Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Demam


__ADS_3

Pagi ini setelah salat subuh, Aruna sudah berdiri di depan pintu kamar hotel Narayan. Seperti yang disepakati bersama, setelah subuh mereka akan jalan-jalan di tepi pantai sambil menunggu sunrise.


Aruna mengetuk pintu kamar bosnya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Aruna menelfon bosnya. Setelah diangkat oleh bosnya, terdengar suara parau Narayan. Aruna langsung menagih janji bosnya, berjalan-jalan di pantai sambil menunggu sunrise.


"Run, saya demam ..." Setelah itu panggilan langsung. terputus. Aruna melongo menatap ponselnya. Ia lalu kembali mengetuk pintu kamar bosnya.


Kali ini pintu kamar bosnya langsung di buka, terpampang nyata pemandangan yang tidak biasanya. Aruna bergumam dalam hati, sekelas pak Nara saja, kalau bangun tidur teteplah seperti manusia pada umumnya, rambut acak-acakan, muka kusut, dan bekas iler di pinggir bibir.🤣


Setelah membuka pintunya, Narayan kembali rebahan di ranjangnnya. Aruna langsung berdecak kesal di depan pintu, Aruna tidak berani masuk, takut dicaplok buaya gaes, apalagi pagi hari adalah time to gunawan sedang brigas-brigasnya.


"Run, kompresin Run, saya sakit, kamu kenapa cuma berdiri di depan pintu sih, kan sudah saya bukakan pintu, Run badan saya panas Run," rengek Narayan. Aruna tidak percaya jika bosnya tengah sakit. Aruna takut ini hanya jebakan.


"Aruna ... sumpah saya sakit, saya nggak bakal macem-macem, saya juga tahu diri, tidak bakalan merusak wanita seperti kamu," celetuk Narayan dengan sisa tenaga yang ia punya. Nara betul-betul merasa lemas, badan panas, tubuh rasanya sakit semua.


Aruna akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam kamar Narayan setelah perkataan bosnya tadi. Aruna melihat mata Narayan memerah, begitu juga dengan bibirnya, kering dan memerah.


"Tolong itu di koper ada sapu tangan, kompres tolong," ucap Narayan.


"Pak, saya panggilkan dokter saja yah," bujuk Aruna. Narayan langsung menggeleng.


"Nggak Run, nggak mau, cuma demam kok."


"Nggak ada penyakit cuma cuma ih, saya panggilkan yah dokternya." Narayan tetap saja menggeleng tidak mau, ia malah minta dikompres saja. Nara beranggapan nanti juga pasti sembuh setelah di kompres.

__ADS_1


Aruna mendengus kesal, ia akhirnya membuka koper milik bosnya, saat ingin mengambil sapu tangan, Aruna malah mengaduk-aduk isi koper Narayan, sempat menemukan baju si gunawan yang membuat Aruna langsung merinding.


"Hih, apaan sih ini." Aruna segera menyingkirkannya, Narayan tersenyum saat melihat tingkah Aruna yang polos.


Setelah menemukan sapu tangan Narayan, Aruna segera ke kamar mandi, membasahi sapu tangan itu, lalu memerasnya perlahan. Aruna menghampiri bosnya, meletakan sapu tangan basah di dahi Narayan.


Mata Narayan terpejam, Aruna sesekali membolak balikan sapu tangannya. Ternyata benar, pak bosnya demam, sapu tangan yang ia pegang benar-benar menjadi panas.


"Pak, saya panggilkan dokter saja yah, atau saya belikan paracetamol yah, saya nggak tega." Belum sempat di jawab Narayan, Aruna segera berlari keluar mencari tahu apakah resort yang ia tempati ada kliniknya atau tidak.


Untungnya resort ini begitu lengkap, ada klinik bahkan dokter jaga 24 jam. Aruna segera menuju klinik yang letaknya tak jauh dari resepsionis. Sesampainya di klinik, Aruna meminta tolong pada dokter agar mau memeriksa Narayan di kamarnya. Dokter langsung bergegas menyiapkan peralatan medisnya lalu menuju kamar Narayan.


Pelayanan resort ini benar-benar tidak kaleng-kaleng, hampir semua fasilitas tersedia, Resort ini pasti sangat mahal harga sewanya, Aruna tidak tahu harganya, ia hanya menggunakan fasilitas yang perusahaan berikan.


"Dok, saya tidak disuntik kan?" tanya Narayan, Aruna menepuk dahinya, tidak habis fikir, tampang semacho pak Nara, saat di periksa dokter malah menanyakan tentang suntik menyuntik, seperti anak kecil saja.


"Tidak pak, tenang saja, saya periksa dulu tensi darah bapak sama tolong ini selipkan di ketiak bapak untuk mengetahui berapa suhu badan bapak," ucap Dokter begitu ramah.


"Tolong Bu, suaminya di bantu, sudah lemas sekali sepertinya." Aruna memicingkan matanya.


"Saya bukan ..."


"Sayang cepet bantuin mas masukin termometer ini ke ketiak mas." Narayan langsung memotong ucapan Aruna. Aruna berdecak kesal.

__ADS_1


Ia langsung menghampiri Narayan, membuka piyama tidurnya, namun dengan wajah yang dipalingkan. Narayan ingin sekali tertawa melihat ekspresi Aruna yang risih saat membuka baju Nara.


"Kalian pengantin baru yah? kok mbak nya masih malu-malu gitu," ledek pak Dokter.


"Saya bukan..."


"Biasa Dok, Istri saya pemalu kalau ada orang lain," ucap Narayan sambil terkekeh. Aruna memutar kedua bola matanya, bosnya memang sialan.


Selesai di periksa, dokter memberikan beberapa obat, dan menyuruh Narayan untuk beristirahat terlebih dahulu hari ini. Narayan dan Aruna mengucapkan terimakasih pada dokter sebelum dokter itu kembali ke klinik.


Aruna kini menelfon pegawai resort untuk memesan bubur. Obat Narayan semuanya harus di minum setelah makan.


"Istri mas, baik banget sih," ledek Narayan sambil terkekeh. Aruna langsung melempar sapu tangan basah ke tubuh Narayan. Si Buaya malah tergelak, walaupun pelan.


"Mas cinta banget deh sama istri mas, baik banget soalnya," ucap Narayan penuh percaya diri.


Aruna melirik bosnya, "Cinta, cinta, ngaji dulu, ibadah dulu, perbaiki diri dulu, pengen dapet istri solehah kan? persoleh diri dulu." Narayan terkekeh, Nara kini merasa, dinasehati Aruna itu sudah seperti makanan sehari-hari, aneh rasanya jika sehari saja tidak mendengarkan ceramah Aruna.


☘️☘️ Bersambung...☘️☘️


(Maaf ya sayang author semua baru bisa up, kemarin hari kamis habis pergi nemenin dede berenang, terus jumat, nemenin adik ipar lahiran)


(Jangan lupa like komen dan Vote)

__ADS_1


__ADS_2