Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 18


__ADS_3

"Apakah aku bermimpi? Melepas dan merelakanmu semudah itu"


.


Aku seperti bermimpi, merasakan sakitnya perasaan yang dilukai. Merelakan dan melepaskan adalah 2 hal yang sulit dipastikan. Air mata ini tak tertahan mendengar semua ucapan yang begitu menyakitkan. Aku pergi dari ruangan itu, bukan lari dari kenyataan tapi lari untuk menenangkan pikiran.


Sampailah aku dirumah, kutumpahkan semua kesedihan dalam kesunyian. Menatap ke arah langit kepada siapa aku mengadu? Sedangkan semua orang tak peduli lagi padaku. Kemana harus berlari? Sedangkan tak ada tempat berhenti.


Cukup! Aku tak mau larut dalam kesedihan, aku sadar ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Aku terlalu berharap pada orang yang tak pantas diharapkan.


Disaat seperti ini aku membutuhkan seseorang yang mampu membuatku tenang.


***


"Ra, Kita kerumah sakit yuk jenguk kak Bela"


Nanar tatapanku kosong seakan tuli dan bisu tidak bisa memikirkan soal kejadian tempo hari.


"Aku benci ... aku benci!Benci! "


Aku berteriak mengingat kejadian dirumah sakit. Rasa sakitnya masih membekas di hati. Apalagi mengingat ujaran kebencian darinya semakin membuat sesak di dada. Aku memukul pelan kepalaku menangis sesegukan tanpa memperhatikan tatapan orang.


"Ra, kamu kenapa? "


Aku menoleh ke samping, Laila menatapku sendu. Tidak bisa aku bendung lagi air mata, ia lolos tanpa meminta izin.


"Hiks ... hikss"


Aku mengusap air mataku kasar. Aku terlalu lemah dan pengecut untuk melewati masa ini.


"Cerita sama aku"


Aku langsung memeluknya erat sesekali dia mengusap bahuku yang bergemetar. Rasanya sakit jika harus menceritakan apa yang terjadi.


"Kak Syarif la hiks ... "ucapku.


"Kak Syarif kenapa? " Dia melepaskan pelukan menangkukan kedua tangannya di wajahku.


"Kak Syarif jahat! "umpatku.


"Jahat kenapa? "


"Jahat! " Aku berteriak dan menangis, tingkahku nyaris seperti orang gila. Aku tidak perduli ini di tempat umum atau manapun yang aku tahu hanya menangis saat ini.


Tangisanku semakin mengencang. Laila meraihku dalam dekapannya, menstransfer energi agar aku dapat setenang mungkin. Tapi nihil, aku malah semakin menangis tersedu sedu.


"Yaudah kalau nggak mau aku aja yang kesana kamu pulang nenangin diri oke"


Aku diam berusaha menetralkan perasaanku.


"Gimana mau ikut? "

__ADS_1


"Aku iku, aku pengen lihat keadaanya kak Bela"


Sesakit rasa itu aku tidak boleh egois dengan perasaanku. Bagaimanapun dia sakit karna perbuatanku.


"Yaudah, ayo"


Aku memutuskan untuk ikut Laila kerumah sakit dimana kak Bela dirawat. Aku berharap semoga dia tidak ada disana. Agar aku tidak menangis seperti biasanya.


Tak butuh waktu lama, sampailah aku diruangan yang meninggalkan luka itu, saat Laila ingin membuka pintu aku mencegahnya.


"Kenapa? " Aku menggeleng.


"Aku diluar saja,"ucapku singkat.


"Yasudah, kamu baik-baik ya kalau ada apa-apa bilang ke aku ."


Aku mengangguk mengiyakan perkataan Laila. Aku duduk di kursi dekat pintu, seketika rasa benciku itu tumbuh, dimana hari itu telah terungkap semuanya bahwa dia sedikitpun tidak memiliki perasaan apa-apa. Aku mengambil gawai dari saku bajuku. Menscrol halaman agar kejenuhanku hilang.


POV SYARIF


Tiga hari lamanya aku dirumah sakit, entah sampai kapan kak Bela pulih dari sakitnya. Aku rela mengambil cuti kuliah hanya untuk menemaninya. Sungguh! Aku takut kehilangannya.


"Rif, kamu tidak kembali saja ke Jogja udah tiga hari lo kamu cuti, kakak udah baikan kok" Aku tersenyum menatapnya.


"Nanti kalau sudah sembuh benar baru aku balik kak, kan nggak tega liat kak Bela begini "ucapku.


"Nggak papa Rif, kakak udah sembuh kok"


Tok Tok Tok!


Suara pintu diketuk, perlahan pintu terbuka. Wanita itu berjalan mendekat dengan membawa bingkisan buah ditangan kananya. Dia yang tak lain adalah Laila, sahabat Zahra.


"Assalamualaikum "


Aku celingukan mencari seseorang. Biasanya dia akan datang berdua dengan temannya tapi sekarang tidak ada siapapun.


"Waalaikumsalam"


"Kak Bela udah baikan? Maaf ya kak baru dateng sekarang, soalnya baru tahu juga dari Zahra"ucapnya singkat.


"Alhamdulillah baik, Zahra mana? "tanya kak Bela.


"Ada diluar kak, katanya nggak mau masuk"


Deg!


Berarti dia datang kesini tapi tidak mau masuk. Apa ucapanku terlalu menyakitinya hingga dia takut untuk bertemu denganku? Kutatap kak Bela, mata sinisnya itu kambuh memandangku lekat seolah tak mau melepaskan.


Tak cukup kakakku yang melakukan itu, Laila juga menatap kearahku dengan tatapan yang sama. Hening suasana ini, hingga aku akhirnya angkat bicara.


"Kenapa sih kamu ngelihatinnya gitu? "

__ADS_1


tanyaku


"kamu ngapain Zahra kak? "


"Aku nggak ngapa-ngapain"


"kalau nggak ngapa-ngapain nggak mungkin Zahra sampai benci sama kakak "ujarnya.


Serasa mulutku dibungkam, tidak bisa mengucapkan kata kata. Zahra membenciku? Aku bersalah, dan seharusnya minta maaf. Tapi egoku mengatakan bahwa aku membencinya. Tuhan maafkan aku kembali melukai hambamu itu.


"Dia pantas mendapatkanya, lagi pula salahnya sendiri "ucapku tanpa berdosa.


Laila semakin melototkan matanya sembari bersikap dada.


"Astagfirullah kak, sadar ucapan kakak! Suatu saat kakak akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kakak sayang!"


Aku hanya mengacuhkan ucapannya, lagi-lagi mereka bilang aku akan menyesal di kemudian hari.


Aku membuka pintu kulihat sisi kanan pintu seseorang yang duduk dan sibuk mengotak atik ponselnya yang tak lain adalah Zahra.


Dia mendongak menatap kearahku, kantung mata yang menghitam, mata sembab dan bibir pucat menambah kesan rasa bersalah ku. Ada rasa sesal telah menyakiti dara polos itu, tapi apalah daya ketika emosi menguasai jiwa.


Ingin kurengkuh tubuh mungilnya itu, mendekapnya dalam pelukan, dan menyalurkan energi agar dia kuat menjalani. Tapi rasanya mustahil melakukan itu, rasa kebencian itu terlihat jelas di kedua matanya.


Sampai aku tak berniat untuk menyapanya. Setelah lama bertatapan, dia berdiri Mengambil tas dan melangkah pergi. Kutatap punggung yang kian menjauh itu, penuh dengan kesedihan.


'Percayalah Zah semua aku lakukan demi kebaikanmu, dan yakinlah bahwa aku juga mencintaimu'


Pov End.


Aku muak melihat wajah tanpa dosa itu. Tidak ada permintaan maaf atau apapun. Memang sepertinya dia benar-benar membenciku. Aku memutuskan untuk menunggu Laila di depan rumah sakit, sebenarnya ingin sekali melihat kondisi kak Bela tapi nanti aku dibentak karna melukai kak Bela.


"Ayo pulang "


Aku menoleh ke belakang, Laila tersenyum ke arahku seraya merangkulku.


"Lama!" Aku mencebikkan bibir.


"Jangan marah dong. nanti cantiknya ilang loh" Laila menatapku dengan tatapan menggoda.


"Apaan sih, nggak mempan," ujarku.


"Eh, tadi aku lihat kak Bela marahan sama kak Syarif kayak ada masalah gitu " Laila menatapku, aku mengangguk pasti masalah waktu itu.


"Kita pulang yuk, aku capek," ujarku.


Bukannya aku sombong tidak menjenguk kak Bela hari ini, hanya saja letih berhadapan dengan orang itu.


Meski tidak menjenguk aku doakan agar cepat sembuh dan kembali seperti semula. Bagaimanapun dia seperti ini juga karna ulahku. Hanya saja, bisakah dia mendengarkan penjelasanku dulu?


Ya Allah, jangan pertemukan lagi aku dengan dia.

__ADS_1


__ADS_2