Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 39.


__ADS_3

Hidup adalah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk menemukan titik bahagia dan derita. Berjuang untuk bisa menarik dua titik di bibir kita atau justru berjuang untuk meneteskan bulir bening di pelupuk mata.


Meneguk setiap tetesan jus jeruk kesukaanku. Suasananya sangat mendukung sedikit kurang cahaya menambah rasa damai bersamaan dengan angin yang berhembus menggoyangkan daun daun hingga akhirnga jatuh ke tanah.


Aku terus saja menatapnya tidak mau melewatkan momen indah ini. Ada yang aneh dengan sikap Hamzah akhir-akhir ini. Dia sering keluar rumah setiap pagi ataupun menjelang sore. Ketika aku bertanya tidak pernah ia jawab. Sikap yang semula romantis, kini berubah. Namun, aku tidak terlalu memikirkan hal itu, yang aku pikirkan kalau dia ada urusan penting jadi tidak sempat menjawab.


"Ra, kamu mau ikut nggak?" Hamzah mengetuk pelan meja membuatku mendongak. Pancaran sinar dari wajahnya membuatku takjub. Dia selalu memberikan aura menarik untuk terus di telusuri. "Kemana?"


"Pokoknya ke suatu tempat nggak rugi deh kalo kesana." Aku langsung beranjak dari kursi menyambar tas yang tergantung di kamar.


Menaiki motor berdua layaknya sepasang kekasih menjalani hari hari dengan pasti. Melalui semua rintangan dengan genggaman tangan melangkah seraya tersenyum melihat semesta yang menyaksikanya. Tapi disini aku hanya seorang sahabat, sahabat yang memiliki sedikit rasa, meski rasa itu telah datang dengan tiba-tiba.


"Apa kamu tahu sejarah bangunan ini?" Aku menggeleng melihat bangunan bercat putih itu. Hamzah mengacak-acak hijabku pelan.


"Benteng Vredeburgh. Benteng yang pertama kali di bangun oleh Sri Sultan Hameng kubuwono 1 atas permintaan Belanda." Tatapanku tidak kualihkan. Menatap wajah seriusnya yang menjelaskan soal bangunan ini.


"Maksud bangunan di bangun untuk menjaga keamanan keraton dan sekitarnya." Aku mengangguk sesekali tersenyum saat menatap wajahnya.


"Rupanya, Pak Hamzah berbakat dalam hal sejarah." Dia menaik turunkan alisnya beralih menatap bangunan yang kokoh berdiri di hadapannya. "Aku bukan bapakmu, nggak usah manggil pak." Bibirnya mengerucut membuatku gemas untuk menjahilinya.


Kami melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran kota. Kendaraan yang berlalu lalang membuat sedikit keriuhan banyak warga negara asing yang mengunjungi tempat ini. Apalagi terkenal dengan pasarnya 'Malioboro'. Berjalan beriringan sempat aku melihat senyuman terbit indah di wajahnya. Aku sangat bersyukur bisa bahagia lagi saat ini.


"Aku beli minum dulu ya, kamu tunggu sini." Aku mengangguk memilih kursi yang terjajar rapi di sepanjang jalan.


Aku memilih kursi yang tak jauh dari tempatku berdiri. Memandangi jalanan kota yang mulai mereda suara kebisinganya lampu jalan menyala namun belum sepenuhnya. Mengambil handphone dan berseluncur di dunia maya.


"Permisi."


Aku mendongak. Perasaan sakit yang awalnya mulai redup kini hadir kembali. Senyuman yang sudah bisa singgah di bibirku kini mendadak pudar lagi. Ada dua perasaan yang di rasakan, senang karena orang yang aku kagumi datang. Tapi dibalik itu semua, ada perasaan benci, kecewa, karena kejadian beberapa tahun silam.


Segera ku alihkan wajahku dari tatapanya memilih untuk melihat handphone yang lebih menarik dari wajah polos yang menghanyutkan itu. Meski meneduhkan tapi nyatanya memiliki hal yang begitu menyakitkan. Jika aku tidak punya rasa malu, mungkin sudah aku tampar wajah tanpa dosa itu.


Aku tidak berniat untuk menegurnya atau menyapanya, karna aku tahu sebanyak apapun usaha tidak akan pernah ada hasilnya. Kurasakan getaran pada kursi yang sedang kududuki menoleh sekilas dia tengah bersandar di kursi dan tepatnya disebelahku.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini?" Ingin sekali aku mencakar wajah tidak berdosanya itu."Duduk."


"Aku kuliah disini."


Sejak kapan aku bertanya. Tiba-tiba dia langsung menjawab pertanyaan yang tidak aku lontarkan. Mungkin dia tahu isi hatiku yang menanyakan keberadaannya. Aku sempat berfikir kalau dia kembali akan meminta maaf, tapi nyatanya ilusi dia tidak pernah menyadari hal itu. Aku saja yang terlalu berharap.


"Untuk apa kamu duduk bersebelahan dengan wanita murahan sepertiku?" Dia menatapku sendu, tapi menyiratkan beribu makna. "Aku wanita murahan."


"Aku wanita licik." Dengan mengatakan seperti itu masih membuat dia tidak berkutik, diam tanpa memberi jawaban.


"Wanita yang selalu menyakiti hati orang lain, tidak pantas jika disandingkan dengan pria baik sepertimu. Terlalu rendahan untuk memiliki siapapun." Dia masih saja bergeming.


Rasa kecewa, sedih, benci bercampur jadi satu. Di sebrang jalan ada yang ingin menyebarang untung Hamzah datang disaat yang tepat. Aku mengambil tas yang berada di sampingku, memasukkan handphone ke dalamnya. Mengangkat tubuh dan meninggalkan pria asing itu.


"Assalamualaikum." Aku seraya melangkah pergi tanpa ada jawaban salamku, memang telinganya itu lagi ditutupi.


Aku menghampiri Hamzah dia membawa minuman coklat dingin dan sedikit cemilan. Dia memberikanya padaku, aku menerima dengan senang hati. Jika aku masih ditempat ini kemungkinan akan bertemu dengan orang itu lagi. Orang yang selama ini melambungkan aku jauh ke awan dengan sekejap ia menjatuhkan tanpa rasa bersalah.


Langkah kakiku menemukan tujuannya yaitu tempat paling nyaman ketika perasaan kacau, balkon rumah. Memilih duduk di sofa panjang berwarna coklat itu. Aku menatap nanar pada matahari yang akan tenggelam. Dia seperti matahari datang memberi harapan dan pergi tanpa kabar lalu kembali lagi menaruh harapan yang lebih besar.


"Ra kamu ngggak papa?" Aku menggeleng dan menunduk. "Tadi aku lihat kamu bicara sama laki-laki siapa?"


Aku menoleh sekilas, apa aku harus memberitahunya. Namun, bukan saatnya aku membuka prifasi yang sudah aku jaga. "Aku nggak kenal, " ujarku menatap kedepan.


"Kamu kalau ada masalah selesain baik-baik, jangan lari dari kenyataan, Ra. Barangkali aku bisa bantuin kamu." Aku menoleh melihat binar di matanya seakan membujukku untuk bercerita. Aku menggeleng. "Apa dia begitu menyakitkan sampai tidak ada pembicaraan walau duduk berdekatan?"


Aku tersenyum miring."Bagaimana kamu bisa menyimpulkan kalau dia begitu menyakitkan?" tanyaku.


"Mata, dari mata. Aku bisa mengetahui masalah apapun dari mata kamu karena mata tidak bisa berbohong."


Aku mendengus. Disaat seperti inilah pria bermata teduh ini selalu memberikanku semangat. Mungkin jika aku tanpa dia, akan seperti bidadari yang kehilangan satu sayapnya. Meski kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya, tetap saja yang namanya luka tetaplah luka. Sebelum mendengar penjelasan dia terus menuduhku tanpa jeda. Dan waktu itulah aku mengetahui betapa tidak berarti hidupku dalam kebahgiaannya.


"Kalau kamu butuh sandaran bahuku siap menerimanya." Aku mengusap air mata kasar, menoleh kearahnya. Sesungging senyuman ia layangkan seakan memberi semangat untuk terus bertahan. Aku beralih dia sedikit mendekat aku menyandarkan kepalaku pada bahunya.

__ADS_1


"Aku wanita murahan, Zah." Dia mengernyitkan dahi. "Siapa yang bicara seperti itu?" Aku menggeleng.


"Semua orang punya masa lalu. Jadi jangan menganggap kamu sendiri di sini." Aku menyungging senyum merasa aman bila berada dekat pria bermata teduh itu.


"Jika aku di hadapkan kembali dengan masa lalu, mungkin aku melakukan hal yang sama sepertimu atau mungkin ...." Dia menggantung ucapan yang membuatku penasaran. "Atau sebaliknya?" Sergahku cepat. Dia hanya mengangguk.


"Hidup bukan hanya soal cinta, ada sesuatu yang lebih berharga keluarga, sahabat, dan cita-cita. Raih apapun yang kamu inginkan soal cinta akan datang pada waktunya."


Aku telah menaruh rasa percaya pada pria ini. Memberikan segenap cinta yang masih tersirat dalam hati. "Apa kamu akan sama seperti dia? Meninggalkanku ketika kamu menemukan hal baru? " Aku sedikit mendongak menatap wajahnya.


"Aku sahabatmu, apapun kondisinya aku akan selalu ada untukmu. Memastikan kamu bahagia adalah harapanku. Aku sahabatmu, dan aku akan menjadi garis terdepanmu jika kamu butuh sandaran dan perlindungan aku akan setia membantu."


Senyuman miliknya sekejap mengubah derita menjadi bahagia. Tutur bahasa yang lembut serta perlakuan yang romantis membuatku terlena dalam buai bisa. Menaruh harapan yang besar tanpa takut di patahkan. "Apa kamu janji?"


"Untuk itu aku belum bisa memastikanya, karna semua akan berubah seiring berjalanya waktu." Aku langsung kecewa pada jawabanya, aku kira dia akan berjanji.


"Terus apa gunanya kamu mengatakan bahwa kamu akan menjadi garis terdepanku bila kamu tidak berjanji padaku?" sangkalku.


Dia mengusap sedikit kepalaku, tersenyum penuh arti tanpa tahu isi hatinya. "Semuanya tergantung kamu percaya atau tidak. Kalau kamu percaya kamu tidak akan pernah meragukan kata-kataku tadi."


Aku terdiam, saling beradu argumen masing masing. Perkataan Hamzah seakan menjadi peringatan, entah kenapa ucapanya itu seakan memberikan harapan kepadaku atau aku hanya berkhayal?


Sejenak aku pandangi rembulan yang kian menerangi, membentuk melekuk seperti bulan sabit. Cahayanya begitu menerangi memberikan sebuah kehangatan. Masih setia kepala bertengger di bahunya membuat suasana berubah menjadi nyaman aku semakin lengket tidak ingin lepas dari sandaran empukku itu.


"Apa aku harus jadi rembulan agar kamu menganggap keberadaanku?" Aku bangkit dari sandaran meminta jawaban keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian menyandarkan kepala lagi dalam bahunya.


"Kamu tidak perlu menjadi rembulan. Aku sudah menyadari keberadaanmu, entah aku sadar atau tidak aku merasakan kehadiranmu, merasakan kebahagiaan saat di dekatmu, dan ... aku juga merasakan perasaan itu."


Seolah telingaku memanas, otakku berfikir keras untuk mencerna perkataan itu. Aku beranjak dari sandaranku menatap intens dan menelusuri setiap inci wajahnya mencari jawaban dari apa yang barusan ia kemukakan.


"Woy, kalau mau pacaran besok aja udah malem!"


Suara cempreng itu membuatku menoleh, sejak kapan kak Fahmi berada di situ. Aku memutar bola malas mengangggu konsentrasiku saat ingin mencerna sesuatu.

__ADS_1


"Kalau kamu ingin berlama-lama bersandar di bahuku, tunggu aku menghalalkanmu," bisiknya.


Seketika tubuhku menegang ketika mendengar bisikan lembut di telingaku. Jantungku rasanya mau copot, dia melangkah pergi dan meninggalkanku mematung ditempat. Apa aku tadi cuma bermimpi? Pikiran tentang ucapan misterius itu terus membayangi diri sulit memahami apa yang barusan terjadi.


__ADS_2