
"Tuhan tidak pernah salah memberiku seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya"
.
Tanganku bergemetar ketika memasuki ruang penentuan hidupku itu. Menempatkan diri pada posisi dan berdoa sebelum mengerjakan soal ujian. Peluh membasahi tubuh meski ruangan ber-AC tetap saja keringat mengalir dengan begitunya.
Aku menormalkan pemikiranku, kalau begini aku tidak akan bisa mengerjakan soal dengan benar. Apa yang aku pelajari dengan soal yang muncul saat ujian begitu berbeda, namun aku tetap berusaha untuk bisa menaklukkanya.
Ujian nasional berlangsung selama empat hari. Aku menjalaninya dengan iklas, sempat ingin mengeluh namun selalu di semangati oleh keluargaku. Sehingga semangatku membara untuk bisa membanggakannya.
Dua jam pun berlalu. Aku menghela nafas lega. Akhirnya ujian telah selesai tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Aku tersenyum lebar untuk menyambut dunia baru setelah lulus dari sekolah. Membayangkan betapa bahagiannya hidup dengan bebas.
Keluar dari ruangan dengan perasaan bangga. Berharap ujian terakhir ku bisa mendapatkan nilai yang baik. Bukan semata-mata untuk kebaikanku namun untuk kebahagiaan orang tuaku. Selama ini aku hanya menyusahkannya dan sekarang aku ingin membahagiakan lewat prestasi.
"Tadi soalnya susah ya, Ra ?" Aku menoleh ke arah Dara yang berjalan di sampingku.
"Iya, aku sampai keringetan ngerjainnya," ujarku.
"Hey, guys." Rangkulan di pundak membuat aku menoleh. Laila dengan senangnya menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kenapa kamu La? Kayaknya seneng banget," tanya Dara.
"Enggak kok, cuman seneng karna ujian kita udah selesai," ujarnya. Namun ekspresinya berubah menjadi lesu. "Tapi kita pisah," sambungnya lagi.
"Memang semuanya nggak ada yang abadi la. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Jadi kita tidak usah khawatir, kalau ada waktu kita kan bisa reunian ya nggak, Dar?" ucapku.
"Iya la. Aku juga nggak akan lupain sikap kamu yang bawel ini, Laila Widyasari," ucap Dara sembari menoel pipi Laila.
"Tapi tetep pengen bareng nggak mau pisah," ujar Laila dengan nada merengek.
"Mendingan kita jalan dari pada sedih-sedihan disini," Siska datang dan langsung merangkul Laila.
"Ide bagus tuh," Ujarku.
"Gimana kalau kita ke toko buku, katanya ada novel baru loh," Siska menimpali.
"Menarik tuh, sekalian refresing," Dara menimpali.
"Yuk berangkat, kita naik mobil aku,"ucap Siska.
"Oke," ucap Laila antusias.
Aku memutuskan untuk ikut bersama teman-temanku. Katanya ada novel terbaru hari ini. 'Frozen and Frog' Judul novel yang aku idam-idamkan saat ini. Perasaan lega dan bahagia aku rasakan. Bisa melewati segala ujian untuk bisa lulus dari sekolah dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Mobil membelah jalanan kota menikmati cuaca panas yang mulai menusuk tubuh. Senyumku mengembang akhirnya aku bisa melepaskan dengan iklas. Meski sempat sakit tapi kali ini tidak melupakan seseorang menggunakan seseorang.
Pintu besar menyambutku untuk segera menghampiri jajaran novel terkenal. Aku melangkah ke sudut ruangan mencari buku fiksi kesukaanku. Biasanya cerita tentang petualangan atau tentang kartun paling aku sukai. Kurang suka dengan novel romantis, tapi sering bucin.
Mataku terus menatap novel dari atas rak sampai bawah. Mencari salah satu buku dari banyaknya buku yang baru di koleksi. Tanganku terulur menyentuh jajaran novel namun terhenti ketika menemukan novel yang aku inginkan.
Tangan besar itu bersentuhan dengan tanganku ketika aku memegang novel yang telah aku temukan. Dengan gerakan cepat aku menoleh ke samping.
Pria bertubuh tinggi semampai, berkulit putih, hidung yang mancung serta rambut yang disisir ke samping menambah kadar ketampanan nya. Dengan setelan kemeja hitam kotak-kotak dan celana jeans di padukan dengan sneakers berwarna putih semakin mendukung penampilannya. Aku menatapnya datar begitupun sebaliknya dengan tangan masih berpegangan.
"Kakak, Ara mau buku itu."
Suara anak kecil memecahkan lamunanku. Pegangan tangan langsung aku lepaskan. Memandang ke arah anak kecil yang berusia 7 tahun itu yang sedari tadi menarik-narik baju pria itu.
"Maaf mbak, boleh saya ambil bukunya?"
Aku menatap pria itu dan beralih menatap buku yang berada di tanganku. Buku yang aku cari selama ini tapi harus semudah itu memberikannya pada orang lain. 'Frozen and Frog' judul buku yang aku bicarakan. Sebenarnya berat untuk memberikannya pada orang itu.
"Maaf ya mas, saya sudah mengambilnya duluan," ujarku.
Pria itu menatapku seraya tersenyum kemudian berjongkok mensejajarkan tubuh dengan anak kecil itu.
"Buku nya udah diambil, kita cari yang lain ya?"
__ADS_1
Pria itu menatap anak kecil yang mengerucutkan bibir itu. Matanya berembun kemudian memukul pelan bahu pria yang duduk di depannya.
"Ara nggak mau tahu, pokoknya mau buku itu! Hiks, hiks."
Tangisnya kian menjadi sempat ingin di peluk tapi selalu di hindari. Kakinya di hentak-hentakkan ke lantai sembari memukuli bahu pria itu. Aku menjadi sedih melihatnya, betapa anak itu menginginkan buku yang aku pegang. Tapi disisi lain aku juga tidak rela memberikannya.
"Kalau begitu ambil saja mas, saya iklas," ujarku. Pria itu tersenyum ke arahku.
"Sudah tidak apa buat mbak saja," jawabnya.
Tangisnya semakin mengencang. Anak kecil itu duduk sembari memukul pelan lantai. Pria itu mengusap punggungnya dan berusaha membujuknya.
"Udah Ara jangan nangis, nanti kita beli ice cream ya?"
"Nggak mau, pokoknya mau itu! Kakak jahat!"
Aku melihat anak kecil yang menangis itu membuatku sedih. Perasaan bingung menggeluti pikiranku harus egois atau mementingkan kepentingan orang lain.
"Adek mau ini?" Aku berjongkok di depannya sembari menunjukkan buku yang aku pegang. Anak itu mengusap air matanya dan mengangguk pelan. Aku mengusap lembut rambutnya sembari tersenyum.
"Yaudah, nih bukunya buat adek," ujarku memberikan buku itu.
Dengan antusias dia mengambilnya berdiri dan memelukku dari samping. Aku terkejut gerakan tiba-tiba yang tidak pernah aku duga sebelumnya padahal tidak saling kenal. Dia melepaskan pelukan menatapku bahagia dan mengecup pelan pipi kananku. Ada getaran aneh seolah anak ini memiliki ikatan batin denganku.
"Kakak cantik namanya siapa?"
Dia menatapku sembari mengusap ingus yang masih mengalir di sana. Tersenyum kecil ketika ingusnya tidak berhenti keluar.
"Nama kakak Zahra, kalau adek imut ini namanya siapa?"
Aku mencubif pipi tembam anak itu. Gemas rasanya pipinya yang menggembung ketika menangis membuatku tak segan untuk mencubit pipinya, seakan sudah akrab dan kenal baik dengan dia.
"Namaku Ara, sakit kak pipiku." Dia mengerucutkan bibir semakin menambah gemas saja.
"Maafin kakak ya?" Aku mengelus pelan pipi anak itu namun dia malah membuang muka, melipat kedua tangannya di atas dada sembari menatapku tajam.
"Kakaknya sibuk dek, nanti beli ice cream sama kakak aja ya?" Pria itu mengambil alih anak kecil itu dan menggendongnya.
Aku berdiri dari tumpuanku menatap ke arah pria asing itu.
"Terimakasih ya mbak " Aku mengangguk.
Dia langsung menghilang dari pandanganku. Menuju ke arah kasir untuk membayar buku pilihannya. Bahkan sebelum berkenalan dia sudah pergi duluan. Tapi melihat anak itu membuatku gemas, pengen di bawa pulang.
Aku melangkah ke rak selanjutnya. Dimana semua novel berisikan kisah romantis yang menggelitik hati. Siska juga berada di sudut itu sembari membaca buku yang di pegangnya.
"Serius amat "
Siska menoleh ke arahku sembari tersenyum kecil. Aku mendekatinya dan membalikkan buku mencari judul buku yang di baca. 'Cintaku hanya untukmu' aku tersenyum kecil ketika melihat judul buku itu.
"Pantesan bucin yang dibaca kisah cinta," Aku tertawa melihatnya.
"Biarin lah, daripada kamu sukanya kartun," timpalnya.
"Ada satu di rumah yang bukan kartun," ujarku.
"Sekali-kali baca nih novel romantis di jamin baper" Siska mengambil buku dari raj meja dan menyerahkan kepadaku.
Aku membuka halaman pertama, langsung di sambut dengan kata-kata bucin. Bisa mewek nih, kalau baca.
"Baca jangan lupa," Siska menatapku serta mengedipkan sebelah matanya.
Akhirnya aku menerima menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Semua sudah memegang novel masing-masing. Kemudian menuju mobil melesat menuju rumah masing-masing.
Mobil tiba di rumahku aku menutup pintu mobil seraya melambaikan tangan pada Siska. Tanpa kata aku melangkah menuju pintu rumah. Namun sebuah mobil hitam beremerk mahal yang terparkir di halaman rumah membuatku berfikir. Tanpa ragu aku memasuki rumah.
"Assalamualaikum"
__ADS_1
Melangkahkan kaki melewati pintu mengedarkan pandangan ke penjuru arah. Namun di ruang tamu lelaki dan wanita paruh baya sedang duduk manis bersama ibuku. Mungkin mobil yang terparkir di halaman itu adalah milik mereka.
"Sini, Nak " Aku melangkah menuju sofa menurut lambaian tangan bunda. Tersenyum ke arah mereka berdua.
"Kenalin ini tante Desi sama om Cahyo sahabat bunda," ujar bunda.
Aku menyalami secara takzim kedua tangan sahabat bunda itu. Di balas usapan lembut di kepala.
"Cantiknya, siapa namanya?" ujar tante Desi.
"Zahra tante," ujarku.
"Masih sekolah?" tanyannya.
"Baru selesai ujian tante, rencananya mau kuliah setelah lulus," ujarku.
"Udah punya pacar belum nih, kalau belum bisa dong kenalan sama anak tante," ujarnya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan tante Desi. Ini maksudnya di comblangin?
"Gimana kalau kita makan malam bareng hari ini, di kafe biasanya," Tante Desi menatap bunda.
"Boleh tuh, sekalian kita reunian," ujar bunda.
"Kamu dateng ya Zahra," ujarnya.
"Aku usahain ya tante," jawabku.
Setelah ajalan makan malam tante Desi dan om Cahyo meninggalkan rumah. Bunda mengantarkan sampai pintu begitu juga denganku.
"Nanti malam dandan yang cantik ya, anaknya tante Desi ganteng loh," ucap bunda dengan tatapan menggoda.
"Apaan sih, Bund," ujarku malu-malu.
Menaiki tangga meletakkan tas ke sembarang tempat. Membuka novel yang tadi aku beli dari toko buku. "Takdir tuhan' judul buku yang aku pegang saat ini. Membaca perlahan baris per baris kata dalam novel dan mengahayati dengan dalam.
Hiks, hiks.
Air mataku tidak bisa tertahan ketika melihat ending yang begitu menyesakkan. Akhirnya tokoh utama dalam novel meninggal karna telah menyelamatkan kekasihnya yang kecelakaan. Aku mengusap ingus yang ikut mengalir, begini nih kalau baca novel romantis.
***
Mengenakan baju selutut bermotif bunga serta celana longgar berwarna gelap melekat di tubuhku. Jilbab pasmina coklat juga aku padupadankan dengan setelan bajuku, memoles sedikit make up agar terlihat cantik. Membawa tas berukuran kecil serta sepatu berwarna putih menambah kesan keindahan. Aku menatap ke cermin dandanan ku ini seperti akan kencan saja.
Aku menuruni anak tangga melihat ke arah ruang tamu yang sudah lengkap. Ayah, bunda, dan kak Fahmi juga terlihat menawan dengan busana yang ia kenakan.
"Aduh cantiknya adek kakak " Kak Fahmi merangkul pundakku sembari mengerling nakal, aku segera melepas rangkulannya.
"Yuk berangkat," Ayah melangakah ke depan diikuti dengan bunda dan aku.
Membelah jalanan kota yang memancarkan sinar sedikit temaram seakan menyibukkan pandanganku. Lampu-lampu di jalanan bercahaya dengan indahnya. Tidak butuh waktu lama kita sampai di kafe yang di sharelock oleh tante Desi.
Tante Desi tengah duduk di meja paling kanan bersama suaminya. Bunda segera menuju ke arahnya menyapa dan juga melakukan ritual biasanya.
"Zahra cantik banget " Tante Desi membalikkan tubuhku.
"Makasih tante," ujarku.
"Sini duduk," ujarnya.
Aku menempatkan posisi di sebelahnya sesuai dengan permintaan.
"Anak kamu mana, Jeng? Kok nggak kelihatan?" Bunda celingukan melihat ke segala arah.
"Katanya mau di rumah aja. Tahu sendiri kan masuk universitas itu seleksinya ketat, jadinya cuma berkutat dengan buku deh. Padahal ada cewek cantik disini " Tante Desi menatapku seraya tersenyum.
Acara makan-makan pun berlangsung, setelah di rasa cukup semua memisah pulang ke rumah masing-masing begitupun denganku .
__ADS_1