Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Terkejut


__ADS_3

"Apa kabar?" tanya Fikri sambil menatap Ajeng lekat-lekat. Setahun sudah hubungan mereka kandas karena hitungan hari yang menurut kedua orangtua Fikri tidak baik untuk sampai jenjang pernikahan.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?" Fikri juga mengungkapkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Kini keduanya saling diam, masih canggung dengan pertemuan tak terduga di rumah Aruna. Sakit memang, hanya bisa saling pandang tanpa saling memiliki.


"Kenapa harus mbak Aruna mas." Ajeng memberanikan diri memulai bicara lagi. Ia sangat tidak menyangka jika pengganti dirinya adalah Aruna, sepupunya, rasanya itu lebih sakit dari rasa cinta tak direstui sebelumnya.


"Ibu yang pilihkan, aku nggak bisa memilih sendiri. Aku manut ibu, aku juga bingung harus menolaknya bagaimana," jawab Fikri. Ia menunduk, ia tidak berani menatap Ajeng.


"Kamu tega mas." Bulir air mata luruh juga dari mata Ajeng. Ia tidak bisa membayangkan jika harus menyaksikan sepupu dan cinta pertamanya bersanding di pelaminan.


"Maaf." Hanya kata maaf yang bisa Fikri katakan. Ia tidak ingin banyak memberi harapan atau janji-janji seperti dulu lagi pada Ajeng.


"Maaf tidak akan mengobati rasa sakit ini mas. Sakit sekali rasanya." Ajeng memegangi dadanya. Sangat menyakitkan mencintai tak bisa memiliki, bukan karena orang ketiga tapi karena adat istiadat.

__ADS_1


"Ketulusan seseorang bukan hanya dilihat karena bisa saling memiliki. Ketulusan itu juga milik mereka yang saling mencintai namun harus merelakan secara paksa," ungkap Fikri. Ajeng menatap mantan pacarnya, apakah benar masuh ada cinta di hati Fikri untuknya.


"Masih sama-sama mencintai namun sama-sama merelakan karena ada hal yang memang tidak bisa dipaksakan. Cinta yang kita miliki adalah cinta yang tulus namun kita tidak dapat bersatu. Meski tak dapat bersatu namun kita masih saling memiliki perasaan yang sama," lanjut Fikri. Ia masih menunduk, jujur ia tidak sanggup menatap Ajeng. Ia juga merasakan hal yang sama yaitu sakit.


Dibalik jendela ruang tamu, Aruna mendengarkan obrolan keduanya dengan seksama. Tidak ada sedikitpun rasa sakit hati dalam dirinya ketika mengetahui calon suaminya malah masih mencintai masalalunya.


Aruna menatap langit-langit rumahnya, ia seketika itu juga teringat dengan bos nya. Narayan. Aruna merasa bersalah dengan Narayan. Rasa sakit dihatinya mungkin sama seperti rasa sakit yang Ajeng dan Fikri rasakan saat ini.


Tapi mau bagaimana lagi, beginilah perjalanan hidup. Dalam perjalanan menjalani hidup, kadang Tuhan mempertemukan diri kita dengan seseorang, yang padanya hati dan pikiran kita dapat tertambat begitu kuat. Kita pun berandai-andai dan mencoba berdialog dengan Tuhan, mungkinkah dia adalah sosok yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi hidup kita dan menemani kita menjalani sisa umur kita.


Kita, makhluk yang lemah, lalu menuntut keadilan dan, kalau bisa, memaksa-Nya menuruti semua kehendak kita, hingga lupa bahwa DIA adalah Yang Maha Merajai Alam Semesta sekaligus Maha Membolak-balikkan Hati.


Di tangan-Nya kekuasaan dan kemauan untuk mengarahkan pada siapa hati kita memiliki kecenderungan, dan keputusan apakah sosok itu akan membuka hatinya pada kita atau pada yang lain. Di tangan-Nya kekuasaan dan keputusan seberapa lama kita akan bersamanya serta kapan dan mengapa harus berpisah, juga kekuasaan untuk menentukan warna apa yang tergores di hati kita, maka biasa kita temui dua orang yang pernah saling mencintai bisa saling membenci dengan begitu hebatnya.


Dia juga Maha Merajai Alam Semesta, yang bila Dia inginkan sesuatu, cukup Dia katakan ‘Kun fayakun”, Jadi maka jadilah.

__ADS_1


Baginya, begitu mudah memisahkan hati-hati yang tertaut cinta, dan memasangkan hati-hati itu dengan hati yang lain. Baginya, mudah untuk memisahkan hati yang sempat bersatu sebelum akhirnya menyatukannya kembali setelah berpisah sekian lama, atau sebelum akhirnya mempertemukannya dengan hati yang lain dan menyatukannya untuk selamanya, seperti yang kita lihat dalam hidup, ada orang-orang yang ditakdirkan untuk bertemu dan saling mencintai namun tidak ditakdirkan untuk hidup bersama, dan ada juga yang harus menempuh jalan yang terjal dan berliku sebelum akhirnya dapat hidup bersama.


Dia pun bisa terlihat begitu kejam, dengan melambungkan hati dengan rasa bahagia, yang membuat kita seolah terbang di atas awan, lalu menggodanya dengan rasa sakit dan perih, yang kadang membuat kita tidak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi pada kita, tapi dia adalah Maha Menyayangi Makhluk-nya. Dia sayangi kita dengan mempertemukan kita dengan seseorang, meski akhirnya harus berpisah. Dia sayangi kita dengan rasa sakit.


"Kamu akan tetap melanjutkan pernikahan ini mas?" tanya Ajeng pada Fikri. Fikri mengangguk, dirinya tidak ingin mengecewakan ibunya.


"Kamu jahat mas."


"Kamu pasti akan mendapatkan yang terbaik, yang lebih baik dari mas."


"Siapa? siapa yang akan menerima wanita tidak suci lagi seperti aku mas? siapa? wanita dinilai dari masalalu nya mas, kamu tidak berbekas, sedangkan aku?"


Aruna terbangun dari lamunannya ketika mendengar ucapan Ajeng. Ia benar-benar terkejut. Apa yang Ajeng maksud? Aruna mulai menerka-nerka apakah Ajeng dan Fikri melakukan hal sampai sejauh itu. Aruna menggeleng, ia berusaha menetralkan fikirannya. Ia tidak boleh arogan di depan Ajeng dan Fikri.


(Sorry tadi nama pemeran utamanya typo🤭🤭)

__ADS_1


__ADS_2