Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 44 ( Selamat Tinggal Bandung)


__ADS_3

Semakin hari aku semakin merasa kehilangan. Orang yang memberiku semangat kini telah berbahagia menjalani hidupnya. Memulai hidup baru dengan lembaran baru, kisah baru dan situasi yang baru. Baru kali ini aku merasa kehilangan. Perhatianya kini sudah berpaling, semua perhatian dan kasih sayang hanya ditujukan oleh satu orang, yaitu Nadira!


Memang ini sudah keputusanku jadi apapun akibatnya harus aku terima. Selama ini ucapan Hamzah tentang janji tidak akan menyakiti, selalu melindungi, akan menjadi sandaran dan garis terdepan dan masih banyak lagi adalah sebuah opini. Pemanis di awal agar percaya pada sebuah janji tanpa bukti.


Semenjak kehadiran Nadira, Hamzah banyak meluangkan waktu untuknya. Mengerjakan tugas bersama, ke kantin bareng, pulang bareng hampir setiap kegiatan mereka berdua. Disisi lain aku bahagia melihat Hamzah menemukan kembali ke bahagiaanya, namun disisi lain aku juga kecewa sekarang aku dan Hamzah jarang berkomunikasi. Mau komunikasi bagaimana kalau mereka terus saja berdekatan? Apa aku harus pergi untuk menutup luka ini?


"Dek, sini." Aku menoleh ke sumber suara, bunda tengah bersantai di ruang tengah. "Ada apa, Bun?"


"Karna ayah ada projek di Jakarta kita sementara waktu ikut ke sana, kamu nggak keberatan kan?"


Aku memikirkan sedikit ajakan bunda. Ada saatnya juga aku perlu waktu untuk melupakan semuanya. Aku mengangguk mengiyakan. "Berapa lama? "


"Cuma sekitar lima, tapi kalau proyeknya cepat selesaai kita bisa pulang lebih awal." Bunda mengelus kepalaku yang terbalut hijab sambil tersenyum.


"Iya, Bun. Tapi, aku pamit dulu ya sama teman-teman kebetulan nanti ada acara pendakian jadi sekalian, boleh kan, Bun?" Bunda mengagguk aku langsung memeluknya.


Semua perlengkapan sudah siap tinggal menunggu teman teman yang lain. Pendakian kali ini lumayan jauh kira kira membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke puncak bukitnya. Menurut rekomendasi bukit ini memiliki pemandangan yang indah hal ini dibuktikan oleh pendaki yang pernah menginjakkan kakinya di bukit ini.


Aku meliriknya sekilas, disudut mobil Hamzah dan Nadira tengah asik bersenda gurau. Semburat merah kerap kali terlihat di pipi Nadira, ketika Hamzah menggombalinya. Mereka tertawa dan bahagia tanpa aku, maka aku akan pergi tanpa kalian.


Perjalanan yang dinanti akhirnya tiba, jalur perlintasan pendakian memiliki medan yang cukup terjal. Memerlukan sedikit tenaga untuk sampai pada titiknya. Mungkin bagi mereka semua ini tidak ada apa-apanya, buktinya mereka terus saja bergandengan tangan. Melupakan aku yang sedang kesusahan.


Merentangkan kedua tangan aku menghembuskan nafas panjang menghirup sedikit udara yang begitu menyejukkan. Melihat sekeliling betapa indahnya ciptaan dan sebentar lagi aku akan meninggalkanya. Akhirnya sampai pada puncaknya, aku meletakkan ranselku dan berjalan jalan melihat pemandangan.


Tak terkecuali mereka, Hamzah dan Nadira mereka menggelar tikar dan mengeluarkan makanan ringan bersama minuman sebagai pendampingnya. Menyantapnya berdua seakan sedang melakukan kencan. Aku hanya melihatnya sekilas, tak ingin berlama lama malihat kemesraan mereka.


Namun, pandanganku sempat teralih ketika tempat yang akan Nadira duduki terdapat kayu runcing tanpa dia sadari . Dengan segera aku berteriak dari kejauhan dan mendorongnya menghindar kayu itu.


"Awas!" Aku mendorong Nadira membuatnya terjungkal. Goresan di tanganku membuat darahku mengalir. Aku merintih kesakitan. "Nadira! Kamu tidak apa apa 'kan?"


Hamzah memegangi tangan Nadira seraya meniupnya pelan. Nadira tersenyum melihat Hamzah yang perhatian. Aku memandangi mereka sendu, masih saja aku berharap pada pria itu.


"Aku nggak tahu sama jalan pikiran kamu, Zah! Zahra yang terluka, kamu malah menghawatirkan orang lain. Jangan bodoh karena cinta, Zah!" Entah dari kapan Siska berada di sisihku. Namun, Hamzah tidak bergeming terus saja khawatir dengan Nadira.


Siska menarik tanganku menjauh. Mengambil kotak obat membalut lukaku dengan kain kasa. Meski begitu, rasa sakitnya bukan di tangan melainkan di hati. Kemana perginya janji-janji Hamzah yang manis itu.


"Besok aku ke Jakarta." Siska menghentikan balutan kain kasa di tanganku, menatap penuh tanya. "Kamu bercanda 'kan?" Aku menggeleng pelan. Namun, Siska malah tertawa seolah perkataanku tidak benar.

__ADS_1


"Hanya hari ini aku punya waktu sama kamu." Siska bergeming ketika aku memeluknya cepat. Perlahan ia membalas pelukan itu. "Kamu nggak lagi ngehindar dari masalah 'kan?" Siska menangkup wajahku dengan kedua tangan. Aku menggeleng.


"Berapa lama?" Aku mengusap air mata kasar. "Mungkin lima hari." Siska manggut-manggut.


"Yaudah kemasin barang-barang kamu, kita jalan lagi ke tempat yang lebih indah lagi."


Menggendong tas ransel yang lumayan berat ke punggungku. Meski sedikit luka ditangan namun, tidak mengoyahkan kemauanku untuk menikmati sejenak sebelum aku pergi besok.


Dilihat dari cara Hamzah tadi memperkuat alasanku untuk pergi. Aku sudah tidak berarti lagi, dia telah bahagia dengan hal barunya. Semuanya tidak lagi ada maknanya, janji-janji percuma jika berbanding terbalik dengan nyatanya.


Aku hanya menatap kesal pada mereka selalu saja bergandengan. Saling membantu satu sama lain melewati jalan bebatuan yang terjal. Dan aku, hanya dibantu oleh sahabatku itupun karna terpaksa.


Senyuman selalu Hamzah layangkan, Nadira tak segan untuk menjahilinya membentaknya, atau bercanda lebih pada Hamzah. Ada sedikit rasa kecewa, inikah rasanya melepaskan seseorang?


Kuedarkan pandangan ke sisi jalan melihat mobil yang berlalu lalang. Keputusan untuk menjauh harus segera aku lakukan termasuk berpisah kendaraan dengan Hamzah. Namun tidak ada satupun kendaraan yang bisa aku tumpangi. Bahkan melihatku sendirian, Hamzah sama sekali tidak perduli denganku. Aku bingung bagaimana caranya untuk pulang jika melepon rumah signal tidak memadai. Aku hanya berharap agar ada keajaiban.


Klakson motor mengagetkanku kutatap wajah itu aku sedikit lega setidaknya ada harapan untuk pulang."Belum pulang?"


Pria itu menghentikan sepedanya di depanku. Melepas helm full face yang menutupi wajahnya. Aku tersenyum lega setidaknya masih ada tumpangan untuk pulang.


Dengan senang aku menerima ajakannya. Ternyata masih ada yang perduli denganku. Mataku semakin memberat meminta untuk segera di pejamkan. Namun, melihat kondisi jalan tidak memungkinkan untuk tidur dalam posisi seperti ini.


"Mau makan dulu?" Aku tersenyum mengiyakan. Sepeda motor menepi di pinggir jalan, dia membawaku untuk makan di kafe pinggir jalan.


Pelayanan di kafe sangat bagus, apalagi melihat model kafe yang kekinian ini. Dengan sedikit hiasan yang menggantung di atas atap berwarna-warni menambah kesan ceria. Pesanan datang dengan segera aku melahapnya sampai tandas. Meminum milk jus sebagai penutup hidangan. Reno tengah asik memainkan ponselnya, sedangkan aku sibuk meminum minuman.


Netraku menangkap pasangan yang berada di dekat jendela. Mataku membulat, mereka adalah Hamzah dan Nadira. Mereka terlihat serasi tertawa bahagia tanpa beban apapun.


"Aku mau pergi ke Jakarta." Reno menjatuhkan ponselnya sampai tergeletak di atas meja. Dahiku berkerut melihat ekspresi Reno yang berubah.


"Kamu yakin?" Aku mengangguk pasti. Menyesap sedikit sisa minuman pencuci mulut.


Sesekali aku melirik pasangan yang tengah memakan makanan itu. Hamzah tersenyum bahagia, berbeda saat bersamaku dulu. Dia tidak pernah sebahagia ini. "Kamu mau tahu soal Nadira?"


Aku menoleh Reno yang ikut menatap Hamzah yang duduk di meja sebrang. Ia menghembuskan nafas pelan bersiap untuk menceritakan sesuatu yang membuatku penasaran. "Hamzah bersama Nadira karena balas budi." Dahiku berkerut bingung terhadap perkataanya.


"Balas budi?"

__ADS_1


"Huum. Dulu waktu perusahaan papanya Hamzah bangkrut, Nadira membantu perusahaan dengan bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Jadi sampai sekarang tetap saja Hamzah akan selalu bersama Nadira."


Jariku meremas satu sama lain, ternyata karena balas budi Hamzah sering berdekatan dengan Nadira.


"Kamu mau samperin mereka?" Aku menggeleng, mana mungkin aku akan menjadi pajangan melihat keromantisan mereka. "Aku juga tahu kalau kamu mencintai Hamzah." Mataku terbelalak terkejut mendengar apa yang di ucapkan Reno.


"Kalau gitu kita pulang." Aku mengekori langkah Reno menuju sepeda melesat pulang.


Duduk termangu di jok belakang membuatku jengah, aku membayangkan bagaimana manisnya makan berdua. Saling memandang menyuapi makanan. Namun sayang bukan aku di posisi itu.


Angin sepoi sepoi menerpa wajahku, rasanya dingin menyapa wajahku. Udaranya sangat dingin membuat badanku sedikit mengigil. Tidak ada pembicaraan hanya ada keheningan yang menemani kita berdua.


****


Aku menatap nanar kertas putih itu. Barisan-barisan tulisan tertata rapi mengantarkan kepergianku. Semua sudah jelas, tidak ada lagi yang mengharapkan kehadiranku. Sahabat dekatku saja tengah berbahagia dengan orang lain, melupakan semua janji yang telah ia ucapkan. Aku berat meninggalkan kota kelahiranku ini meski hanya beberapa waktu.


"Kamu beneran mau pergi?" Hembusan nafas lelah aku rasakan. Menatap dalam wanita berhijab di sebelahku ini. Aku mengangguk mengiyakan. "Jika ini keputusan kamu, aku iklas." Aku mendekap kembali tubuhnya. Pelukan hangat dari Siska menenangkan pikiranku.


Dia merenggangkan pelukan menangkup wajahku dengan kedua tangan. "Permintaan terakhir aku, tolong kamu temui Hamzah bilang sama dia kalau kamu mau pergi." Aku mengangguk ini demi memuaskan permintaan Siska.


Siska menggiringku ke kelas menemui Hamzah yang katanya mengerjakan tugas. Genggaman erat tidak di lepaskan tersenyum di sepanjang jalan tanpa berpaling. Aku melihat paras cantiknya, wajah yang akan aku rindukan beberapa minggu ke depan.


Namun, Siska berhenti menatap datar ke depan, aku yang semula menatap wajahnya menjadi bingung. Karena penasaran, aku ikut menatap ke depan.


Pemandangan yang seharusnya tidak pernah aku lihat. Nadira dengan nyaman bersandar di bahu Hamzah, sementara Hamzan mengusap puncuk kepalanya. Harusnya aku tidak datang kesini melihat pasangan yang sedang di mabuk asmara ini. Siska mengenggam erat tanganku tanpa bergerak dari tempat, sementara aku hanya membisu melihat kemesraan mereka.


"Zah, Zahra mau pergi." Hamzah sama sekali tidak menoleh, sibuk dengan ponsel dan Nadira yang bergelayut manja di bahunya.


"Pergilah." Hanya sepatah kata mampu membuat hatiku patah. Dengan semudah itu dia melepaskanku dan berpaling dengan wanita lain.


Siska menarik cepat tanganku untuk mendekati Hamzah. Namun, aku berhenti menggeleng pelan mengatakan bahwa tidak ada lagi yang perlu di jelaskan.


Aku menatap sekilas jalanan, tempat-tempat yang sering aku kunjungi, jalan penuh kenangan, dan semua yang terjadi kini hanya sebatas angan saja. Aku akan melupakanya tanpa batas waktu, hingga aku siap untuk memulai kembali hal baru.


Duduk termangu di kursi belakang mobil, menghembuskan pelan nafas mengingat semua yang telah terjadi. Aku sudah berharap. Namun, di jatuhkan kembali. Mobil membelah jalanan kota menuju kota baru dengan awal yang baru. Aku tidak menyesal bahwa hari ini memutuskan untuk pergi. Karena sumber kebahagiaanku telah hilang tanpa penjelasan.


Terimakasih sudah membaca😊😊

__ADS_1


__ADS_2