Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 43


__ADS_3

Mungkin kalau bukan karena pertolongan pria waktu itu, aku sudah tidak menapakkan kaki di kampus. Semua sandiwara dan air mata sudah cukup melekat pada diriku. Takdir tampaknya tidak rela membiarkanku bersama Hamzah lebih lama. Ucapanku tidak pernah salah bahwa dia lebih memilih kembali dengan masa lalu.


Foto berukuran sedang masih aku pegang, betapa harmonisnya hubungan mereka. Aku hanya jadi benalu di antara pasangan yang tengah di mabuk asmara ini. Menjadi duri di antara hubungan yang pernah terjalin sebelumnya. Senyuman kecil aku berikan melihat foto penuh kebahagiaan.


Semua orang pasti memikirkan hal yang sama jika di hadapkan dengan masa lalu. Mengulang kembali kisah indah yang terjalin sebelumnya. Masa lalu memang indah, tapi tidak menutup kemungkinan untuk menjadi sebuah petuah. Kebencianku pada masa lalu sedikit berkurang, akibat pertolongan waktu itu. Aku yang wanita murahan ini di tolong oleh pria baik yang selama ini membenciku. Kenapa aku tidak dibiarkan mati saja?


Senyumku menghilang, aku meringis menahan nyeri yang terasa di perut. Tidak ada orang sama sekali disini untuk menolongku. Perutku semakin bertambah sakit, aku meremas baju yang aku kenakan berharap rasa sakitnya kian menghilang. Tapi nihil, malah semakin membuatku ingin mual.


"To-tolong," lirihku.


Aku terduduk lemas di depan kelas, berharap siapapun menolongku. Perutku melilit, mulutku siap memuntahkan semua cairan. Kepalaku terasa pening sampai buram jika melihat. Sampai aku melihat pria yang berada jauh denganku. Sekilas menormalkan pandangan, ternyata benar ada orang.


"Reno, to-long!"


Suara hentakan kaki terdengar melangkah mendekat. Aku yang sudah tidak sanggup mendongak memilih terduduk lemah di lantai.


"Zahra, kamu kenapa?"


Rengkuhan di bahuku membuat aku bangkit. Sejenak memandang wajah Reno yang khawatir. "Perutku sakit," ringisku.


Dia segera menolong dengan mengaitkan satu tangan di pinggang untuk menopang badan dan satu tanganku dia kalungkan ke leher. Dengan tertatih dia membawaku berjalan. Perutku semakin melilit membuat mulutku terasa mual.


"Kamu bertahan ya, Ra." Meski sakit sempat aku memberikan senyuman kecil. Aku meremas baju kuat ketika perutku semakin sakit. Reno bergegas mempercepat langkahnya, sementara aku menunduk menahan sakit.


"Kita ke rumah sakit ya?" Aku menggeleng. Mungkin perut sakit ini karena efek telat makan tadi pagi. "Tidak usah, bawa ke UKS saja."


Susah bagiku untuk berjalan apalagi dengan kondisi seperti ini. Reno ingin membopongku. Namun, aku tidak menyetujuinya demi menjaga nama baik masing-masing. Dengan cepat Reno membawaku ke UKS, tapi melihat jaraknya yang jauh semakin memperlambat gerakannya.


"Zahra kenapa, Ren?" Aku mendongak menatap wajah tanpa dosa itu. Jengah melihat dia yang berdiri di depanku, dan ingin meraihku. "Zahra sakit. Aku harus membawanya cepat."


"Biar aku bantu." Hamzah ingin memegang satu tanganku. Namun, dengan segera aku menghindar. Menatap Reno penuh binar berharap dia mengerti maksudku.


Aku bersyukur melihat Reno yang mengerti kemauanku. Tanpa menghiraukan Hamzah dia berlalu begitu saja. Dia membaringkan tubuhku di atas brankar, menyelimuti sampai atas dada. Memberikan teh hangat untuk kuteguk, menghilangkan sedikit rasa sakitku.


"Kamu kenapa bisa sakit?" Aku memandang Reno yang sibuk mencari obat. "Aku belum makan dari pagi, Ren."


"Kamu belum makan karena Hamzah?" Aku menggeleng. Di Memberikan obat pereda asam lambung. "Aku cari bubur dulu ya, kamu tunggu disini." Aku mengangguk.


Aku merebahkan tubuhku di brankar, menarik selimut sambil meringkuk. Rasa sakit mulai berkurang meski belum sepenuhnya sembuh. Suara decitan pintu terdengar, aku bingung kenapa Reno kembali dengan cepat. Dengan segera aku berbalik menatap arah pintu. Pria bertubuh tinggi itu tengah mematung di ambang pintu. Sejenak muak melihat muka yang berada di hadapanku.


Aku mengambil posisi duduk sambil menenggelamkan kepala diantara kedua lutut. Aku tidak mengharapkan kehadirannya untuk datang. Sebisa mungkin dia harus menjauh dari kehidupanku. Sudah cukup rasa sakit itu aku rasakan, tidak mau mengulang kembali apa yang sudah terjadi.


"Ra, kamu kenapa?"


Bisa kudengar suara parau dari mulutnya. Tangannya langsung kutepis, tidak mau dia menyentuh apalagi jika hanya sekedar bersimpati palsu. Dia mendongakkan wajahku membuat mataku langsung bersibobok dengan mata teduhnya. Tanpa sadar aku terbuai dengan tatapan itu, hingga tidak menyadari bahwa orang yang di depanku ini telah berkhianat.


"Pergi!"


Aku melemparkan bantal yang ada di brankar memukulnya beberapa kali. Tangan kekarnya menahan pukulan yang aku layangkan, tanpa henti aku terus memukuli dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Aku bilang pergi!"


Dia masih bersikeras untuk tetap tinggal membuatku jengah. Aku melemparkan kotak obat yang berukuran sedang ke arahnya, membuat dia sedikit menjauh. Semua benda yang ada di nakas aku lemparkan tanpa memperdulikan apapun.


"Sadar, Ra!"


Dengan air mata yang berlinang aku terus saja melemparkan benda-benda yang berada di dekatku. Namun, sama sekali dia tidak beranjak pergi malah mencoba menenangkanku dengan pelukan. Aku membanting gelas putih yang berada di nakas, beranjak memegang serpihan kaca yang sudah berhamburan.


"Kalau kamu tidak pergi, biar aku yang pergi."


Aku mengarahkan serpihan kaca itu pada pergelangan tangan. Tangisku kian mengencang menahan sakit yang berkepanjangan. Mungkin dengan cara aku pergi mengurangi sedikit rasa sakit itu. Aku semakin dekat, ingin menggoreskan luka tepat pada urat nadiku.


"Zahra, jangan!"


Mendengar teriakan aku langsung mendongak, Reno membawa satu plastik bubur sedang berdiri di depan pintu. Perlahan Reno mendekat memegang tanganku yang memegang serpihan kaca. Kaca ia lepaskan dari tanganku menggeleng serta membaringkanku kembali di atas brankar.


"Tolong usir pria itu, Ren. Hiks."


Aku menekuk lutut, membanjiri seluruh pakaianku dengan air mata. Pikiranku kacau, melihat semua yang terjadi. Reno memandangku lekat berharap dia bisa menuruti permintaanku.


"Tolong kamu pergi dulu, Zah. Zahra butuh waktu."


Nada bicara Reno melemah. Aku yang terisak masih bisa mendengar apa yang di katakan Reno pada Hamzah. Hamzah mendekati brankar, dengan cepat aku menarik selimut dan berangsur mundur mendekati tembok.


"Kamu liat kan, Zahra butuh waktu. Jadi, aku mohon kamu mengerti bagaimana keadaannya." Aku menatap Reno yang berdiri di hadapanku.


"Zahra membutuhkanku, Ren."


Aku bisa melihat bagaimana reaksi dari Hamzah setelah mendalat bentakan dari Reno meski hanya sekilas. Perdebatan mereka begitu menggema memenuhi ruangan. Perlahan Hamzah menghilang dari pandangan, aku bernafas lega.


"Kamu nggak papa 'kan?" Aku menggeleng membuat Reno bernafas lega. "Kamu jangan menyiksa diri sendiri, Ra." Reno berangsur mengambil bubur yang berada di atas nakas.


Tangannya terulur untuk menyuapi sesendok bubur berwarna putih itu. Dengan cepat aku menggeleng menghindari suapan bubur menyedihkan itu.


"Kamu harus makan, Ra." Aku menggeleng cepat. Reno meletakkan bubur kembali di atas nakas, memandangku lekat.


"Kamu sama Hamzah sengketa karena apa?" Aku menatapnya, menarik nafas dalam untuk menceritakan semua. "Wanita masa lalunya Hamzah."


Suara serak masih terdengar meski samar-samar. Reno memundurkan sedikit wajahnya sejenak memikirkan sesuatu.


"Maksud kamu Nadira?" Aku mengedikkan bahu, pasalnya memang tidak tahu siapa nama wanita yang berada di kafe itu. "Aku yakin pasti Nadira."


Mendengar nama wanita itu pikiranku kembali berputar pada masa lalu. Dimana Hamzab menyatakan cinta pada wanita itu. Aku menatap Reno yang menghembuskan nafas pelan.


"Dia memang wanitanya Hamzah. Dulu sebelum ...." Reno menghentikan ucapannya membuatku semakin penasaran. "Sebelum apa?" Dia bernafas sejenak, menatapku penuh binar. "Sebelum Nadira bersama sahabat dekatnya Hamzah."


Aku mengangguk, memang pantas Hamzah bersama kembali dengan wanitanya di banding denganku. "Tapi percayalah, Hamzah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dengan meninggalkanmu." Aku menutup mata sejenak.


Memang percuma jika Hamzah selalu berada di dekatku. Namun, hatinya bersama orang lain. Pelan-pelan aku harus bisa mengiklaskan kepergiannya jika itu takdirnya. Aku bahagia bisa melihat Reno yang bersedia merawatku dengan menyuapi bubur dengan telaten. Meski bukan Hamzah yang ada di posisi itu, aku bersyukur setidaknya masih ada orang yang peduli terhadapku.

__ADS_1


****


Percuma, aku memandang lekat wajahnya jika hatinya saja tidak terketuk untuk bicara. Diamnya menjelaskan bahwa aku harus mengiklaskan. Perubahan sikapnya mengutarakan niat hati untuk menjauhi. Cukup, aku lelah dengan semua ini.


Materi yang diajarkan hanya berlalu begitu saja. Tanpa memperhatikan aku hanya menopang dagu dengan sebelah tangan berharap semua ini hanya mimpi, dan saat terbagun semua baik-baik saja. Siska sering kali mengganguku, berulang kali dia melempari kertas kecil. Aku tidak memperhatikannya, hanya puas melamun dengan keadaan.


"Assalamualaikum."


Aku menoleh, wanita dengan busana cardigan biru itu tersenyum manis di ambang pintu. Dengan melihat wajahnya rasanya tidak asing lagi bagiku. Hidung mancungnya, bulu mata lentik dan juga lesung pipi mengingatkanku pada seseorang.


"Nadira."


Aku menoleh ke samping, Hamzah tengah berdiri dari mejanya menatap wanita itu. Dahiku berkerut melihat tingkahnya yang mengundang banyak mata mengintrogasi. Dengan cepat aku mengambil sebuah foto yang biasa aku bawa. Mengangkatnya perlahan mencocokkan dengan wajah wanita itu. Dan ternyata, wanita itu adalah masa lalunya Hamzah. Seketika senyumku lenyap, belum puas dia mengambil waktuku di Jogja sekarang dia kembali ke Bandung merenggut semuanya. Tanpa rasa bersalah dia datang, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.


Perlahan wanita itu mendekat kepada dosen yang sedang mengajar. Dosen muda itu merangkul bahu wanita itu dengan lembut, tersenyum lebar memandang setiap ruangan.


"Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru, perkenalkan dirimu," titah dosen itu.


"Perkenalkan nama saya Nadira Maira saya mahasiswa pindahan dari Yogyakarta, salam kenal semuanya."


Semua mengucapkan kata salam, sedangkan aku enggan untuk sekedar melihat wajahnya. Hamzah tidak henti-hentinya memandang kekasih masa lalunya itu, melupakan aku yang selama ini bersama dengannya. Karena kecantikannya tidak sedikit banyak pria yang memujinya, apalagi Hamzah yang tidak mau sedikit membalikkan wajahnya.


Materi dilanjutkan. Namun, pandanganku malah sibuk dengan kedua pasangan berbahagia itu. Sedikitpun rasa bersalah tidak pernah terucap dari bibirnya. Menawarkan sejuta harapan dengan iming-iming kebahagiaan. Aku yang bodoh, terlalu mempercayakan sesuatu yang tidak terbukti keberadaannya. Siska menyenggol lenganku seolah bertanya kenapa. Tanpa basa-basi aku menyerahkan foto berukuran sedang itu kepada Siska. Dengan cepat dia menyenggol bahuku lagi sambil melototkan matanya.


Dua jam berlalu, mata kuliah ekonomi sudah berakhir. Aku mengemasi barang-barang dan memasukkan ke dalam tas. Sedangkan dua insan itu masih bersenda gurau di bangkunya masing-masing. Siska mengedipkan sebelah matanya seolah menyuruhku berbuat sesuatu.


"Kalau udah ketemu sama yang namanya cinta, jadi lupa waktu ya, Zah."


Aku menatap tajam Siska yang menegur Hamzah. Tidak tahu apa kalau sahabatnya lagi cemburu.


"Bener banget tuh, Sis. Jangankan waktu sama teman aja lupa," imbuhku.


Seketika membuat Hamzah menoleh. Tanpa ragu Hamzah memegang tangan Nadira untuk maju. Dia mendekat ke arahku dengan santai, sedangkan aku berjuang mati-matian untuk menetralkan perasaan.


"Kenalin, Ra. Ini Nadira ka--"


"Masa lalu kamu?" Belum selesai ia berucap sudah aku potong segera mengingat apa yang akan dikatakan Hamzah.


Dengan segera aku menarik tangan Siska menjauh dari kelas menempatkan diri di kantin untuk mengisi tenagaku sebelum marah-marah. Aku terpuruk hari itu, tapi tidak untuk sekarang.


"Kamu cemburu liat Hamzah sama Nadira?"


"Menurut kamu?"


Aku memutar bola mata malas melihat Siska yang menanyakan hal yang sudah pasti terjadi sekarang. Belum lagi dia terus mencerca dengan beberapa pertanyaan mengenai foto itu. Belum sempat mengembalikan luka, Hamzah bersama dengan Nadira berjalan bergandengan menuju kantin. Kalau bukan karena takut di keluarkan dari kampus, mungkin sudah aku hantam mereka menggunakan meja.


"Sabar dong, Ra. Jangan kayak singa ngamuk gitu." Aku berbalik mendapati Hafids yang tengah menuju meja kami.


"Kalau ketemu cinta sejati itu susah ya pisahnya."

__ADS_1


Siska dan Hafids menatapku secara bersamaan, mengedipkan mata dengan serius. Aku juga tidak tahu kenapa mereka begitu.


Sakit, memang sakit. Apalagi kalau melihat mereka yang selalu berduan mengumbar kemesraan. Posisiku sudah tergantikan dengan wanita masa lalunya Hamzah. Nadira datang, maka aku yang akan pergi.


__ADS_2