Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Calon Istri


__ADS_3

Na, ke ruangan saya sekarang.


Aruna sedang membaca pesan dari bos Nara yang sekaligus kini sudah menjadi calon suaminya. Narayan sudah kembali bekerja sejak kepulangannya dari Semarang. Dan saat itu pula belum bertemu dengan Aruna.


Hanya Lala yang mengetahui jika Aruna sudah dilamar Narayan. Aruna memandangi ponselnya. Tidak ada kepentingan pekerjaan yang membuat dirinya harus menghadap ke ruangan bosnya itu. Aruna tidak ingin semuanya mengetahui kalau dirinya dan Nara memiliki hubungan serius.


Aruna mengabaikan pesan dari Narayan. Bahkan bosnya itu sampai menelfon secara pribadi beberapa kali namun tak dihiraukan juga. Narayan tampak gemas, ia langsung beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas ke tempat kerja Aruna.


Bagian accounting tiba-tiba heboh karena kedatangan Narayan. Begitu juga dengan Aruna. Ia melihat tangan Narayan masih menggunakan gendongan. Ada rasa khawatir dalam diri Aruna pada Narayan.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Manajer Accounting sampai tergopoh-gopoh menghampiri Narayan. Nara tersenyum ramah padanya lalu mengatakan tidak ada. Ia hanya ingin berkunjung ke ruangan accounting untuk memastikan semuanya bekerja dengan baik. Semuanya tampak serius bekerja, begitu juga dengan Aruna.


Aruna paham maksud bosnya kemari, pasti karena ia mengabaikan pesan dan telfon dari Narayan.


"Silahkan kembali bekerja." Narayan memerintahkan manajernya itu untuk kembali ke meja kerjanya. Narayan lalu pura-pura berkeliling, semuanya terdiam, fokus bekerja.


Sampailah kini Narayan di meja kerja Aruna. Narayan mendekati Aruna hingga kini ia sudah berdiri di sebelah Aruna.


"Berani yah mengabaikan telfon dan pesan saya," bisik Nara di telinga Aruna.


"Bapak jangan macam-macam yah ini di kantor. Saya adukan nanti ke mbak Hanin." Aruna rupanya tidak mau kalah galak dengan Nara hingga Nara mengerutkan dahinya.


"Apa perlu saya memecat kamu, biar kamu bisa menemani saya saja di ruangan saya." Aruna mendelik, ia langsung reflek memukul lengan Nara yang terkena tembakan.


"Sssttt, aduh..." Aruna langsung panik mendengar Narayan mengaduh. Semua mata kini tertuju ke arah keduanya.


"Haduh, maaf pak, tidak sengaja." Narayan malah tergelak dalam hati melihat Aruna begitu ketakutan.

__ADS_1


"Iya saya maafkan, lain kali lebih hati-hati lagi. Semuanya kembali bekerja ya."


"Sedang apa kamu di situ?" Nara dan Aruna langsung melihat ke arah sumber suara. Ternyata mbak Hanin sedang berkacak pinggang sambil mendelik menatap Nara.


"Sedang kerja dong," jawab Narayan. Ia lalu menghampiri mbak Hanin.


"Mau jadi Accounting saja nih?"


Nara berdecak, "Ya jangan dong mbak sayang."


"Kamu ini, awas kalau macam-macam."


"Ampun mbak, cuma satu macam."


"Ya sudah, cepat kembali ke ruangan, mbak ada keperluan. Ini jam kerja Nara, bukan jam bermesraan."


"Iya ih bawel." Nara dan Hanin langsung meninggalkan ruangan Accounting. Tapi sebelumnya Nara kembali mengirim pesan pada Aruna agar Aruna ke ruangannya saat jam makan siang.


☘️☘️☘️


Aruna sedang melihat Narayan tengah berdiri di depan jendela yang berarti membelakanginya. Kedua tangannya di masukan ke dalam saku celana. Aruna masih terdiam, ia hanya berdiri di dekat pintu.


"Selamat siang calon istriku." Nara masih menghadap ke jendela. Aruna berlari perlahan menghampiri Nara, bukan untuk memeluk, melainkan justru memukuli punggung Nara.


"Kenapa kamu meninggalkan saya dan kembali dengan tidak baik-baik saja. Saya khawatir, saya tidak suka kamu terluka seperti ini." Aruna tiba-tiba melupakan emosinya.


Narayan terkekeh, lalu membalikan badannya. Keduanya begitu menahan diri untuk tidak saling bersentuhan. Aruna menunduk, pipinya sudah basah oleh air mata.

__ADS_1


"Maaf ya Na. Kemarin saya cuma nggak mau hati saya semakin sakit. Maaf yah, sudah jangan nangis lagi." Narayan mengajak Aruna duduk di sofa, lalu memberikannya air minum.


"Bapak senang kalau saya menikah ya? buktinya nggak mencegah saya."


"Na, saya kira kamu yang pasrah dengan keadaan."


Aruna menggeleng. Memang tidak baik untuk memalsukan perasaan sendiri. Bahkan cenderung "tidak sehat" jika mengingkari perasaan sendiri. Namun, kadang karena situasi dan kondisi membuat Aruna memilih untuk pura-pura bahagia supaya tidak melukai atau membuat orang-orang tercinta khawatir.


"Semua sudah berlalu, sudah jangan diingat-ingat lagi, satu minggu lagi kita akan menikah. Saya sengaja nggak mau berlama-lama lagi. Kamu siap kan?"


Aruna mengangguk, "Insyaallah saya siap. Terima kasih sudah berusaha semampu pak Nara untuk membuat orang-orang tercinta tetap tenang dan bahagia. Terima kasih sudah berusaha untuk kuat menghadapi kesulitan-kesulitan yang ada. Terima kasih sudah bertahan hingga sejauh ini."


Nara mengangguk, ia kuat karena cintanya pada Aruna kuat, Nara baru merasakan hal demikan. Untuk kali ini ia tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang sudah Allah beri. Umur juga sudah sangat matang, ia tidak ingin menunggu lama lagi.


"Jangan panggil pak dong, kan bukan bapak kamu," ledek Narayan. Aruna ikut tersenyum, iya lucu sih, nanti takut kebiasaan, sudah jadi suami istri masih saja memanggil dengan sebutan bapak.


"Panggil Mas kalau sedang berdua seperti ini." Aruna mengangguk dan menyetujui.


"Mas ini kenapa bisa seperti ini?" Aruna menunjuk ke arah lengan Nara yang tertembak. Nara lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan jujur.


"Oh wanita yang pura-pura pingsan itu? ih, kalau tahu bakal seperti itu, dulu saya bejek-bejek saja itu." Aruna jadi emosi, ia kembali mengingat kejadian waktu Bianca merengek pada Narayan.


☘️☘️☘️


Pintu ruangan terbuka, Hanin masuk ke dalam ruangan Nara, melihat ada Aruna di dalam ruangan, Hanin langsung menghampiri keduanya.


"Nara, kamu jangan macam-macam yah sebelum sah!" perintah Hanin. Hanin duduk di sebelah Aruna lalu cipika cipiki dengan Aruna.

__ADS_1


Nara tergelak, "Tenang mbak, nggak bakalan, sudah kenyang macam-macam waktu zaman jahiliah." Hanin langsung memukul lengan adiknya yang konyol itu.


"Ah ini tangan kenapa sih, di tembak cewek, di pukul-pukul sama cewek juga. Apes banget." Narayan membuka jasnya. Mengelus lengannya yang masih terasa jenud-jenud.


__ADS_2