
"Sumpah ku mencintaimu, sungguh ku gila karena mu." Aruna malah tergelak untuk menyembunyikan rasa senangnya karena Narayan menyanyikannya begitu merdu.
"Malah tertawa, serius ih Run." Narayan duduk mendekati Aruna.
"Jaga jarak ih pak bos, corona lhoo." Narayan terkekeh.
"Ih lagian, corona kenapa sih nggak hilang-hilang, heran deh."
"Mungkin kalau semuanya sudah merasa nyaman dulu, baru coronanya menghilang." Aruna tergelak. Sedangkan Narayan mengerutkan dahinya sambil menatap Aruna.
"Apa gara-gara pernah di ghosting lantas kamu jadi begitu Run ke saya? kamu takut saya bakal seperti masalalu kamu dulu?"
Aruna mengangguk, "Apalagi dengan sepak terjang bos yang begitu."
Narayan berdecak sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Memang yah karma itu nyata, dulu sangat mudah meluluhkan wanita, sekarang mau serius dengan wanita rasanya sulit sekali.
__ADS_1
"Susah yah kalau cinta sama wanita alim, yang dirayu bukan orangnya, tapi harus langsung ke Tuhan," ucap Narayan. Sementara Aruna malah mesam-mesem. Aruna ingin Narayan berubah menjadi lebih baik dulu, barulah Aruna akan merundingkannya dengan Abah. Tapi Aruna juga ingin agar Narayan berubah dengan niatan lillahita'ala, bukan karena manusia.
"Pak Nara, yang datang dengan niat serius pun belum tentu menjadi takdir saya. Apalagi yang datang hanya membawa harapan. Setelah banyaknya hati dihancurkan oleh nama rasa 'cinta', jadi saya tidak mungkin memilih pasangan hidup saya hanya dengan modal rasa. Rasa itu mudah berubah. Fisik ada masa bosannya. Harta bukan kunci cukup dan mulia. Maka saya harus memastikan tidak salah waktu dan tempat untuk menaruh hati ini. Saya akan berusaha memilih sesuai petunjuk NYA." Narayan mengangguk, Narayan tidak menyangka, hal buruk yang diperbuat lelaki pada wanita bisa membuat si wanita trauma begitu dalam.
"Terus saya harus bagaimana Aruna?"
"Ya banyak belajar, memantaskan diri sendiri, berubah untuk diri sendiri. Saya menginginkan imam yang soleh, saya mendambakan imam yang bisa menjadi nahkoda yang baik, itu doa saya pak," ucap Aruna. Aruna mengatakan demikian agar Narayan berubah terlebih dahulu, selanjutnya Aruna yang akan menilai kapan waktu yang tepat untuk menerimanya.
"Tapi intinya berarti kamu mau menunggu saya?" tanya Narayan. Aruna terdiam. Menjawab iya malu, menjawab tidak namun mau. Aruna takut jika di iyakan, nanti Narayan mau berubah karena sebuah cintanya saja pada manusia.
"Tapi kalau Abah mau, kamu mau kan?"
"Pokoknya jawaban Abah itulah jawaban saya."
"Haduh wanita, sulit sekali ditebak." Narayan merasa jawaban Aruna begitu berbelit-belit.
__ADS_1
"Lebih rumit dari filsafat, lebih misterius dari tasawuf, itulah hati seorang wanita. Wanita adalah tidak yang berarti iya. Diam yang berarti iya, kadang-kadang bisa menjadi tidak."
"Nah iya bener tuh, wanita begitu tuh." Aruna tergelak mendengar Narayan membenarkannya.
"Sudah hayo ah pulang, udah mulai panas nih pak."
"Ayo." Baru saja Narayan ingin mengayuh sepedanya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Narayan mengambil ponsel di saku celananya. Lalu memasukannya lagi.
"Kok nggak diangkat." Narayan menghela nafasnya lalu menggeleng.
"Ibu?" tanya Aruna. Narayan mengangguk.
"Dalam fikiran saya sangat ingin menyakitinya Run, seperti dia yang menyakiti saya tapi dalam hati saya lain, bahkan jika saya punya seribu kekuatan, saya tetap tidak bisa melakukannya." Narayan menunduk, ia tidak ingin terlihat menyedihkan lagi di depan Aruna.
"Bos ... akan ada sesuatu yang menantimu, setelah sekian banyak kesabaran yang bos jalani, yang membuat bos terpana, hingga bos lupa betapa pedihnya rasa sakit itu. Jangan bersedih, Allah bersama bos." Narayan menengadah, mencoba tersenyum, Ia berharap apa yang dikatakan Aruna menjadi kenyataan.
__ADS_1
☘️☘️ Bersambung...☘️☘️☘️