Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 5


__ADS_3

"Aku sempat menyangka bahwa kamu adalah alasanku untuk bertahan. Rupanya aku salah menggunakan seseorang untuk melupakan seseorang"


.


Beberapa hari ini ada sesuatu yang berubah dalam hidupku meski sudah lama aku mengaguminya tapi kali ini rasanya berbeda. Senyum yang sudah lama aku pendam kini muncul dengan sendirinya. Kerap kali aku menyadarkan hayalanku bahwa dia hanya akan singgah dan meninggalkan luka tanpa arah.


Bersenandung ria di sepanjang koridor sekolah nyaris membuatku seperti orang gila. Headphone yang terpasang di kiri kanan telinga mengalunkan musik yang sangat aku sukai. ' Pura -pura lupa' lagu yang aku bicarakan tadi . Setiap larik lagu memiliki makna yang mendalam mengajakku untuk kembali menoleh masa lalu.


Suara teriakan dari dalam kelas memekik telingaku. Suaranya mampu mengalahkan musik yang volumenya sudah aku kencangkan. Mencopot headphone dan mengalungkanya di leher memegang knop pintu namun susah untuk di buka. Aku mendobraknya dengan paksa semua siswa di dalamnya menatapku aneh mungkin akan tingkahku membuka pintu tadi.


Setelah adegan diam mereka melanjutkan obrolan keras mereka. Ada yang berteriak histeris, menggebrak meja, melototi ponsel dan masih banyak lagi. Aku jadi pengen tahu apa yang dibicarakan sampai - sampai membuat mereka histeris seperti ini.


"Dara kenapa sih mereka kayaknya histeris banget?" tanyaku.


Dara menoleh ke arahku raut mukanya berubah menjadi kaku.


"Kamu nggak tahu ? Dila nembak kak Angga kemarin, "


Aku memegangi dadaku, rasa sakitnya tepat di ulu hati. Baru saja aku bahagia karna kehadiranya, sekarang dia sudah menjadi kekasih sahabatku sendiri.


"Ra, kamu nggak papa kan?"


Aku menggeleng berlalu meninggalkan ruangan.


Melangkah tanpa arah menuju ke penjuru arah mencari keberadaan Dila. Aku tidak mau asumsiku ini benar adanya, dengan nafas terengah-engah aku menuju kantin namun nihil. Ke perpustakaan masih tidak ada. Akhirnya aku mengunjungi taman belakang sekolah.


Seorang wanita tengah duduk dengan tatapan kosong menatap ke depan. Aku perlahan mendekat ke arahnya mengambil posisi di sebelahnya. Sedikit berfikir bukanya senang telah mengungkapkan perasaan tapi kenapa malah murung sekarang?


" Dila, " panggilku.


Dia menoleh ke arahku tatapanya sendu serta mata sembab sudah menjelaskan bahwa dia sedang tidak baik baik saja.


"Kamu kenapa?" tanyaku lagi, dia hanya menggeleng.


"Aku denger kamu habis nembak kak Angga, bener?" tanyaku. Dia menatapku apa aku salah bicara?


"Kamu tahu dari mana?" tanyanya.


"Sekelas tadi rame ngomongin kamu," ujarku. Dia hanya membisu tidak menjawab pertanyaanku.


"Kenapa bukanya seneng udah ngungkapin perasaan sama kak Angga? Perasaan yang nggak pernah aku tahu,"ujarku tersenyum miring.


"Dia udah punya pacar ra," ujarnya. Aku sedikit terkejut.


"Aku salah mengharapkan kak Angga ra. Semuanya udah beda," ujarnya menunduk.


Sebenarnya sakit mendengar bahwa sahabatku juga menyukai orang yang sama, tapi disisi lain aku juga terluka mendengar fakta dari kak Angga.


"Aku kira kamu nggak akan ngelakuin ini dil," ujarku.


"Awalnya aku ngrasa kalau kak Angga punya perasaan yang sama ra. Tapi ternyata sebaliknya, " katanya.


Matanya berembun aku semakin tidak tega melihatnya.


Kurengkuh tubuh rapuhnya itu dalam dekapanku. Terasa bulir bening mengalir di pipi seakan kesedihanya mengalir padaku.


Menangis karna sahabatku merasakan kesedihan atau menangis karna perasaanku bertepuk sebelah tangan dengan kak Angga, aku tidak tahu.


Aku menyeka air mata kasar aku tidak boleh lemah hanya karna hal sepele. Aku membalikkan tubuh Dila mengusap air mata yang terus membanjiri pipi.


"Kamu kuat, jangan nangis lagi. Kalau memang dia jodoh kamu suatu saat kalian akan di pertemukan kembali," ujarku.


Serasa aku menjadi pihak pendukung yang mendukung hubunganya Dila padahal aku masih juga merasakan sakit.


"Kita ke kelas ya," ajakku.


Seraya berbalik dan melangkah pergi. Namun aku berhenti ketika tanganku di cekal oleh Dila, aku berbalik.


"Kamu juga suka sama kak Angga kan ra?"


Pertanyaanya sukses membuatku membisu. Bingung harus mengatakan jujur atau tidak.


"Selepas aku menyukainya atau tidak, tidak ada gunanya kalau kak Angga sudah menemukan tambatan hatinya. Ayo ke kelas tugas udah numpuk tuh," ujarku seraya tersenyum.


Dia mengangguk beranjak dari bangku dan berjalan beriringan di sebelahku.


.


.


.


Melipat mukena meletakkanya di lemari mushola sekolah. Perlahan jama'ah yang solat zuhur berjamaah meninggalkan mushola menyisakan beberapa orang saja.


Cuacanya ekstrem kadang panas dan kadang hujan membuatku sedikit goyah jika tidak memperketat pertahanan tubuh. Panasnya hari ini sampai naik ke ubun ubun, rasanya matahari tepat di atas kepala. Tenggorokan mengering meminta untuk segala didinginkan mengingat jarak kantin dan mushola yang sedikit jauh.


" Zahra! "


Seseorang memanggilku aku menoleh ke belakang nyatanya tidak ada siapa siapa. Aku mengernyitkan dahi, apa aku halusinasi?


Namun langkahku terhenti ketika benda besar menghalangi jalanku. Aku mendongak dan langsung bersibobok dengan mata teduhnya itu. Seakan terhipnotis oleh tatapanya membuat aku mematung di tempat, namun segera aku tepis perasaan itu. Cukup jelas bahwa perasaanku ini hanya angan angan saja.


"Habis solat?" tanyanya.


Aku memutar bola mata malas, jelas jelas dari mushola masih nanya. Aku mengangguk tanpa menatap matanya.

__ADS_1


"Hei kenapa menunduk?" ujarnya.


Aku hanya menggeleng dia malah memegang tanganku membuat aku menatap wajahnya.


"Kamu nangis?" tanyanya.


Aku memalingkan muka tidak mau terlihat lemah di hadapanya.


"Kita ke kantin ya, sekalian aku mau ngobrol," ajaknya. Ingin menolak tapi bagaimana. Aku harus bertanya langsung pada orangnya.


Aku mengambil posisi ternyaman dengan duduk di kursi dekat jendela. Kak Angga memesan beberapa minuman dan menatapku intens dengan tatapan mengintrogasi.


"Kamu kenapa nangis ada masalah?"


Aku mendongak rasa kesal padanya belum terobati dan masih sempat dia bertanya kenapa. Aku memalingkan muka tidak mau larut dalam tatapanya itu.


"Kak Angga bener di tembak Dila?" dia mengganti ekspresi wajahnya


"Kok kamu tahu?" jawabnya.


"Pertanyaanku belum di jawab kak," ucapku.


"Iya, tapi nggak aku terima" aku mencebikkan bibir.


"Kenapa nggak di terima?" tanyaku.


Dia menyesap minumanya menaruh tangan di atas meja dan menatapku.


"Dia sudah aku anggap adik sendiri," ujarnya. Aku tersenyum kecut.


"Bukan alasan yang logis,"ungkapku.


Masih dengan tatapan intens ke arahnya. "Berarti kalau aku nembak kak Angga nggak akan diterima karna aku adik kelas kakak?" aku menatapnya datar padahal hati ini tidak kuat menahan sakitnya.


"Beda cerita," aku mengerutkan dahi, apa maksudnya dengan beda cerita?


"Udah jalan berapa lama sama pacarnya kak?" tanyaku.


"Udah 2 bulan sih," katanya.


Berati sedari awal dia sudah memiliki kekasih sedangkan aku mengharapkan sesuatu yang sudah menjadi milik orang. Perlakuanya yang manis ternyata hanya opini belaka, bodohnya aku di permainkan oleh perasaan.


"Semoga langgeng ya,"


Kata kata itu lolos dari mulutku, harus bagaimana lagi aku bersikap setelah mengetahui kenyataan sebenarnya.


Hanya ada keheningan di antara kita suara dentingan es batu dalam gelas menemani sepinya pertemuan tanpa obrolan. Aku tidak mau memperjelasnya lagi, semua sudah jelas bahwa aku harus berhenti mulai dari sekarang.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan selama ini. Lebih baik mulai dari sekarang kamu melupakan semuanya. Aku berharap setelah ini kita bisa sama seperti dulu lagi sebelum kamu mengetahui kenyataan hari ini "


Aku tersenyum miring, menahan air mata yang sebentar lagi akan meledak. Beranjak dari kursi, dia menatapku sendu seolah mengatakan jangan pergi. Namun kali ini aku mengikuti kata hatiku, pergi dan jangan kembali.


"Aku berusaha," ujarku singkat.


Pergi dari kantin meninggalkan dia sendiri. Mendengar pengakuanya itu sudah membuatku goyah untuk terus bertahan. Benar, dia membuatku jatuh ke dalam pelukanya dan menjatuhkan aku semaunya.


Bersandar di bahu Laila adalah cara utama menyembuhkan luka. Untung kelasnya bersebelahan jadi jangkauanya mudah di akses.


Berjalan lunglai ke arah Laila yang duduk di pojokan sambil melototi ponselnya. Mengambil kursi dan duduk di sebelahnya menangkupkan ke dua tangan dan menenggelamkan wajah di meja.


"Rupanya kawanku sedang bersedih, ada apa kawan?"


Nada bicaranya di buat-buat, aku hanya mengedikkan bahu.


"Ya ampun kawan! Maskaramu luntur"


Aku memutar bola mata malas, orang lagi sedih masih aja di becandain.


"Jangan bercanda la aku nggak minat," ujarku lesu.


"Kenapa kawan? Apakah karna pria berkacamata itu? Miris sekali hidupmu kawan "


Pletak!


Aku menjitak kepalanya, geram pada sikapnya yang terlalu mendramatisir itu. Dia meringis ketika jari lincahku mendarat sempurna di dahinya.


"Sakit ra, jahat banget sih," gerutunya. Aku hanya tersenyum cekikikan.


"Lagian kamu orang lagi sedih bukanya di hibur malah di becandain," ujarku mengerucutkan bibir.


"Iya ada apa?" tanyanya.


"Kak Angga ternyata nggak punya perasaan apa apa ke aku," ujarku.


"Astaga! Cewek secantik ini di tolak? Kayaknya kacamata nya kak Angga perlu di tambah deh, biar kelihatan cantiknya sahabatku ini ,"ujarny menoel pipiku, segera aku tepis.


"Apaan sih nggak lucu!"


"Udahlah iklasin, mungkin belum berjodoh. Pawali lo cewek cantik nangis," ucapnya.


"Bisa aja kamu,"ujarku.


Meski dia bersikap konyol namun membuat sedikit rasa sakitku berkurang. Beruntung aku mendapatkan sahabat seperti kamu Laila.


"Gimana hubungan kamu sama Radit?"

__ADS_1


Mendadak wajah Laila berubah menjadi lesu. Meletakkan ponsel di atas meja, menopang dagu dengan kedua tangan menatapku sendu.


"Cintaku bertepuk sebelah tangan "


Eh, dia malah nyanyi. Mana suaranya cempreng lagi.


"Woy nggak usah nyanyi! Bikin orang pusing aja!"


Aku menoleh ke depan. Laki-laki yang sibuk dengan laptop itu menatap Laila kesal. Laila melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


"Eh Fahri! Diem deh, suka-suka lah aku mau nyanyi atau enggak!" Laila menyangkal


"Laila Widyasari, anak paling bawel di kelas, mendingan diem deh. Suara kamu itu kaya radio rusak! Jadi nggak usah nyanyi deh, ganggu aja!" timpal Fahri


Aku hanya beralihan menatap mereka, pasti sebentar lagi akan ada perang dunia, nih.


"Fahri Pratama, sebaiknya anda diam. Ini hidup saya dan jangan banyak berkomentar, paham!"


Nampaknya emosi Laila akan meledak sebentar lagi. Aku hanya menatap tingkah mereka berdua.


"Yang sebaiknya diam itu anda. Jangan membuat telinga saya pecah gara-gara suara anda, mengerti "


Fahri tidak mau kalah. melipat kedua tangan di atas dada sembari menaikkan alisnya.


"Kamu lama-lama ngeselin yah!"


Laila menatap tajam Fahri, namun tidak membuat Fahri berhenti.


"Biarin, emang masalah buat anda?" Fahri menimpali.


Brak!


Buku yang semula ada di atas meja kini melayang ke arah Fahri. Laila tersenyum puas, sedangkan Fahri menatapnya tajam.


"Rasain tuh, makanya jadi orang jangan sombong!" Laila menjulurkan lidah.


Ide jahil Fahri tidak kalah, ia melemparkan kaos kaki yang berada di mejanya. Lemparan tepat di muka Laila.


"Apaan sih ini," ujar Laila mengambil kaos kaki dari wajahnya.


"Fahri! Ini kaos kaki siapa, bau banget!"


Laila menutup hidungnya dengan kedua tangan, melemparkanya kembali ke Fahri. Fahri pun melemparkan kembali kaos kaki itu, alhasil mereka lempar-lemparan kaos kaki.


Sebelum aku jadi korban, kabur ah.


.


.


Menatap kesana kemari mencari keberadaan kak Fahmi yang tak kunjung datang membuatku geram. Melirik arloji ditangan jarum panjangnya tepat di angka empat, semakin membuatku kesal saja.


Duduk di kursi depan gerbang, menghubungi kak Fahmi namun hanya centang satu, sial!


"Mau bareng nggak?"


Aku mendongak menatap pria yang sedang berhadapan denganku saat ini. Malas rasanya jika harus bertatap muka dengan orang ini.


"Nggak usah," jawabku singkat.


Aku mengalihkan pandanganku darinya dan menatap ponsel. Centang dua abu-abu, kak Fahmi cepetan datang!


"Maaf kalau kakak nyakitin kamu, tapi itu yang terbaik buat kamu "


Terbaik katanya? Apa yang terbaik selalu menyakiti? Aku hanya tersenyum kecut ke arahnya tanpa membalas ucapanya.


Tin!


Suara klakson mengalihkan pandanganku. Untung kak Fahmi datang tepat pada waktunya. Bergegas mengambil tas, berlalu dari hadapanya tanpa mengucapkan sepatah kata.


Brak!


Pintu mobil ku tutup paksa sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras. Melemparkan tas di sembarang tempat menatap ke depan tanpa menghiraukan tatapan aneh dari kak Fahmi.


"Selow dong dek, jangan main kasar gitu "


Aku menatapnya tajam, kalau bukan kakak sendiri sudah aku makan dari tadi.


Kak Angga melajukan motornya, mengklakson ketika berlalu dari hadapan. Masih sempat dia tersenyum.


"Cowok ganteng tuh ra, pepet terus " kak Fahmi bersuara.


"Cepet jalanin mobilnya! Kalau nggak mau


sepatu ini melayang ke muka kakak, cepetan! "


Aku sudah mengambil ancang-ancang mengangkat sebelah sepatuku. Kak Fahmi langsung melajukan mobilnya.


"Kamu lagi pms ya ra? Galak banget,"


"Nggak usah banyak tanya! "


"Kalau udah begini, singa nya keluar " aku menatapnya datar.


"Sekali lagi kakak ngomong, bakal aku cabutin gigi kakak! "

__ADS_1


Aku menyeringai ke arahnya, dia menatapku sekilas dan kembali fokus pada jalanan. Biarlah aku di katain singa yang penting hari ini bisa sampai rumah cepet.


__ADS_2