Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 8


__ADS_3

"Bagaimana aku bisa menyakitimu sementara aku tak kuasa jika melihat air mata?"


Syarif Maulana


POV SYARIF


Mentari pagi telah menerobos masuk melalui celah-celah gordeng. Aku meregangkan otot-otot tangan yang terasa kaku.


Aku menyibak selimutku, kejadian tadi malam memang banyak menguras tenaga. Belum lagi kejadian lainya yang membuatku tak percaya akan terjadi sebelumnya. Sobekan kain dari hijabnya masih melekat indah ditanganku.


Aku tidak menyangka kebaikan yang dilakukan, padahal selama ini aku selalu bersikap dingin dan mengacuhkanya. Tapi melihatnya khawatir membuatku sedikit lega, apa aku harus merubah sikapku? Ah tidak, aku lupa akan misiku.


Aku membersihkan diri karna kegiatan tadi malam membuat badanku gerah. Namun kain yang melekat di tanganku belum ku lepas, karna akan sakit bila luka itu terkena air.


Selepas aku mandi aku beranjak ke halaman depan. Menghirup udara segar dan menjernihkan fikiranku. Perlahan rasa sakit itu terasa mungkin karna goresan pisau itu terlalu dalam.


"Syarif "


aku menoleh kak Bela membawa sebuah kotak.


"Kenapa kak? "tanyaku.


Dia segera mengambil alih tangan kananku. Membuka perlahan kain yang membungkus di tanganku. Sakit.

__ADS_1


"Ini kain apa Rif? Kok kayak bahan jilbab gitu? " tanya kak Bela.


"Itu sobekan hijabnya Zahra kak, Ketika melihat lukaku dia langsung menyobek hijabnya dan langsung melilitkan ke tanganku, "ucapku.


Kak Bela sedikit terkejut menghela nafas panjang dan melanjutkan aksinya. Mengoleskan cairan pembersih luka di sekitar tanganku ,memberinya obat merah dan mengganti kain dengan perban.


"Setelah melihat kebaikan Zahra apa kamu masih ingin balas dendam? "tanya kak Bela, aku menautkan alis, balas dendam?


"Balas dendam, maksudnya? "tanyaku.


"Tempo hari aku mendengar pembicaraanmu dengan Hamid, terlihat sekali bahwa kamu ingin membalas perbuatan Zahra tiga tahun silam.


Rif bukanya kakak membela Zahra tapi kamu tahu kan alasanya kenapa Zahra melakukan itu? Karna sahabat Zahra juga menyukai Hamid. Apa tidak akan pecah belah persahabatan antara Zahra dan temanya jika Zahra menerima Hamid? "


kata kak Bela sekarang aku mengerti arah pembicaraanya.


"Sudahlah, oh iya kenapa kemarin bisa kejadian seperti itu? "tanya kak Bela mengubah topik pembicaraan.


"Sebelum kejadian itu aku pernah melihat Imron memasukkan sebagian uang ke dalam tasnya yang ku curigai adalah uang karang taruna. Aku langsung memergokinya terlihat raut wajah gelisah, melihatnya semakin memperkuat dugaanku. Dengan bodohnya aku menuduhnya dan sempat menyebut nama Zahra saat itu, " aku menghela nafas sebentar.


"Terus kemarin itu ketika aku menuju gedung karang taruna aku mendengar suara teriakan dari dalam. Aku terkejut ketika Imron ingin melayangkan pisaunya ke arah Zahra" Aku berhenti sejenak.


"Terus baaimana kelanjutanya? "tanya kak Bela

__ADS_1


"Aku sempat menghadangnya sialnya tanganku tergores oleh pisau yang dipegang Imron. Aku kira aku sudah mati saat itu,tapi nyatanya Zahra menyelamatkanku, "kataku


"lanjutkan, "kata kak Bela


"Zahra memukulnya dengan balok namun Imron tidak goyah, malah berbalik menghujamkan pisau ke arah Zahra. Mendengar ada yang meneriaki namaku aku langsung bangkit dan memukul Imron hingga pingsan"


Diakhir cerita aku menghela nafas. Entah kenapa mataku menjadi berembun.


"Beruntung rif kamu masih diberi keselamatan, Dan berterimakasih lah pada Zahra dia mencoba menyelamatkan nyawamu meski usahanya sia-sia"


Aku menatapnya sekilas berfikir sejenak tentang apa yang ia katakan. Apa aku harus melakukanya?


"Dia juga malah mengkhawatirkan kondisiku, sementara tanganya terluka. Malah tersenyum dan menayakan kondisiku. Hah, benar-benar egois, "kataku.


"Itu bukan egois tapi peduli. Kamu tidak bisa membedakan mana egois mana peduli? " tanya kak Bela


"Dia egois dengan orang lain tidak memperhatikan kondisi diri sendiri, bagaimana akan menghargai orang lain jika dia tidak bisa menghargai diri sendiri?" ungkapku.


"Dia hanya peduli, kalau dia tidak peduli mana mungkin menyelamatkanmu? Pasti dia sudah membiarkan Imron membunuhmu Syarif! "


Aku berfikir sejenak, kata-kata kak Bela ada benarnya juga.


Dia melangkah pergi aku setia duduk di teras rumah. Memikirkan perkataan kak Bela barusan, apa aku terlalu egois? Egois tentang perasaanku?

__ADS_1


Bayangan wajah khawatir dan kejadian pelukan itu kembali terlintas dibenakku. Pasalnya baru kali ini dia bersikap peduli padaku, apa hanya aku yang tidak merasa? Ah, entahlah.


Kulirik jam arloji yang menempel di pergelangan tanganku. Pukul dua tepat aku akan kembali ke jogja, karna harus menyelesaikan tugas baru. Masih ada beberapa jam lagi untuk menikmati kota ini. Meski tanganku masih sedikit sakit, tapi aku harus berangkat hari ini juga.


__ADS_2