
Akhirnya selesai juga melaksanakan walimatul urs pernikahan mas Abidzar. Aruna tampak membasuk keringat yang membasahi keningnya. Malam ini sudah tak seramai malam kemarin. Tenda-tenda yang terpasang di rumah mbak Husna sudah mulai di lepaskan oleh tukang dekorasi.
Aruna menghampiri kamar pengantin, lalu mengetuk pelan pintu kamar pengantin yang ada di depannya. Terdengar suara samar mba Husna yang menyuruh. masuk.
Aruna masuk ke kamar mba Husna, ia ingin pamit pulang karena hari ini cukup lelah. Terlihat mbak Husna sedang sibuk menghapus make up yang melekat di wajahnya.
"Mbak, Aruna pulang yah," ucap Aruna. Mbak Husna mengangguk lalu tersenyum.
"Oh iya sebentar lagi juga kamu ada acara ya Run." Aruna menggeleng. Mbak Husna malah senyum-senyum.
"Ih malu-malu." Aruna mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan mbak Husna.
"Ya udah mbak aku pulang yah. Besok cerita yah, enak apa sakit," ledek Aruna, mendengar ledekan Aruna, Husna melempar kapas bekas ke arah Aruna. Aruna berlari keluar dari kamar mbak Husna sambil tergelak.
Aruna pulang kerumahnya yang hanya beberapa langkah saja dari rumah mbak Husna, mandi lalu rebahan di atas kasur.
Aruna mengambil ponselnya di bawah bantal, satu hari ini ia sengaja tidak membawa ponsel agar fokus membantu pernikahan mbak Husna dan mas Abidzar.
Aruna membelalakkan matanya ketika melihat ponselnya sudah ada 50 panggilan tan terjawab dari bos Nara, dan ada 10 pesan WhatsApp juga.
Aruna langsung membacanya, ternyata bos Nara sebentar lagi akan sampai di rumah Aruna. Tadi beberapa kali menelfon ternyata sempat lupa dengan jalan kampungnya dulu. Tapi setelah bertanya-tanya akhirnya teringat lagi, dan sekarang sudah dalam perjalanan, diprediksi 1 jam lagi sampai di rumah Aruna.
Aruna begitu senang, sudah 2 hari ini tidak bertemu dengan bos nya, rasanya seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Aruna mulai menanyakan pada hatinya, apakah ia benar-benar rindu? sepertinya iya, buktinya saat membaca pesan dari bos Nara bahwa si bos sebentar lagi akan sampai, tampak ada yang membuncah dalam hatinya, rasa bahagia.
Sekali lagi Aruna menanyakan pada hatinya apakah ini yang di sebut Rindu? Rindu, satu perasaan yang cukup membuat seseorang gelisah, bingung, bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan. Menyoal rindu, ia bisa menjadi candu bagi siapa saja. Dan kata orang, obat dari segala rindu adalah temu. Tapi, benarkah bertemu bisa mengobati rindu yang menggebu di dalam hati? Aruna tersenyum, sepertinya iya.
Aruna mengakhiri lamunannya saat mendengar pintu kamarnya terketuk. Aruna segera membukakan pintu kamarnya. Ternyata Abah dan Ibunya. Aruna mempersilahkan Abah dan ibunya masuk ke dalam.
"Ibu mau bicara denganmu Na." Ibu menghampiri Aruna, keduanya duduk di tepi ranjang, sedangkan Abah berdiri di dekat lemari.
__ADS_1
"Iya bu."
"Ada yang mau melamarmu, tetangga kita, teman mas Abidzar." Aruna terkejut, ia mulai gelisah, meremas jemari-jemarinya.
"Siap bu?"
"Mas Fikri, tahu kan?"
Aruna mengingat-ingat kembali siapa itu mas Fikri. Ah iya Aruna ingat, seseorang yang sedari tadi berdampingan terus dengan mas Abidzar. Pantas saja tadi waktu pernikahan mas Abidzar, mas Fikri terus saja memperhatikan Aruna.
"Dia baik, sudah mapan juga Nduk, rajin ke masjid, kalem, selama ini belum pernah ibu mendengar dia macam-macam. Kemarin saat lamaran Husna, mas Fikri juga ke sini, lalu mengutarakan niatnya ke Abah dan Ibu, hanya saja Ibu menunggu persetujuan mu."
Aruna terdiam, bingung ingin menolaknya bagaimana, terlihat ibunya begitu antusias ketika menceritakan mas Fikri. Tapi sepertinya apa yang dikatakan ibu juga benar, terlihat mas Fikri begitu kalem dan sepertinya memang laki-laki baik-baik. Tapi sayangnya di hati Aruna sudah ada orang lain.
Belum juga Aruna menolak ataupun menyetujui, pintu ruang tamu terketuk. Aruna tersenyum semringah, ia menebak pasti itu bos Nara.
Aruna langsung mengenakan jilbab langsungnya, ia berlari menuju ruang tamu, lalu membukakan pintu. Di depan pintu Aruna terdiam, ternyata bukan Narayan, melainkan ada beberapa orang yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya, dan salah satunya ada mas Fikri di sana.
"Waalaikumsallam..." jawab Aruna sedikit gugup. Aruna tampak mencium aroma-aroma lamaran malam ini. Rasanya ingin sekali masuk pintu Doraemon pulang ke Jakarta saat ini juga.
Abah dan ibu menghampiri Aruna, "Siapa Run, kok diem aja di pintu, disuruh masuk dong tamunya."
"Eh, Bu Salamah. Ya Allah, mari masuk bu." Ibu Aruna mempersilahkan tamunya masuk. Bu Salamah, ibunda dari mas Fikri datang bersama beberapa orang, membawa berbagai makanan.
Semua tamu duduk, begitu juga dengan Aruna, Abah serta Ibunya. Aruna menunduk, ah rasanya sungguh sangat galau.
"Maaf ya Bu, Aruna tadi kan habis rewang di tempat Husna, jadi itu baru aja pulang ganti baju, saya tadi baru ngomong masalah mas Fikri yang mau melamarnya, jadi belum sempat ganti baju." Ibu Aruna mengatakan hal yang sejujurnya pada ibunda Fikri.
Ibu menggenggam jemari Aruna, Aruna melirik Ibunya, di susul dengan bu Salamah yang tiba-tiba duduk di sebelahnya lalu mengusap bahu Aruna. Dua pasang mata seorang ibu yang sedang berharap padanya membuat hati Aruna tak kuasa menolak takdirnya hari ini.
__ADS_1
Aruna mengangguk begitu saja, dan akhirnya terjadilah proses lamaran antara dirinya dan mas Fikri yang sama sekali Aruna belum kenal dekat, hanya sebatas tahu nama karena memang mas fikri memiliki perbedaan usia yang jauh dengan Aruna.
Saat Bu Salamah sedang memakaikan cincin sebagai tanda pengikat, tiba-tiba seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu mengucapkan salam sedikit gemetar.
Aruna sangat betul itu suara siapa, suara seseorang yang ia rindukan sebelum terjadi takdir yang tidak terduga malam ini. Aruna melihat wajah sendu Narayan. Sudah lelah tertimpa sedih, pasti rasanya begitu menyakitkan.
Semua orang membalas ucapan salam Narayan. Abah yang mengenali wajah Narayan segera menghampiri Narayan, lalu menyuruhnya untuk ikut bergabung, karena Abah sudah menganggap Narayan sebagai keluarganya, apalagi Abah tahu jika Narayan adalah atasan Aruna.
Aruna menunduk, tidak berani menatap Narayan. Aruna bergumam dalam hati “Mengapa ini terasa berat?Kenapa harus aku yang mengalaminya?Apa kesalahan yang telah aku perbuat, sehingga masalah ini menimpaku? Ini semua terlalu berat untukku, aku tak sanggup. Aku menyakiti bos Nara. Aku jahat."
.
.
.
.
.
.
.
.
☘️Bersambung...☘️
Maaf sayangku semua baru up, emak san di reallife sudah sibuk kembali, sudah masuk sekolah di daerah emak, jadi sudah mulai terasa lelahnya. Terimakasih yang masih setia menunggu.
__ADS_1
Di tunggu 100 komentar nya🙏🙏🙏