Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Sudahi Main-mainmu


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Narayan langsung masuk ke dalam rumahnya. Ia melempar tas kerjanya begitu saja di sofa ruang keluarga lalu menghampiri Ayahnya yang tengah duduk di kursi roda sambil di suapi mbak Hanin.


"Nara..." Teriak mbak Hanin. Narayan hanya terkekeh lalu mencium tangan ayahnya.


"Kebiasaan," celetuk Mbak Hanin. Ya kebiasaan Narayan, jika pulang kerja akan melempar tas kerjanya dimana-mana. Saat memasuki rumah, yang ia rindukan adalah ayahnya.


"Ayah sehat? Macan ayah tidak ngomel-ngomel kan sepanjang hari?" tanya Narayan sambil berlutut di depan ayahnya.


Ayah Narayan, Pak Nugraha langsung mengusap lembut kepala putranya sambil tersenyum lalu menggeleng.


"Heh, mbak itu galak demi kesehatan Ayah." Mbak Hanin membela diri, terkadang ayah Nugraha memang susah sekali makan dan minum obat.


"Iya iya cantik, jangan ngambek."


"Itu tasnya jangan lupa dibawa ke kamarmu Nara, kebiasaan yah." Ya beginilah, setiap pulang pasti akan ramai dengan ocehan mbak Hanin.


"Sudah 30 tahun Nara, apa kamu tidak ingin menafkahi anak orang?" tanya Ayah Narayan.


"Yang niat mau di nafkahi lagi sibuk cari nafkah ayah, susah dapetinnya." Narayan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Payah, makanya sudahi main-main mu dengan perempuan, sudah 30 tahun, ingat sudah kepala 3." Ayah Nugraha ingin putranya segera menikah karena umurnya sudah cukup untuk membina rumah tangga.


"Tahu tuh, nunggu dapat sertifikat playboy dulu kali Yah dari perserikatan cewek-cewek tersakiti," celetuk mbak Hanin. Narayan mendengus kesal, ia lalu pergi ke kamar, kalau sudah bahas jodoh, ah rasanya, menyebalkan.


Yang disukai menjauh, yang tidak disukai bagaikan lalat yang hinggap pada makanan.

__ADS_1


"Hanin, apa Narayan masih seperti itu?" tanya Ayah Nugraha pada mbak Hanin. Mbak Hanin mengangguk. Ayah Nugraha menghela nafasnya dengan kasar, ia berdoa semoga Narayan menghentikan tingkahnya yang suka memainkan hati perempuan.


☘️☘️☘️


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsallam, lembur ya La?" Lala mengangguk, ia meletakan tas kerjanya di atas meja.


"Cape banget."


" Sabar, nanti kalau gajian juga seneng," ucap Aruna sambil tersenyum.


"Kirain aku ada tamu, di depan ada sepatu siapa gitu."


"Ya udah, aku minta maaf lah sama pak Bos, eh malah dibeliin."


"What? dibeliin?" Aruna mengangguk.


"Eh bentar-bentar, kayaknya sibos suka sama kamu beneran deh Run, itu buktinya baik banget beliin sepatu segala," ucap Lala yang kini duduk disebelah Aruna. Lala paling semangat jika mendengar cerita Aruna dengan pak Bos.


"Yee, bakteri dalam Yakult juga baik kali La," ceplos Aruna.


"Eh buset, bos ganteng disamain sama bakteri, sekretaris durhaka dasar." Aruna tergelak. Ya bagi Aruna memilih calon suami itu bukan hanya sekedar baik sifat saja, tapi juga baik akhlak, baik agamanya. Lah si Bos, hal begini mungkin adalah hal biasa, membelikan barang-barang mahal pada wanita-wanita yang disukainya.


"Terus aku harus gimana? menerima cintanya semudah itu gitu? ih bukan aku banget kali La."

__ADS_1


"Tapi Pak Nara itu cowok idaman banget tau Run, nggak cuma modal ngomong sayang, tapi langsung ambil dulu biar babang Nara yang bayarin, kan cakep banget," celetuk Rara.


"Ah kamu nggak tahu aja si bos itu begitu ke banyak wanita La, nggak cuma ke aku doang, masih untung aku nggak baper, jadi jangan kompor-komporin aku biar baper, tega emang mau masukin aku ke kandang buaya." Lala mengernyitkan dahinya. Lala mengangguk, ia tahu betul Aruna memang bukan gadis gampangan.


"Udah jangan ngomongin sibos yang belum jelas itu, mending ngomongin hubungan kamu saja sama menejer pemasaran itu, apakabar kamu sama dia La?" ledek Aruna sambil senyum-senyum.


"Tahu ah, ngeselin, udah 3 bulan ngegantung Run, sekarang dia lagi di Singapura, ada tugas kan di sana."


"Hah, digantung 3 bulan? udah kaya bikin KTP aja, digantung 3 bulan." Aruna tergelak, Lala langsung menonyor kepala Aruna.


"Puas banget ketawanya, kampret dasar." Aruna lagi-lagi tergelak, apalagi waktu melihat ekspresi Lala yang manyun-manyun gemas.


"Tenang, sudah aku akhiri sedihku Run, sekarang udahlah, aku buka hati aja buat yang lain, mau buaya mau kadal mau monyet, sini kumpul." Aruna lagi-lagi tergelak, teman kosannya itu memang sedikit konyol.


"Puas banget sih Run, bayar sini, aku sudah bikin kamu ketawa sampai keluar air mata gitu."


"Konyol, edan, gokil," ucap Aruna.


"Ya kan biar seimbang Run, kamu alim aku alum, hehe, beruntung punya teman merantau kaya kamu Run, kata mama aku nih dulu waktu aku mau merantau, bilang, Lala, pilih temen yang baik, minimal satu, biar bisa ajak ke surga bareng-bareng, jadi saksi pernah berbuat baik bareng, jangan semua kaya abu jahal, bukannya narik ke surga, yang ada malah buka keburikan aku sampai akar-akarnya." Lala terkekeh lalu memeluk Aruna. Aruna membalas pelukan Lala.


"Saling mengingatkan dalam hal kebaikan ya La." Lala mengangguk penuh semangat.


☘️☘️ Bersambung ☘️☘️


(Maaf baru up manteman, Author+suami Alhamdulillah lagi dikasih nikmat sakit, disini hujan, dingin, semoga kalian sehat selalu yah 🥰🥰)

__ADS_1


__ADS_2