Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 35


__ADS_3

"Tidak semua kata maaf bisa menyembuhkan luka"


.


Memang benar adanya, bila kata maaf tidak bisa menyembuhkan luka. Buktinya sudah beberapa kali aku melontarkan kata maaf, tapi nihil semua sia-sia.


Kehangatan darinya sudah tidak aku rasakan, keceriaan serta tingkah konyolnya ia pendam dalam-dalam. Aku hanya mengusap wajah kasar, ketika semua mulai berjalan dengan baik selalu ada rintangan yang menghalanginya.


Aku menatap punggung seseorang yang tengah duduk di samping kursiku, bergeming tanpa suara melihat layar ponsel tanpa henti. Aku jadi bersalah sudah membuatnya terluka. Ternyata hari itu mengantarkan aku untuk melangkah menjauh darinya. Jika ini memang takdir aku berusaha untuk menerimanya.


Hachim...


Ku gosok sedikit ujung hidung. Hidungku terus saja mengeluarkan cairan bening menyumbat saluran pernafasanku. Mungkin air kolam kemarin membuatku flu saat ini.


"Zahra kamu yakin baik-baik saja? "tanya Siska.


"Aku sehat kok sis, cuma bersin doang. Hachim! "


Senyuman manis membuatku bibirku mengembang. Siska memegang bahuku dengan muka khawatir. Beruntung aku masih punya sahabat yang selalu menemaniku.


"Dari tadi kamu bersin loh badan kamu juga panas nggak mau ke uks aja?"


"Aku nggak papa, hachim! "aku bersin lagi.


"Nggak papa gimana? "


"Nggak papa, lagian aku mau ngerjain tugas kok."


"Kalau ada apa apa bilang aku ya."

__ADS_1


Aku mengangguk walau sebenarnya kondisi badanku ini sangat tidak mengenakkan. Apalagi hidung yang terus mengalir menambah sesak di hidung mungkin ini efek karna berendam kemarin.


Aku melihat ke arah Hamzah dia sama sekali tidak memperdulikanku. Aku telah membuat kesalahan besar yang membuatnya semakin menjauh. Tapi apa aku salah mengharapkan dia memaafkanku?


Aku hanya tersenyum pahit melihat semua itu, kurasakan ada yang mengalir dihidungku cairan yang berwarna bening telah berganti warna menjadi merah pekat.


Aku mengusapnya tapi malah semakin menjadi. Darah itu menetes ke meja kubiarkan begitu saja, aku melangkah ingin ke suatu tempat meski hidungku tak mau berhenti. Satu tetes dua tetes meninggalkan bekas dilantai. Itu cukup memberi jejak kemana aku pergi.


Aku berjalan menuju taman belakang kampus menyeka sedikit darah yang terus mengalir. Memilih salah satu bangku untuk aku duduki, memejamkan mata sejenak meski darah terus mengalir menodai hijabku.


Aku menghembuskan nafas pelan. Setelah terkena flu sekarang aku mimisan mungkin ini semua efek karna kecapean. Aku tidak peduli bagaimana penampilanku saat ini tatapan aneh dan hujatan telah nyaman terdengar di telingaku. Kemana sahabatku ketika aku dalam kondisi seperti ini?


"Hapus darahmu."


Satu helai tisu tepat berada di depanku. Dengan sedikit mata terpejam aku masih bisa melihat uluran tangan itu. Apa dia yang di utus tuhan untuk membantuku kali ini?


"Tidak perlu. "


"Apa kamu gila? Darahmu itu sudah menodai bajumu, dan mengotori lantai kampus. Membuat semua khawatir saja."


Aku membuka mata melihat setiap inci wajahnya. Terdapat raut kekhawatiran disana tapi ternyata dia hanya menghawatirkan soal kondisi kampus akibat ulahku.


"Aku kira kamu berbeda dengan yang lain, menghawatirkan kondisiku. Ternyata kamu sama saja."


Ekspresinya berubah menjadi sulit diartikan. Ikut bersandar pada kursi sembari menatap ke depan tanpa membuang tisu malah dia meletakkan di tanganku.


"Kamu tidak pernah cerita bagaimana aku bisa peduli? "


Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapannya. Apa mungkin dia bisa peduli?

__ADS_1


"Seandainya aku cerita pasti juga tidak akan menegerti, terus apa gunanya? "


"Ikut aku! "


Dia mengenggam tanganku aku sedikit memberontak namun kekuatanku tidak sebanding dengannya.


Aku masih bingung terhadap sikap lelaki ini tadi dia memarahiku sekarang malah menarikku tanpa alasan. Dia semakin erat menarik tanganku, membuat sedikit nyeri di pergelangan tangan. Sempat aku memberontak namun ia malah semakin mengeratkan pegangan. Alhasil aku mengekori langkahnya dari belakang.


Dia membawaku ke sebuah ruangan dengan bau khas obat-obatan.


"Duduk! " titahnya.


"Untuk apa kamu peduli?! "bantahku.


"Jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang aku perintahkan! "


Aku pun mengikuti apa maunya dia mengambil kotak obat, membersihkan sisa dari hidungku memberinya sedikit obat untuk menghentikan darah yang mengalir. Menutup kembali kotak obat dan melwtakkanya di atas nakas kemudian memandangku.


"Aku mau ke kelas, " ujarku beranjak dari kursi dan menghentikan langkahku ketika dia ambang pintu. "Terimakasih, " imbuhku.


Aku berjalan melewati koridor sekolah semua mata menatapku aneh. Mungkin jijik akan penampilanku yang ada noda darah menempek di hijabku, namun tak kuidahkan tujuanku hanya satu kelas.


Aku terlalu berharap perhatian dia, nyatanya dia bersikap biasa biasa saja melihat darah yang menodai lantai. Aku tersenyum tipis, di saat seperti ini malah orang lain yang membatuku. Aku segera mengambil tas.


"Zahra kamu kenapa? " Siska mengehentikan langkahku, aku tersenyum tipis.


"Aku tidak papa, "ujarku meninggalkan dia yang mematung di kelas.


Aku beranjak pergi memesan ojol dan melesat ke rumah. Jujur kepalaku sangat pening, mungkin satu senggolan saja mampu mengoyahkan pertahananku.

__ADS_1


Aku merebahkan badan ke ranjang empukku mengganti pakaian yang penuh noda dengan pakaian yang bersih menarik selimut dan bersembunyi didalamnya. Aku tidak menghiraukan kuliah padahal masih ada satu mata pelajaran yang aku fikirkan hanya istirahat.


__ADS_2