Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
POV Narayan Aruna (Tamat)


__ADS_3

POV Narayan Nugraha


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aruna Arsyana binti Harun dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” Aku mampu mengucapkan kalimat ijab kabul dengan sekali tarikan nafas. Aku bahagia ketika saksi pernikahan serempak mengucapkan kata sah.


Aku sungguh sangat bersyukur akhirnya Allah mengabulkan doa-doaku. Menjadikan Aruna Ratu dalam rumah tanggaku.


Aku tiba-tiba deg-degan ketika keluarga Aruna membawa Aruna ke hadapanku. Aruna terlihat sangat cantik dengan gaun putih bermahkota sederhana di kepalanya. Senyumannya yang khas selalu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi.


Aku memberikan tanganku padanya agar dia menciumnya. Dengan cekatan, wanita yang kini sudah sah menjadi istriku langsung saja menciumnya. Demi Allah, baru tangan yang dicium saja rasanya bergetar sampai kemana-mana.


Aku lalu mencium kening istriku dengan lembut. Alhamdulillah semuanya bisa berjalan lancar. Aku memeluknya sebentar.


"I Love You Sayang," ucapku lirih di telinganya. Aruna belum menjawab karena aku langsung melepaskan pelukannya, andai boleh, ingin sekali detik ini langsung aku bawa pulang saja Aruna ke Jakarta.


"Sudah, peluk-pelukannya nanti, kasihan yang jomblo," kata pak penghulu meledek. Aku dan Aruna duduk lalu berdoa. Tak hentinya aku berucap syukur, bisa menikahi Aruna adalah sebuah anugrah. Walaupun jalannya penuh liku. Mungkin saja memang sudah rencana Allah agar aku memantaskan diri dulu.


Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri.


Kemarin memang sudah berlalu. Biarkan yang sudah lalu menjadi kenangan. Aku bisa menerimanya


Allah memang keren dengan segala yang DIA rencanakan untuk hamba-Nya. DIA tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya, tahu kapan waktu yang tepat mengabulkan doa hamba-Nya


Perkara cinta memang merupakan hal yang misterius. Siapapun tak bisa mengendalikan atau merencanakan kisah cintanya sesuka hatinya. Cinta bisa tumbuh di hati seseorang tanpa dugaan, tanpa rencana dan tanpa tahu alasan apa yang membuat cinta itu tumbuh.


Mengenai cinta, benar-benar jatuh cinta atau sekedar tertarik dan kagum semata cukup sulit dibedakan. Perasaan tertarik dan kagum adalah perasaan suka terhadap seseorang secara menggebu-gebu. Perasaan ini mirip sekali dengan perasaan cinta. Tadinya aku mengira hanya mengagumi Aruna saja, karena ia termasuk wanita cantik, mandiri, humoris dan solehah.


Namun ternyata aku benar-benar mencintainya. Aku menyukainya dengan apa adanya dia. Aku juga telah mengenalnya dengan baik. Aku jatuh cinta padanya meski aku tahu betul bagaimana kebaikan dan keburukannya. Jatuh cinta adalah bentuk penerimaan dan penghargaan di hatiku untuk dia yang membuat perasaan terus berdebar-debar.


Selesai acara ijab kabul, dilanjutkan dengan acara foto bersama dan langsung diadakan resepsi untuk tamu-tamu Abah. Sedangkan keluarga Nugraha akan mengadakan resepsi juga di Jakarta.


Selesai melakukan banyak prosesi pernikahan adat jawa. Aruna dan aku kini berganti baju yang kedua.


"Lelah ya Mas." Istriku tampak letih, begitu kentara dari wajahnya.


"Mas ambilkan minum yah." Aruna mengangguk, aku membantunya minum.

__ADS_1


"Setelah ini acara bebas yah mbak?" tanya istriku pada mbak perias pengantin.


"Iya mba, foto-foto dengan tamu juga boleh, ngobrol dengan tamu juga boleh," jawab mbak perias.


Selesai berganti baju, aku dan Aruna kembali ke pelaminan. Menyambut tamu-tamu yang datang.


"Sabar ya Sayang, nanti setelah selesai langsung boleh istirahat kok." Aku menyemangatinya.


"Benar ya Mas langsung istirahat?" tanyanya menegaskan. Aku mengangguk.


☘️☘️☘️


POV Aruna Arsyana


"Duuh." Aku mengaduh merasakan bagian bawah tubuhku begitu perih. Badan rasanya pegal-pegal semua. Aku melirik suamiku yang tengah asyik mendengkur. Sungguh menyebalkan, dipelaminan bilang nanti istirahat saja, tapi nyatanya, digarap juga.


Aku menggerakkan tubuhku ingin bangun karena Adzan subuh sudah berkumandang. Baru saja geser sedikit, tangan kekar Narayan langsung menarik tubuhku hingga terjatuh ke dalam pelukannya.


"Mau kemana?" tanyanya dengan suara parau. Dirinya masih bertelanjang dada, menurutku tubuhnya lumayan atletis. Suamiku memanglah lelaki gagah.


"Mandi mas, sudah subuh, jangan sampai kesiangan, aku mau siapin air hangat dulu. Ingat, ini di kampung, air nya sangat dingin," jawabku. Ah rasanya sedikit malu, pengantin baru, pagi-pagi sudah keramas, takut diledek ibu.


"Kenapa sih Mas, aduh, jadi susah nafas nih," protesku. Jangan sampai ada ronde kedua, ah ini saja rasanya masih sakit.


"Sebal, kenapa baru sekarang mas bisa merasakan nikmatnya surga dunia bersama kamu sayang. Indah, enak yah," ucapnya.


"Sakit Mas."


Eh, dia malah terkekeh.


"Maafkan mas yah."


"Hemm, katanya mau langsung tidur, nyatanya?"


"Ya maaf, soalnya ya bagaimana, mas mendapatkan kamu nggak mudah, jadi nggak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi. Sayang, sebelum mandi, nambah dulu yah boleh nggak?"

__ADS_1


Pertanyaan suami langsung membuatku merinding, sisa semalam saja masih perih. Aku berasalan jika salat subuh lebih penting karena waktunya tidak banyak.


Akhirnya aku dan suamiku keluar kamar, di dapur sudah ada ibu.


"Bu, mas Nara mau mandi, biasanya kalau subuh mandi, tapi mau pakai air hangat, di sini dingin bu," ucapku beralasan demikian karena malu. Ah walaupun sudah sah, nyatanya perasaan malu ini masih saja ada.


"Iya, boleh," jawab ibu sambil tersenyum. Aku langsung mengambil panci, lalu memanaskan air sebentar.


Setelah mendidih, aku menyuruh suamiku untuk mandi terlebih dahulu.


"Mandi berdua yuk," bisiknya. Sungguh terlalu Narayan Nugraha ini. Pagi-pagi sudah mesum terus yang dibicarakan. Aku mencubit pinggangnya lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi. Dia malah terkekeh, begitu puas meledekku.


Selesai mas Nara mandi, barulah aku mandi. Setelah itu aku dan mas Nara salat subuh berjamaah di kamar.


Salat sudah ditunaikan, selanjutnya berdzikir dan berdoa. Aku masih tidak menyangka jika mas Nara lah yang menjadi imamku saat ini.


Selesai berdoa, aku langsung memeluknya dari belakang, ku sandarkan kepalaku di punggungnya. Mas Nara membalikan badannya, lalu aku didekapnya dengan erat.


"Terima kasih Ya Allh, Sang Pencipta yang Maha Agung atas hadiahmu yang berharga. Kau berikan seorang istri yang terbaik untuk hamba. Engkau adalah pemberi semua berkat yang baik dan sempurna, dan saya kagum dengan cara-Mu Ya Allah dalam menunjukkan cinta-Mu melalui dia. Tolong bantu saya untuk menghargai pemberian yang luar biasa ini Ya Allah," ucapnya sambil menciumi kepalaku.


"Semoga cinta yang ada di dunia ini Allah tetapkan terus ada antara aku dan kamu mas hingga di surga Firdausnya Allah," ucapku dalam hati. Akupun memeluk suamiku dengan erat.


Setiap hidup adalah cerita. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita saya Mas.


(TAMAT)


Alhamdulillah, perjalanan cinta CEO dan sekretarisnya berakhir sudah. Semoga keluarga mereka bahagia selalu ya gaes.


Maaf yah, emak san udah nggak bisa bikin cerita panjang-panjang. Yang terpenting selesai, lugas, tersampaikan isi ceritanya.


Kondangan ke Aruna dan Narayan di novel baru author saja yah. Mohon sangat dukungan nya untuk novel terbaru author, karena itu untuk lomba, dimohon untuk like dan komennya, wajib like yah.


Akan ada banyak hadiah di sana, ada Bantal, tumbler, dan lainnya. Silahkan mampir dulu yah. Jangan lupa like, komen dan share. Pasti akan tamat di Noveltoon tenang saja.


Terimakasih sudah menemani Author sampai sekarang. Semoga kalian sehat selalu.

__ADS_1


NOVEL TERBARU 👇



__ADS_2