
Minggu pagi setelah Narayan salat subuh, ia bergegas mengendarai mobilnya dan membawa dua sepeda lipatnya di dalam bagasi mobil menuju kos-kosan Aruna. Narayan ingin mengajak Aruna berolahraga pagi.
Sesampainya di depan komplek kosan Aruna, Narayan langsung saja perkir di depan komplek, lalu bergegas menuju kamar kos Aruna.
Aruna yang kala itu tengah kembali berbalut selimut setelah salat subuh terbangun lagi karena mendengar ketukan pintu. Lala sih kalau tidur ngebo, pules saja mendengar pintu di ketuk.
Aruna turun dari tempat tidurnya lalu bergegas membukakan pintu. Aruna terkejut ketika melihat sosok Narayan ada di hadapannya.
Narayan tersenyum, "Olahraga yuk Run, bersepeda."
Aruna berdecak, dirinya sedang tidak mood olahraga.
"Nggak punya sepeda pak."
"Saya bawa dua." Aruna mengerutkan dahinya. Benar-benar pak Nara ini niat sekali.
"Ya udah, nanti dulu pak, saya mau ambil jaket dulu." Aruna masuk kembali ke dalam kamarnya. Aruna membiarkan Narayan menunggu di luar kamar.
Aruna keluar dari kamar, Narayan langsung mengajak Aruna menuju taman untuk bermain sepeda di sekitar taman. Beberapa kali putaran mereka lalu istirahat sejenak.
"Niat banget pak bawa dua sepeda," ucap Aruna.
"Ya kalau bawa satu aja memangnya kamu mau saya bonceng," ucap Narayan sambil terkekeh.
"Ya nggak juga, oh iya bapak tau tempat kos saya dari mana?"
"Kamu lupa saya bos kamu?" Aruna berdecak. Kenapa dia bisa melupakan itu, bosnya sudah pasti sangat mudah jika hanya mencari sebuah alamat anak buahnya.
Narayan pamit pada Aruna untuk membeli minuman di seberang taman. Aruna mengangguk. Narayan bergegas menuju maret-maret yang ada di seberang jalan. Aruna terus memperhatikan gerak gerik Narayan. Narayan dengan pakaian santainya sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Aruna menunggu selama 10 menit, terlihatlah Narayan keluar dari Maret-maret. Terlihat juga Narayan sedang menggandeng seorang nenek-nenek yang ingin menyebrang jalan. Aruna tersenyum melihat pemandangan itu. Terlihat tidak seperti Narayan yang biasanya.
Aruna jadi ingat perkataan abah. Segemuk-gemuk ikan pasti ada tulangnya. sekurus-kurus ikan pasti ada dagingnya. Sebaik-baik orang pasti ada buruknya dan seburuk-buruk orang pasti ada baiknya. Buang yang keruh ambil yang jernih. Carilah baik dalam buruk orang itulah akhlak. Carilah buruk dalam diri sendiri itulah ikhlas.
Sesampainya di depan Aruna, Nara langsung memberikan minuman untuk Aruna.
"Makasih ya." Aruna yang hendak memutar tutup botol minumnya langsung di ambil oleh Nara lagi. Nara membukakan tutup botolnya, lalu memberikannya pada Aruna. Aruna segera meneguh air mineral dari Nara.
"Run..."
"Hemm..."
"Jangan salah faham masalah yang kemarin yah."
Aruna melirik Narayan, "Yang mana?" tanyanya pura-pura.
"Yang wanita kemarin ke kantor."
"Malam itu dia mabuk, terus jalan di tengah jalan, dia hampir di lecehkan oleh laki-laki di jalanan juga, tapi waktu itu saya yang baru pulang dari kantor karena kantor sangat banyak pekerjaan, langsung menghajar orang-orang yang mau melecehkannya, setelah itu kita kenalan biasa, terus ya kamu tahu lah zaman jahiliah saya kaya apa." Narayan menatap Aruna, mencoba meyakinkan Aruna bahwa malam itu kejadiannya hanyalah seperti itu. Bukan malam yang aneh-aneh.
Dalam hati Aruna begitu senang mendengar penjelasan Narayan. Tapi dirinya gengsi untuk menunjukan rasa senangnya.
"Oh, syukurlah kalau dia selamat." Narayan sedikit kecewa, ia kira Aruna akan begitu senang mendengar penjelasannya, ternyata hanya kata oh yang keluar dari mulut Aruna.
"Mungkin banyak orang mengira saya playboy, saya penjahat wanita. Percayalah, saya seperti itu karena ada sebabnya." Aruna menatap Narayan. Memang benar ada hal yang Narayan pendam selama ini begitu jelas terlihat dari manik matanya.
"Mama sama Ayah sudah berpisah dari semenjak saya pindah ke Jakarta. Di Jakarta usaha ayah waktu itu mengalami krisis. Mama meninggalkan ayah begitu saja saat ayah sedang jatuh sejatuh-jatuhnya. Benar kata orang-orang, ujian wanita itu saat lelakinya tidak memiliki apa-apa." Narayan menunduk. Aruna begitu terkejut mendengar curhatan Narayan. Padahal dulu ayah dan mamanya begitu harmonis kala masih menjadi tetangga Aruna.
Narayan lalu melanjutkan lagi cerita pilunya yang menyebabkan dirinya begitu benci dengan wanita murahan yang hanya menyukai uang uang dan uang saja. Mamanya selingkuh dengan pengusaha kaya raya. Bahkan selingkuhan mama juga sudah menikah dan memiliki anak. Mereka bertemu saat di selenggarakan reuni SMA. Narayan yang kala itu masih kecil, yang masih membutuhkan kasih sayang mama, namun harus mengurungkan kebutuhan itu karena mamanya pergi dari rumah.
__ADS_1
Ayahnya frustasi, hingga akhirnya kecelakaan hampir merenggut nyawa ayahnya. Sekarang ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda. Ayah Narayan juga menderita amnesia retrogade, ingatan di masalalu hilang seketika. Untung saja kala itu ada kakaknya yang begitu gigih membantu perekonomian keluarga. Makanya Narayan selalu nurut dengan kakaknya walaupun kakaknya suka menyebalkan.
Aruna menahan nafas untuk mencerna setiap kalimat demi kalimat yang begitu sesak di dengar. Begitu banyak penderitaan yang dialami bosnya.
"Mungkin orang melihat saat ini saya sudah enak, sudah mapan, banyak wanita yang mengelilingi, mereka tidak tahu Run, saya pernah merasakan, terjungkal, terjerembab sampai guling-guling."
Aruna memegang bahu Narayan, "Berdamailah dengan dirimu sendiri pak. Sudah puluhan tahun, maafkan lah." Aruna tahu, tidak semudah itu memaafkan, tapi ia ingin bosnya ada niatan untuk memaafkan.
"Butuh waktu lama untuk sampai pada titik rela. Melewati rasa sakit yang rumit, menahan banyak kemarahan, berkelahi dengan ego sendiri, serta banyak sesak yang tidak bisa diungkapkan." Mata Nara tampak berkaca-kaca, namun ia tahan agar tidak menangis di depan gadis pujaannya.
Mendengar jawaban Narayan, entahlah, rasanya dada Aruna semakin sesak, ia seperti merasakan apa yang tengah dirasakan bosnya.
"Sekarang letakan kedua tangan bos di dada, ucapkan ya Allah, untuk apapun yang telah terjadi kemarin dan hari ini, lapangkan hatiku untuk menerimanya. Jika esok hari keadaannya tak kunjung membaik, tolong cukupkan diri ini untuk tidak menyalahkan siapapun. Saya percaya bahwa apapun yang terjadi pasti berkat campur tangan Allah. Dan untuk segala bahagia yang masih diselimuti tanda tanya, aku percaya ada sesuatu yang lebih besar dan lebih baik yang telah Allah siapkan." Narayan mengikuti apa yang Aruna katakan. Rasanya sedikit lega bisa mengungkapkan sesuatu yang selama ini Nara pendam.
"Makasih ya Run, kamu selalu bisa menenangkan saya." Aruna mengangguk, hatinya juga ikut lega jika perasaan sedih bosnya sudah sedikit mereda.
"Run..." Narayan menghadap ke arah Aruna.
"Hemm..."
"Sumpah ku mencintaimu, sungguh ku gila karena mu." Aruna malah tergelak untuk menyembunyikan rasa senangnya karena Narayan menyanyikannya begitu merdu.
(☘️☘️Bersambung☘️☘️ Maaf kemarin emak san ngebut menyelesaikan naskah Asmara Shelomita karena sudah terlewat dari deadline. Emak sekalian mau promo nih novel-novel emak di apk sebelah, yang ijo🤭)
__ADS_1