu belum puas menyakitinya!" Kak Fahmi mencengkeram kerah baju Kak Syarif namun tak berniat untuk membalas perbuatan Kak Fahmi.
Satu kali lagi pukulan ia layangkan tepat mengenai pipi kanan. Ia sedikit terguncang namun segera bangkit.
"Sudah cukup adik saya terluka karna kamu! Apa kamu belum puas sekarang, hah?!" Cengkraman di baju Kak Syarif semakin mengerat.
Kak Fahmi menatapku melihat ke bawah dimana noda merah telah menodai lantai. Beringsut melepaskan cengkeraman menatapku sendu dan berangsur memelukku. Aku bergeming tanpa membalas pelukan dari Kak Fahmi.
Kak Syarif merapikan kembali kemejanya mengusap kasar mengancingkan kemeja yang sempat terlepas akibat cengkeraman dari Kak Fahmi.
"Saya tidak menyakitinya, saya hanya menolong dia yang nyaris mati tertabrak mobil."
"Kamu kira saya percaya? Dengan omong kosongmu itu?" Kak Fahmi mendekat.
"Terserah mau percaya atau tidak yang penting saya sudah berkata jujur. Masalah Zahra itu tanggung jawab anda, bukan urusan saya. Jadi mohon dijaga baik-baik, saya permisi." Kak Syarif melangkah pergi.
Kak Fahmi tertegun beralih memelukku lagi. Bahunya bergetar hebat bisa aku rasakan apa yang sedang dia rasakan. Bukanya aku yang tersakiti tetapi kenapa malah dia yang menangis?
Dia menggiringku ke arah sofa menyuruhku duduk, mengobati luka dengan obat merah. Aku hanya menatap ke depan seolah semuanya hanya mimpi buruk.
"Dek kamu jangan kayak gini, kakak khawatir sama kamu." Aku masih menatap kedepan tanpa menjawab pertanyaan. "Dek! Jawab! jangan buat kakak khawatir, Dek."
Dia semakin terisak bulir bening menyentuh lututku, seketika aku tersadar aku segera merengkuh tubuhnya untuk menatap ke arahku.
"Aku baik-baik saja, Kak." Sebuah senyuman manis aku berikan. Namun, kak Fahmi malah semakin menangis. "Baik bagaimana? Dia bilang tadi kamu hampir tertabrak mobil itu baik baik saja, hah?! Kamu ngelamun, kamu marah, kamu diam itu sudah cukup menjelaskan bahwa kamu tidak baik-baik saja, Ra! "
"Aku baik." Kak Fahmi menghela nafas panjang. "Bukan begitu, Dek. Kalau ada masalah ngomong sama kakak. Jangan kayak gini."
Aku bergeming. Nanar tatapanku kosong menerka-nerka apa yang barusan terjadi. Masalah perlahan menghampiriku tanpa jeda. Meninggalkan luka sama seperti sedia kala.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Ra?" Segera aku menoleh, pria bernetra teduh itu tengah duduk di sebelahku. Berusaha untuk menyentuh bahuku. Namun, segera mendapat tepisan kasar olehku.
"Kamu kenapa menghindar, Ra?" Aku segera menepis tangan yang hendak menyentuh bahuku. "Kalau ada masalah cerita, Ra. Jangan menghindar."
Bulir bening kembali lolos di pelupuk mata. Apa dia tidak menyadari kalau aku terluka karena dia?
Aku menenggelamkan wajah pada dada bidang milik Kak Fahmi. Meluapkan semua emosi yang aku rasakan. Ia juga sama meneteskan air mata sampai menetes mengenai bagian atas hijabku.
"Kemana saja, Zah. Sampai Zahra terluka pun kamu tidak tahu." Kak Fahmi berucap meski masih terdengar suara isakan.
"Aku--"
"Bersama wanita lain?"
Aku mendongak menatap Kak Fahmi lekat, seolah Kak Fahmi sudah tahu masalah apa yang aku hadapi.
"Apa ini yang namanya tanggung jawab?" Kak Fahmi berdecih, menatap Hamzah dengan tajam. Aku yang melihatnya hanya terdiam.
"Tanggung jawab yang sudah aku berikan, rupanya di sia-siakan. Menyesal dulu aku mempercayai kamu untuk menjaga adikku." Mataku membulat, mendengar pernyataan Kak Fahmi tentang tanggung jawab. Berarti selama ini Kak Fahmi menyerahkan tanggung jawab kepada Hamzah?
Tangan putihnya terulur mengusap air mata yang berlinang. Dengan mata yang berkaca-kaca aku masih bisa melihat wajah teduhnya. "Kamu bisa."
Seketika aku menghambur memeluknya, mengurangi rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Pelukan hangatnya membuatku nyaman, hingga sejenak melupakan masalah.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa semua bersikap aneh?"
"Sekali lagi kamu bertanya, aku pastikan kamu tidak bisa lagi melihat adikku."
Perkataan Kak Fahmi membuatku merinding. Seolah dia sudah tahu skenario yang terjadi antara aku dan Hamzah.
"Zahra ke kamar dulu, Kak."
Menarik selimut sampai ke leher menutupi sebagaian badanku. Nyeri tepat di ulu hati melihat kondisiku yang seperti ini saja tidak membuat dia mengerti. Usapan lembut dikepalaku mengusik kenyamananku. Aku mengerjap menormalkan pandanganku. Dihadapanku senyuman itu menghiasi wajahnya.
"Nih makan dulu." Aku menggeleng. Kak Fahmi meletakkan nampan dan menatapku intens. "Nggak mau, Kak."
Aku beranjak mengambil beberapa potong kerupuk yang tersaji di atas piring. Menatap langit-langit kamar yang kian meremang meredup membuatku merasa kalut.
"Lupakan Hamzah."
Aku tersedak kerupuk yang sedari tadi aku makan. Menatap datar ke arah kak Fahmi. Aku menggeleng pelan, mencoba meyakinkan Kak Fahmi bahwa aku sedang baik-baik saja dengan Hamzah. Kak Fahmi mengusap puncuk kepalaku lembut sambil tersenyum. "Besok kita pulang ya."
"Pulang?"
__ADS_1
Dia mengangguk mendekapku erat. Aku bersandar di dada bidangnya yang nyaman melepaskan semua masalah dengan satu pelukan ini. Meski sempat kecewa pada Hamzah, aku sadar bahwa cinta tidak bisa di paksakan.
Terimakasih udah mau baca, jangan lupa ninggalin jejak. ❤❤❤.. Aku tunggu komentar dari kalian.