
Aruna mengejar Narayan yang saat itu masih saja terus berjalan tanpa memperdulikan Bianca yang tengah pura-pura pingsan itu.
Setelah berhasil menyamakan langkah kaki bos nya. Pak Nara langsung melirik Aruna, lalu kembali berjalan lagi.
"Bapak, ih itu tadi pacarnya kasihan, tantrum lhoo," ucap Aruna. Narayan mengerutkan dahinya. Tatrum itu diperuntukan untuk balita, Aruna memang demen sekali bercanda.
"Biarin saja, itu cuma pura-pura Aruna," celetuk Narayan. Ia kini memelankan langkahnya karena melihat Aruna sudah terengah-engah mengimbangi langkanya.
"Ih kalau meninggoy beneran gimana, bapak ih," ucap Aruna. Narayan melirik Aruna.
"Dah lah, sudah mati juga difikiran saya."
Aruna menutup mulutnya menggunakan jemarinya, "Sadisnya bapak."
"Terus saya mesti gimana Aruna, dia cuma pura-pura drama Queen dia mah, sial, bisa-bisanya ketemu di sini," cerocos Narayan.
"Ya ya, buaya cap kuda mah bebas yah."
"Run, dia juga buaya betina, cap apa yah, cap duid."
Aruna melongo, "Hah buaya betina gimana, baru denger ih."
"Buaya itu nggak cuma laki-laki doang Aruna, kamu terlalu polos, wanita juga ada. Kamu mau tau ciri-ciri buaya betina?" Aruna mengangguk, masih dengan rasa penasarannya.
"Nih suara buaya betina tuh begini, Nara, tambah ganteng aja, taunya mau minta duit. Itu cuma temen aku doang Nara, eh taunya temen tidur. Aku bakal setia susah seneng sama kamu Nara, nanti aku bilang nggak punya duit, eh pada menjauh semua, hilang ditelan bumi. Itu tadi modelan Bianca salah satunya." Aruna kini malah tergelak, ternyata ada juga yah modelan buaya wanita. Ah ternyata seluas itu dunia perhabitatan buaya.
"Saya baru faham begituan pak."
"Ya makanya sekali-kali mainnya agak jauhan dong Run, jangan alun-alun lagi, taman bermain lagi, coba sekali-kali main sama saya."
"Ogah..." Aruna berjalan menuju kamar nya. Sementara bos sengkleknya malah tertawa.
__ADS_1
"Jangan lupa jam 3 sore kita kerja Run, istirahat dulu," teriak Narayan. Aruna mengacungkan jari jempolnya ke atas.
☘️☘️☘️
"Deal," ucap Narayan dan Mr. Andre. Sore itu keduanya langsung mendatangani kerjasama antara perusahaan milik Narayan dan Mr Andre.
Aruna tersenyum senang, itu artinya pekerjaannya di Bali sudah selesai, Aruna kira akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa sampai terjadi kesepakatan, tapi bosnya yang cerdas itu bisa begitu cepat meyakinkan Mr Andre. Yah seperti secepat kilat meyakinkan wanita-wanitanya.🤭
Selesai melakukan tanda tangan kontrak, mereka lalu makan bersama terlebih dahulu. Saat sedang makan ponsel Aruna berdering. Aruna melihat ada panggilan masuk dari Mbak Hanin. Mbak Hanin pasti penasaran dengan bagaimana pekerjaan kita di Bali. Aruna permisi terlebih dahulu untuk menerima telfon dari mbak Hanin. Aruna berjalan menjauh dari meja makan.
Assalamualaikum mbak.
Waalaikumsallam, bagaimana kerjaan hari ini Na?
Alhamdulillah mbak, sudah deal.
Syukurlah, kalian mau langsung pulang apa menginap beberapa hari dulu di sana?
Oh, oke, oh ya Run, tolong yah jagain Nara, dia nggak bisa lhoo kena angin laut terlalu lama, nanti sakit.
Iya Mbak, nanti saya ingatkan pak Nara.
Oke, makasih ya Run.
Iya Mbak sama-sama.
Ya sudah, assalamualaikum.
Waalaikumsallam.
Aruna meletakan ponselnya kembali ke dalam saku rok nya. Setelah itu ia kembali ke meja makan.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Malam harinya Narayan mengajak Aruna untuk melihat sekeliling pantai, ia ingin menunjukan pada Aruna jika suasane di resortnya itu jika malam sangatlah indah. Aruna pun mau saja di ajak Narayan.
Benar kata Narayan indah sunyi sepi. Ah tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
"Romantis ya Run, sayangnya kita bukan pasangan," Celetuk Narayan sambil berjalan sambil menatap Aruna juga dong tentunya.
"Memangnya harus yah suasana romantis itu dirasakan hanya dengan pasangan?" tanya Aruna. Aruna juga tiba-tiba melirik ke arah Narayan. Manik mata mereka saling bertemu. Aduh, tatapan pak Nara membuat Aruna lupa bernafas. Eh, sesak nafas. Ah apa ini.
"Run ..."
"Hemm..."
"Kalau saya bilang, saya sebenarnya cinta kamu, kamu percaya nggak?" Aruna menghentikan langkahnya. Aruna malah tertawa, bukannya malah deg-degan, Aruna malah tertawa gaes. Sableng memang.
"Ya jelas nggak percaya lah, pake tanya lagi." Aruna kembali berjalan, begitu juga dengan Narayan.
"Tapi saya serius Run."
Aruna kembali menghentikan langkahnya. Lalu menghadap dan menatap manik mata Narayan.
"Kata cinta muncul 90 kali dalam Al-Qur'an, namun tidak ada satupun yang mendefinisikan cinta tersebut, hanya membahas tentang konsekuensi dari perasaan cinta tersebut yaitu komitmen, jika bapak cinta maka bapak harus komitmen, jika bapak hanya mengaku cinta tapi tidak komitmen, maka cinta bapak bisa disebut HALU," celetuk Aruna. Narayan langsung menelan salivanya. Kata-kata Aruna lumayan membuatnya hatinya terguling-guling.
"Komitmen itu bukan sana sini ada wanita wanita dan wanita," sambung Aruna. Ia lalu kembali berjalan menikmati angin malam pantai Bali, sampai lupa dengan pesan mbak Hanin.
☘️Bersambung...☘️
Jangan lupa, like, komen dan Vote. Jangan lupa juga bantu share di Sosmed kalian yah.🥰
Salam sayang,
__ADS_1
Santypuji