
"Ini siapa?" tanya Bu Salamah mendekat ke arah Narayan.
"Ini anaknya Bu Yasmin itu lhoo Bu," jawab Abah Harun. Narayan tersenyum pada semua orang yang ada di ruang tamu, mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa dalam hatinya.
Narayan merasa dirinya sudah kalah telak, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan pujaan hatinya. Ternyata seperti ini yang dinamakan sakit hati, begitu sakit.
Dengan kejadian ini, Narayan jadi tersadar, inilah balasan luka karena dulu ia gemar membuat orang lain terluka, ia sumber luka wanita-wanita di masalalunya.
"Maaf Abah, silahkan dilanjutkan lagi acaranya, saya kebetulan membawa teman, teman saya di luar, nanti saya masuk lagi kalau acaranya selesai." Abah mengangguk, Narayan langsung saja keluar menemui Kang Agus, teman terbaik, guru ngajinya selama beberapa bulan ini.
Narayan sengaja mengajak kang Agus untuk mewakili ayahnya meminta Aruna pada Abah, karena kondisi ayahnya yang sakit, ia tidak tega membawa ayahnya berpergian jauh, tapi terlepas dari ini semua, jelas Narayan sudah meminta restu dari Ayahnya dan akan memperkenalkan calon menantunya, tapi ternyata, niatnya tak berjalan mulus.
Narayan berjalan menghampiri kang Agus yang duduk di teras rumah Aruna. Wajahnya yang sendu jelas membuat Kang Agus faham sepertinya Narayan sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa?" tanya kang Agus.
Semburat kecewa, sedih, pilu begitu kentara di wajah Narayan. Namun Narayan belum bisa menjawab pertanyaan kang Agus karena dirinya sedang terus beristigfar dalam hati, agar hatinya lebih tenang.
Apakah ini yang disebut terluka namun tak berdarah, Narayan jadi teringat kisah Salman Alfarisi yang pernah Kang Agus ceritakan waktu kajian minggu kemarin tentang cinta dan jodoh.
Salman yang ingin melamar tiba-tiba malah sahabat Salman yang diterima. Kisah tersebut akhirnya termaktub dan mengekal dalam sejarah Islam karena kemuliaan Salman al-Farisi yang tidak menuhankan cinta semata. Bayangkan jika Salman bersikap sebaliknya, berputus asa, galau merana, lari mengambil pisau atau mencari tebing untuk mengakhiri hidupnya, mungkin hanya akan menjadi romansa picisan yang cepat berlalu.
Walaupun laki-laki yang ada di dalam sana bukanlah sahabat Narayan, tapi tetap saja Narayan sudah tertikung. Tertikung sebuah cinta, mungkin selama ini doanya belum benar, atau doanya kurang kencang.
Narayan membiarkan dirinya terus berfikir dan berfikir, apakah dirinya juga harus seperti Salman, menerima dan tidak menuhankan cinta?
"Di dalam ramai sekali? keluarga Aruna banyak sekali yah?" Narayan tersadar dari lamunannya ketika tangan kang Agus menepuk bahu kirinya.
Narayan menggeleng, "Aruna sedang dilamar seseorang." Narayan akhirnya memberitahu kang Agus.
__ADS_1
Kang Agus terlihat terkejut, "Ya Allah." Kang Agus mengusap wajahnya sendiri.
"Apa saya tidak pantas untuknya yang solehah Kang?" tanya Narayan menatap Kang Agus.
"Apakah mungkin ini balasan kejahatan saya selama ini? berat rasanya masalah seperti ini Kang." Narayan menunduk.
Kang Agus kembali menepuk bahu Narayan," Seringkali, kita menerjemahkan masalah yang menghampiri kehidupan kita sebagai suatu hal yang negatif, tidak menyenangkan, dan menghambat kita dari kebahagiaan. Padahal, tidak semua permasalahan yang kita alami selalu membawa kita pada kesulitan. Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. Nara, kamu hijrah untuk mendapatkan cinta siapa? Aruna atau Allah?"
Pertanyaan Kang Agus membuat hati Nara terhenyak, benar yang dikatakan Kang Agus, dirinya sebenarnya hijrah demi siapa, kenapa rasa kecewanya sampai sedalam ini.
"Jika hijrahmu hanya karena dia, lepas rasa suka, kagum kamu terhadap siapa dan apa, maka lenyap pulalah iman dihatimu Nara. Iman begitu mudahnya hilang dalam genggamann. Demikian juga hidayah begitu mudahnya terlepas. Lebih mudah lepasnya daripada unta yang tertambat. Luruskan setiap niat yang menyertai langkahmu. Cukuplah Allah sebagai tempat kita menambatkan keimanan. Jangan karena apa dan siapa." Nasehat dari Kang Agus benar-benar membuat Narayan tertunduk malu, malu pada dirinya sendiri karena lupa pada tujuan awal.
Narayan mengangguk, ia menatap kang Agus lalu tersenyum. Narayan berterima kasih pada Kang Agus karena sudah mengingatkan.
"Nara, husnudzon sama Allah yah, tidak dapat Aruna, banyak gadis solehah lainnya di luar sana, jangan putus asa. Memutuskan untuk selalu berpikir positif dan berbaik sangka pada setiap persoalan yang kita miliki tidak hanya diyakini oleh sebagian kalangan saja, namun bagi setiap manusia di muka bumi ini. Sebagai manusia beriman, kita telah dibekali dengan banyak ilmu dan nasihat oleh Allah dan Rasulullah. Tugas kita selanjutnya adalah mengelola diri dan fikiran menuju hal-hal positif sekuat tenaga muda kita dengan penuh keyakinan bahwa, badai pasti akan berlalu, dan akan selalu ada pelangi setelah hujan badai yang menerpa kehidupan kita."
"Iya benar sekali, Kang. Mungkin dengan kejadian ini, hati saya lebih terarah, hati saya akan lebih mencintai Allah lebih dari segalanya," ucap Narayan.
Nara mengedarkan pandangannya ke atas, menatap langit yang bertaburan bintang. Merenungi lagi perkataan Kang Agus, Aruna adalah ujian terberatnya karena, hatinya mencinta Aruna melampaui batas.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Readers : Emak, sekalinya nulis malah menebar berita dukaðŸ˜
Author: Haduh, pengennya menebar duit, tapi ya bagaimana, lagi pandemi begini,🤣🤣🤣🤣
Readers: Itu Aruna gimana sih, main mau-mau aje makðŸ¤
__ADS_1
Author: Jika daun yg berguguran saja itu atas kehendak Allah, apalah daya jika hanya sebuah anggukan kepala Aruna🤠Allah tak akan kehabisan cara untuk memisahkan yg tidak jodoh, dan menyatukan yang berjodoh. Pengalaman emak san, udah bucin bgt pdhl, pas mau d lamar tiba-tiba malah ga mau😠ga tau kenapa begitu, tapi ya sudahlahðŸ¤
#Ditunggu 100 komentarnya, 100 aje deh.