Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Merelakan


__ADS_3

"Jika dia memang laki-laki soleh, baik, dan penyayang, saya rela melepaskan kamu." Dada Narayan terasa sesak. Tak pernah ada yang baik-baik saja dari merelakan orang yang dicinta bersama lelaki lain. Sakit rasanya hati ini saat melihat orang yang di cintai bersama laki-laki lain. 


Adakalanya memang jalan terbaik untuk kebaikan bersama adalah melepaskan orang yang di cintai. Walaupun terkadang pedih, namun bisa jadi melepaskan orang yang di cintai itu memang jalan yang terbaik untuk diri sendiri.


Perkara cinta ibarat dua sisi mata uang. Karena Aruna, Nara bisa jadi yang paling berbahagia, pun merasa paling menderita di dunia.


"Pak Nara..." Aruna sudah tidak bisa berkata-kata lagi, air matanya terus saja mengalir tiada henti walaupun tanpa suara. Begitu juga dengan Narayan. Mereka saling tatap, berderai air mata.


Sebelumnya tak pernah terbayangkan Aruna dan Narayan justru duduk berhadapan untuk bertukar tangisan.


Perjalanan cinta yang selama ini diperjuangkan Narayan gagal dipertahankan. Ia menyerah. Bukankah tidak sepatutnya wanita yang sudah di khitbah lantas masih saja nekat untuk mendekati.


Cinta memang tak bisa diukur dengan angka atau diibaratkan hitungan Matematika. Cinta juga bukan ilmu pasti yang hasil akhirnya bisa diprediksi dengan presisi. Pada akhirnya, semua hanya perkara menjalani.


"Kenapa kamu nggak beri tahu saya kalau kamu akan di lamar? saya tidak perlu ke rumahmu Aruna hanya untuk menyaksikan ini semua."

__ADS_1


Aruna menggeleng, "Tidak, bukan, bu ... kan seperti yang bapak kira, saya juga tidak tahu kalau saya akan di lamar, seharian ini saya membantu pernikahan mbak Husna, lihat baju saya, baju biasa, itu karena saya tidak tahu, semua ini begitu mendadak, saya bingung, orangtua saya begitu berharap, begitu juga dengan orang tua mas Fikri, saya diam, saya tidak kuasa menolak, selama ini saya tidak pernah jadi pembangkang pak, saya takut, tapi saat ini hati sa ... ya ju ... ga perih." Aruna terisak, ia bicara terbata-bata sampai seperti tersedak. Perasaannya sudah tidak karuan. Di otaknya terbayang betapa dirinya dan bosnya sudah terlalu biasa bersama. Hapal kebiasaan masing-masing tanpa perlu harus saling menduga.


"Mungkin ini sudah suratan takdirnya seperti ini."


"Maafin saya pak, saya sudah menyakiti bapak."


Narayan menggeleng, "Tidak ada yang menyakiti saya Na, saya menyakiti hati saya sendiri karena terlalu berharap pada kamu, tapi lupa bahwa di atas harapan saya masih ada takdir Allah."


Aruna begitu merasa bersalah dengan apa yang terjadi hari ini. Andaikan sedari lama ia mengizinkan bosnya untuk membicarakan perihal meminta dirinya pada Abah mungkin hari ini tidak akan terjadi. Tapi semua sudah terjadi, dan harus dijalani.


"Ya sudah, akan lebih menyakitkan rasanya kalau saya terus disini, rasanya tak elok juga malam-malam seperti ini duduk berdua dengan wanita yang sudah akan menjadi istri orang lain." Padahal sebelumnya Narayan sudah membayangkan malam ini akan menjadi malam yang indah, duduk berdua menata masa depan dengan Aruna. Tapi nyatanya bayangan hanyalah tinggal bayangan.


"Malam ini saya mau cari hotel, besok pagi saya akan langsung balik ke Jakarta."


"Pak..." Entahlah, Aruna juga merasakan hatinya begitu sakit.

__ADS_1


"Aruna Kalau kita memang berjodoh, Allah akan mempertemukan kita dengan caranya. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berdoa. Cukup saya menjauh darimu bukan karena tak suka, tapi saya ingin memperindah taubat saya dan doa saya kepada Allah. Tetaplah jaga dirimu baik-baik. Seandainya kamu memang jodoh saya, semoga Allah jodohkan kita berdua, kalaupun kita tidak berjodoh, semoga saya diberikan hati yang lapang untuk menerima. Perlu kamu ingat satu hal, sejauh apapun kamu melangkah, sejauh mana pun kamu pergi, dan sebagaimanapun keadaanmu saat ini, tolong ingat satu hal, tidak ada laki-laki yang lebih sayang sama kamu selain saya," ucap Narayan.


Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ada rasa penyesalan kenapa dirinya tidak menolak lamaran mas Fikri tadi, rasanya semua berjalan secepat kilat. Aruna tidak bisa berbuat apa-apa.


Narayan menyeka air matanya, ia berjalan menuju tempat kran air yang ada di depan rumah Aruna. Narayan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar, ia ingin segera berpamitan pada Abah dan Ibu Aruna.


Selesai cuci muka, Nara langsung mengetuk pintu rumah Aruna, ia membiarkan Aruna duduk di teras masih dengan menutupi wajahnya. Tak berapa lama kemudian, Abah datang menghampiri Narayan. Narayan langsung pamit pada Abah, pamit ke penginapan terlebih dahulu.


Abah padahal ingin Nara menginap di tempatnya, Abah bisa menghubungi pak RT jika Nara ingin menginap dirumahnya, namun Nara tolak dengan alasan sudah menyewa hotel sebelumnya.


Tepat sekali saat Narayan sudah selesai pamit, Kang Agus datang. Sebelum pergi dari rumah Aruna, Nara menghampiri Aruna terlebih dahulu.


"Saya pamit dulu ya Na, jaga diri baik-baik." Aruna menatap Narayan sendu. Ia tidak bisa menjawab apa-apa, melainkan hanya mengangguk saja. Baru saja bertemu, Aruna kira akan melepas rindu, namun nyatanya malah bertukar pilu.


Saat sudah memasuki mobil, Narayan melihat aruna dari balik kaca jendela mobilnya. Memang selalu ada alasan kenapa dipertemukan dengan seseorang. Termasuk saat harus menghadapi kenyataan melepaskan orang yang di cintai. Ya, dalam beberapa kasus mencintai memang tak harus memiliki.

__ADS_1


☘️Bersambung...☘️


(Sudah 3 episode ini rasanya mengobrak-abrik jiwa ya say...🤭 Di tunggu 100 komentarnya)


__ADS_2