
Ponsel Aruna yang tergeletak di mejanya berdering, terdapat kontak nama Abah memanggilnya melalui panggilan vidio call. Aruna begitu senang, ia langsung menerima panggilan dari Abah. Tapi saat sudah tersambung yang terlihat bukanlah wajah abah, melainkan wajah lelaki yang Aruna tidak mengenalinya sama sekali.
Aruna mengerutkan dahinya, "Assalamualaikum, Maaf ini siapa yah?" Tiba-tiba abah langsung nongol di dekat laki-laki itu.
"Waalaikumsallam, Aruna masa kamu lupa, ini mas Abidzar, sepupu kamu, anaknya pakde Kholil yang tinggal di Garut," ucap Abah. Aina mencoba mengingat-ingat kembali siapa itu Abidzar karena sudah lama sekali tidak bertemu.
"Maaf pak, Aruna lupa." Abah terkekeh. Abah menyadari hal itu karena terakhir keduanya bertemu waktu Aruna masih SD.
"Aruna yah sombong, sekarang sudah kerja di kota besar," celetuk mas Abidzar.
"Eh mas, maaf yah, beneran lupa deh," ucap Aruna sambil terkekeh.
Abah, Aruna dan Abidzar akhirnya mengobrol bertiga. Narayan tampak kesal dengan Aruna yang begitu ramah dengan laki-laki lain. Cukup menyebalkan. Tapi Narayan jadi sadar, ternyata seperti ini rasanya cemburu.
Selesai menelfon, Aruna melirik bosnya sambil mesam mesem, kelupaan kalau disebelah nya ada Bosnya yang sedang manyun tentunya karena sedari tadi dicueki.
"Siapa tadi?"tanya Narayan.
"Abah."
__ADS_1
"Yang satunya lagi."
"Oh itu sepupu jauh. Memangnya tadi nggak dengar?"
Narayan menggeleng, "Kamu kelihatan seneng banget."
Aruna terkekeh, "Ya harus seneng dong, kan tiba-tiba dihubungi saudara jauh. Oh ya bos, besok saya izin pulang kampung yah. Mas Abidzar itu mau nikah sama mbak Rini, tetangga sebelahku di kampung."
"Kenapa mesti besok sih Aruna. Kan saya jadi nggak bisa antar, besok masih banyak pekerjaan." Sebenarnya Narayan sangat ingin bertemu dengan keluarga Aruna untuk mengutarakan niat nya melamar Aruna. Walaupun baru 2 bulan Narayan memperdalam agama, tapi Narayan berjanji akan terus memperdalam ilmunya sampai akhir hayatnya.
Andai saja pekerjaannya saat ini tidak banyak, pasti Narayan akan ikut dengan Aruna.
"Tapi jangan lama-lama yah di kampungnya." Aruna mengangguk, lalu mengacungkan 3 jarinya yang artinya Aruna mengajukan cuti pulang kampung 3 hari saja.
"Kok lama banget." Aruna mengerutkan dahinya, 3 hari dihitung dengan perjalanan itu sangat mepet sebenarnya.
"Cuma 3 hari, kan di perjalanan jauh bos."
Narayan terkekeh, "Iya yah, hemm, saya nggak bisa jauh-jauh dari kamu Run." Manik mata Narayan menatap tajam Aruna. Aruna langsung mengalihkan pandangannya. Tatapan bos Nara terkadang membuat jantungnya berdetak tidak normal.
__ADS_1
"Saya cinta kamu Run, nggak bisa jauh-jauh." Lagi-lagi pak bos mengucapkan kalimat cinta mautnya, yang membuat wanita mana saja terbuai.
"Ehm, cinta tak berarti kita selalu berada di sisi orang yang dicintai. Tetapi cinta adalah saat kita berada di dalam hati orang yang dicintai." Aruna juga berhak untuk membalas ucapan manis bosnya.
"Memangnya kamu cinta sama saya Run."
Suasana menjadi panas, jika ditanya cinta, entahlah, tapi dibilang tidak cinta, sepertinya tidak mungkin, setiap hari Aruna selalu mendapatkan perlakuan baik dari bosnya. Bos Narayan tidak pernah macam-macam dengannya. Tapi untuk mengakui saling cinta sepertinya tidak untuk saat ini.
"Nanti kalau pekerjaan saya sudah selesai, boleh nggak saya menyusul ke Semarang? saya mau ketemu abah langsung, saya mau buktikan kalau saya serius." Aruna melihat ucapan Narayan yang sepertinya tidak main-main lagi. Kali ini Aruna mempersilahkan Narayan untuk mendatangi rumahnya dengan niat baik..
"Boleh kok bos." Narayan tersenyum senang karena kesempatannya untuk mendapatkan Aruna tinggal selangkah lagi.
☘️ Bersambung...☘️
(Maaf yah di sini jarang up, lagi garap di sebelah, garap cerita Mas Renal, kakaknya Zara🤭 Tapi pokoknya akan author sempatkan up, tenang nggak bakal kemana-kemana kok pak Narayan🤭)
Ini emak san lagi garap ini di sebelah.
__ADS_1