Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Persiapan Ke Bali


__ADS_3

Malam harinya Aruna menyiapkan beberapa keperluannya untuk pergi ke Bali selama 3 hari. Mungkin ini sudah ke tiga kalinya Aruna dan Narayan pergi ke luar kota untuk misi pekerjaan.


Lala, teman satu kos Aruna sedang menompang dagu sambil melihat Aruna memasukan baju-baju ke dalam koper.


"Run, gimana perasaan kamu saat pergi ke luar kota buat kerja bareng sama bos ganteng kamu itu?" tanya Lala sambil senyam-senyum.


"Hemm, biasa aja sih," jawab Aruna singkat.


Lala memutar kedua bola matanya, "Masa sih nggak naksir, pak Nara itu ganteng, macho, pinter, kaya raya lagi." Lala memang bekerja di tempat yang sama dengan Aruna. Tapi Lala hanya melihat Narayan dari Samudra Hindia, keburukan Narayan tak akan bisa terlihat.


"Padahal kamu punya peluang besar lhoo buat dapetin pak Nara." Lala mengerlingkan matanya.


"Dia bukan lotre, tidak menarik sama sekali di sini, dan di sini." Aruna menunjuk ke arah mata dan hatinya.


"Kenapa sih, kan dia kelihatan baik lhoo Run, royal juga sepertinya." Lala masih berusaha terus memuji Narayan.


Aruna mencebikan bibirnya, "Dia playboy cap kuda terbang La."


Lala tergelak, "Kaya judul FTV, kamu keseringan nonton FTV tuh."


"Dih nggak percaya, pokoknya bukan type aku banget deh." Aruna menutup kopernya karena sudah selesai mengepak barang-barangnya. Lala akhirnya menyerah menggoda Aruna, ia pergi ke tempat tidurnya sambil bermain ponsel.


Aruna juga mengambil ponselnya untuk melakukan vidiocall dengan Abah dan Uminya. Seperti biasa, sebelum Aruna pergi ke luar kota, Aruna akan meminta restu dan doa pada Abah dan Uminya.

__ADS_1


Abah dan Umi sebenarnya lebih senang Aruna di Semarang saja menemani mereka, tapi Aruna bersikeras meminta merantau, apalagi kala itu Aruna mendapatkan tawaran pekerjaan dari tante Dewi, yang akhirnya Abah mempercayai tante Dewi untuk menjaga Aruna.


Setiap vidio call Abah tiada henti menasehati Aruna. Abah berkata, jagalah pergaulan dari pergaulan yang bebas, Abah percaya Aruna. Abah juga tidak lupa memotivasi Aruna. Abah bilang saat jalan yang dilalui kian berliku, maka beristirahatlah sebentar. Tenangkan pikiran dan temukan jalan keluarnya. Dan masih banyak lagi nasehat dari Abah dan Umi.


Orangtua memang tidak akan lelah dalam memberikan nasihat kepada anak agar terhindar dari hal yang buruk. Meskipun ada juga cara orangtua yang satu ini dianggap menjadi gangguan untuk para anak. Tapi Aruna menyadari, nasihat adalah bentuk kasih sayang tak terhingga yang diberikan Abah dan Umi.


Mungkin ada beberapa anak akan menyepelekan beberapa nasihat orangtua. Tapi kelak pasti akan sadar bahwa pesan dari orangtua inilah yang akan penuntun menuju kesuksesan. 


Aruna sadar jauh dari orangtua serta keluarga, tetapi dengan doa semuanya terasa dekat serta sangat bersahaja. Aruna berprinsip Tiap langkah kakinya berpijak ada sebuah harapan yang ditanam oleh orang-orang yang sangat mencintai dan merindukan Aruna, oleh sebab itu Aruna tidak boleh gagal.


Mendapat restu Abah tidaklah mudah, tapi setelah mendapat restunya, Aruna berjanji akan menjadi diri Aruna selalu lebih baik lagi.


Selesai melakukan panggilan vidiocall, Aruna bergegas menuju tempat tidurnya, ia tidur lebih awal agar besok lebih fit saat melakukan perjalanan.


☘️☘️☘️


Aruna hanya membalas beberapa yang kenal saja, selebihnya Aruna abaikan.


"Ehmm, sibuk banget sih mbak, balesin chat siapa sih? cowok-cowok minta kenalan yah? yang selalu di samping kamu aja selalu diketusin yang di dunia maya malah diladenin," cerocos Narayan. Ia dari tadi sudah mengintip Aruna dari belakang, tidak sopan sih, tapi penasaran, ah sudahlah, terlanjur.🤣🤣


"Apaan sih bapak, dateng-dateng ngedumel, tadi habis makan apa sih?" Aruna bergeser dari tempat duduknya ketika Narayan duduk di sebelahnya. Sosialdistancing gaes.


"Habis makan lontong, tahu Sumedang, ada cabenya juga, enak deh Run," jawab Narayan.

__ADS_1


"Pantes."


"Pantes apa?"


"Ceriwis, kek cabe."


"Weh sembarangan, itu bukan ceriwis, tapi lagi ngasih tau kamu, jangan mau sembarangan kenalan di sosmed, di sana model-model bapak buaya semua."


Aruna tergelak, "Sesama buaya jangan saling buka kartu dong, melanggar kode etik namanya."


"Dih, malah."


"Nggak lah pak, saya nggak bakal sembarangan, modelan mereka kan biasanya tukang goshing, kabur-kaburan, nyesek," celetuk Aruna sambil memegangi dadanya.


"Emang pernah di goshing?" Narayan jadi kepo deh.


Aruna mengangguk, "Dulu saya pernah dijodohkan sama Abah, Abah bilang laki-laki itu soleh gitu. Eh ternyata, penampilan Syeh kelakuannya Syehtan."


Narayan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar secuil dari kisah cinta Aruna.


☘️☘️Bersambung...☘️☘️


Jangan lupa,.like komen dan Vote, share juga di sosmed yang kamu miliki yah. Makasih.

__ADS_1


Salam sayang,


Santypuji


__ADS_2