
"Mbak, di dalam tubuh manusia terdapat 350 sendi, ada satu sendi yang paling menyakitkan yaitu sendirian," ucap Narayan. Pulpen dari mbak Hanin kembali melayang ke tubuhnya.
"Nara nggak mau jomblo, titik segede ee kebo. Nikah nggak mau tapi jomblo juga nggak mau, punya pacar tetap juga nggak mau, bener-bener nanti mbak suapi ee kebo yah kamu." Pertengkaran kakak beradik ini berlanjut lagi.
"Makan tuh ee kebo," ucap mbak Hanin, ia lalu beranjak dari kursi kebesaran Nara, beralih duduk di sofa tempat Ayumi tidur. Narayan malah terkekeh sambil berjalan menuju meja kerjanya.
"Besok kalian harus ke Bali, rapat tadi hanya kesepakatan sementara, bos besar perusahaan Anggara sedang berlibur di Bali terlebih dahulu, jadi kalian yang harus kesana, awas Nara kalau sampai gagal, mbak kirim kamu ke Syuriah sungguhan nanti," cerocos mbak Hanin. Nara mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi.
"Ya sudah, mbak mau pulang, Ayumi mbak gendong aja deh, nanti tolong kamu bawain tas mbak yah, Nara," ucap mbak Hanin. Nara menepuk dahinya. Super duper ganteng begini, malah bawa tentengan pempers dan berbagai perlengkapan baby lainnya.
Mbak Hanin langsung menggendong Ayumi, lalu keluar dari ruangan Nara. Sebelum Aruna juga ikut keluar dari ruangan Nara, Nara terlebih dahulu menyuruh Aruna untuk membuatkan kopi untuknya.
"Bikinin kopi sebentar ya Run!" perintah Nara pada Aruna. Aruna mengangguk, lalu menuju tempat dispenser, membuka bufet penyimpanan kopi dan teh.
"Jangan pahit-pahit ya Run, hidup say sudah pahit," pinta Narayan.
Aruna milirik Narayan, "Pahit dari mananya coba, banyak duit, banyak wanita juga."
"Kamu banyak nggak tau tentang saya Run."
__ADS_1
"Ya ya ya, terserah bapak deh."
"Saya sebenarnya kesepian," ceplos Narayan. Aruna mengernyitkan dahinya.
"Jan ngadi-ngadi deh bos, cewe seminggu satu lusin, bilang kesepian, jangan ngledek jomblo deh." Aruna menyuguhkan kopi yang sudah ia racik untuk bosnya. Ia letakan di atas meja kerja Narayan.
"Ya kan mereka nggak 24 jam selalu bersama saya Run." Narayan mengambil kopi yang Aruna suguhkan lalu menyesapnya perlahan.
"Kopi buatan kamu selalu pas, enak," puji Narayan. Sejak Aruna menjadi sekretaris pribadinya, Narayan jatuh cinta pada kopi buatan Aruna. Kalau ditanya resep, Aruna selalu menjawab, mengaduknya sambil solawatan. Ah Aruna, segala menciptakan resep baru.
Kata Aruna, baru ngaduk kopinya saja sudah membuat bos jatuh cinta sama tuh minuman, bagaimana kalau Aruna mengaduk-aduk hati pak Nara. Jangan-jangan langsung minta kawin, eh nikah.š¤
"Hemm, menikah itu menurut saya hanya menambah masalah baru Run, lihat saja mbak Hanin juga setiap hari bertengkar masalah handuk, lalu Ayah dan ibu ... ah sudah lah, menikah itu banyak ujiannya, ribet, hidup ini juga sudah penuh dengan masalah-masalah," ujar Narayan. Aruna melongo mendengar penuturan Narayan yang sungguh diluar pemikiran Aruna.
"Pak Nara yang kaya raya dan tidak sombong, yang gantengnya mirip Zyan malik, Dunia ini memang tempatnya ujian, dan akhirat adalah hasil dari ujian kita di dunia ini. Di dunia ini ada Nabi Adam yang kelelahan, Nabi Nuh yang mengeluh, Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api, Nabi Yusuf dijual dengan harga murah dan dipenjara selama beberapa tahun, Nabi Zakaria digergaji, Nabi Yahya disembelih, Nabi Ayub menderita penyakit, Nabi Daud menangis diluar batas semestinya, Nabi Isa sendirian, dan Nabi Muhammad mendapatkan ketakutan dan berbagai gangguan. Sementara bapak ingin berpijak dengan bersantai ria sambil bermain-main, oh itu tidak akan mungkin terjadi pak Nara," ucap Aruna panjang lebar. Aruna ingin Narayan membuang jauh-jauh pola pikirnya tentang sebuah kehidupan yang sudah Allah amanahkan.
"Sudah, saya mau balik ke tempat kerja saya." Aruna berjalan menuju pintu.
"Kamu tahu Run, setiap apa yang kamu nasehatkan pada saya, semua saya rekam di sini." Narayan menunjuk kepalanya menggunakan jari telunjuknya.
__ADS_1
Aruna menghentikan langkahnya, "Syukurlah ..."
"Nikah yuk Run," ceplos Narayan. Aruna berdecak kesal, setiap hari mengajak menikah, tapi setiap hari pula datang pasangan yang berbeda.
"Nikah? cuma mau buat adek buat Ayumi? cari yang lain saja kalau begitu," ucap Aruna.
"Nggak lah, adek buat Ayumi ya biar mbak Hanin dan mas Riko saja yang download," ucap Narayan sambil terkekeh. Aruna mengerutkan dahinya, mana ada bikin anak di download. Bosnya sebegitu cerdasnya kah.
"Selesaikan dulu dengan semua wanita-wanita bapak." Aruna langsung membuka pintu dan keluar dari ruangan Narayan. Narayan hanya mesam mesem mendengar jawaban dari Aruna.
āļø Bersambung ...āļø
(Maafkeun baru up, siang tadi perut tiba-tiba sakit gara-gara makan olos khas tegal, tau kan? isinya cabe𤣠Author tuh bandel banget, persis kaya pak Nara, sudah tau perut sering kumat, tapi malah suka nantanginš¤)
Jangan lupa like komen dan Vote, jangan nagih crazy up, nanti authornya jadi crazy bagimaneš.
Salam sayang,
Santypuji
__ADS_1