Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 41


__ADS_3

Kalimat manis beberapa hari lalu membuatku semakin yakin memantapkan hati untuk berlabuh. Dia orang yang paling mengerti keadaanku, mengerti kapan aku butuh sandaran dan kapan aku terluka. Pertemuan mengagetkan dengan pria di masa lalu sempat terbayang dalam anganku. Hari ini hari ke empat aku berada di Jogja dan mungkin dua hari lagi aku akan kembali ke Bandung. Namun, ada hal baru yang menyita pandanganku. Hamzah sering keluar dengan alasan yang sama, ingin mencari udara segar. Aku jadi ingin mengetahui apa yang dia lakukan, karena setiap aku bertanya selalu di acuhkan.


Gema dari hentakan kaki mengusik ketenanganku menonton televisi. Pintu depan tertutup sangat keras, aku beranjak. Hamzah berdandan rapi dan tergesa-gesa melajukan mobilnya. Hal itu membuatku penasaran, aku menyambar tas yang ada di sofa dan mengikuti dia menggunakan ojek online. Perasaan ingin tahu semakin muncul melihat Hamzah yang berubah akhir-akhir ini.


Akhirnya mobil menepi di samping jalan, aku menyuruh berhenti ojek yang aku pesan. Hamzah segera masuk ke bangunan minimalis ini. Aku mengikutinya, dia memasuki ruangan melihat kesana kemari seperti sedang mencari seseorang. Dia melangkah ke salah satu meja menghampiri seorang wanita berjilbab ungu yang duduk sendirian. Karna aku penasaran aku memilih meja yang dekat dengan area itu untuk menjangkau dan mendengar apa yang mereka ucapkan. Memesan satu minuman sembari memegangi koran.


"Udah lama?" Wanita di hadapannya menggeleng, Hamzah tersenyum manis. Membuatku jadi berfikir seribu kali untuk melihat wajah gadis itu. "Kamu apa kabar?" Wanita itu bersuara sesekali menundukkan wajahnya.


"Alhamdulillah baik, semunya baik tanpa kamu." Aku mengerutkan dahi mencerna kalimat kaku dari Hamzah, sementara wanita itu terus menunduk.


"Aku udah putus sama Reza." Hamzah mendongak menatap wanita itu dengan khitmat tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Apa kamu masih mencintaiku?" Rasanya aku tidak percaya bahwa wanita itu sempat menjadi orang terpenting Hamzah. "Aku butuh jawaban, Zah!" Wanita itu sedikit membentak.


"Aku masih mencintaimu, Nadira." Aku tertegun mendengar ucapan Hamzah


Sungguh rasanya sangat sakit. Lelaki yang selalu menguatkan untuk selalu bertahan kini berkhianat. Mengucapkan seribu janji, memberikan harapan yang membuatku semakin pasti melangkah. Tapi apa, raganya bersamaku namun, hatinya bersama orang lain. Aku terlalu bodoh dalam hal percaya dan memafkan. Terlalu percaya hingga dia mematahkan kembali hati yang selama ini aku bangun. Jadi selama ini alasan dia pergi adalah menemui wanita yang sama dengan yang terlihat jelas di foto beberapa hari lalu.


Aku meninggalkan kafe, kembali ke penginapan untuk menenangkan diri. Cairan bening membasahi pipi, entah kenapa air mataku tidak bisa dikondisikan.


Alam pun tidak bersahabat denganku, seolah ikut merasakan kesedihanku. Titik-titik air mulai turun membasahi tubuh. Hujan deras mengguyur jalanan kota Jogja tanpa berhenti aku menerobos hujan, meski pakaian sudah basah kuyup yang ada difikiranku hanya satu, pulang.


"Dek kamu kok nangis ada apa?"


Tanpa menghiraukan ucapan kak Fahmi aku menyelonong masuk ke dalam kamar tak lupa menguncinya. Merebahkan tubuh di atas kasur membenamkan wajah diantara bantal. Meluapkan sedikit emosi yang terpendam. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan.


Air wudhu membasahi tubuhku, mengambil mukena di laci meja. Melaksanakan kewajiban sola asar yang belum aku tunaikan. "Ya Allah tolong bantu hamba melupakan Hamzah dan buat hamba jauh darinya."


Aku menautkan telapak tangan ke wajah. Menatap ke arah cermin mataku sedikit membengkak mungkin efek tangisanku.

__ADS_1


Mata ini sangat bengkak akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata. Kudengar rumah ini mulai sepi, suara-suara yang tadinya sangat membuatku risih dengan pertanyaan-pertanyaan sekarang sudah mulai tenang.


Satu tegukan berhasil lolos di tenggorokan di temani sepotong roti berselai. Suasana rumah sepi memungkinkan aku untuk lebih lama di dapur. "Nih, aku bawain martabak."


Aku menoleh sekilas, martabak manis itu tergeletak di meja tapi sayangnya aku tidak nafsu untuk memakannya, ataupun melihat orang yang berdiri dihadapanku ini.


Aku menggeloyor pergi meninggalkan Hamzah di dapur. Memang terkesan sombong namun itu salah satu usaha agar bisa menjauh darinya.


"Dek, makan dulu, " ucap kak Fahmi yang berada di meja makan. Mempersiapkan berbagai hidangan. Aku berfikir sejenak mungkin aku harus makan, lagipula menangis juga perlu tenaga.


Menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Menyuapkan sesendok nasi ke mulut dengan sedikit lauk. Perlahan semua orang mengerumuni meja makan, saling berebutan makanan satu sama lain. Aku hanya fokus pada piringku saja, tidak menghiraukan apa yang mereka katakan.


"Dek, kamu sakit? " Aku bergeming tanpa mengidahkan pertanyaan murah itu. "Dari tadi diam aja, padahal kalau liburan pasti paling antusias lah sekarang." Aku memutar bola mata malas, mereka sibuk mencerca. Namun, disini lah aku terluka.


"Iya, tadi aku lihat Zahra nangis, lagi ada masalah?"


"Tadi aku kasih martabak aja nggak mau."


"Kenapa, Dek?"


Aku menggebrak meja celotehan mereka membuatku jengah. Mereka hanya lbertanya tanpa tau apa kondisiku. Suara gebrakan meja menghentikan ucapan mereka, meski ini terkesan sangar tapi aku lelah dengan apa yang mereka lakukan.


Aku meninggalkan mereka yang mematung di meja makan. Mungkin terkejut akan apa yang aku lakukan aku tidak peduli. Membuka pintu kamar tanpa menguncinya. Merebahkan diri di kasur memegangi boneka kesukaanku untuk menghilangkan penatku. Mengambil gawai membuka aplikasi musik memilih salah satu lagu yang menurutku cocok.


'Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu'


Musik karangan Dewa 19 itu memang tepat untukku, aku ikut menyanyikannya meski suara serak aku tetap melanjutkan nyanyianku.

__ADS_1


'Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku...


Seluruh hatiku.'


Hiks, aku mengusap wajah gusar membenamkan wajah di antara lekukan tubuh boneka beruangku. Larik demi larik lagu aku hayati betapa sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Katanya dia akan menjadi garis terdepanku, menjaga disaat aku rapuh mana janji itu! Katanya dia merasakan perasaan yang sama, perasaan apa yang dimaksud? Apa seorang sahabat melukai sahabatnya masih bisa dibilang sahabat.


Tangisanku kian menjadi suaraku mulai meninggi. Tak peduli jika sampai mereka mengetahui aku menangis. Apakah ini rasanya kehilangan? Lebih tepatnya kehilangan cinta. Baru saja aku merasakan nyaman pada keadaan, tapi lagi lagi keadaan memaksaku untuk pergi. Apakah aku ditakdirkan untuk selalu disakiti? Bukan untuk disayangi.


Rengkuhan di bahuku memaksa untuk beralih ke pelukanya. Tangisanku belum mereda meski kini aku sudah berada di pelukan yang menenangkan. Saat ini aku hanya butuh perhatian, bukan omong kosong. Tanganya terulur menyentuh wajahku, memaksa untuk menatap matanya.


"Dek kamu kenapa nangis? Cerita sama kakak."


Aku mempererat pelukan tidak ingin membalas ucapan kak Fahmi. Aku menangis sesegukan dia mengusap lembut bahuku, seolah memberikan kekuatan untuk menguatkanku.


"Kakak tau kamu lagi ada masalah.Tapi jangan kayak gini, cerita sama yang lainya jangan kamu pendam sendiri." Aku mendongak menatap mata yang penuh keteduhan itu, aku menggeleng.


"Yaudah, kalau kamu ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan kakak," ujarnya mengusap lebut rambutku


Dia melepas pelukan, tapi aku malah mempererat tanganku yang mengait di pinggang. Dia membuaka kaitan tanganku, mengusap air mataku dan tersenyum.


Tangannya aku cekal ketika ia melangkah pergi, aku menggeleng dan dia berbalik seolah menanyakan aku kenapa.


"Cukup mereka yang pergi, kakak jangan."


Aku berdiri memeluknya menangis kembali di pelukanya. Memang terlihat sangat cengeng, tapi kali ini benar benar sakit.


"Yaudah kakak temenin tapi jangan sedih. Kasian tuh maskaranya luntur." Aku memukul pelan bahunya dibalas dengan kekehan kecil.

__ADS_1


Mencintai dan melupakan adalah dua perasaan yang bersinambungan menguatkan kita untuk melakukan sewajarnya. Baru saja aku akan memulai kepercayaan baru. Namun, takdir berkehendak lain untuk tidak mempercayai sebuah janji.


__ADS_2